Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Perilaku Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Wangunharja Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon Anisah Desma Fitriah; Leya Indah Permatasari; Ito Wardin
Indonesian Journal of Health Research Vol. 4 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Universitas Triatma Mulya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.194 KB) | DOI: 10.51713/idjhr.v4i2.79

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita yang tinggi/panjang badannya tidak sesuai dengan umurnya, dan keadaan dimana asupan gizi anak tidak tercukupi dalam waktu yang lama (kronis). Salah satu intervensi gizi spesifik mengatasi masalah gizi dengan menerapkan perilaku Kadarzi. Berdasarkan studi pendahuluan terdapat tingginya angka prevalensi stunting sebanyak 24,75%. Dampak stunting anak dapat mengalami gangguan kecerdasan otak dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Tujuan: Untuk menganalisis dan mengetahui hubungan perilaku Keluarga Sadar Gizi dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wangunharja Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional study dengan populasi keluarga yang mempunyai balita usia 0-59 bulan sebanyak 205 balita serta sampel maksimal sebanyak 54 balita. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling dan Instrumen terdiri dari kuesioner perilaku Kadarzi menggunakan analisis SPSS for window statistik Chi Square. Hasil Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional study dengan populasi keluarga yang mempunyai balita usia 0-59 bulan sebanyak 205 balita serta sampel maksimal sebanyak 54 balita. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling dan Instrumen terdiri dari kuesioner perilaku Kadarzi menggunakan analisis SPSS for window statistik Chi Square. Kesimpulan: Perilaku Kadarzi baik sebanyak 21 (38,9%) dan yang belum baik 33 (61,1%), kejadian stunting sebanyak 35 (64,8%) serta balita normal sebanyak 19 (35,2%) dan Ha diterima yang artinya terdapat hubungan antara perilaku Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Wangunharja Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon. Saran: Meningkatkan upaya promotif, preventif dan edukasi pendidikan kesehatan keluarga dalam pencegahan, bahaya, dampak dan penanganan stunting.
ANALISIS PERILAKU REMAJA TENTANG GENITAL HYGIENE CARE Dzakiyatul Fahmi Mumtaz; Tati Hardiyanti; Ito Wardin
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 6 No. 3 (2022): November 2022
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.978 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v6i3.1847

Abstract

Personal hygiene merupakan salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya untuk mendapatkan kesejahteraan holistik. Manusia yang tidak bisa melakukan personal hygiene dengan baik maka dapat dikatakan terganggu dalam melakukan personal hygiene. Salah satu contoh personal hygiene adalah genital hygiene care. Personal hygiene tentang genital care pada wanita perlu mendapat perhatian khusus dikarenakan karakteristik bentuk fisiologis organ genitalia wanita. Proses kematangan organ genitalia terjadi pada saat remaja akhir sehingga personal hygiene genital care pada remaja akhir hingga dewasa awal perlu diperhatikan. Penelitian systematic review ini bertujuan untuk menganalisis genital hygiene care wanita usia remaja dan dewasa awal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain systematic review. Pencarian sistematis dari database elektronik Sciencedirect, Pubmed dan Sage, dengan rentang publikasi literatur 2017-2022. Kata kunci yang digunakan “Personal hygiene OR hygiene AND genital care AND adult OR young adult OR teenager AND women”. Kriteria inklusi difokuskan pada perilaku hygiene genitalia wanita remaja dan dewasa awal. Literatur lengkap yang disertakan menggunakan pedoman PRISMA. Setelah membaca keseluruhan include literatur, tema dan konsep kunci diekstraksi dan disintesis. Total terdapat 2382 artikel disaring. Lima artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Analisis menemukan 4 kategori yang terkait perilaku kebersihan organ genitalia di wanita remaja dan dewasa awal: vaginal douching, wearing tight pants, menstrual hygiene dan additional care. Hasil analisis menyatakan apabila ke-4 kategori tersebut tidak dilakukan oleh wanita maka dapat menyebabkan infeksi organ genitalia seperti vulvodynia hingga kanker serviks. Genital hygiene care merupakan hal yang vital pada wanita terutama remaja usia 18-25 tahun yang mengalami proses-proses kematangan organ genitalia agar mampu menekan angka kejadian infeksi organ genitalia. Kata kunci: Genital hygiene care, personal hygiene, dewasa, wanita
Strategi Pemberdayaan Kader Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dalam Peningkatan Perilaku Sehat Ito Wardin; Maulida Nurapipah
Jurnal Keperawatan Vol 16 No 1 (2024): Jurnal Keperawatan: Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/keperawatan.v16i1.1261

