Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale Putri, Risqina; Destari, Popi Lya; Nisa, Maizatun; Ramadhani, Alifa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9 (edisi khusus konference)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1599

Abstract

Background: Bronchial asthma is a chronic inflammation of the airways caused by an overreaction to allergens. An increased respiratory rate in asthma can lead to heart complications. One treatment to reduce the increased respiratory rate in asthma is balloon therapy, a breathing exercise involving blowing up balloons that can increase lung capacity and strengthen respiratory muscles. Purpose: To determine the effect of balloon therapy on respiratory rate in patients with bronchial asthma. Method: This study used a quasi-experimental design with a one-group pre-posttest design. A total sampling technique was used to select 32 participants with bronchial asthma. The instruments used were a demographic questionnaire and observation sheets for respiratory rate and other vital signs. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: This study demonstrated a significant effect of balloon therapy on respiratory rate in asthma patients (p = 0.001 < α = 0.05). The average respiratory rate of participants before the intervention was 26.12 breaths/minute, then decreased to 23.78 breaths/minute after the intervention. Conclusion: There is a significant effect of balloon therapy on respiratory rate in patients with bronchial asthma. Suggestion: Patients with bronchial asthma can implement balloon therapy interventions when an asthma attack occurs to prevent further complications. Local community health centers can integrate balloon therapy interventions into nursing care for patients with bronchial asthma according to standard operating procedures.   Keywords: Balloon Therapy; Bronchial Asthma; Respiratory Rate.   Pendahuluan: Asma bronchiale merupakan inflamasi kronik pada saluran napas akibat adanya hiperreaksi terhadap alergen. Gejala peningkatan frekuensi napas pada asma dapat menimbulkan komplikasi pada jantung. Salah satu penanganan untuk mengurangi peningkatan frekuensi pernapasan pada asma bronchiale adalah dengan balloon blowing therapy, yaitu latihan pernapasan dengan meniup balon yang dapat meningkatkan kapasitas paru dan memperkuat otot pernapasan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental dengan pendekatan one group pre-posttest design. Jumlah sampel sebanyak 32 partisipan dengan asma bronchiale yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner karakteristik demografi dan lembar observasi frekuensi pernapasan dan parameter tanda-tanda vital lainnya. Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale secara signifikan dengan p = 0.001 < α = 0.05. Rata-rata frekuensi pernapasan partisipan sebelum intervensi adalah 26.12 kali/menit, kemudian menurun menjadi 23.78 kali/menit setelah intervensi diberikan. Simpulan: Ada pengaruh balloon blowing therapy terhadap frekuensi pernapasan pada penderita asma bronchiale secara signifikan. Saran: Penderita asma bronchiale dapat menerapkan intervensi balloon blowing therapy ketika terjadi kekambuhan asma berulang sebelum menjadi komplikasi lebih lanjut. Puskesmas setempat dapat mengintegrasikan intervensi balloon blowing therapy ke dalam asuhan keperawatan pada penderita asma bronchiale sesuai standar operasional prosedur.   Kata Kunci: Asma Bronchiale; Balloon Blowing Therapy; Frekuensi Pernapasan.
PENERAPAN TERAPI KOMPRES BAWANG MERAH DALAM MENURUNKAN SKALA NYERI PADA REMAJA PUTRI DENGAN DISMENORE Putri, Risqina; Fazrina, Afrilia; Destari, Popi Lya; Faidhil; Amalia, Riska
Jurnal Kesehatan Akimal Vol 5 No 1 (2026): EDISI APRIL 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58435/jka.v5i1.217

Abstract

Dismenore adalah nyeri yang dirasakan setiap wanita, terutama setiap periode menstruasi. Apabila dismenore tidak diatasi, akan menyebabkan komplikasi fisik, meliputi nyeri, mual, diare atau konstipasi, kram, komplikasi psikologis, meliputi depresi, kecemasan dan emosional serta komplikasi lainnya meliputi penurunan kualitas hidup, infertilitas dan disfungsi seksual. Salah satu intervensi untuk menurunkan nyeri pada remaja dengan dismenore adalah terapi kompres bawang merah. Hal ini karena bawang merah mengandung kandungan penting seperti allicin, flavonoid dan kaempferol, yang berperan menurunkan nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan penerapan terapi kompres bawang merah dalam menurunkan skala nyeri pada remaja putri dengan dismenore. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Instrumen penelitian ini terdiri dari lembar observasi dan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Penelitian ini melibatkan dua remaja putri yang menderita dismenore primer dengan skala nyeri pada kategori sedang (4-6). Hasil penelitian menunjukkan skala nyeri sebelum intervensi pada Subjek I adalah 5 (sedang) dan Subjek II adalah 4 (sedang). Terjadi penurunan skala nyeri setelah pemberian 10 gram bawang merah yang dikompres selama 20 menit dalam dua hari berturut-turut, Subjek I menjadi skala 2 (ringan) dan Subjek II menjadi skala 1 (ringan) setelah intervensi. Terapi kompres bawang merah terbukti efektif dalam menurunkan skala nyeri pada remaja dengan dismenore. Diharapkan terapi kompres bawang merah ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi untuk menurunkan skala nyeri menstruasi pada remaja putri.
PENERAPAN TERAPI Virgin Coconut Oil (VCO) DALAM MENGURANGI MILIARIA (BIANG KERINGAT) PADA ANAK Fazrina, Afrilia; Putri, Risqina; Destari, Popi Lya; Mairoel; Nelly
Jurnal Kesehatan Akimal Vol 5 No 1 (2026): EDISI APRIL 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Kesdam Iskandar Muda Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58435/jka.v5i1.223

Abstract

Miliaria (biang keringat) adalah kondisi kulit yang disebabkan oleh produksi keringat berlebihan akibat penyumbatan saluran kelenjar keringat. Kondisi ini menyebar ke wajah, dada, lipatan kulit, punggung, anggota tubuh yang tertutup pakaian, serta telapak tangan dan kaki, disertai rasa terbakar dan gatal. Sekitar 80% kasus miliaria di dunia terjadi pada anak-anak, dengan 65% terjadi pada bayi. Prevalensi miliaria di Indonesia mencapai 49,6%, umumnya terjadi pada bayi, terutama di kota-kota besar. Miliaria menempati peringkat ke-7 dari 10 penyakit kulit yang terjadi pada bayi dan balita. Prevalensi penyakit kulit ini tercatat sebesar 6,8% di Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam mengurangi miliaria (biang keringat) pada anak. Metode penelitian ini adalahdeskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua orang anak dengan miliaria berusia 0-12 tahun yang sesuai dengan kriteria inklusi. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Terapi VCO diberikan selama 5 hari berturut-turut dengan dibubuhkan dibagian yang terdapat tanda miliaria. Sebelum dilakukan intervensi, Subjek I mengalami bintik-bintik merah, sensasi terbakar, dan gatal, sedangkan Subjek II mengalami bintik- bintik merah yang menyebar, gatal, terbakar, dan nanah. Setelah intervensi, kondisi kedua subjek membaik, bintik-bintik dan gatal menghilang, dan nanah berkurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi VCO efektif dalam mengurangi biang keringat pada anak-anak dan dapat digunakan sebagai pilihan intervensi non-farmakologis.