Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

HAKIKAT DAN TUJUAN PERNIKAHAN DI ERA PRA-ISLAM DAN AWAL ISLAM Januario, Ridwan Angga; Sj, Fadil; Thoriquddin, Moh.
JURNAL AL-IJTIMAIYYAH Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v8i1.11007

Abstract

Abstract: Marriage is a sacred event experienced by a man and a woman. According to the marriage, there is inner and outer peace, but looking at the historical facts, especially in the pre-Islamic era, women did not get a favorable position at that time. Which is influenced by the socio-cultural society that adheres to a patriarchal system. So, that men monopolize all matters related to family matters. This results in inequality in social life. The existence of a marriage tradition rooted in the patriarchal system, resulted in the marriage being like a sale and purchase contract, where women became the object of merchandise. From the results of the study it was found that in the pre-Islamic era, the nature of marriage was something that was natural and cultural. Meanwhile, the purpose of marriage is only to obtain offspring and satisfy lust. As long as for the Islamic era, the nature of marriage is something that is instinctive and the law is regulated by religion. With the result that marriage is intended to worship, find happiness, produce offspring, and vent lust.Keywords:  Marriage; Pre-Islamic; Early Islam.Abstrak: Pernikahan merupakan suatu peristiwa sakral yang dialami oleh pasangan pria dan wanita. Yang mana dengan adanya pernikahan tersebut, maka diperoleh ketenteraman lahir dan batin, Namun melihat fakta sejarah yang ada, terlebih di era pra Islam, maka perempuan tidaklah mendapatkan posisi yang menguntungkan kala itu. Yang mana hal tersebut terpengaruh oleh sosio kultural masyarakat yang menganut sistem patriarki. Sehingga pria memonopoli segala urusan terkait dengan masalah keluarga. Hal ini mengakibatkan adanya ketidaksetaraan di dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Adanya tradisi perkawinan yang mengakar pada sistem patriarki, mengakibatkan pernikahan tersebut tak ubahnya sebagai kontrak jual beli, di mana wanita menjadi obyek barang dagangan. Dari hasil penelitian didapati bahwa pada era pra-Islam, hakikat pernikahan adalah sesuatu yang sifatnya alamiah dan kultural. Sedangkan tujuan pernikahan hanya semata untuk memperoleh keturunan dan memuaskan syahwat. Adapun pada masa Islam, hakikat pernikahan adalah sesuatu yang sifatnya naluriah dan hukum yang diatur oleh agama. Sedangkan pernikahan ditujukan untuk beribadah, mendapatkan kebahagiaan, memperoleh keturunan, dan melampiaskan syahwat.Kata Kunci: Pernikahan; Pra Islam; Awal Islam.
DAMPAK NIKAH SIRI TERHADAP ISTRI DAN ANAK PERSPEKTIF MAQASHID AL-SYARI’AH AL-SYATHIBI (STUDI DESA BANGSALSARI KECAMATAN BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER) Firdaus, Sauqi Noer; Sj, Fadil; Thoriquddin, Moh.
JURNAL AL-IJTIMAIYYAH Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v7i2.9726

