Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis korelasi antara ekspresi reseptor progesteron dengan protein p53 mutant pada meningioma hubungannya dengan derajat keganasan tumor Fathul Djannah; Suparman
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangMeningioma adalah tumor terbanyak kedua pada susunan saraf pusat. Studi sebelumnya menunjukkanbahwa reseptor progesteron (RP) mempengaruhi meningioma. Protein p53 mutant mempunyai peran pentingpada keganasan namun hubungan antara RP dengan protein p53 mutant masih belum jelas.Bahan dan CaraDilakukan penelitian retrospektif pada penderita meningioma di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sebanyak 176kasus meningioma didapatkan selama Januari 2004 sampai Mei 2009. 2 meningioma atypic dan 4 meningiomaanaplastic seluruhnya disertakan dalam penelitian ini dan dikelompokkan sebagai meningioma WHO grade II-III.10 kasus yang diambil secara acak dari 170 meningioma jinak dikelompokkan sebagai meningioma WHO gradeI. Dilakukan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi yang spesifik dengan RP dan protein p53mutant. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman rho dan dianggap bermakna bila p<0,05.Hasil3 dari kelompok meningioma WHO grade II and III mengekspresikan IRS 4 dan 3 IRS 0 sementara ekspresi p53mutant +1 sebanyak 5 kasus dan 1 kasus +2.7 meningioma WHO grade I IRS 6,1 IRS 9 dan 2 IRS 12sedangkan semuanya tidak mengekspresikan p53 mutant. Hasil analisis statistik RP dan derajat keganasanmeningioma menunjukkan p=0,00. Hasil analisis statistik p53 mutant dan derajat keganasan meningioma yaitup=0,00. Hasil analisis statistik RP status and p53 adalah p=0,00.KesimpulanTerdapat hubungan yang negatif antara derajat keganasan meningioma dengan ekspresi reseptor progesteron,terdapat hubungan yang positif antara derajat keganasan meningioma dengan ekspresi p53 mutant danterdapat hubungan yang negatif antara ekspresi progesterone receptor dengan ekspresi p53 mutant padameningioma
HUBUNGAN ANTARA GAMBARAN SITOLOGI MENGGUNAKAN METODE FNAB DENGAN RESPONS TERAPI PADA PASIEN LIMFADENITIS TUBERKULOSIS DI PULAU LOMBOK Tri Riskinie Istiharoh; Fathul Djannah; Indana Eva Ajmala
Unram Medical Journal Vol 11 No 4 (2022): volume 11 no 4
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v11i4.797

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit global dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi, dan paling banyak dijumpai pada wilayah Asia Tenggara. Indonesia menjadi negara dengan peringkat ketiga dengan kasus Tuberkulosis terbanyak di dunia. Limfadenitis Tuberkulosis adalah salah satu bentuk tersering dari infeksi Tuberkulosis ekstraparu. Salah satu gejala tersering yang ditemukan adalah pembesaran ukuran nodul kelenjar limfa dan penurunan berat badan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian studi analitik prospektif dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling, dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 51 pasien. Pengumpulan data dilakukan dari beberapa puskesmas yang tersebar di lima kabupaten/ kota di Pulau Lombok pada tahun 2021. Analisis data menggunakan uji hipotesis korelatif koefisien kontingensi melalui SPSS 28,0. Hasil: Dari 51 subjek, ditemukan 30 di antaranya memiliki gambaran sitologi Well-organized Granuloma dan 21 lainnya memiliki gambaran sitologi Poorly-organized granuloma. Nilai P value antara gambaran sitologi dengan berat badan setelah terapi adalah 0.263 dengan nilai korelasi sebesar 0.223. Nilai P value antara gambaran sitologi dengan ukuran nodul setelah terapi adalah 0.054 dengan nilai korelasi sebesar 0.928 Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gambaran sitologi menggunakan metode FNAB dengan respons terapi pada pasien limfadenitis tuberkulosis di pulau Lombok. Kata Kunci: Limfadenitis Tuberkulosis, FNAB, Gambaran Sitologi, Respons Terapi, dan Lombok
Antibacterial Activity of Centella asiatica N-Hexane Fraction against Pseudomonas aeruginosa Clinical Isolates Larasati, Alifia Amanda; Rosyunita; Fathul Djannah
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 4 (2024): Oktober - Desember
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i4.7724

Abstract

Pseudomonas aeruginosa is a gram-negative bacterium that causes infections with high morbidity and mortality rates. Currently, treatment of P. aeruginosa infections is a major challenge due to its ability to resist various available antibiotics. Among the herbal plants with potential as a novel antibacterial agent is Centella asiatica. Nevertheless, the n-hexane fraction has never been used to investigate the antibacterial activity of C. asiatica as a herbal plant. This study aims to determine the antibacterial activity of the n-hexane fraction of C. asiatica by sokhletation extraction method against clinical isolates of P. aeruginosa and determine the bioactive compounds contained. The method used was disc diffusion (Kirby-Bauer test) with concentrations of 5,000 ppm, 7,500 ppm, and 10,000 ppm, positive control using 10 μg colistin and negative control using 10% DMSO. The results showed that the three test concentrations of C. asiatica n-hexane fraction formed a clear zone of 2.50 mm; 4.77 mm, and 2.43 mm respectively and contained flavonoid and steroid compounds. Statistically, Kruskal-Wallis test showed that there was a significant effect of changing the concentration of n-hexane fraction on the diameter of the inhibition zone. However, Post hoc test using Mann-Whitney showed that the three concentration series had significant differences in inhibition against the positive control. Overall, the n-hexane fraction of C. asiatica had lower antibacterial activity compared to the positive control of colistin. In future studies, it is necessary to test antibacterial activity using a more varied concentration series and other antibacterial activity test methods.