Fenomena momfluencer para ibu yang membagikan pengalaman pengasuhan di media social telah mengubah secara fundamental dinamika komunikasi keluarga, khususnya dalam hubungan ibu dan anak perempuan tentang tubuh dan gender. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis secara sistematis literatur tentang momfluencer dan komunikasi ibu-anak perempuan, mengidentifikasi bias geografis dalam literatur global, dan merumuskan proposisi teoretis untuk penelitian di konteks non-Barat. Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA 2020, penelitian ini menganalisis 42 artikel dari Scopus, Web of Science, dan Google Scholar (2010–2026), dengan sintesis data menggunakan pendekatan meta-etnografi. Temuan mengidentifikasi enam tema utama: (1) penguatan peran gender tradisional, (2) resistensi terhadap ideologi intensive mothering, (3) dampak pada citra tubuh dan kesehatan mental ibu, (4) komunikasi ibu-anak sebagai agen sosialisasi gender di era digital, (5) negosiasi identitas oleh anak perempuan, dan (6) praktik sharenting. Penelitian ini menemukan bias geografis yang signifikan 73,8% studi dilakukan di konteks Barat dan merumuskan enam proposisi teoretis spesifik untuk konteks non-Barat yang melibatkan nilai malu, hormat, gotong royong, extended family, norma gender lokal, dan konteks religius. Kontribusi utama penelitian ini adalah tiga hal: (1) klarifikasi konseptual yang membedakan dimensi interpersonal dan parasocial dalam komunikasi ibu-anak, (2) integrasi teori klasik sosialisasi gender dengan teori komunikasi digital kontemporer (mediatization, algorithmic imaginaries, datafication of parenting), dan (3) konsep dualitas momfluencer sebagai agen reproduksi dan resistensi norma gender. Penelitian ini membuka agenda penelitian masa depan yang lebih inklusif secara geografis dan kultural.