Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Scoping Review: Analisis Pengaruh Rokok terhadap Faktor Risiko Terjadinya Karsinoma Nasofaring Putri Nadiah Irfatul Aini; Abdul Hadi Hassan; Tety H Rahim
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1788

Abstract

Abstract. Nasopharyngeal carcinoma is the most common malignancy among head and neck carcinomas. Nasopharyngeal carcinoma is more common in men than women. Nasopharyngeal carcinoma has several relevant risk factors, such as lifestyle, socioeconomic and alcohol consumption habits. The purpose of this study was to assess the effect of smoking on the risk of nasopharyngeal carcinoma. This research uses the scoping review method . This study takes several scientific articles that have met the eligibility requirements ( eligible ). The scientific articles were taken from three databases, namely PubMed, Springer Link , and Science Direct. The initial search found 1,977 articles. After being selected using the inclusion criteria, 284 articles were obtained. Then from the 248 articles, the selection was carried out again until they were in accordance with the PICOS criteria, then five articles were obtained that matched the feasibility of the title of this study. The conclusion from this analysis is that there is a content in cigarettes (nicotine) that can affect several mechanisms of cancer cell formation. In addition, the socioeconomic role is also quite influential in the occurrence of nasopharyngeal carcinoma. Abstrak. Karsinoma nasofaring adalah suatu keganasan tersering di antara karsinoma kepala dan leher. Karsinoma nasofaring sering terjadi pada laki – laki di bandingkan perempuan. Karsinoma nasofaring memiliki beberapa faktor risiko yang relevan, seperti gaya hidup, sosial ekonomi dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menilai pengaruh merokok terhadap risiko terjadinya karsinoma nasofaring. Penelitian ini menggunakan metode scoping review. Penelitian ini mengambil beberapa artikel ilmiah yang telah memenuhi syarat kelayakan (eligible). Artikel – artikel ilmiah tersebut di ambil dari tiga databased yaitu PubMed, Springer Link, dan Science Direct. Pencarian awal didapatkan sebanyak 1.977 artikel. Setelah di lakukan pemilihan dengan menggunakan kriteria inklusi di dapatkan artikel sebanyak 284 artikel. Lalu dari 248 artikel tersebut dilakukan seleksi lagi hingga sesuai dengan kriteria PICOS, maka didapatkan lima artikel yang sesuai dengan kelayakan judul penelitian ini. Kesimpulan dari analisis ini yaitu terdapat kandungan pada rokok (nikotin) yang dapat mempengaruhi beberapa mekanisme pembentukan sel kanker. Selain itu, peran sosioekonomi juga cukup mempengaruhi terjadinya karsinoma nasofaring.
Hubungan Komorbid Hipertensi dengan Gejala Long Covid-19: Studi Pada Pasien Covid-19 yang Pernah di Rawat Inap di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat dan RSUD Cideres Majalengka Althaafvashti Trixie Niadi; Lelly Yuniarti; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6267

