Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pendekatan Rasional dalam Dakwah Masyarakat Modern Konteks Indonesia Suwari; Dedy Pradesa
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.19 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v1i1.10

Abstract

Studi ini dilatarbelakangi fenomena dakwah tidak rasional yang terjadi dimasyarakat Indonesia kontemporer, terutama dalam penyajian pesan dakwah danmetode dakwahnya. Padahal Islam mengajarkan rasional, sehingga dakwah perludidekati secara rasional. Terlebih saat ini sebagian besarnya adalah masyarakatmodern era globalisasi. Studi ini memfokuskan pada penyajian pesan dan metodedakwah dengan pendekatan rasional dalam dakwah mayarakat modern konteksIndonesia. Metodologi yang digunakan pustaka kualitatif. Hasil studi menunjukkankarakteristik masyarakat modern Indonesia sejalan dengan ciri manusia modern,namun beragam. Modernisme yang dilaksanakan ternyata membawa dampakpositif dan negatif, sehingga menjadi problematika sosial. Berpijak pada asumsitersebut maka pesan dakwah pada masyarakat modern haruslah disajikan secararasional, dengan pertanggungjawaban, dan berpijak pula pada ilmu pengetahuanterkait. Pesan dakwah perlu disajikan secara sistematis dan terkurikulum. Prioritasisi pesannya adalah pada persoalan ketauhidan, nilai berpikir dan ilmupengetahuan, kebangsaan, serta menjawab berbagai persoalan kehidupan yangsenantiasa berkembang, bukan hanya membahas fikih, ibadah, dan yangberorientasi masa lalu. Adapun metode dakwahnya dapat menggunakan berbagaialternatif metode, yang terpenting adalah membuka ruang dialog, sertamenghindari doktrin dan pemaksaan. Implementasi metode dakwah harusmemperhatikan etika dakwah, diantaranya tidak dengan segala cara, penghujatan,dan kekerasan, melainkan menampilkan dakwah yang santun dan sejuk, dengantetap mengedepankan nilai-nilai persatuan bangsa.
Gerakan Dakwah Pembaharuan: Dari Surau Jembatan Besi Sampai Sumatra Thawalib Padang Panjang Dedy Pradesa; Siti Umayatun; M. Abdul Aziz
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 8 No 1 (2018): Jurnal Kajian & Pengembangan Manajemen Dakwah
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1213.978 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v8i1.116

Abstract

Pembaharuan Islam di Minangkabau awal abad ke-20 M melalui Surau Jembatan Besi atau Sumatra Thawalib Padang Panjang menunjukkan hasil yang lebih nyata dari pada Kaum Padri pendahulunya. Oleh karenanya penting untuk dikaji sebagai pelajaran bagi aktivis dakwah untuk melanjutkan upaya pembaharuan, mengingat potret sebagian umat Islam Indonesia yang tertinggal, jumud, menolak ilmu pengetahuan modern, dan lain-lain kerap dijumpai. Fokus masalah studi ini adalah gerakan dakwah pembaharuan dari Surau Jembatan Besi sampai Sumatra Thawalib Padang Panjang, sehingga melihatnya dalam perspektif sebagai institusi dakwah. Tujuan studi ini untuk memahami lebih jauh gerakan dakwah pembaharuan yang dilakukan. Metodologi studi kualitatif pustaka historis, dengan sumber data laporan penelitian dan studi terkait. Analisis data secara kualitatif historiografis, dipandu konsep gerakan dakwah pembaharuan. Hasil studi menunjukkan bahwa fenomena gerakan dakwah pembaharuan dari Surau Jembatan Besi sampai Perguruan Sumatra Thawalib Padang Panjang memiliki beberapa kekhasan, yaitu: pemanfaatan pranata sosial “surau” sebagai basis pembentukan pergerakan; latar belakang dan visi dakwah pembaharuan yang terkait penyakit masyarakat muslim Minangkabau; pola hubungan antara subjek dan mitra dakwah, mitra dakwah dibina dan diorganisir menjadi kader pembaharu; pesan dakwah pembaharuan untuk menjawab masalah terkait adat, tarekat, dan syariat; pengembangan metode dan media dakwah baru; efek dakwah yang menimbulkan pro dan kontra.
Manajemen Strategi Dakwah Nabi Muhammad pada Masa Awal Madinah Dedy Pradesa
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Kajian & Pengembangan Manajemen Dakwah
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.612 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v8i2.151