Abstract

Abstract: Bangsalsari Village is the village with the most cases of unregistered marriage among other villages in the Jember Regency area. Among the problems that occur there are men and women who want to get married, perform the sacred contract in front of an ustaz or community leader as a penghulu by fulfilling the pillars and conditions according to religion, but do not report and register their marriage at the Office of Religious Affairs. This is influenced by the culture and beliefs of the local community. The approach and type of research used in this research is qualitative-empirical. Collecting data by means of interviews and documentation, then processed by the stages of Editing, Classifying and Verifying. Based on the results of the study, the negative effects received by the wife and children from the absence of marriage registration such as not being able to go to school, not being able to sue for divorce from their husbands when experiencing and not being able to inherit from their husbands in Bangsalsari Village, Bangsalsari District, Jember Regency. The maqashid al-Syari'ah Al-Syathibi perspective, namely marriage registration is included in the Dlaruriyat aspect, as well as sakinah, mawaddah and rahmah which are also the most important components in household life in Bangsalsari Village.Keywords: Marriage Siri; Impact on Wife and Children; Maqashid Sharia.Abstrak: Desa Bangsalsari merupakan merupakan desa terbanyak terjadinya kasus nikah siri di antara desa-desa lainnya yang ada di wilayah Kabupaten Jember. Di antara permasalahan yang terjadi di sana yaitu laki-laki dan perempuan yang ingin melangsungkan pernikahan, melakukan akad sakral tersebut dihadapan seorang ustaz atau tokoh masyarakat sebagai penghulu dengan terpenuhi rukun dan syaratnya menurut agama, akan tetapi tidak melaporkan dan mencatatkan pernikahan mereka di Kantor Urusan Agama, hal ini dipengaruhi oleh budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan penelitian ini adalah kualitatif-empiris. Pengumpulan data dengan cara wawancara dan dokumentasi, kemudian diolah denga tahapan Editing, Classifying dan Verifying. Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh negatif yang diterima oleh istri dan anak dari tidak adanya pencatatan nikah seperti tidak dapat bersekolah, tidak dapat menggugat cerai suami ketika mengalami dan tidak dapat jatah waris dari suami di Desa Bangsalsari, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember. Perspektif maqashid al-Syari’ah Al-Syathibi, yaitu pencatatan nikah termasuk dalam aspek Dlaruriyat, sama halnya dengan sakinah, mawaddah dan rahmah yang juga menjadi komponen paling penting dalam kehidupan rumah tangga di Desa Bangsalsari.Kata Kunci: Nikah Siri; Dampak Terhadap Istri dan Anak; Maqashid Al-Syari’ah.
Epistemology of Musthafa Umar’s Interpretation on the Kajian Tafsir Al-Ma’rifah YouTube Channel Siti Zakiah, Ade Rosi; Thoriquddin, Moh.
Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 7, No 2 (2022): Decolonization of Islamic Thought, Social and Humanities Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/mlt.v7i2.7047

Abstract

A review of the epistemology of the audiovisual interpretation of the “Kajian Tafsir Al-Ma’rifah” YouTube channel delivered by Musthafa Umar is important to find out the source of interpretation, the method of interpretation, and the benchmark for the validity of his interpretation. Considering that a work of interpretation cannot be separated from various tendencies of commentators, whether it is caused by socio-cultural conditions in their environment, political influences, science, the context in which the interpretation was born, and others. Thus, studying the epistemology of interpretation becomes an urgent scientific problem to be addressed to know an interpretation. This paper is to significantly reveal the epistemology of Musthafa Umar’s thoughts in the process of interpretation on YouTube. Based on a study of the epistemology of audiovisual interpretation delivered on the “Kajian Tafsir Al-Ma’rifah” YouTube channel, it was found that Musthafa’s interpretation belongs to the category of bil ma’tsur and bil ra’yi interpretations. When interpreting Al Qur’an, he combines the tahlili (analytical) method and the maudhu’i (thematic) method. His interpretation is correct because it follows the coherence, correspondence, and pragmatic theory of truth.
DAMPAK NIKAH SIRI TERHADAP ISTRI DAN ANAK PERSPEKTIF MAQASHID AL-SYARI’AH AL-SYATHIBI (STUDI DESA BANGSALSARI KECAMATAN BANGSALSARI KABUPATEN JEMBER) Firdaus, Sauqi Noer; Sj, Fadil; Thoriquddin, Moh.
JURNAL AL-IJTIMAIYYAH Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v7i2.9726