Abstract

Peningkatan pengetahuan berperilaku sehat dalam lingkup keluarga menjadi sumber utama kehidupan dan apotek hidup, maka harus dilakukan pengembangan dengan intensif. Teknologi sederhana yang bisa diterapkan supaya mennghadirkan berbagai manfaat secara luas buat warga tak cuma pada proses kemandirian pangan namun pun bisa difokuskan menuju kemandirian kesehatan lewat tahapan perkembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Tujuan riset ini adalah guna melakukan analisisi penerapan pemberdayaan kader TOGA dalam peningkatan perilaku sehat. Metode penelitian studi deskriptif kualitatif untuk dilakukannya strategi dalam pemberdayaan kader tanaman obat keluarga dalam peningkatan perilaku sehat terutama bagi masyarakat. Hasil pengambilan data yakni wawancara terstruktur observasi, serta dokumentasi. Jumlah responden yaitu 6 responden dengan lokasi penelitian di Desa watubelah. Berdasarkan hasil eksplorasi pemberdayaan kader tanaman obat keluarga dideskripsikan dalam tema komponen komunitas dan komponen individu diantaranya yaitu: Keaktifan dan kekompakan masyarakat, kesadaran Masyarakat, Keaktifan Kader, pengelolaan tanaman yang baik dan pemanfaatan tanaman obat keluarga. New insight, yaitu perlu adanya keaktifan dan kekompakan masyarakat dalam melaksanakan setiap kegiatan yang diselenggarakan terutama mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga, kesadaran masyarakat dalam peningkatan perilaku hidup sehat dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga, keaktifan kader untuk mendukung dan mendorong masyarakat dalam melakukan meningkatkan perilaku sehat dengan pemanfaatan TOGA.
Edukasi Pencegahan Pre Eklampsia dan Determinan Post Partum Blues untuk Kesehatan Ibu dan Anak Liliek Pratiwi; Uus Husni Mahmud; Ito Wardin; Harnanik Nawangsari; Maharnani Tri Puspitasari
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2024): Juli : Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v4i2.4005

Abstract

According to the Indonesian Health Profile (2021), preeclampsia or eclampsia, bleeding, and COVID-19 caused the highest number of maternal deaths in 2021. In 2022, the maternal mortality rate in Indonesia reached 183 deaths per 100,000 live births, with preeclampsia as the main cause. One of the most common maternal health problems in Indonesia is preeclampsia, which has a high incidence rate and causes dangerous complications for both mother and baby. Research and prevention efforts continue to be needed to reduce maternal mortality in Indonesia. In addition to disorders during pregnancy, we as academics who continue to be pro-active in community service activities in our fields, must also pay attention to postpartum health. The incidence rate of postpartum blues in Indonesia will reach 50-70% in 2023. According to the WHO, around 10% of pregnant women and 13% of new mothers experience mental health disorders, especially depression. Risk factors that increase the likelihood of postpartum blues are the young age of the mother, lack of support from the husband, and difficult economic situation. The method used in this activity is lectures and discussions, with power point and leaflet media. Target Women of Childbearing Age (WUS), pregnant women and postpartum mothers. After the educational activity, participants asked several questions, such as how to know if a pregnant woman has a disorder, how many times to do a check-up, and what the family should do if the mother seems stressed after childbirth.
Edukasi Pencegahan Pre Eklampsia Dan Determinan Post Partum Blues Untuk Kesehatan Ibu Dan Anak Liliek Pratiwi; Uus Husni Mahmud; Ito Wardin; Harnanik Nawangsari; Maharnani Tri Puspitasari
Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal Vol. 1 No. 3 (2024): Juli: Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/masyarakatmandiri.v1i3.285

