Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Culture Strategy of Baha’is: Case Study in Pati, Central Java, Indonesia Moh Rosyid; Lina Kushidayati
Journal of ASEAN Dynamics and Beyond Vol 2, No 2 (2021): VOL. 2, NO. 2 (2021)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/aseandynamics.v2i2.52196

Abstract

This article based on research carried out in 2021 among the Baha'i religious community in the village of Cebolek Kidul, District Margoyoso, Pati regency, Central Java. Baha’i is an independent religion although sometime people mistaken as a religious sect. Baha’i was first known in Persia in 1840s and came to Indonesia in 1870 brought by medical experts joint a UN’s program and merchants. Data of this article were collected through interviews, observations, documentations and focus group discussion. In Cebolek, there are 25 people of 9 families who observe Baha’i. The contributing factors to the consistency of the Baha'is in Pati (1) understand the meaning of prayer and worship, (2) the Bahai declarator, Mirza Husein, has the title Baha'u'llah who is believed to be a descendant of the saint, (3) Baha'i teachings have no conflict with the principles of humanity, (4) the Baha'i were inspired by the Baha'ullah spirit which was opposed by the religious community which previously existed (Islam) in Persia (Iran) from the beginning he spread his religion. The Bahai people face this opposition as a consequence, (5) the Baha’i people realize that the Baha’i experienced a phase of development through the stages of majhuliyah (unknown period), maqhuriyah (a period of opposition / hindrance), infisoliyah (a period of isolation /separation) with the majority community, istiqlaliyah (period of deliverance), rosmiyah (period of legalization / inauguration), gholabiyah (period of victory), and dzahabiyah (golden period).Keywords: 
Memaknai Terjadinya Bencana Alam Merujuk pada Kajian Tafsir Moh Rosyid
Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 20 No. 01 (2020): Islamika : Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci, Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/islamika.v20i01.539

Abstract

The purpose of writing this text is to make Al-Quran a place to ask questions and remember the greatness of God. The closer humans are to God, humans always care for nature with full awareness. Messages of Al-Quran and newspaper coverage with methode tafsir bi ar-Ra’yi atau al-’aqli by qualitative descriptive analysis can be used as a life lesson. It is to realize that Divine power is second to none because He is the Almighty. Human negligence in caring for nature will cause disaster / natural disasters. Disasters are not always predictable by the sophistication of technology and science in terms of when to come and when the end of natural disasters due to human limitations. The Koran illustrates that natural disasters have occurred in humans since the beginning of time. The event has a variety of meanings to be used as material for life lessons.
KITAB PEGON DAN PENANAMAN PRINSIP DASAR KEISLAMAN: Studi Kasus Kampung Santri Tarjumah di Tambangsari, Pati, Jawa Tengah Moh Rosyid
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 17, No 1 (2020): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v17i1.8439

Abstract

This article was written to description a hamlet that formed boarding school (pesantren), students (santri) local residents various places and local residents, there is mosque, pondok pesantren, al-Quran kindergarten, madrasah diniyah, kiai’s house, recitation system bandongan, use Kitab Tarjumah by pegon language, his work K.H Ahmad Rifa’i. Data of this research was gathered through interview, forum group discussion, and observation in Tambangsari hamlet, Kedungwinng village, Sukolilo subdistrict, Pati district, central Java. K.Rifa’i action against colonial named Rifa’iyah movement. The action creation Kitab Tarjumah make tauhid, fikih, and mistisisme. Now, passed on students (santri) who settled in his village. Her initial character K. Hannan now forwarded by generation. Observance of worship armed with religious knowledge by tradition recite so that it forms santri hamlet (kampung santri).
MEMPERTAHANKAN TRADISI: STUDI BUDAYA DI KAMPUNG KAUMAN MENARA KUDUS Moh Rosyid
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 2 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 2, JUNE 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.073 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i2.516

Abstract

Artikel ini memotret tradisi di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai Kampung Kauman Menara yang terdiri hanya 3 RT dan 1 RW. Data penduduk Desember 2017 ada 413 jiwa, 127 KK. Data riset ini diperoleh dengan wawancara dan observasi, dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Tradisi khas dilestarikan berupa khoul (perayaan hari wafat) Sunan Kudus tiap 10 Asyura oleh Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) dan warga Kauman dan temu rutin berkala antarwarga. Tata letak kampung padat hunian dan penduduk, bangunan rumah rata-rata ditembok tinggi. Kampung ini tidak dijamah bangunan kolonial Belanda sehingga masuk kategori kampung kuno Islam dengan kekhasan adanya Masjid al-Aqsha Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus. Warganya memiliki kegiatan rutin dalam forum temu warga dalam ikatan kebersamaan berdasarkan usia dan jenis kegiatan yang menu acaranya islami. Warga mempertahankan pantangan terkait penghormatan pada Sunan Kudus. This article portrays Kauman Village of Kudus. The village is the smallest in Kudus city consisting of three RT (neighborhood units) and one RW (community units). The population is 413 people and 127 families. This paper is based on interviews and observations and applying qualitative approach. The special tradition is preserved in the form of khoul (commemoration of Sunan Kudus) every Muharram 10th (Ashura) by the Masjid Menara and Makam Sunan Kudus Foundation (YM3SK) and residents of Kauman. The layout of village dwelling is dense and the average house building is high walled. This village was not touched by Dutch colonial architectures so that it was categorized as a traditional Islamic village with the uniqueness of the Al-Aqsa Mosque, the Kudus Tower and the Sunan Kudus Tomb. Its people have regular activities such as community meeting based on age and various types of Islamic events. Its residents still maintain taboos regarding Sunan Kudus.
Dampak Psikologis Janda Perkawinan Model Komunitas Samin Studi Kasus di Kudus Jawa Tengah Moh Rosyid; Lina Kushidayati
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 8, No 1 (2021): July
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jps.v8i1.68246