Abstract

Studi ini berangkat dari keprihatinan pengelolaan organisasi dakwah yang masih tradisional, tidak didasari ilmu, salah satunya adalah ilmu manajemen strategi. Manajemen strategi telah terbukti menjadi alat yang efektif bagi keberhasilan organisasi. Termasuk dakwah Nabi Muhammad dalam salah satu periodenya, yaitu pada masa awal di Madinah. Periode tersebut dipilih karena terdapat serangkaian kebijakan dan implementasinya yang itu mengindikasikan penerapan prinsip-prinsip manajemen strategi yang tepat dan terbukti berhasil. Tujuan studi ini adalah untuk memberikan gambaran manajemen strategi dakwah Nabi Muhammad pada masa awal di Madinah. Manfaatnya diharapkan organsasi dakwah dapat mengambil contoh dan pelajaran dari hasil studi ini. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif historis pustaka dan expost facto. Data dikumpulkan dari sumber literatur sejarah terkait. Analisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif historis. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam setiap pengambilan keputusan-keputusan strategisnya, pijakan pembacaan dan analisis lingkungan sangat dominan dilakukan oleh Nabi Muhammad. Demikian pula dalam implementasi dan evaluasi strategi. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara substansi dalam pengembangan organisasi dakwahnya Nabi Muhammad menggunakan perangkat keilmuan manajemen strategi.
Kaderisasi Kepemimpinan dalam Organisasi Dakwah Rasulullah Dedy Pradesa
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 7 No 2 (2017): Jurnal Kajian & Pengembangan Manajemen Dakwah
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.188 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v7i2.168

Abstract

Studi ini berangkat dari nilai penting kaderisasi kepemimpinan dan fenomena persoalan sistem kaderisasi kepemimpinan yang ala kadarnya pada organisasi dakwah. Dalam sejarah, Rasulullah telah terbukti mampu mengader pemimpin berkualitas pada organisasinya, maka penting bagi umat Islam, khususnya para pemimpin organisasi dakwah, untuk mempelajarinya. Studi ini bertujuan mendeskripsikan proses kaderisasi kepemimpinan organisasi dakwah Rasulullah. Dasar teoritis yang digunakan adalah konsep kaderisasi kepemimpinan/pengembangan talenta eksekutif Smiliansky dan Yukl, yang dikontekskan dalam organisasi dakwah, sedangkan metodolognyai kualitatif pustaka sejarah. Hasil studi menunjukkan bahwa proses kaderisasi kepemimpinan organisasi dakwah Rasul dilaksanakan dua tahapan, yaitu (1) identifikasi SDM talenta kepemimpinan dakwah, dan (2) pendidikan/pelatihan dan pengembangan kapabilitas SDM calon pemimpin. Dalam identifikasi talenta kepemimpinan dakwah, Nabi memprioritaskan SDM generasi pertama, yaitu kaum Muhajirin, mengingat bukti keimanan, loyalitas dan konsistensi kinerja dalam dakwah serta potensi kepemimpinan. Namun Nabi juga tetap mengidentifikasi talenta kepemimpinan dakwah dalam lapisan generasi SDM sahabat berikutnya, seperti di kaum Ansar, Muslimin pasca penaklukan Mekkah dan putra-putri Sahabat. Dalam proses pendidikan kepemimpinan dakwah, tahap awal menekankan pembentukan keimanan, visi keislaman, mentalitas dan moralitas kepemimpinan dakwah. Tahap selanjutnya berorientasi kemampuan penalaran/pemecahan masalah dan membangun komunikasi pribadi. Pendidikan kepemimpinan dakwah melalui forum pembelajaran, pelibatan dalam forum strategis, pembimbingan personal, serta penugasan sebagai pemimpin kelompok dakwah.
Dakwah Pasca Pandemi dengan Karakter Entrepreneurship Ahmad Hidayat; Dedy Pradesa
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 4 No 1 (2022)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v3i2.235

Abstract

Pandemi Covid-19 yang berdampak pada sektor dakwah menuntut subjek dan lembaga dakwah untuk bisa beradaptasi dan bangkit pasca pandemi, yang sebelumnya mengalami penurunan bahkan kemandegan. Untuk bisa bangkit dan memulai lagi usaha dakwah dibutuhkan mentalitas yang kuat yang ada pada nilai-nilai karakter entrepreneurship. Oleh karenanya studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan karakter entrepreneurship bagi subjek dan lembaga dakwah dalam menghadapi situasi pandemi dan pascanya, serta bagaimana menginternalisasikannya pada subjek dakwah. Metodologi studi adalah kualitatif, data dikumpulkan berdasarkan sumber kepustakaan serta observasi dakwah di masa pandemi. Hasil studi menjelaskan bahwa karakter entrepreneurship memiliki peran siginfikan bagi kebangkitan dakwah pasca pandemi. Dengan mindset yang visioner, berorientasi untuk maju, dan berpikir kreatif dan inovatif menjadi syarat agar subjek dan lembaga dakwah bisa bertahan dan tumbuh. Mindset tersebut akan melahirkan sikap kerja keras, kegigihan, pantang menyerah, berani memulai lagi usaha dari awal sebagai modal kesuksesan dakwah. Internalisasi nilai-nilai karakter entrepreneurship berpijak dari persoalan yang banyak dihadapi subjek dakwah yaitu terkait masalah ­mindset. Melalui tiga tahap internalisasi yaitu transformasi, transaksi, dan transinternalisasi nilai-nilai entrepreneurship akan bisa merubah mindset subjek dakwah sehingga menerima dan menyadari pentingnya, yang pada akhirnya akan mewujud pada sikapnya.
Komodifikasi dan Efek Eksternalitas Program Dakwahtainment Islam Itu Indah Dedy Pradesa; Yunda Presti Ardilla
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 2 No 1 (2020)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.982 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v2i1.85

