Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SINTRONG (Crassocephalum crepidioides Benth. S. Moore) PADA Salmonella typhi Panji Ratih Suci; Cikra Ikhda Nur Hamidah Safitri; Nisa’ul Choiroh
AFAMEDIS Vol. 1 No. 2 (2020): Jurnal Farmasi Indonesia Afamedis
Publisher : Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.044 KB)

Abstract

Tumbuhan sintrong (Crassocephalum crepidioides) merupakan tumbuhan gulma yang tersebar di wilayah tropis Asia, termasuk Indonesia. Selain dimanfaatkan sebagai sayuran, sintrong juga dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional. Senyawa yang terdapat dalam tumbuhan ini yaitu flavonoid, polifenol, saponin dan tanin. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya aktivitas antibakteri ekstrak daun sintrong (Crassocephalum crepidioides) pada Salmonella typhi. Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak daun sintrong diperoleh dari proses maserasi dengan etanol 70% dan dilakukan skrining fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun sintrong positif mengandung senyawa polifenol, flavonoid, saponin dan tanin. Hasil uji KLT juga menunjukkan bahwa ekstrak daun sintrong positif mengandung flavonoid dengan adanya bercak kuning kehijauan setelah disemprot dengan larutan AlCl3, dengan nilai Rf 0,38 ; 0,82 ;dan 0,92. Adapun diameter daya hambat menunjukkan hasil pada konsentrasi 10% dengam rata-rata ± 9,82, pada konsentrasi 30% dengan rata-rata ± 10,82 serta kontrol positif dengan rata-rata ± 8,87. Sedangkan untuk analisa data menggunakan one way Anova diperoleh hasil bahwa probabilitas signifikan sebesar 0.005 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sintrong (Crassocephalum crepidioides) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Dengan hasil tersebut diketahui bahwa ekstrak daun sintrong konsentrasi 30% yang paling berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi.
Pengaruh Kombinasi Ekstrak Biji Kemangi (Ocimum basilicum L.) dan Bunga Rosella (Hibicus Sabdarifa L.) Sebagai Anti Hiperglikemia Secara IN VIVO: The Effect Of Basil Seed Extract Combination (Ocimum basilicum L) and rosella Flower (Hibicus Sabdarifa L.) As Anti Hyperglycemia IN VIVO Cikra Ikhda Nur Hamidah Safitri; Anastasya Putri Wahyuni
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 8 No. 01 (2025): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v8i01.3774

Abstract

Rosella plant is a plant that has biological activities such as antihypertensive, antioxidant, and hypoglycemic activity. Basil seeds are traditionally also often used as an aroma enhancer in food in the long term and have a significant effect on blood sugar levels. The purpose of this study was to determine the effectiveness of combination therapy of the two drugs working synergistically which will have a potentiation effect. This study was experimental. The doses of basil seed extract, rosella flower extract, Glibenclamide and their combinations have different doses. Basil seed extract (100mg/kg), rosella flower extract (100mg/kg), Glibenclamide (0.5mg/kg) and their combinations (6 groups, n=5). Antihyperglycemic activity was tested using alloxan-induced male rats by estimating fasting blood glucose levels and observing changes in fasting blood glucose levels on days 1, 3, 7, 14, and 21 after treatment. On the 21st day, blood samples were collected and tested. Combination therapy did not show synergistic effects, but blood glucose levels decreased significantly (P <0.001) since the first day and returned to normal on the 21st day after treatment. A single dose of basil seeds and rosella flowers induced by alloxan has antihyperglycemic potential, The potential of herbal antihyperglycemic formulation is comparable to glibenclamide, as indicated by a decrease in glucose levels.   ABSTRAK Tanaman rosella adalah tanaman yang memiliki aktivitas biologi seperti antihipertensi, antioksidan, dan aktivitas hipoglikemik. Biji kemangi Secara tradisional juga sering digunakan sebagai penambah aroma pada makanan dalam jangka panjang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kadar gula darah.  Tujuan penelitian ini untuk menentukan efektivitas terapi kombinasi kedua obat tersebut bekerja secara sinergis yang akan berefek potensiasi. Penelitian ini merupakan eksperimental. Dosis ekstrak biji kemangi, ekstrak bunga rosella, Glibengclamide dan Kombinasinya mempunyai dosis yang berbeda. Ekstrak Biji kemangi (100mg/kg), Ekstrak Bunga rosella (100mg/kg), Glibenclamide (0,5mg/kg) dan Kombinasinya (6 kelompok,n=5). Aktivitas antihiperglikemia diuji menggunakan tikus jantan yang diinduksi aloksan dengan memperkirakan kadar glukosa darah puasa dan mengamati perubahan kadar glukosa darah puasa pada hari ke-1, 3, 7, 14, dan 21 setelah perlakuan. Pada hari ke-21 sampel darah dikumpulkan dan di uji. Terapi kombinasi tidak menunjukkan efek sinergis, namun kadar glukosa darah mengalami penurunan yang sangat signifikan (P <0,001) sejak hari pertama dan kembali normal pada hari ke-21 setelah perlakuan. Dosis tunggal pada biji kemangi dan bunga rosella yang diinduksi aloksan memiliki potensi antihiperglikemia, Potensi formulasi Antihiperglikemia herbal sebanding dengan glibenklamid, yang ditunjukkan dengan penurunan kadar glukosa.
KOMBINASI EKSTRAK SECANG (CESALPINIA SAPPAN L.) DAN METFORMIN SEBAGAI ANTI HIPERGLIKEMIA SECARA IN VIVO Cikra Ikhda Nur Hamidah Safitri; Putri Ade Muhaimatus Solikhah
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jifi.v8i1.2506

Abstract

Secang wood (Caesalpinia sappan L.) is considered one of the sources of modern medicine that may have effective hypoglycemic effects, or lowering blood sugar. This wood is rich in various phytochemicals. The aim of this study is to observe how the combination of secang bark extract and metformin acts as an antihyperglycemic in male rats. This research is an experimental study. The doses used include Secang wood extract of 285.71 mg/kg and 666.66 mg/kg, Metformin 300 mg/kg, and a combination of both in a ratio of 1:1. The test animals were divided into seven groups (each consisting of five individuals). Diabetes induction was performed using alloxan. Blood glucose levels were measured at baseline, on days 1, 3, 7, 14, and 21 after treatment. Data were analyzed using ANOVA. The results showed that the combination therapy provided a synergistic effect, marked by a highly significant decrease in blood glucose levels (p < 0.01) starting from day one, and the glucose levels returned to normal on day 21 after treatment. The administration of Secang wood extract alone has antihyperglycemic potential, and when combined with metformin, it produces a significant hypoglycemic effect.