Abstract

The purpose of this article is portraying psychological impact of divorce for Samin people whose marriage is unregistered. Data are gathered through observation and interview among the leader and Samin people. Samin people do not register their marriage and thus, they do not undertake the regulation on the minimum age for marriage. Once divorce occurs, the wife receives psychological impacts: rumors of cohabitation (kumpul kebo), does not receive inheritance, rumors of illegal marriage. Some of Samin people try to find the way to have marriage certificate, thus register their community as a local religion. On April 25th, 2019, for the first time, the Office for Civil Affairs of Kudus issued marriage certificate for Samin people. Kudus government should pay attention to the minority rights.
BARONGSAI DAN KELENTENG HOK HIEN BIO DI KUDUS JAWA TENGAH SEBAGAI MEDIA PEMBAURAN Moh Rosyid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.172

Abstract

Tujuan naskah ini ditulis adalah mendeskripsikan upaya etnis Tionghoa melestarikan ajaran Konfusius yang diaplikasikan dalam grup seni Barongsai Satya Dharma di Kelenteng Hok Hien Bio, Kudus, Jawa Tengah. Data riset ini diperoleh melalui wawancara dengan pelatih dan peserta ajar, observasi di lokasiriset. Data dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil riset, kelompok Barongsai diwadahi dalam latihan rutin seminggu dua kali secara gratis diikuti oleh anak muda lintas agama dan etnis. Warga Kudus mempercayai kelompok ini dengan mengundangnya dalam acara kirab budaya dan pestarakyat. Pembauran melalui Barongsai dapat mewujudkan pembauran lintas agama dan suku. Kelompok Barongsai hadir bertujuan mempertahankan tradisi Tionghoa di Nusantara dan media pembauran karena umat Khonghucu melaksanakan ajaran pokok Konfusius yang tertuang dalam Kitab Suci Si Shu berupa ajaran berhubungan baik dengan sesama (Ren Dao) dan berhubungan dengan Tuhan (Tian/Shang Di) (Tian Dao). Prinsip dasar ajaran dipraktikkan dalam kelompok Barongsai melibatkan pemain lintas agama dan etnis sehingga pembauran benar-benar terwujud, dilatih oleh pelatih profesional secara gratis, dan difasilitasi oleh pengurus Kelenteng Hok Hien Bio di Kudus sejak Reformasi hingga kini. 
Pergeseran Tradisi Khitan Anak Perempuan di Kudus Jawa Tengah Moh Rosyid
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol 18 No 1 (2020): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.47 KB) | DOI: 10.24090/ibda.v18i1.3748

Abstract

This paper aims to describe the shift in the circumcision tradition of girls in Kudus, Central Java. The focus of this shift discussion was mainly on the shift of circumcision done by Dukun Bayi (Traditional Midwife) to that done by a professional midwife, and the prevailing cultural shift is also illustrated. The data were collected through interviews with mothers of the circumcised girls through random sampling. This research is categorized as a case study. The collected data were analyzed using a qualitative descriptive approach. The results of the study revealed that the tradition of girl circumcision is a result of following a tradition that has been done for ages, the understanding of fiqh experts plays a role in the circumcision of girls. As the village midwife is serving childbirth, the circumcision that was initially done by a dukun now is done by professional midwives. The dukun played as a massage therapist to mothers with old pregnancy, also to the postpartum mothers and their babies. The knowledge that girls circumcision needs to be done by medical staff (midwives) will be more optimal if the village government facilitates the role of village midwives in Kudus. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pergeseran tradisi khitan anak perempuan di Kudus, Jawa Tengah. Faktor utama perubahan tersebut adalah munculnya pengkhitan bidan desa—yang sebelumnya dilakukan oleh dukun bayi—dan menggambarkan perubahan budayanya. Data diperoleh melalui wawancara dengan ibu dari anak perempuan yang dikhitan secara random sampling. Riset ini kategori studi kasus, data yang terkumpul dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tertradisinya mengkhitan akibat mengikuti tradisi, yakni pemahaman ahli fikih tentang khitan pada anak perempuan. Seiring adanya bidan desa yang melayani persalinan warga, maka pengkhitan yang semula dukun bayi ada yang dialihkan pada bidan desa. Dukun bayi diperankan sebagai tukang pijet pada ibu yang usia kandungannya menua dan memijat ibu pascamelahirkan beserta bayinya. Hal yang perlu dipahami agar mengkhitan anak perempuan dilakukan oleh tenaga medis (bidan) makin optimal bila peran bidan desa difasilitasi oleh pemerintah desa di Kudus.
Dampak Perkawinan Anak dan Perceraian: Studi Kasus Komunitas Samin di Kudus Jawa Tengah Moh Rosyid; Lina Kushidayati
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 16 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.053 KB) | DOI: 10.24090/yinyang.v16i2.4375

