Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Yuridis Pelaksanaan Pajak Kendaraan Bermotor (BPKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) (Studi pada Badan Pendapatan Daerah Provinsi Maluku Utara) Kurniawaty, Aina; Nam Rumkel; Faissal Malik
JATISWARA Vol. 41 No. 1 (2026): Jatiswara
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jtsw.v41i1.1338

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, serta mengkaji mekanisme ideal dalam menetapkan penerapan tarif insentif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) terhadap Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara.Metode penelitian ini menggunakan penelitian hukum empiris. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data data sekunder. Data primer yang terdiri dari bahan hukum primer; bahan hukum sekunder; serta bahan hukum tersier. Data sekunder diperoleh dengan melakukan studi pustaka dan studi wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pelaksanaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) Menurut UU HKPD berdampak pada 2 hal yakni, Pertama Kontribusi Penerimaan PKB, BBNKB), dan PBBKB terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), realitasnya untuk tingkat efektivitas pendapatan pajak PKB,BBKNB, dan PPBK di tahun 2025, untuk insetif PKB hanya sebesar 5,09% dan BBNKB 6,42% sementara disektor PBBKB berkisar sebesar 54,84%. Artinya, menunjukan hasil perbandingan dibawah 60% yang berarti tidak efektif. Kedua terkait adanya implikasi penerapan UU HKPD terhadap Surat Edaran Mendagri dalam Penurunan tarif Pendapatan Asli Daerah dari sektor PKB, BBNKB dan PBBKB di Provinsi Maluku Utara. Konsekuensi logis dari ketentuan Pasal 96 ayat (1) UU HKPD dan PP Nomor 35 Tahun 2023 di atas terkait dasar penerapan tarif pajak, mewajibkan Menteri Dalam Negeri mengeluarkan 2 (dua) Surat Edaran sekaligus yang menjadi dasar pemberlakuan dan menyimpangi UU HKPD. Mekanisme Ideal dalam Menetapkan Penerapan Tarif Insentif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) Terhadap Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara pasca pemberlakuan Undang-Undang HKPD merupakan hal baru yang termuat dalam UU HKPD, mengatur tarif PKB maksimal sebesar 1,2%, tarif BBNKB Maksimal sebesar 12% dan tarif PBBKB sebesar 10%. Terlebih lagi saat ini pemerintah pusat melakukan pemangkasan dana transfer ke daerah dan khusus untuk Provinsi Maluku Utara terdampak pemangkasan sebesar kurang lebih 800 miliar sehingga pemprov dituntut untuk mandiri dalam membiayai kebutuhan daerah dan mengurangi ketergantungan dengan dana transfer dari Pemerintah Pusat
Analisis Putusan Hakim Pada Perkara Tindak Pidana Mineral Dan Batubara: Studi Putusan Pemidanaan Pada Masyarakat Adat Maba Sangaji Di PN Soasio Amin Yasim; Faissal Malik; Nam Rumkel
Supremasi Hukum: Jurnal Penelitian Hukum Vol 35 No 1 (2026)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jsh.35.1.26-43

Abstract

This study aims to analyze the judges' legal considerations in deciding a mineral and coal mining (Minerba) crime case involving the Maba Sangaji indigenous community at the Soasio District Court. The main problem in this study is how the judges' legal considerations in deciding the mineral and coal crime case in the verdict (A Study of Criminal Decisions for the Maba Sangaji Indigenous Community at the Soasio District Court). The research method used is normative legal research with a statutory approach, a case approach, and a conceptual approach. The data used consists of primary, secondary, and tertiary legal materials analyzed qualitatively. The results of the study indicate that the judge's considerations in the Mineral and Coal Mining crime case involving the Maba Sangaji indigenous community focused more on fulfilling the elements of the crime as stipulated in Law Number 3 of 2020 concerning Mineral and Coal Mining, as amended by Law Number 4 of 2009. In the judge's decision, with the indictment of Article 162 of the Mineral and Coal Mining Law, without optimally considering the existence and traditional rights of indigenous legal communities guaranteed by Article 18 paragraph (2) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, the decision has legal implications in the form of weak legal protection for indigenous communities in managing their territories, and has the potential to criminalize traditional community activities that have been carried out for generations. This research is expected to contribute to academics in the development of law enforcement officials and policy makers to pay more attention to the principles of substantive justice and recognition of the rights of indigenous communities in law enforcement.