Abstract

Abstract: Bangsalsari Village is the village with the most cases of unregistered marriage among other villages in the Jember Regency area. Among the problems that occur there are men and women who want to get married, perform the sacred contract in front of an ustaz or community leader as a penghulu by fulfilling the pillars and conditions according to religion, but do not report and register their marriage at the Office of Religious Affairs. This is influenced by the culture and beliefs of the local community. The approach and type of research used in this research is qualitative-empirical. Collecting data by means of interviews and documentation, then processed by the stages of Editing, Classifying and Verifying. Based on the results of the study, the negative effects received by the wife and children from the absence of marriage registration such as not being able to go to school, not being able to sue for divorce from their husbands when experiencing and not being able to inherit from their husbands in Bangsalsari Village, Bangsalsari District, Jember Regency. The maqashid al-Syari'ah Al-Syathibi perspective, namely marriage registration is included in the Dlaruriyat aspect, as well as sakinah, mawaddah and rahmah which are also the most important components in household life in Bangsalsari Village.Keywords: Marriage Siri; Impact on Wife and Children; Maqashid Sharia.Abstrak: Desa Bangsalsari merupakan merupakan desa terbanyak terjadinya kasus nikah siri di antara desa-desa lainnya yang ada di wilayah Kabupaten Jember. Di antara permasalahan yang terjadi di sana yaitu laki-laki dan perempuan yang ingin melangsungkan pernikahan, melakukan akad sakral tersebut dihadapan seorang ustaz atau tokoh masyarakat sebagai penghulu dengan terpenuhi rukun dan syaratnya menurut agama, akan tetapi tidak melaporkan dan mencatatkan pernikahan mereka di Kantor Urusan Agama, hal ini dipengaruhi oleh budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan penelitian ini adalah kualitatif-empiris. Pengumpulan data dengan cara wawancara dan dokumentasi, kemudian diolah denga tahapan Editing, Classifying dan Verifying. Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh negatif yang diterima oleh istri dan anak dari tidak adanya pencatatan nikah seperti tidak dapat bersekolah, tidak dapat menggugat cerai suami ketika mengalami dan tidak dapat jatah waris dari suami di Desa Bangsalsari, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember. Perspektif maqashid al-Syari’ah Al-Syathibi, yaitu pencatatan nikah termasuk dalam aspek Dlaruriyat, sama halnya dengan sakinah, mawaddah dan rahmah yang juga menjadi komponen paling penting dalam kehidupan rumah tangga di Desa Bangsalsari.Kata Kunci: Nikah Siri; Dampak Terhadap Istri dan Anak; Maqashid Al-Syari’ah.
HAKIKAT DAN TUJUAN PERNIKAHAN DI ERA PRA-ISLAM DAN AWAL ISLAM Januario, Ridwan Angga; Sj, Fadil; Thoriquddin, Moh.
JURNAL AL-IJTIMAIYYAH Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v8i1.11007

Abstract

Abstract: Marriage is a sacred event experienced by a man and a woman. According to the marriage, there is inner and outer peace, but looking at the historical facts, especially in the pre-Islamic era, women did not get a favorable position at that time. Which is influenced by the socio-cultural society that adheres to a patriarchal system. So, that men monopolize all matters related to family matters. This results in inequality in social life. The existence of a marriage tradition rooted in the patriarchal system, resulted in the marriage being like a sale and purchase contract, where women became the object of merchandise. From the results of the study it was found that in the pre-Islamic era, the nature of marriage was something that was natural and cultural. Meanwhile, the purpose of marriage is only to obtain offspring and satisfy lust. As long as for the Islamic era, the nature of marriage is something that is instinctive and the law is regulated by religion. With the result that marriage is intended to worship, find happiness, produce offspring, and vent lust.Keywords:  Marriage; Pre-Islamic; Early Islam.Abstrak: Pernikahan merupakan suatu peristiwa sakral yang dialami oleh pasangan pria dan wanita. Yang mana dengan adanya pernikahan tersebut, maka diperoleh ketenteraman lahir dan batin, Namun melihat fakta sejarah yang ada, terlebih di era pra Islam, maka perempuan tidaklah mendapatkan posisi yang menguntungkan kala itu. Yang mana hal tersebut terpengaruh oleh sosio kultural masyarakat yang menganut sistem patriarki. Sehingga pria memonopoli segala urusan terkait dengan masalah keluarga. Hal ini mengakibatkan adanya ketidaksetaraan di dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Adanya tradisi perkawinan yang mengakar pada sistem patriarki, mengakibatkan pernikahan tersebut tak ubahnya sebagai kontrak jual beli, di mana wanita menjadi obyek barang dagangan. Dari hasil penelitian didapati bahwa pada era pra-Islam, hakikat pernikahan adalah sesuatu yang sifatnya alamiah dan kultural. Sedangkan tujuan pernikahan hanya semata untuk memperoleh keturunan dan memuaskan syahwat. Adapun pada masa Islam, hakikat pernikahan adalah sesuatu yang sifatnya naluriah dan hukum yang diatur oleh agama. Sedangkan pernikahan ditujukan untuk beribadah, mendapatkan kebahagiaan, memperoleh keturunan, dan melampiaskan syahwat.Kata Kunci: Pernikahan; Pra Islam; Awal Islam.
Legal Dissonance and Social Consequences of Unregistered Ṭalāq in Indonesia Nasrulloh, Muhammad; Ermawan, Mohamad Zakky Ubaid; Thoriquddin, Moh.; Anam, Khoirul
Al-Syakhsiyyah: Journal of Law and Family Studies Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Shariah UIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/syakhsiyyah.v7i2.11686

