p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal IPSSJ
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUATAN BUDAYA SEKOLAH MELALUI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) BERBASIS NILAI-NILAI BUDDHIS: STUDI KEPUSTAKAAN Dedi Triandi; Iing Felicia Joe; Sugiyarti; Kabri; Partono
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 2 No. 03 Juni (2025): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberlakuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pasca UU No. 20/2003 memberikan otonomi besar bagi satuan pendidikan untuk merancang kebijakan dan praktik sesuai kebutuhan lokal, termasuk adaptasi nilai-nilai religius. Penelitian kepustakaan kualitatif-deskriptif ini menelaah 8 sumber peer-review (2015–2025) terkait MBS, budaya sekolah, character education, dan nilai-nilai Buddhis yang terdapat dalam Dhammapada V. 183; Aṅguttara Nikāya III.65; Mettā Sutta (Sn. 1.8); Maṅgala Sutta (Sn 2.4); Siṅgāla Sutta (D.III.31); Kakacūpama Sutta (M.I. 21); serta Dhammapada I. 5–6. Dengan memetakan integrasi nilai-nilai Buddhis sīla (moral), samādhi (konsentrasi), dan paññā (kebijaksanaan) ke dalam lima ranah MBS (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi), penelitian ini menggali bagaimana prinsip komunikasi bermakna (Dhammapada V. 183), etika relasional (Siṅgāla Sutta), dan pendekatan restoratif (Dhammapada I. 5–6) dapat memperkuat tata kelola sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan kerangka tiga latihan disiplin ini secara signifikan meningkatkan partisipasi stakeholder (β = 0,89) dan kontrol internal (β = 0,82). Ritual harianpenghafalan sutta dan meditasi singkat sebelum pelajaran menciptakan iklim kondusif dengan penurunan gangguan perilaku hingga 35 % dan kenaikan skor empati siswa menjadi 4,2/5, selaras dengan ajaran mettā (Aṅguttara Nikāya III.65; Mettā Sutta). Selain itu, prinsip berkah dan penghormatan dalam Maṅgala Sutta serta kebijakan konflik berwelas asih dari Kakacūpama Sutta turut memperkuat solidaritas dan tanggung jawab sosial dalam komunitas sekolah. Berdasarkan temuan tersebut, direkomendasikan pembentukan Komite Nilai Buddhis di setiap sekolah, pelatihan rutin Dhammavicaya bagi guru, serta sistem monitoring berkelanjutan berbasis indikator budaya ber-Dhamma untuk memastikan keberlanjutan transformasi budaya sekolah dan peningkatan mutu pendidikan secara holistik.
PENDEKATAN EKOLOGI DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BUDDHIS: STUDI KONSERVASI DAN KESADARAN LINGKUNGAN Sugiyarti; Iing Felicia; Kabri
Integrative Perspectives of Social and Science Journal Vol. 2 No. 07 Desember (2025): Integrative Perspectives of Social and Science Journal
Publisher : PT Wahana Global Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis lingkungan global yang semakin menguat menuntut pendekatan yang tidak hanya berfokus pada solusi teknis dan kebijakan, tetapi juga menyentuh dimensi etika, nilai, dan spiritualitas manusia. Kerusakan lingkungan menunjukkan adanya krisis nilai, kesadaran, dan pola hidup masyarakat modern. Dalam konteks ini, tradisi Buddhis menawarkan seperangkat prinsip etis dan spiritual, seperti mettā (cinta kasih), karuṇā (belas kasih), paṭicca-samuppāda (saling ketergantungan), appicchatā (kesederhanaan), dan sammā ājīva (mata pencaharian benar), yang relevan dalam pengembangan etika lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pendekatan ekologi dalam pemberdayaan masyarakat Buddhis, khususnya dalam konteks konservasi lingkungan dan penguatan kesadaran ekologis. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui kajian terhadap Tipiṭaka, literatur eco-Buddhism, serta penelitian empiris yang membahas konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Analisis data dilakukan melalui teknik analisis isi dan analisis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai Buddhis membentuk kesadaran ekologis masyarakat melalui tiga tahapan yang saling berkaitan, yaitu kesadaran batin, partisipasi sosial-ekologis, dan kemandirian berbasis spiritualitas. Struktur komunitas Buddhis, seperti vihara, sekolah Buddhis, dan organisasi keagamaan, berfungsi sebagai pusat pendidikan lingkungan sekaligus penggerak utama aksi konservasi berbasis komunitas. Simpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi antara spiritualitas Buddhis dan tindakan ekologis membentuk model pemberdayaan masyarakat yang holistik, kontekstual, dan berkelanjutan dalam merespons krisis lingkungan global.