Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Makna Teologis Frasa “Waktunya Sudah Dekat” Dalam Wahyu 22:10 Dan Implikasinya Wesley, Jhon; Yakob, Yakob
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 2 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i2.125

Abstract

The phrase “the time is near” is one of the passages that has become familiar among Christians in understanding the second coming of Christ to earth. However, there are many Christians who do not understand the theological meaning of this word precisely. No wonder the coming of Christ becomes meaningless for some believers. Some think it's just a fictional story. However, some people try to interpret the coming of the Lord Jesus with calendar dates. Actually, what is the theological meaning and urgency of the phrase above? This article aims to discuss the meaning of the phrase "the time is near" according to the Book of Revelation 22:10. The method used is qualitative with a literature study approach. The findings show that first, the theological meaning of the phrase "The Time Is Near" states a good opportunity from God to fulfill the second coming of Christ to rule as King, defeat Satan and his army, Judgment Day, and provide deliverance from suffering for His people. Second, it refers to the event of Christ's return to this world which is unexpected (sudden) and happened quickly, and not known by anyone except the Father in Heaven. The implications of the second coming of Christ about the phrase "The time is near" are, First, every believer must have the certainty that Christ's second coming will give His people deliverance from suffering in this world. Second, the second coming of Christ cannot be known by anyone, except for the Father in Heaven. Third, believers must persevere in faith, be faithful in preaching the Gospel, and be ready at all times waiting for Christ to return and reign as King.AbstrakFrasa kata “waktunya sudah dekat” merupakan salah satu bagian yang menjadi familiar di kalangan orang Kristen dalam memahami kedatangan Kristus kedua kali ke bumi. Namun, ada banyak orang Kristen kurang memahami dengan tepat makna teologis dari kata tersebut. Tidak heran kedatangan Kristus menjadi tidak berarti bagi sebagian orang percaya. Ada yang beranggapan itu cerita fiksi belaka. Namun, ada juga orang yang mencoba menafsirkan kedatangan Tuhan Yesus dengan penanggalan kalender. Sebenarnya, apa makna teologis dan urgensi dari frasa tersebut di atas?  Artikel ini bertujuan untuk membahas makna frasa ‘waktunya sudajt dekat” sesuai Kitab Wahyu 22:10. Metode yang digunakan adalah Kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil temuan menunjukkan bahwa pertama, makna teologis frasa “Waktunya Sudah Dekat” menyatakan kesempatan yang baik dari Allah menggenapi kedatangan Kristus kedua kali memerintah sebagai Raja, mengalahkan Iblis dan pasukannya, Hari Penghakiman, serta memberikan kelepasan dari penderitaan bagi umat-Nya.  Kedua, mengacu kepada peristiwa kedatangan Kristus kembali ke dunia ini yang tidak terduga (tiba-tiba) dan terjadi dengan cepat, serta tidak diketahui oleh siapapun, kecuali Bapa di Surga. Implikasi kedatangan  Kristus kedua dalam kaitan dengan frasa “Waktunya sudah dekat’ adalah, Pertama, setiap orang percaya harus memiliki kepastian akan kedatangan Kristus kedua kali memberikan umat-Nya kelepasan dari penderitaan di dunia ini. Kedua, kedatangan Kristus kedua kali tidak bisa diketahui siapun, kecuali Bapa di Surga. Ketiga, orang percaya harus bertekun dalam iman, setia mengabarkan Injil dan siap sedia setiap saat menantikan Kristus datang kembali dan memerintah sebagai Raja.
Penerapan Sifat Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:1-13 Bagi Jemaat di Gereja Sungai Yordan Rajawali Bongap Susiana, Susiana; Hertanto, Ari Suksmono; Wesley, Jhon
Basileus Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Basilius Eirene Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63436/bejap.v4i2.152

