Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Memahami Imago Dei Sebagai Potensi Ilahi dalam Pelayanan Kristiani Marcellius Lumintang; Binsar Mangaratua Hutasoit; Clartje S.E. Awulle
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2017): Teologi dan Pelayanan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.525 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v1i1.8

Abstract

Abstract: Golden moment is a term that refers to someone’s or church’s achievement and glory. It is not the utopian concept, yet a conviction and expectation based on God’s promise for His people. Some factors are required to achieve the golden moment, one of them is a Golden Seed. Imago Dei is a golden seed which gives an opportunity to the golden moment. This article has a purpose to gice a biblical view of imago Dei which is inside of every human. This article used a bible exposition method on Genesis 1:26, which explained that human was created in a frame of Imago Dei. The conclusion is, that imago Dei is a golden seed which enables every people has the golden moment. Abstrak: Golden moment merupakan istilah untuk menunjukkan sebuah masa keemasan seseorang atau gereja, seperti masa kejayaan atau pencapaian. Golden moment bukanlah konsep utopis, melainkan sebuah keyakinan dan pengharapan berdasarkan janji Tuhan bagi umat pilihan-Nya. Ada banyak faktor yang dibutuhkan untuk seseorang mencapai golden moment, salah satunya adalah: Golden Seed atau benih emas. Imago Dei merupakan benih emas yang dapat memberikan kesempatan setiap orang mencapai golden moment. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pandangan biblikal tentang Imago Dei yang ada pada diri setiap manusia secara hakiki. Metode yang digunakan adalah eksposisi Kejadian 1:26, di mana menjelaskan tentang manusia diciptakan dalam kerangka imago Dei. Kesimpulannya, imago Dei merupakan benih emas yang memungkinkan setiap orang memiliki golden moment.
Peran Gerja Dalam Mencegah Kerusakan Ekosistem Laut Di Desa Dowongi Maiti Kabupaten Halmahera Utara Clartje Silvia Awulle; Limunada Umbase; Merdiati Marbun; Alexius Djangu
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.644 KB)

Abstract

Hasil penelitian melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini ini bertujuan mengkaji peran gereja dalam mencegah kerusakan ekosistem laut di desa Dowongi Maiti Kabupaten Halmahera Utara sebagai bagian pengelolaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Laut Indonesia menyimpan begitu banyak kekayaan laut yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, namun demikian prilaku manusia yang tidak bertanggungjawab mengancam punahnya kekayaan laut sebagai anugerah Tuhan. Penggunaaan bahan peledak dan zat-zat kimia beracun dapat merusak terumbu karang dan makhluk hidup yang berlindung didalamnya sesungguhnya tidak sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan bahkan merupakan tindakan melanggar hukum (illegal fishing). Perbuatan ini mengakibatkan punahnya seluruh makhluk hidup dilaut termasuk terumbu karang sehingga terjadi kerusakan ekosistem laut dan kelangkaan ikan yang sangat merugikan masyarakat. Tuhan menciptakan laut beserta semua yang ada didalamnya a.l. ikan dan terumbu karang agar menjadi berkat bagi manusia dan ciptaan lainnya harus dijaga kelestarian dan keseimbangannya sehingga dapat terus memberi mamfaat bagi kehidupan manusia terutama masyarakat yang mendiami pesisir pantai dan melakukan aktifitas penangkapan ikan demi memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Gereja adalah bagian dari unsur masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk ikut mengupayakan kehidupan yang lebih baik termasuk didalamnya upaya pencegahan kerusakan ekosistem laut. Penelitian ini bertempat di masyarakat gereja lokal yang ada di Desa Dowongi Maiti kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara Utara dan dilakukan pada bulan November 2017 sampai dengan February 2018. Fokus kajian penelitian pada “peran gereja dalam mencegah kerusakan ekosistem laut di Desa Dowongi Maiti kabupaten Halmahera Utara”.
Penyelenggaraan Pendidikan Kristen Sebagai Pemenuhan Hak Asasi Manusia Clartje Silvia E. Awulle
SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2020): Pebruari 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52220/sikip.v1i1.35

Abstract

This paper examines the organization of Christian education by the Theological College in the context of the fulfillment of human rights in the field of education. The writing of this paper uses qualitative discription methods and literature studies. In the context of human rights, the right to education is categorized as a positive right (positive right) because to realize these rights, it really requires an active role of the state so that the formulation of the right to education uses the term right to (right to) meaning that every citizen has the right to proper education as a basic human right that must be protected and fulfilled by the state with the aim that humans are protected their dignity, welfare and continuity of life. Having the opportunity to attend Christian education is a basic right of every Indonesian citizen who is a Christian who must be protected, guaranteed and fulfilled by the state. In the end all Christian citizens have the same opportunity to enjoy Christian higher education as a national education sub-system without discrimination. Abstrak Makalah ini mengkaji mengenai penyelenggaraan pendidikan kristen oleh Sekolah Tinggi Theologi dalam konteks pemenuhan hak asasi manusia (HAM) di bidang pendidikan. Penulisan makalah ini menggunakan metode qualitative discription dan studi literatur. Dalam konteks HAM, hak atas pendidikan dikategorikan sebagai hak positif (positive right) karena untuk merealisasikan hak-hak tersebut, sangat membutuhkan peran aktif negara sehingga rumusan hak atas pendidikan menggunakan istilah right to (berhak atas) artinya setiap warga negara berhak atas pendidikan yang layak sebagai hak dasar manusia yang harus dilindungi dan dipenuhi oleh negara dengan tujuan agar manusia terlindungi martabat, kesejahteraannya dan kelanjutan kehidupannya. Memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan kristen adalah hak dasar setiap warga negara Indonesia yang beragama kristen yang wajib dilindungi, dijamin dan dipenuhi oleh negara. Pada akhirnya semua warga negara Kristen memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan tinggi kristen sebagai sub sistem pendidikan nasional tanpa diskriminasi.