Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Psychology Science

Pengaruh Identity Status terhadap Kematangan Karier Pelajar-Atlet SMA Pasundan 1 Bandung Inggrina Nursyahla; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.233 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.2990

Abstract

Abstract. According to the Ministry of Youth and Sports, Indonesia has a lot of athletes, but not many can pass the selection to become national athletes. Although the opportunity for student-athletes to be professionally competent is very small, there are still many student-athletes who still hope to become professional athletes. This characteristic is referred to as identity foreclosure where student-athletes narrow their career choices, leaving many other career possibilities. This causes low career maturity. SMA Pasundan 1 Bandung has a special class for athletes who have various identity statuses (achievement, moratorium, foreclosure, and diffusion) and in the last three years has graduated student-athletes who continue their careers as athletes and non-athletes. This study aims to determine how much influence identity status has on career maturity at SMA Pasundan 1 Bandung. The identity status scale is Melgosa’s (1987) and adapted by Purtriandra et al. (2019) and the career maturity scale is Sartika’s (2020). This research is a population study of 46 student-athletes of SMA Pasundan 1 Bandung. The method used is causality with a quantitative approach. Analysis of the data used is a simple linear regression test technique. The results show that the significance value of identity status on career maturity is .000 (achievement), .543 (moratorium), .017 (foreclosure), and .000 (diffusion). This means that there is a significant influence of identity status (achievement, foreclosure, and diffusion) on career maturity. With a contribution value to career maturity of 27.2% (achievement), 12.3% (moratorium), and 31% (diffusion). Abstrak. Menurut Kementrian Pemuda dan Olahraga, Indonesia memiliki banyak sekali atlet, namun tidak banyak yang bisa lolos seleksi menjadi atlet nasional. Walaupun peluang bagi pelajar-atlet untuk dapat berkompetensi secara profesional sangat kecil, namun terdapat banyak pelajar-atlet yang tetap mengharapkan menjadi atlet profesional. Karakteristik tersebut disebut sebagai identity foreclosure dimana pelajar-atlet mempersempit pilihan karier mereka, sehingga meninggalkan banyak kemungkinan karier lain. Hal tersebut menyebabkan rendahnya kematangan karier. SMA Pasundan 1 Bandung memiliki kelas khusus atlet yang memiliki berbagai identity status (achievement, moratorium, foreclosure, dan diffusion) dan dalam tiga tahun terakhir memiliki lulusan pelajar-atlet yang meneruskan kariernya sebagai atlet dan non-atlet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh identity status terhadap kematangan karier SMA Pasundan 1 Bandung. Penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan alat ukur identity status dari Melgosa (1987) yang diadaptasi oleh Purtriandra et al. (2019) dan skala kematangan karier dari Sartika (2020). Penelitian ini merupakan studi populasi sebanyak 46 pelajar-atlet SMA Pasundan 1 Bandung. Metode yang digunakan adalah kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Analisis data yang digunakan adalah teknik uji regresi linier sederhana. Hasil pengolahan data menunjukkkan nilai signifikansi identity status terhadap kematangan karier yaitu .000 (achievement), .543 (moratorium), .017 (foreclosure), dan .000 (diffusion). Artinya terdapat pengaruh yang signifikan identity status (achievement, foreclosure, dan diffusion) terhadap kematangan karier. Dengan nilai kontribusi terhadap kematangan karier sebesar 27.2% (achievement), 12.3% (moratorium), dan 31% (diffusion).
Pengaruh Emotional Intelligence terhadap Work-Life Balance pada Karyawan Perusahaan X Kota Bandung Anisa Ratri Utami; Dewi Sartika; Rizka Hadian Permana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.355 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3012