Abstract

This paper is a qualitative research based on observation and interview among Samin community in Kudus. The purpose of this study is presenting unregistered marriage among Samin community. Samin community is the descendants and followers of Ki Samin Surosentiko, renowned for his nonconformity against the Dutch since 1840s. Following the teaching, Samin people do not registered their marriage and thus they do not feel necessary to obey the government regulation on the minimum age of marriage. The marriage among Samin community will be performed once a girl and a boy perceived to be ready. There are three stages of maturity: adam timur, adam brahi and wong sikep kukuh wali adam. This understanding may lead to child marriage and among its negative impact is divorce. The consequences of unregistered marriage go further to dispute of marital property, right of guardianship, and even conflict between relatives. Nowadays, some Samin people try to find a way to register their marriage in order to get a marriage certificate from the Office of Civil Administration of Kudus. The government needs to pay more attention to the phenomena
OPTIMALISASI WHATSAPP GRUP LINTAS AGAMA DALAM MENGOKOHKAN JARINGAN SOSIAL UMAT BAHA’I DI DESA CEBOLEK KIDUL, PATI, JAWA TENGAH Moh Rosyid
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v16i1.2125

Abstract

This paper aims to describe the existence of followers of the Baha'i religion in Cebolek Kidul, Margoyoso, Pati, Central Java. This lack of state and community recognition of the presence of followers of the Baha'i religion encourages them to preserve their existence by strengthening the interaction of fellow Baha'is with other interfaith fellows. Data of this paper was obtained by observing and doing in-depth interviews with the members of Baha'is. The results reveal that although Baha'i adherents have not yet received their rights as other recognized religious fellow in Indonesia, they maintain and preserve their existence by involving themselves in interfaith forums in the WhatsApp group. Their participation in the WhatsApp group becomes a medium for followers of other religions to understand Bahai teachings, follow information and dynamics of Baha'i, and provide a better understanding to the public about Baha'i religious teachings. As a consequence, Baha'i people in Cebolek Kidul feel close and become an inseparable part of their society.Artikel ini bertujuan untuk memaparkan eksistensi penganut agama Baha’i di Desa Cebolek Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kurangnya pengakuan negara dan masyarakat terhadap kehadiran para pemeluk agama Baha’i ini mendorong mereka untuk berupaya menjaga eksistensi dengan mengokohkan interaksi sesama pemeluk Baha’i dengan umat lintas agama lain. Upaya ini mereka lakukan melalui pengelolaan jaringan via grup WhatsApp (WA). Data diperoleh dengan observasi dan wawancara mendalam terhadap umat Baha’i. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa meskipun pemeluk agama Baha’i belum mendapatkan haknya sebagai umat beragama di Indonesia, namun mereka menjaga eksistensi mereka dengan melibatkan diri dalam forum lintas agama di grup Whatsapp. Keikutsertaan ini menjadi media bagi pemeluk agama lain untuk memahami ajaran Bahai, mengikuti informasi dan dinamika Baha’i, serta memberi pemahaman pada publik tentang ajaran agama Baha’i. Sehingga secara tidak langsung, umat Baha’i merasa dekat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat mereka.
Strategi Dakwah pada Komunitas Samin di Kudus Moh Rosyid
Islamic Management and Empowerment Journal Vol 4, No 1 (2022): Islamic Management and Empowerment Journal
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/imej.v4i1.93-110

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memahami strategi dakwah dan untuk memetakan apa saja yang dapat berperan sebagai da’i bagi komunitas Samin, serta mendalami kendala apa saja yang dialami da’i dalam berdakwah terhadap komunitas Samin di Kudus dengan menggunakan penelitian kualitatif dan data diperoleh dengan wawancara, observasi, serta telaah literatur dianalisis dengan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) strategi da’i  yang dilakukan dalam melakukan dakwah pada komunitas samin ada empat kegiatan dakwah yaitu tabligh dan taklim, Irsyad, Tathwir (pembangunan masyarakat), Tadbir (manajemen pemberdayaan masyarakat). (2) Komunitas Samin dalam memegangi ajaran Saminisme ada yang teguh dan ada yang tidak teguh. Bagi yang teguh, tetap beragama Adam, sedangkan yang tak teguh terjadi konversi menjadi muslim