Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Pertahanan TNI AD Dalam Menghadapi Ancaman Siber (Studi Kasus Perang Rusia-Ukraina Periode 2014-2023) Suwanda, Suwanda; Dadang, Deni; Hartono, Dwi
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7769

Abstract

Ruang siber kini menjadi elemen penting dalam pertahanan modern. Perang Rusia-Ukraina periode 2014-2023 menunjukkan bahwa serangan siber dapat terintegrasi dengan operasi militer untuk merusak infrastruktur vital, mengganggu sistem komando dan komunikasi, serta menyebarkan disinformasi. Di Indonesia, berbagai anomali dan insiden siber terjadi pada instansi strategis, termasuk TNI AD, seperti kebocoran data, serangan malware, website defacement, dan serangan siber lainnya, menunjukkan bahwa ancaman terhadap pertahanan nasional semakin nyata dan perlu mendapat perhatian serius. Oleh karena itu, TNI AD perlu memperkuat pertahanan siber yang adaptif dan berlapis guna menjaga jaringan komando, sistem informasi, dan kesiapsiagaan operasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan TNI AD dalam menghadapi ancaman siber, mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pembangunan pertahanan siber, serta merumuskan strategi yang dapat diterapkan menggunakan kerangka Ends, Ways, dan Means. Metode penelitian bersifat deskriptif kualitatif melalui pendekatan studi kasus Perang-Ukraina periode 2014-2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TNI AD telah memiliki satuan siber dan infrastruktur teknologi dasar. Namun, masih terdapat tantangan berupa ketimpangan infrastruktur teknologi antar satuan, keterbatasan personel ahli yang tersertifikasi, implementasi regulasi yang belum konsisten, serta koordinasi lintas lembaga yang perlu diperkuat. Pembelajaran dari perang Rusia–Ukraina menekankan pentingnya struktur komando siber yang kuat, SDM profesional, pertahanan berlapis, integrasi C5ISR, serta kemandirian teknologi. Kesimpulannya, pertahanan siber TNI AD masih dalam tahap berkembang dan membutuhkan penguatan organisasi, SDM, infrastruktur teknologi, serta tata kelola. Diperlukan pemerataan kapasitas siber, peningkatan profesionalisme personel, modernisasi infrastruktur teknologi, serta kolaborasi nasional untuk mewujudkan pertahanan siber yang adaptif dan tangguh.