Abstract

Abstract. Long COVID-19 is a prolonged symptom in patients who have recovered from COVID-19 which incidence increases along with the increasing cases of COVID-19. One of the risk factors for long COVID-19 is comorbid hypertension. This study aimed to discover the relationship between comorbid hypertension and long COVID-19 symptoms. The subjects of this study were COVID-19 inpatients at Al-Ihsan and Cideres Hospital from December 2020–February 2022. This analytical study used a case-control design conducted from December 2021–December 2022. Primary data was gained through interviews and questionnaires. Secondary data was acquired from medical records. The total subjects were 120 patients (65 subjects as cases and 55 subjects as controls) who met the inclusion criteria and were selected using the purposive sampling technique. The results showed that most COVID-19 patients aged 56–65 years and the number was comparable between men and women, most long COVID-19 patients aged 56–65 years and are female, more subjects did not have comorbid hypertension (54.2%), more subjects experienced long COVID- 19 symptoms (54.2%), and the most common long COVID-19 symptoms were fatigue, coughing, and dyspnea. Most COVID-19 patients with comorbid hypertension (41.7%) experienced long COVID-19 symptoms, while most COVID- 19 patients without comorbid hypertension did not experience long COVID-19 symptoms. The conclusion of this study, based on bivariate analysis using Fisher’s exact test with a 95% confidence level, is that there is a correlation between comorbid hypertension and long COVID-19 symptoms (p<0.05). COVID-19 patients with comorbid hypertension are more at risk of experiencing long COVID-19 symptoms. Abstrak. Long COVID-19 merupakan gejala berkepanjangan pada pasien yang telah pulih dari COVID-19 yang kejadiannya meningkat seiring dengan meningkatnya kasus COVID-19. Salah satu faktor risiko terjadinya long COVID-19 adalah komorbid hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan komorbid hipertensi dengan gejala long COVID-19. Subjek penelitian adalah pasien COVID- 19 yang pernah dirawat inap di RSUD Al-Ihsan dan Cideres pada Desember 2020– Februari 2021. Penelitian analitis ini menggunakan desain case-control dan dilaksanakan pada Desember 2021–Desember 2022. Data primer diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner serta data sekunder diperoleh dari rekam medis. Total subjek penelitian berjumlah 120 pasien yaitu didapatkan 65 kasus dan 55 kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien COVID-19 paling banyak berusia 56–65 tahun dan sebanding jumlahnya antara laki-laki dan perempuan, pasien long COVID-19 paling banyak berusia 56–65 tahun dan lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan, lebih banyak pasien COVID-19 yang tidak memiliki komorbid hipertensi (54,2%), lebih banyak pasien COVID-19 yang mengalami gejala long COVID-19 (54,2%), dan gejala long COVID-19 yang paling sering dialami adalah fatigue, batuk, dan dyspnea. Sebagian besar pasien COVID-19 dengan komorbid hipertensi (41,7%) mengalami gejala long COVID-19, sedangkan sebagian besar pasien COVID-19 tanpa komorbid hipertensi tidak mengalami gejala long COVID- 19. Kesimpulan penelitian ini, berdasarkan analisis bivariat menggunakan Fisher’s exact test dengan tingkat kepercayaan 95%, adalah terdapat hubungan antara komorbid hipertensi dan gejala long COVID-19 (p<0,05). Pasien COVID-19 dengan komorbid hipertensi lebih berisiko mengalami gejala long COVID-19.
Karakteristik Status Gizi Pasien Anak Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) Sebelum dan Sesudah Kemoterapi di RSUD Al-Ihsan Bandung Putri Aulya Mustafa Yasin; Agung Firmansyah Sumantri; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10584

Abstract

Abstract. Leukemia is a malignant disease of abnormal white blood cells in the bone marrow. One of the treatments for leukemia patients is chemotherapy which can affect nutritional status. Nutritional status is a person's health status which is related to energy intake in the form of food in a person's country. This study aims to determine the characteristics of nutritional status in pediatric acute lymphoblastic leukemia (ALL) patients before and after chemotherapy. The sample selection technique used a total sampling technique from the entire population of ALL pediatric patients at Al-Ihsan Hospital, Bandung Regency. This research uses an analytical observational method with a cross-sectional approach. The data used is secondary data taken from pediatric patients with LLA in the form of medical record data at Al-Ihsan Regional Hospital, Bandung. The research results showed that the majority of patients before chemotherapy had normal nutritional status, 34 subjects (52.3%), and the majority of patients after chemotherapy had normal nutritional status, 40 subjects (61.5%). Child patients with ALL before chemotherapy had normal nutritional status as many as 34 people (52.3%), overweight nutritional status as many as 3 people (4.6%), and with underweight nutritional status as many as 28 people (43.1%). with ALL after chemotherapy had normal nutritional status as many as 40 people (61.5%), overweight nutritional status as many as 3 people (4.6%), and with underweight nutritional status as many as 22 people (33.8%) These results were caused by errors one factor is chemotherapy drugs which are corticosteroids. The use of corticosteroid drugs can increase appetite which can be a factor in improving the patient's nutritional status during chemotherapy treatment. Abstrak. Leukemia merupakan penyakit keganasan pada sel darah putih abnormal di sumsum tulang, salah satu pengobatan pada pasien leukemia salah satunya adalah kemoterapi yang dapat berpengaruh terhadap status gizi. Status gizi merupakan status kesehatan seseorang yang berkaitan dengan asupan energi berupa makanan di negara seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik status gizi pada pasien anak leukemia limfoblastik akut (LLA) sebelum dan sesudah melakukan kemoterapi. Teknik pemilihan sampel menggunakan teknik total sampling dari seluruh populasi pada pasien anak LLA di Rumah Sakit Al-Ihsan Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diambil pada pasien anak LLA berupa data rekam medik di RSUD Al-Ihsan Bandung. Hasil penelitian menunjukkan data mayoritas pasien sebelum kemoterapi memiliki status gizi normal 34 subjek (52.3%), dan mayoritas pasien setelah dilakukan kemoterapi memiliki status gizi normal 40 subjek (61.5%). Pasien anak dengan LLA sebelum kemoterapi memiliki status gizi normal sebanyak 34 orang (52,3%), status gizi overweightsebanyak 3 orang (4,6%), serta dengan status gizi underweight sebanyak 28 orang (43,1%).Pasien anak dengan LLA sesudah kemoterapi memiliki status gizi normal sebanyak 40 orang (61,5%), status gizi overweight sebanyak 3 orang (4,6%), serta dengan status gizi underweight sebanyak 22 orang (33,8%) Hasil ini disebabkan karena salah satu faktor berupa obat kemoterapi yang merupakan golongan kortikosteroid. Penggunaan obat kortikosteroid dapat meningkatkan nafsu makan yang dapat menjadi faktor meningkatnya status gizi pasien saat pengobatan kemoterapi.
Analisis Perbandingan Sitomorfometrik Apusan Bukal pada Perokok dan Non Perokok Nadhira Siti Fauziah; Yuktiana Kharisma; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10641

