Saputro, Okky Bagas
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENCIPTAAN TARI “WONG IRENG” GAGASAN KREATIF DARI DONGENG RAKYAT Martono, Hendro; Saputro, Okky Bagas
Imaji Vol 18, No 2 (2020): IMAJI OKTOBER
Publisher : FBS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v18i2.39159

Abstract

Daerah Kemadang memiliki satu cerita rakyat “Wong Ireng” yang masih misteri bagi masyarakat luas Kemadang apalagi Gunungkidul. Legenda Wong Ireng menurut tokoh masyarakat setempat bermula dari Prabu Brawijaya sedang anjangsana ke wilayah pantai Selatan Gunungkidul, di daerah Kemadang dihadang gerombolan manusia tubuhnya berambut hitam terlihat seperti manusia hutan yang beringas. Terjadi pertempuran dengan pasukan Majapahit yang berhasil menaklukan Wong Ireng. Atas kebijakan Prabu Brawijaya, Wong Ireng dimanfaatkan sebagai pasukan lain dengan melatih menjadi ahli perang untuk menjaga wilayah pantai Selatan. Penciptaan tari “Wong Ireng” akan memperkaya tari rakyat Gunungkidul, hasil kerja bareng antara seniman akademik dengan seniman seni rakyat. Koreografinya berpijak pada tari Jathilan, Reog dan Dhudher serta tari rakyat lainnya yang sudah ada di Gunungkidul dan tari Buto Grasak yang berasal dari Sleman yang energik, beringas, kasar dan ditambahkan akrobatik. Mengacu dari interpretasikarakter Wong Ireng dalam legenda.Kata kunci: penciptaan tari, legenda, wong ireng“WONG IRENG” DANCE CREATION AS CREATIVE IDEAS OF A FOLKTALEAbstractIn Kemadang, there is a folktale called “Wong Ireng” which is still a mystery to the people of Kemadang, especially the people of Gunungkidul. The legend of Wong Ireng according to local public figure started when Prabu Brawijaya visited the southern beach of Gunungkidul. In Kemadang, he was stopped by a group of people covered in black hair, looking like savage forest people. A battle took place and Majapahit soldiers managed to defeat Wong Ireng. At Prabu Brawijaya’s behest, Wong Ireng were forgiven and used as an army by training them to be warriors protecting the southern beach. The creation of “Wong Ireng” dance can enrich Gunungkidul folk dance. It is the collaboration result of academic artists and folk dance artists. The choreography is based on Jathilan, Reog, and Dhudher or other existing folk dances in Gunungkidul and energetic, savage, rough, and acrobatic Buto Grasak dance from Sleman. It is based on the interpretation of the legend of Wong Ireng.Keywords: dance creation, legend, Wong Ireng
SIH : Karya Tari yang Berpijak dari Analisa Psikis Tokoh Wayang Ramabargawa Saputro, Okky Bagas; Heryadi, Dindin; Prakasiwi, Galih
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12761

Abstract

RINGKASANKarya tari berjudul Sih terinspirasi dari cerita wayang Jawa pada lakon Ramabargawa yang memiliki jiwa yang teteg, tatag, tanggon, dan tangguh. Sebuah peristiwa tragis yang menyebabkan seluruh anggota keluarganya dibantai oleh golongan kesatria tanpa sepengetahuan Ramabargawa, berdampak pada psikis (kejiwaan) Ramabargawa yang menjadi brutal, pendendam, dan bersumpah untuk membunuh para kesatria di muka bumi. Dari peristiwa lakon di atas terdapat rangsang visual dari bentuk wayangnya dan rangsang gagasan dari fenomenanya. Dramatik dalam karya ini menggunakan cara ungkap simbolik. Koreografi tunggal dijadikan sebagai perwujudan karya dengan metode; Eksplorasi, Improvisasi, dan Komposisi. Tema yang diusung adalah kasih sayang. Judul karya tari yaitu Sih dari kata asih. Karya tari Sih terbagi menjadi empat bagian antara lain karakter, psikis (kejiwaan), kesadaran, dan pertanggungjawaban. Karya ini disajikan dalam format tari video/dance on camera dengan menambahkan sinematografi sebagai bingkainya. Penggunaan beberapa kamera untuk mengambil detail-detail gerak tertentu.ABSTRACTThe dance work entitled Sih is inspired by the Javanese wayang story in the play Ramabargawa which has a tough, tough, tough and tough soul. There was a major event, namely that his entire family was massacred by the knights without Ramabargawa's knowledge. This tragic event had an impact on Ramabargawa's psychology, who became brutal, vengeful and vowed to kill the knights on earth. Looking at the events of the play above, there are visual stimuli from the form of the wayang and ideas from the phenomena. The drama in this work uses symbolic expression. Single choreography is used as an embodiment of work with methods; Exploration, Improvisation, and Composition. The theme carried is love. The title of the dance work is Sih from the word asih. Sih's dance work is divided into four parts, including character, psychology, consciousness and responsibility. This work is presented in a dance video/dance on camera format by adding cinematography as a frame. The use of several cameras to capture certain details of movement.