Abstract

Introduction: According to the Indonesian Health Profile (2021), preeclampsia or eclampsia, bleeding, and COVID-19 caused the highest number of maternal deaths in 2021. In 2022, the maternal mortality rate in Indonesia reached 183 deaths per 100,000 live births, with preeclampsia as the main cause. One of the most common maternal health problems in Indonesia is preeclampsia, which has a high incidence rate and causes dangerous complications for the mother and baby. Research and prevention efforts continue to be needed to reduce maternal mortality in Indonesia. Apart from disorders during pregnancy, we as academics who continue to be pro-active in community service activities in our field, must also pay attention to post-partum health. The incidence of postpartum blues in Indonesia will reach 50-70% in 2023. According to WHO, around 10% of pregnant women and 13% of new mothers experience mental health disorders, especially depression. Risk factors that increase the possibility of postpartum blues are the mother's young age, lack of support from her husband, and a difficult economic situation. Method: The method used in this activity is lecture and discussion, using power points and leaflets. Target: Women of Childbearing Age (WUS), pregnant women and post partum mothers. Results: After the educational activity, participants asked several questions, such as how to know whether a pregnant woman is experiencing problems, how many times should she have an examination, and what should the family do if the mother seems stressed after giving birth. With the aim of improving the welfare of pregnant women and babies, Family Centered Maternity Care (FCMC) is a midwifery approach that involves the family. This approach provides good social support to pregnant women, which can help them deal with stress and anxiety that may occur during pregnancy, childbirth and the postpartum period. In addition, pregnant women and their families are given the opportunity to actively participate in decision-making regarding health care, so that they can take responsibility for their own health. Conclusion: When Women of Childbearing Age (WUS) have good knowledge, attitudes and behavior, they will produce a generation of healthy and intelligent children. Health workers and the public must pay attention to the four Ts: too young, too old, too much, and too close. Antenatal visits and postpartum visits, which are types of physical examinations during pregnancy, are well carried out in first-level health facilities.
Terapi Komplementer dengan Indikator Eastern Cooperative Oncology Group Performance Scale (ECOG-PS) pada Pasien Kanker dengan Kemoterapi Dzakiyatul Fahmi Mumtaz; Chlara Yunita Prabawati; Ito Wardin; Gangga Kristin Nurfiyatul Jannah; Shaleza Mellaty Putri
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15346