Abstract

Abstract. Cigarettes contain harmful substances, mainly nicotine, tar and carbon monoxide (CO) which are also carc5inogenic. Chemical substances in cigarettes can cause cellular changes in the oral mucosa if exposure is repeated and occurs continuously, the high prevalence of smoking causes an increased risk of diseases such as heart problems, oral cancer, nasopharyngeal cancer, and lung cancer. The incidence of oral cancer in smokers can be prevented by identifying cellular changes in the oral mucosa, one of which is quantitative microscopic observation, namely cytomorphometrics. Cytomorphometrics is a technique to identify and measure cell specifications including nucleus diameter, cytoplasmic diameter, and nucleus-cytoplasmic ratio. The purpose of this study was to compare the cytomorphometrics of buccal mucosal smears between smokers and non-smokers. This study used an analytic observational method through a cross-sectional approach, involving 42 subjects who were smokers and non-smokers. Epithelial smears were made from buccal swabs and stained using papanicola staining with the intention of knowing the cytomorphometric comparison of buccal mucosal smears between smokers and non-smokers in the Bandung Islamic University (UNISBA) environment. The results showed that there was a significant cytomorphometric comparison of buccal mucosa smears in smokers and non-smokers, where the average diameter of epithelial cell nuclei was higher in active smokers compared to the average of non-smokers. On the other hand, the mean cytoplasmic diameter was lower in active smokers compared to non-smokers, and for the nucleus/cytoplasm ratio the probability value was 0.000 (p < 0.05), respectively, indicating a significant difference in nucleus size and N/S ratio between smokers and non-smokers, which was higher in smokers. Abstrak. Rokok mengandung zat-zat berbahaya utamanya adalah nikotin, tar dan karbon monoksida (CO) yang juga bersifat karsinogenik. Zat kimia pada rokok dapat menyebabkan perubahan seluler pada mukosa mulut jika paparan berulang dan terjadi terus menerus, tingginya prevalensi merokok menyebabkan meningkatnya risiko terjadinya penyakit seperti gangguan jantung, kanker mulut, kanker nasofaring, dan kanker paru. Kejadian kanker mulut pada perokok dapat dicegah dengan mengidentifikasi perubahan seluler pada mukosa mulut salah satunya dengan pengamatan mikroskopis kuantitatif yaitu sitomorfometrik. Sitomorfometrik adalah teknik untuk mengidentifikasi dan mengukur spesifikasi sel meliputi diameter nukleus, diameter sitoplasma, dan rasio nukleus-sitoplasma. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan sitomorfometrik apusan mukosa bukal antara perokok dan non-perokok. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik melalui pendekatan cross-sectional, dengan melibatkan 42 subjek yang merupakan perokok dan non-perokok. Apusan epitel dibuat dari usap bukal dan diwarnai menggunakan pewarnaan papanicola dengan maksud untuk mengetahui perbandingan sitomorfometrik apusan mukosa bukal antara perokok dan non-perokok di lingkungan Universitas Islam Bandung (UNISBA). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbandingan sitomorfometrik apusan mukosa bukal yang signifikan pada perokok dan non-perokok, dimana rata-rata diameter nukleus sel epitel lebih tinggi pada perokok aktif dibandingkan dengan rata-rata non-perokok. Di sisi lain, rata-rata diameter sitoplasma lebih rendah pada perokok aktif dibandingkan dengan non-perokok, dan untuk rasio perbandingan nukleus/sitoplasma nilai probabilitas masing-masing adalah 0,000 (p < 0,05), menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam ukuran inti dan rasio N/S antara perokok dan non-perokok, yaitu lebih tinggi pada perokok.
Hubungan Kadar Trombosit dan Jenis Kelamin dengan Kejadian DSS pada Pasien Rawat Inap di RSUD Al-Ihsan Bandung Fadilul Fatihah Razi; Agung Firmansyah Sumantri; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12398

