Yustin Ellistasari, Endra
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diaper Dermatitis Tri Irfanti, Rakhma; Imelda Betaubun, Ance; Arrochman, Ferry; Fiqri, Ahmad; Rinandari, Ummi; Anggraeni, Reti; Yustin Ellistasari, Endra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.502 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i5.362

Abstract

Diaper dermatitis (juga dikenal sebagai ruam popok, nappy rash, atau dermatitis iritan karena popok) adalah istilah umum untuk meggambarkan inflamasi akut pada area terkena popok; kondisi ini umumnya terjadi pada bayi. Etiologi dermatitis popok adalah multifaktorial. Diagnosis dan penatalaksanaan tepat mendapatkan hasil optimal; diperlukan kerjasama antara orang tua, pengasuh, dan tenaga medis.Diaper dermatitis (also known as diaper rash, nappy rash, or irritant dermatitis due to diapers) is a general term used to describe acuteinflammation in an area affected by a diaper; this condition generally occurs in infants. The etiology of diaper dermatitis is multifactorial. Proper diagnosis and management get optimal results; collaboration between parents, caregivers, and medical personnel is needed.
ULKUS GENITAL ET CAUSA HERPES GENITALIS PADA PASIEN GERIATRI IMUNOKOMPROMI DENGAN KEGANASAN PARU Lamsir, Seno; Mawardi, Prasetyadi; Yustin Ellistasari, Endra; Prasetya Primisawitri, Pratiwi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.604

Abstract

   Pendahuluan: Herpes genitalis pada pasien geriatri imunokompromi kerap bermanifestasi atipikal, meningkatkan risiko misdiagnosis. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinis, alur diagnosis, serta menekankan pentingnya terapi antivirus sistemik yang adekuat dan edukasi komprehensif sebagai pilar utama dalam penatalaksanaan herpes genitalis terutama pada pasien geriatri dan keganasan. Kasus: Tn. P (60 tahun) dengan tumor paru kanan stadium lanjut (manifestasi sesak, massa paru, dan metastasis hepar), dikonsulkan akibat ulkus genital nyeri. Pemeriksaan fisik menunjukkan ulkus multipel berbatas tegas pada penis. Meski apus Tzanck negatif, diagnosis herpes genitalis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis khas pada imunokompromi dan dikonfirmasi melalui respons penyembuhan signifikan pasca-terapi asiklovir, menyingkirkan diagnosis banding ulkus mole. Diskusi: Penuaan menyebabkan immunosenescence yang melemahkan respons seluler terhadap virus. Kondisi ini diperberat oleh supresi imun sistemik akibat keganasan paru, memicu reaktivasi HSV dengan presentasi klinis atipikal (seperti ulkus tanpa vesikel) dan menurunkan sensitivitas pemeriksaan penunjang standar. Simpulan: Terdapat hubungan erat antara penurunan imunitas pada usia tua dan keganasan paru dengan kejadian, atipikalitas gejala, dan tantangan diagnostik herpes genitalis.