Abstract

Chemotherapy is a common therapy in cancer treatment with many side effects of treatment and psychological stress. One indicator to assess the performance scale of cancer patients with chemotherapy is the Eastern Cooperative Oncology Group Performance Scale (ECOG-PS). Various complementary therapy options with ECOG-PS indicators can be chosen by cancer patients to maintain quality of life and chemotherapy symptom management. This study aimed to determine collaborative nursing therapies with ECOG-PS indicators to maintain quality of life and reduce symptoms due to chemotherapy. This study was a literature review, based on research results published from October 2018 to April 2023, which were limited to complementary therapies with ECOG-PS indicators in cancer patients with chemotherapy. The literature was obtained from 3 databases, namely PubMed, Sage and ScienceDirect. Two researchers independently extracted and evaluated studies that met the inclusion and exclusion criteria. Analysis of the results before and after therapy was carried out descriptively narratively related to the effectiveness of therapy in cancer patients with chemotherapy, which were divided into exercise and non-exercise therapy. From the review results, 8 selected experimental studies were obtained which were conducted on 393 cancer patients undergoing chemotherapy (mean age of patients 49-75 years). The ECOG-PS indicator score 0-1 was used as an indicator in the inclusion criteria for respondents in 6 selected studies (60%). Recommended exercise therapies include exercise & nutritional intervention, home-based exercise prehabilitation, The ABCSG C07 exercise, and multicomponent exercise program. Recommended non-exercise therapies: early palliative care intervention, herbal therapy & CBT, and progressive relaxation exercise. Furthermore, it was concluded that there are 2 types of complementary therapies, namely exercise and non-exercise therapy, which can be selected to maintain the quality of life and symptom management of chemotherapy patients.Keywords: cancer patients; chemotherapy; Eastern Cooperative Oncology Group Performance Scale; performance scale ABSTRAK Kemoterapi adalah terapi yang sering dilakukan dalam pengobatan kanker dengan banyak efek samping pengobatan dan stress psikologis. Salah satu indikator untuk menilai skala kinerja pasien kanker dengan kemoterapi adalah Eastern Cooperative Oncology Group Performance Scale (ECOG-PS). Berbagai pilihan terapi komplementer dengan indikator ECOG-PS dapat dipilih oleh pasien kanker untuk mempertahankan kualitas hidup dan manajemen gejala kemoterapi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui terapi-terapi kolaboratif keperawatan dengan indikator ECOG-PS untuk mempertahankan kualitas hidup dan mengurangi gejala akibat kemoterapi. Studi ini merupakan tinjauan literatur, dengan bersumber pada hasil-hasil penelitian yang diterbitkan mulai Oktober 2018 hingga April 2023, yang dibatasi pada terapi komplementer dengan indikator ECOG-PS pada pasien kanker dengan kemoterapi. Literatur didapatkan dari 3 database yaitu PubMed, Sage dan ScienceDirect. Dua peneliti secara independen mengestraksi dan mengevaluasi studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis hasil sebelum dan sesudah terapi dilakukan secara deskriptif naratif terkait efektifitas terapi pada pasien kanker dengan kemoterapi, yang terbagi menjadi terapi latihan dan non latihan. Dari hasil tinjauan didapatkan 8 penelitian eksperimental terpilih yang dilakukan pada 393 pasien kanker yang menjalani kemoterapi (usia rata-rata pasien 49-75 tahun). Indikator ECOG-PS skor 0-1 dijadikan sebagai indikator dalam kriteria inklusi responden pada 6 penelitian terpilih (60%). Terapi latihan yang direomendasikan di antaranya adalah exercise & nutritional intervention, home based exercise prehabilitation, The ABCSG C07 exercise, dan multicomponent exercise program. Terapi non Latihan yang direkomendasikan: early palliative care intervention, herbal therapy & CBT, serta progressive relaxation exercise. Selanjutnya disimpulkan bahwa terdapat 2 jenis terapi komplementer yakni terapi latihan dan non latihan yang dapat dipilih untuk mempertahankan kualitas hidup dan manajemen gejala pasien kemoterapi.Kata kunci: pasien kanker; kemoterapi; Eastern Cooperative Oncology Group Performance Scale; skala kinerja
PENGARUH TERAPI BERMAIN KOSA KATA TERHADAP KOMUNIKASI SOSIAL ANAK TUNAGRAHITA Desin, Desin; Wardin, Ito; Hadi, Risa
Plyometric: Jurnal Sains dan Pendidikan Keolahragaan Vol 4 No 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/ply.v4i1.5604

Abstract

Prevalensi tunagrahita di Indonesia diperkirakan sekitar 6,6 juta orang. Kementrian pendidikan dan kebudayaan republik di Indonesia juga pada tahun 2009 melaporkan bahwa 4.253 orang siswa tunagrahita yang terdaftar di sekolah luar biasa Indonesia. Sebagian besar komunikasi sosial anak tunagrahita hanya menunjukan kekampuaan bicara kosa katanya terbatas, sehingga menjadi sulit dalam proses berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bermain kosa kata terhadap komunikasi sosial anak tunagrahita di SLBN Cirebon usia 6-12 tahun. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-eksperiment design dengan jenis desain one group pretest–posttest. Pre-experimental design. Tehnik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling, berjumlah 67 anak tunagrahita. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi komunikasi sosial. Uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji normalitas, homogenitas dan paried sample test.untuk mengetahui apakah ada pengaruh atau tidak dalam penelitian. Hasil penelitian meunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan setelah dilakukan terapi bermain kosa  kata dengan nilai sig 0,000 < 0,05. Terapi bermain kosa kata berpengaruh terhadap penguasaan kosa kata dan  komunikasi sosial anak tunagrahita.
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENULARAN CACAR MONYET Kartika, Agil Putra Tri; Wardin, Ito; Sumantri, Arya
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 4 (2025): Vol. 7 No. 4 Edisi 2 Juli 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i4.3313