Abstract

This study explores the legal dissonance and social consequences arising from the widespread practice of unregistered ṭalāq in Indonesia. It aims to examine the normative conflict between fiqh-based principles and state law, and its implications for husbands, wives, and children. Using normative legal research with a conceptual and descriptive approach, the study finds that unregistered ṭalāq contributes to systemic legal uncertainty and structural inequality, particularly disadvantaging women and children. Legal complications include ambiguous marital status, limitations on remarriage, and procedural obstacles in court and civil registration. Husbands may face the risk of ṭalāq repetition across normative systems, potentially leading to unintended final divorce, alongside repeated obligations related to nafaqah and muṭʿah. Wives face prolonged ʿiddah, abandonment, and disproportionate legal burdens, while children are exposed to psychological distress and a lack of enforceable custodial rights. To address these issues, this paper proposes the institutionalization of ṭalāq validation (isbat ṭalāq) as a harmonizing mechanism between religious and state legal systems, aiming to restore legal certainty, protect vulnerable parties, and promote justice in marital dissolution.
REFRAMING THE PROPHET’S INTERACTIONS WITH NON MUSLIMS: A CONTEXT-SENSITIVE MODEL OF RELIGIOUS MODERATION FROM THE SĪRAH NABAWIYYAH Nasrulloh, Muhammad; Zakky Ubaid Ermawan, Mohamad; Anam, Khoirul; Thoriquddin, Moh.
Harmoni Vol. 24 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i2.903

Abstract

This study examines the Prophet Muhammad’s interactions with non‑Muslims in the Sīrah Nabawiyyah to construct a context-sensitive model of religious moderation applicable to contemporary plural societies. Existing research often highlights his tolerance but rarely provides a systematic classification of his interactions across diverse social and political settings, leaving a gap in developing an operational framework for religious moderation. This study employs qualitative library research using primary hadith data supported by classical and contemporary exegetical and historical sources. The data were analyzed through descriptive, comparative, and contextual interpretation to map patterns of interaction in Mecca and Medina. The findings show, first, that Muhammad’s moderation was shaped by context: defensive in Mecca under persecution and protective in Medina as a political leader. Second, his interactions with non‑Muslims fall into distinct categories—adversaries, allies, captives, and family members—each demonstrating different ethical responses ranging from firmness toward hostile groups to justice and compassion toward peaceful communities. Third, five dimensions of moderation emerge: protection in social authority, justice in law enforcement, synergy in socio-economic relations, empathy in social and environmental engagement, and freedom in religious practice. These findings offer an empirically grounded framework for strengthening interfaith harmony, informing policy, and enhancing religious education. The study concludes that moderation in Islam is dynamic and adaptable, providing practical guidance for managing diversity in modern societies.  Abstrak Penelitian ini menelaah interaksi Nabi Muhammad dengan non‑Muslim dalam Sīrah Nabawiyyah untuk membangun model moderasi beragama yang peka konteks dan relevan bagi masyarakat plural kontemporer. Penelitian sebelumnya sering menyoroti sikap toleransi beliau, tetapi jarang menyediakan klasifikasi sistematis atas interaksi beliau dalam berbagai setting sosial dan politik, sehingga menyisakan kesenjangan dalam pengembangan kerangka moderasi beragama yang operasional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan data primer berupa hadis, didukung sumber tafsir dan sejarah klasik maupun kontemporer. Data dianalisis melalui pendekatan deskriptif, komparatif, dan interpretasi kontekstual untuk memetakan pola interaksi di Makkah dan Madinah. Temuan penelitian ini menunjukkan, pertama, bahwa moderasi Muhammad dibentuk oleh konteks: bersifat defensif di Makkah ketika mengalami penindasan dan protektif di Madinah ketika memimpin komunitas politik. Kedua, interaksi beliau dengan non‑Muslim terbagi dalam beberapa kategori: musuh, sekutu, tawanan, dan anggota keluarga, yang masing‑masing menampilkan respons etis berbeda, mulai dari ketegasan terhadap kelompok bermusuhan hingga keadilan dan kasih sayang terhadap komunitas yang damai. Ketiga, muncul lima dimensi moderasi: perlindungan dalam otoritas sosial, keadilan dalam penegakan hukum, sinergi dalam hubungan sosial‑ekonomi, empati dalam relasi sosial dan lingkungan, serta kebebasan dalam praktik keagamaan. Temuan ini menawarkan kerangka empiris untuk memperkuat harmoni antaragama, mendukung perumusan kebijakan, dan meningkatkan pendidikan keagamaan. Studi ini menyimpulkan bahwa moderasi dalam Islam bersifat dinamis dan adaptif, serta memberikan panduan praktis dalam mengelola keberagaman di masyarakat modern