Abstract

Abstract. Work-life balance has become a key issue in all types of employment over the last decade, as high work demands and long working hours have become the norm (Kumarasamy, et al., 2016). Previous research has shown that the importance of work life balance in achieving a better quality of life (Bulger & Fisher, 2012). According to (Kumarasamy et al., 2016) emotional intelligence is important for employees to improve work-life balance. This study aims to determine how much influence emotional intelligence on work-life balance on employees of Company X Bandung City. The subjects of this study amounted to 75 marketing employees. The measuring instrument of each variable used is in accordance with Indonesian culture. The measuring instrument emotional intelligence is using EII (Emotional Intelligence Inventory) based on the Goleman's theory and work-life balance based on the Fisher's theory. This research uses the causality method with a quantitative approach. The results of the study found that 93.3% of marketing employees had high emotional intelligence and 89.3% of marketing employees had high work-life balance. Data analysis using simple linear regression test technique. The results of data processing showed an R Square of 0.551, which means that emotional intelligence has an effect of 55.1% on work-life balance. A significance value of .000 < .05. So, it can be concluded that there is an influence of emotional intelligence on work-life balance in marketing employees of Company X Bandung City. Abstrak. Work-life balance telah menjadi isu utama pada semua jenis pekerjaan selama dekade terakhir ini, karena tuntutan pekerjaan yang tinggi dan jam kerja yang berlebihan telah menjadi norma (Kumarasamy, et al., 2016). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pentingnya work-life balance dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik (Bulger & Fisher, 2012). Menurut (Kumarasamy et al., 2016) emotional intelligence penting bagi karyawan untuk meningkatkan work-life balance. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh emotional intelligence terhadap work-life balance pada karyawan Perusahaan X Kota Bandung. Subjek penelitian ini berjumlah 75 karyawan marketing. Alat ukur dari masing-masing variabel yang digunakan sudah sesuai dengan kultur Indonesia. Alat ukur emotional intelligence menggunakan EII (Emotional Intelligence Inventory) berdasarkan teori Goleman dan alat ukur work-life balance berdasarkan teori Fisher. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kausalitas dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian ditemukan 93.3% karyawan marketing mempunyai emotional intelligence tinggi dan sebesar 89.3% karyawan marketing mempunyai work-life balance tinggi. Analisis data menggunakan uji regresi linier sederhana. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai R Square sebesar 0.551, yang memiliki arti bahwa emotional intelligence berpengaruh sebesar 55.1% terhadap work-life balance. Didapatkan nilai signifikansi sebesar .000 < .05. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh emotional intelligence terhadap work-life balance pada karyawan marketing Perusahaan X Kota Bandung.
Hubungan Pendidikan Karakter Bandung Masagi dan Motivasi Belajar Siswa SMPN 5 Bandung Rahima Azka Sasmita Atmadja; Dewi Sartika
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5313

Abstract

Abstract. SMPN 5 Bandung implements a character education program called Bandung Masagi. BandungMasagi Character Education is an education based on local wisdom issued by the Bandung City EducationOffice. Bandung Masagi contains four main principles of Sundanese people in practicing life, namely penanceasih (humanity), silih sharpening (educating), penance asuh (accompaniment), and reparation wawangi(delivering positive things). These four principles are embodied in four main programs, namely love of religion,protecting culture, defending the country, and loving the environment. Bandung Masagi Character Education isimplemented by schools in various forms of programs that are estimated to have a relationship with studentlearning motivation. This study aims to see the relationship between Masagi Bandung Character Education andStudent Motivation at SMPN 5 Bandung. This study uses a population study. The final sample obtained by theresearchers amounted to 306 students. The method in this research is a correlation with a quantitative approach. The analysis of the data used in this study is Pearson. The measuring instrument used is the Bandung Masagi measuring instrument and the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) scale made by Usinger&amp; Boyer (2012). MSLQ was developed by Pintrich, et al (1991). The results of this study indicate that there is asignificant relationship with the result of 0.00 between character education and learning motivation. Abstrak. SMPN 5 Bandung mengimplementasi program Pendidikan karakter yang bernama Bandung Masagi.Pendidikan Karakter Bandung Masagi merupakan Pendidikan yang didasari oleh kearifan lokal yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Bandung Masagi mengandung empat prinsip utama masyarakat Sunda dalam mengamalkan kehidupan, yakni silih asih (kemanusiaan), silih asah (mencerdaskan), silih asuh (mendampingi), dan silih wawangi (mengampaikan hal-hal positif). Keempat prinsip tersebut diwujudkan ke dalam empat program utama, yakni cinta agama, jaga budaya, bela negara, dan cinta lingkungan. Pendidikan Karakter Bandung Masagi diimplementasi sekolah dalam berbagai bentuk program yang diperkirakan adanya hubungan dengan motivasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Hubungan Pendidikan Karakter Bandung Masagi dan Motivasi Belajar Siswa SMPN 5 Bandung. Penelitian ini menggunakan studi populasi. Sampel akhir yang didapat oleh peneliti yaitu berjumlah 306 siswa. Metode dalam penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan kuantitatif. Analisis data yang digunakan dalalam penelitian ini adalah Pearson. Alat ukur yang digunakan yaitu alat ukur Bandung Masagi dan skala Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) yang dibuat oleh Usinger &amp; Boyer (2012). MSLQ dikembangkan oleh Pintrich, dkk (1991). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan hasil 0,00 antara Pendidikan karakter dan motivasi belajar.