Abstract

Abstract. Indonesia is one of the tropical countries so it has a high risk of dengue virus transmission. Although not all cases of dengue hemorrhagic fever (DHF) are followed by shock, but the fact is that the mortality rate of DHF patients followed by shock will be much greater than patients who do not experience shock. Males have a higher risk of experiencing shock than females. In addition, patients who experience shock generally experience thrombocytopenia. Based on this phenomenon, is there a relationship between platelet levels and gender with the incidence of DSS in the inpatient room of Al Ihsan Bandung Hospital. This study used a cross sectional approach from January to December 2022, with purposive sampling. With the large sample formula collected as many as 78 patients. Testing relationship between platelets and gender with incidence of DSS using Chi The results showed that platelet levels were significantly associated with the incidence of DSS because the Pearson Chi Square value was smaller than P=0.05. Meanwhile, gender has no relationship with the incidence of DSS because the Pearson Chi Square value of 0.276 is greater than 0.05. In this study, the incidence of DSS was significantly associated with platelet levels but not gender. In other words, during DHF, male and female patients have the same chance of experiencing shock or developing DSS. Abstrak. Indonesia merupakan salah satu negara tropis sehingga memiliki risiko yang tinggi terhadap penularan virus dengue. Meskipun tidak semua kasus demam berdarah dengue (DBD) diikuti syok, namun faktanya dari tingkat kematian pasien DBD yang diikuti syok akan jauh lebih besar dibandingkan pasien yang tidak mengalami syok. Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami syok dibandingkan Perempuan. Selain itu, pasien yang mengalami syok pada umumnya mengalami trombositopenia. Berdasarkan fenomena tersebut apakah ada hubungan antar kadar trombosit dan jenis kelamin dengan kejadian DSS di ruang rawat inap RSUD Al Ihsan Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dari Januari- Desember 2022, dengan purposive sampling. Dengan rumus sampel besar terkumpul sebanyak 78 pasien. Pengujian hubungan antara trombosit dan jenis kelamin dengan kejadian DSS menggunakan Chi Square serta data diolah dengan SPSS versi 25. Hasilnya kadar trombosit secara signifikan berhubungan dengan kejadian DSS dikarenakan nilai Pearson Chi Square lebih kecil dari P=0,05. Sementara itu, jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan kejadian DSS dikarenakan nilai Pearson Chi Square sebesar 0,276 lebih besar dari 0,05. Dalam penelitian ini kejadian DSS memiliki hubungan sangat bermakna dengan kadar trombosit pasien tetapi tidak berhubungan denga jenis kelamin. Dengan kata lain, pada saat DBD pasien laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama untuk mengalami syok atau terkena DSS.
ANALYSIS OF IMMUNOEXPRESSION OF ESTROGEN RECEPTOR BETA AND EXTRACELLULAR MATRIX METALLOPROTEINASE INDUCER (EMMPRIN) ON TESTICULAR SEMINOMAS NONRECURRENCE AND RECURRENCE Antonius Janes Ridwan; Sri Suryanti; Abdul Hadi Hassan; Bethy S Hernowo
Journal of Medicine and Health Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v1i2.507

Abstract

The most common malignancy of testis is seminoma with prognosis that is not always good because of high recurrence rate and death cases. Extracellular matrix metalloproteinase inducer (EMMPRIN) is a glycoprotein adhesion molecules which plays a role in tumor cell invasion and metastasis as evidenced by immunohistochemistry method in several types of tumor cells and tissue that shows the correlation to the clinical progessivity.This study was conducted by observational descriptive analytics with each seven cases of seminoma nonrecurrences and recurrences diagnosed histopathologically from Dr.Hasan Sadikin Hospital, Advent Hospital and St.Borromeus Hospital in Bandung. This study shows that immunoexpression of estrogen receptor beta is not higher in testicular seminoma recurrence compared with nonreccurence. There was no higher imunoexpression of EMMPRIN receptor on testicular seminoma recurrence compared with nonrecurrence; besides, there was no relationship between immunoexspression of estrogen receptor beta and EMMPRIN in testicular seminoma nonrecurrence and recurrence.In conclusion, immunoexpression estrogen receptor beta expressed in all testicular seminoma, so that the patient could be given an alternative therapy and immunoexspression EMMPRIN, cannot be used to predict a recurrence in patients with seminoma who has received complete therapy.                                                        Keywords: EMMPRIN, Estrogen Receptor Beta, Seminoma Testis nonrecurrence and recurrence