Abstract

Kasih merupakan inti ajaran Kristen yang menjadi dasar hubungan antarjemaat sekaligus cerminan kedewasaan rohani. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:1–13 menegaskan bahwa pelayanan dan karunia rohani tidak berarti tanpa kasih. Namun, di Gereja Sungai Yordan Rajawali Bongap masih terdapat jemaat yang belum sepenuhnya menghidupi kasih. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana implementasi ajaran kasih berdasarkan 1 Korintus 13:1–13 serta mengidentifikasi dimensi dominan yang memengaruhi penerapan kasih di tengah jemaat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan instrumen angket kepada 36 responden. Data dianalisis melalui uji reliabilitas, uji normalitas, dan regresi linier dengan bantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi “Kasih dalam Sifat” memiliki pengaruh sangat kuat terhadap implementasi kasih. Koefisien korelasi sebesar 0,934 dengan kontribusi 87,3% menegaskan bahwa sifat kasih merupakan faktor utama dalam membentuk perilaku kasih jemaat. Penelitian ini bermanfaat bagi jemaat agar lebih konsisten mempraktikkan kasih. Dengan demikian, gereja dapat menjadi saksi nyata kasih Kristus bagi jemaat dan masyarakat sekitar.
Congregational Obedience to the Commands of the Lord Jesus Based on John 15:9–17 Sari, Desi Krisna; Yeremia; Wesley, Jhon
ORTHOTOMEO : Jurnal Penelitian Ilmiah Vol. 2 No. 3 (2025): On Process
Publisher : Gereja Alkitab Anugerah Kadoudan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71304/xsz7ze60

Abstract

Obedience to the commands of the Lord Jesus is the primary calling for every follower of Christ. Based on John 15:9-17, this obedience is manifested in mutual love, abiding in Christ's love, and bearing fruit. This study aims to determine the level of confirmation of the apostle John's teaching on obedience to the commands of the Lord Jesus and to identify the most dominant dimensions in shaping the obedience of the congregation at the Sungai Yordan Philos Koli Church, Sanggau, West Kalimantan. The research used an explanatory quantitative method through surveys and interviews with 30 congregation respondents aged 24-50 years. The data were analyzed using Pearson's correlation test and one-way ANOVA test with the help of SPSS 25. The results of this study indicate that the level of obedience among congregations is moderate, while the dimension of mutual love is the most dominant factor in shaping obedience, with a correlation coefficient of 0.949 and a determination of 0.85 (90% contribution). This study confirms that true love is the main basis of obedience to the commands of the Lord Jesus, which is manifested through sacrifice and willingness to bear fruit for the glory of God.
Narasi Padang Gurun: Tafsir Teologis Kitab Bilangan Dalam Perspektif Kontekstual di Indonesia Latupeirissa, Jacobus; Wesley, Jhon; Yeremia, Yeremia; Pratiwi, Pratiwi
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.410

Abstract

The desert narrative in the Book of Numbers is often understood merely as a symbol of suffering or a test of faith for the Israelites. However, this article offers a new perspective: reading the narrative as a pattern of faith transformation that is integral and relevant to the Indonesian context. This study uses a qualitative-descriptive approach through contextual hermeneutics, combined with literature review. The focus is on analyzing the desert dynamics—from complaints, divine guidance, purification, renewal, to recontextualization—and relating it to the experience of the church in Indonesia facing a “social desert,” namely economic crisis, marginalization, environmental degradation, and the challenges of secular modernity. The study results find that, first, the desert narrative is understood not merely as an individual spiritual dimension. It exists as a collective, ecological, and missional framework that connects faith with community life. Second, this research brings together the Old Testament text with Indonesian contextual theological discourse, thus producing a model of faith transformation that can be used as a practical paradigm for local churches in formulating a wilderness spirituality that is relevant to contemporary socio-economic, ecological and religious realities and practices. AbstrakNarasi padang gurun dalam Kitab Bilangan seringkali dipahami hanya sebagai simbol penderitaan atau ujian iman bagi bangsa Israel. Namun, artikel ini menawarkan perspektif baru, yaitu membaca narasi itu sebagai pola transformasi iman yang integral dan relevan bagi konteks Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui hermeneutika kontekstual, dipadukan dengan kajian literatur. Fokusnya adalah menganalisis dinamika padang gurun mulai dari keluhan, tuntunan ilahi, purifikasi, pembaruan, hingga rekontekstualisasi dan mengaitkannya dengan pengalaman gereja di Indonesia yang menghadapi “gurun sosial” yaitu krisis ekonomi, marginalisasi, kerusakan lingkungan, dan tantangan modernitas sekuler. Hasil penelitian menemukan bahwa,  Pertama, narasi padang gurun dipahami bukan sekadar dimensi spiritual-individual. Ia hadir sebagai kerangka kolektif, ekologis, dan misioner yang menghubungkan iman dengan kehidupan komunitas. Kedua, penelitian ini mempertemukan teks Perjanjian Lama dengan wacana teologi kontekstual Indonesia, sehingga menghasilkan model transformasi iman yang dapat dijadikan paradigma praksis bagi gereja lokal dalam merumuskan spiritualitas padang gurun yang relevan dengan realitas dan praktik sosial-ekonomi, ekologis dan religius pada masa kini.