Abstract

Tulisan ini mengeksplorasi gejala komodifikasi dan efek eksternalitas dalam tayangan program dakwahtainment Islam Itu Indah Trans TV. Program tersebut memiliki rating tinggi dan mampu bertahan hingga tahun kesepuluh. Tayangan dakwahtainment di televisi komersil tentu tidak terlepas dari proses komodifikasi dan efek eksternalitas. Pijakan teori yang digunakan adalah teori komodifikasi menurut Vincent Mosco yang dilengkapi Idi Subandy Ibrahim dan Bachruddin Ali Akhmad, serta teori efek eksternalitas siaran televisi menurut Edward S. Herman. Metodologi studi adalah kualitatif dengan pendekatan analisis semiotik. Data dikumpulkan melalui dokumentasi dan observasi tayangan di televisi, media sosial YouTube, dan Instagram, dengan sampel 91 episode tayangan (Desember 2019- Februari 2020). Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi signifikasi struktur tanda dalam tayangan dakwahtainment meliputi (a) konten komunikasi seperti judul materi dakwah, klasifikasi pesan dakwah, tagline acara; (b) khalayak, terdiri dari jemaah di studio dan di rumah, serta tingkat rating, dan share program; (c) tenaga kerja, terkait pilihan dai sebagai narasumber, host, dan bintang tamu; (d) nilai-nilai agama yang diwakili substansi isi pesan dakwahnya. Hasil studi menunjukkan bahwa gejala komodifikasi terjadi dalam empat kategori yaitu komodifikasi konten komunikasi, khalayak, pengisi acara (tenaga kerja), dan nilai-nilai keagamaan. Efek eksternalitas yang dihasilkan ada yang bermuatan positif, namun lebih banyak muatan negatifnya.
Mengelola Organisasi Dakwah Dalam Situasi Pandemi Dengan Karakter Kewirausahaan Ahmad Hidayat; Dedy Pradesa
Idarotuna Vol 4, No 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idarotuna.v4i2.16883

Abstract

Tulisan ini berangkat dari fenomena panjangnya pandemi Covid-19 yang berdampak pada organisasi dakwah. Organisasi dakwah tidak hanya dituntut bisa beradaptasi, tetapi juga bangkit, dan berinovasi. Karakter kewirausahaan menjadi penting dihidupkan pada situasi demikian. Tujuan studi ini adalah menjelaskan bagaimana mengelola organisasi dakwah saat pandemi dengan karakter kewirausahaan.  Metode studi bersifat kualitatif pustaka. Hasil studi menunjukkan bahwa persoalan pandemi tidak hanya terkait media dakwah, tetapi juga mentalitas SDM agar bisa bangkit dan berinovasi. Untuk itu nilai-nilai kewirausahaan sangat relevan bagi pengelolaan organisasi dakwah. Nilai kewirausahaan tidak hanya dibutuhkan organisasi pada situasi pandemi, tetapi juga setelahnya dan ketika organisasi sudah besar. Pengelolaan organisasi dakwah dengan karakter kewirausahaan adalah dengan menjadikan mindset dan sikap kewirausahaan sebagai nilai-nilai dan norma yang disepakati dalam organisasi dakwah. Pembangunan budaya dan kepemimpinan kewirausahaan menjadi kunci dalam proses pengelolaan tersebut.
Landasan Dakwah Multikultural: Studi Kasus Fatwa MUI tentang Pengharaman Pluralisme Agama Kristianto, Aris; Dedy Pradesa
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 2 No 1 (2020)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.964 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v2i1.96