Abstract

Abstract: Monkeypox (Mpox) is a disease caused by infection with the monkeypox virus. The monkeypox virus is in the same family of viruses as the variola virus, which is the virus that causes smallpox. The monkeypox virus has been found in small rodents, monkeys, and other mammals that live in the area. The incidence of monkeypox in Indonesia from 2022 to August 2024 was 88 cases. Public knowledge, attitudes, and behavior play an important role in preventing the transmission of monkeypox. The purpose of this research is determine level of knowledge, attitude and behavior of the community towards preventing the transmission of monkeypox in the Pulasaren Primary Health Center of Cirebon City in 2024. This research is a quantitative descriptive study involving 99 people in the Pulasaren Primary Health Center in Cirebon City using cluster random sampling. Data collection was conducted using a questionnaire. Data analysis used a percentage frequency distribution. This research shows that 47.5% of the community has a low level of knowledge, 51.5% have a positive attitude, and 58.6% exhibit good behavior towards the prevention of monkeypox transmission. Stakeholders need to provide accurate information to the community about monkeypox transmission prevention so that the community's knowledge, attitudes, and behaviors are not misguided.Keywords: Monkeypox, Knowledge, Attitude, Behavior.
Implementasi Community Feeding Center Empowerement dengan Aplikasi Health Promotion Model sebagai Langkah Preventif Pengendalian Sunting di PCA Penatarsewu Tanggulangin Sidoarjo Jawa Timur Wardin, Ito; Latifah, Riza Arisanty
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i10.22491

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan masalah  kurang  gizi  kronis  yang  disebabkan  oleh pemberian asupan makanan yang kurang dalam waktu cukup lama yang tidak sesuai dengan  kebutuhan  gizi. Untuk mengetahui Implementasi Inisiasi Community Feeding Center Empowermwnt Dengan Aplikasi Health Promotion Model Sebagai Leangkah Preventif Pengendalian Sunting Di PCA Penatarsewu Tanggulangin Sidoarjo Jawa Timur. Metode yang di gunakan adalah pelatiahan Pembentukan Pos Gizi atau Pembentukan Feeding Team Training Model, Target Luaran, Target Penyelesaian Luaran dan menggunakan instrumen evaluasi Pos Gizi. Hasil pelatihan Pos Gizi menunjukan ketertarikan masyarkat sangat tinggi dengan rentang skor di antara 10,98 -12,74 (SD 1,76) dan manfaat Pos Gizi adalah 12,26 (>50% skor maksimal). Kata Kunci: Community Feeding Center Empowerement, Preventif, Stunting   ABSTRACT Stunting is a chronic malnutrition problem caused by insufficient food intake for a long time that does not meet nutritional needs. To determine the Implementation of Community Feeding Center Empowerment Initiation with Health Promotion Model Application as a Preventive Step for Stunting Control in PCA Penatarsewu Tanggulangin Sidoarjo East Java. The method used is training on the Formation of Nutrition Posts or the Formation of Feeding Team Training Models, Output Targets, Output Completion Targets and using Nutrition Post evaluation instruments. The results of Nutrition Post training show very high community interest with a score range between 10.98 -12.74 (SD 1.76) and the benefits of Nutrition Posts are 12.26 (>50% of the maximum score). Keywords: Community Feeding Center Empowerement, Preventif, Stunting.
Sosialisasi Pencegahan Hipertensi dan Anemia Ibu Hamil Liliek Pratiwi; Ito Wardin
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 4 No. 1 (2024): Maret : Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v4i1.2843

Abstract

West Java Province Health Profile in 2022, the cause of the highest maternal mortality rate is due to pregnancy hypertension at 29.64%, bleeding at 28.17% and other causes. This must be a concern for health workers and the community, because the health of pregnant women is a shared responsibility. The prevalence of pregnancy hypertension often occurs from five to ten out of one hundred pregnant women who have the potential to experience pregnancy complications, namely hypertension. Hypertension in pregnant women or gestational hypertension appears after 20 weeks of pregnancy, and will disappear after delivery. Factors that can increase the risk of pregnant women developing hypertension are obesity and diabetes mellitus. Pregnancy hypertension if there is protein in the urine then complications will lead to preeclampsia. Pregnant women must pay attention to early signs that lead to preeclampsia to maintain the health of mother and child. The highest cases of pregnant women with anemia were in West Java in 2019. Pregnant women who have complications of hypertension and anemia during pregnancy are at risk of giving birth to babies with low birth weight (LBW). AKI in pregnant and postpartum women, in West Java Province, occurs most often in the maternal age range of 20-35 years, there are also those above the age of 35 years with a percentage of 36%. One intervention strategy to reduce MMR is through pentahelix collaboration between the government, society, academics, professional organizations, the media and the business world, by continuing to emphasize health promotion through socialization on the prevention of hypertension and anemia in pregnant women.