Abstract

Studi ini berangkat dari gagasan dakwah multikultural yang relevan dengan konteks Indonesia. Sebagai sebuah pendekatan dakwah berbasis multikultural perlu memiliki landasan yang tepat dalam pelaksanaannya, karena konsep multikultural bersinggungan dengan konsep pluralisme teologis yang ternyata maknanya tidak tunggal. Sisi lain MUI sebagai Lembaga yang mengeluarkan fatwa Nomor 7 Tahun 2005 tentang keharaman pluralisme. Di sinilah perlunya pengkajian fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme teologis sebagai landasan dakwah multikultural. Studi ini berfokus pada menelaah fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme agama dan keabsahan makna khusus pluralisme agama, serta implikasi fatwa tersebut bagi pelaksanaan dakwah multikultural. Metodologi studi secara kualitatif deskriptif dengan pendekatan kepustakaan. Analisis berpijak pada konsep pluralisme, karakteristik dakwah multikultural, serta kelembagaan MUI dan fatwanya. Hasil studi menunjukkan bahwa pemaknaan pluralisme yang digagas MUI absah sebab berangkat dari pengertian awal pemahaman masyarakat, sehingga fatwa tersebut dapat diterima kebenarannya. Implikasi fatwa tersebut terletak pada tiga hal, yaitu perlunya pengembangan materi antipluralisme dan promultikultural, pengembangan strategi dakwah berbasis kultural dan mengedepankan kerukunan, penyikapan perbedaan dengan dialog dan toleransi aktif untuk hidup Bersama.
Mengelola Energi Spiritual Bagi Dai': Belajar dari nabi Ibrahim Hidayat, Ahmad; Pradesa, Dedy
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 3 No 1 (2021)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.523 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v3i1.142

Abstract

Energi spiritual adalah penggerak di balik semua kegiatan seseorang untuk menjalankan nilai yang dipegang teguh dan dengan tujuan di luar kepentingan pribadi, termasuk kegiatan menjalankan kewajiban berdakwah. Penting bagi dai, yaitu subjek atau pelaku dakwah, untuk memiliki metode manajemen energi spiritual yang baik, yaitu: (1)memiliki teknik meningkatkan energi spiritual, sehingga memiliki kapasitas yang tinggi; (2) kemampuan menggunakanya secara efisien, serta; (3) memiliki sistem pemulihannya. Lewat teladan Nabi Ibrahim sebagai dai, kita dapat menggali tiga teknik manajemen energi spiritual di atas. Pijakan teori yang digunakan adalah manajemen energi spiritual Jim Loehr dan Tony Schawartz. Metodologi studinya adalah studi pustaka. Hasil telah pustaka ini adalah: (1) Nabi Ibrahim secara terus menerus dan bertahap meningkatkan kapasitas energi spiritualnya, melalui menjalankan perintah berdakwah yang menantang rasa amannya; (2) Nabi Ibrahim tidak membenci dan sakit hati dengan penolakan misi dakwahnya, sebaliknya Ia terus menggunakan pendekatan ilmiah, tidak memaksa dan mendoakan keselamatan pada mereka yang menolak, sehingga energi spiritualnya tidak boros dikeluarkan untuk rasa kecewa atau frustasi karena ditolak umat; (3) Nabi Ibrahim melakukan jeda dan memanfaatkan energi spiritualnya dengan mengingat kebesaran, kasih sayang, keadilan Allah Swt. serta kewajiban dakwah yang bersifat mutlak, melakukan dakwah secara etis, ilmiah, dan tidak memaksa.
Rasionalitas Islam dalam Dakwah: Perspektif Normatif dan Historis Suwari, Suwari; Pradesa, Dedy
INTELEKSIA: Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v5i2.277

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk melacak dan mendeskripsikan rasionalitas dalam Islam perspektif normatif dan historis. Pelacakan tersebut penting untuk mengukuhkan peran penting penggunaan akal dalam Islam sekaligus menjawab tuduhan bahwa rasionalitas Islam hanyalah tiruan atau adopsi dari pemikiran filsafat Yunani. Normativitas rasional Islam digali dari teks Al-Quran dan Hadis terkait penggunaan akal. Sementara historisitas rasional Islam digali sejak era Kenabian sampai kemajuan peradaban Islam yang tidak bisa dilepaskan dari kultur dan dinamika penggunaan akal. Metodologi studi adalah kualitatif kepustakaan dengan mengintegrasikan pendekatan normatif dan historis. Hasil studi menunjukkan bahwa rasionalitas dalam Islam memiliki basis normatif yang kuat. Hal tersebut dapat diindikasi dari perintah Iqra’ dalam wahyu pertama, terminologi akal dalam Al-Quran, serta berdasarkan hadis. Secara historis terbukti bahwa sejak semula di masa Kenabian, rasionalitas telah tumbuh dan terus berkembang menjadi basis kemajuan peradaban Islam. Implikasi teoritis studi ini semakin mengukuhkan bahwa rasionalitas Islam bersifat orisinal, sehingga selaras dengan semangat pembaruan pemikiran Islam.