Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : PILAR

PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP DAYA DUKUNG BASE A Sumiati Sumiati
PILAR Vol. 6 No. 2 (2011): PILAR 06092011
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The road construction with flexible pavement generally is often happened damaged. One of damage cause what  material usage  which is do not fulfill specification. Gradation fulfilling specification that is gradation following equation of Fuller or at least following the specification of aggregate of Base A (SNI 03-6388-2000). The research will use three existing sampel where sampel 1 representing dominant aggregate  have the smooth gradation , sampel 2 have harsh gradation and sampel 3 have different gradation and also compare with analogical aggregate of Fuller or specification of Base A. Result of research of physical aggregate showed: Abrasi of Aggregate 18,50%, aggregate have the character of the non plastis, Iump of clay 0% and specific gravity 2,70. Result of compaction test indicate that aggregate gradation very influence  density at aggregate with equation Fuller is  2,29 gr/cm3, successive of sample  1, sample 2 and sample 3, that is ; 2,24 gr/cm3; 2,19 gr/cm3 and 2,15 gr/cm3. Progressively lower compaction  progressively lower bearing capacity , where bearing capacity highest at aggregate with equation of Fuller: 90,63% and successive of sampel 1, sample 2 and also sampel 3  is 85,69%, 80,82% and 75,28%. Gradation of Aggregate represent one of aspect which must be paid attention to, because this matter can, preventing incidence of damage of quicker road;street from age plan.
VARIASI AGREGAT PIPIH TERHADAP KARAKTERISTIK ASPAL BETON (AC-BC) Sumiati Sumiati; Arfan Hasan
PILAR Vol. 7 No. 2 (2012): PILAR 07092012
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapis permukaan konstruksi perkerasan jalan adalah lapisan yang paling besar menerima beban. Oleh sebab itu material penyusun lapisan ini haruslah material yang  berkualitas baik. Kadar agregat dalam perkerasan lentur umumnya berkisar antara 90-95% dari berat total.  Partikel pipih dan kelonjongan dari agregat pada perbandingan antara 1:5, tidak boleh lebih besar dari 10 % (spesifikasi  divisi 6, 2010). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh agregat pipih dalam campuran aspal beton dengan menambahkan kadar agregat pipih yang bervariasi: 0%; 5%; 10%; 15%; 20% dan 25% pada campuran aspal beton yang mempunyai kombinasi agregat yaitu: 18% Batupecah 2/3 + 17% Batupecah 1/2 + 19% Batu pecah 1/1 + 44% abubatu + 2% Filler. Setelah dibuat masing-masing 3 benda uji dengan kadar aspal  berkisar antara: 5%; 5,5%; 6,0%; 6,5% dan 7,0%, maka didapat kadar aspal  sebesar 6% yang akan dipergunakan untuk pembuatan sampel benda uji untuk menentukan pengaruh agregat pipih terhadap nilai karaktristik aspal beton. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar agregat yang akan dipergunakan pada campuran aspal beton tidak boleh >10% karena hal ini akan mempengaruhi stabilitas dari aspal beton.
FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN ALUR(RUST) PADA LAPISAN PERKERASAN JALAN Sumiati Sumiati
PILAR Vol. 7 No. 1 (2012): PILAR 07032012
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the factor causing road damage that often occurs and can had to futher damage the groves without any cracks. This damage will be examined using the four samples taken from drill cores in a way that develoving cracks in street groove without cracks.  The sample is then carried out the testing of physical properties and testing of Marshall.The result showed that the factors that cause, such as: asphalt concrete mixtures by using asphalt concrete that’s too small, insufficient in weighing aggregate, because too much use of fine-grained aggregate and the amount of sand used is greater than fifteen percent, which is not in accordance with the specifications required. This resulted in unstable asphalt concrete mixtures, so that when traversed by vehicle will cause the grooves that made an impression of vehicle wheels.
KERUSAKAN DINI LAPISAN PERKERASAN ASPAL BETON AC-BC Sumiati Sumiati; Arfan Hasan
PILAR Vol. 9 No. 2 (2013): PILAR 09092013
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan dini lapisan perkerasan jalan umumnya dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling kait- mengait. Menurut Manual Pemeliharaan Jalan No: 03/MN/B/1983 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal  Bina Marga, kerusakan-kerusakan jalan  yang  disebabkan  oleh  bahan  perkerasan/material yang digunakan kurang  baik  diantaranya :  retak  halus , Retak  selip (slippage cracks ), cacat permukaan dan terlepasnya  butir-butir  agregat  di  mana  tidak  adanya ikatan  antar  butir  agregat. Dengan mengambil sampel di lapangan pada daerah yang terjadi kerusakan sebanyak 7 sampel, maka akan diteliti apakah bahan/material yang digunakan memenuhi persyaratan berdasarkan spesifikasi lapis aspal beton menurut BinaMarga. Dari Hasil pengujian didapatkan bahwa agregat yang digunakan banyak mengandung lumpur dengan  kadar  lumpur  >  1%.  Dan  agregat  halus  yang  digunakan ternyata  mengandung  pasir> 15%. Hal ini tentunya akan mempengaruhi daya ikat aspal tehadap agregat.
PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP NILAI KARAKTERISTIK ASPAL BETON (AC-BC) Sumiati Sumiati; Sukarman Sukarman
PILAR Vol. 10 No. 1 (2014): PILAR 10032014
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gradasi agregat dapat dikatakan sangat mempengaruhi pada campuran beraspal karena gradasi agregat berfungsi memberikan kekuatan yang pada akhirnya mempengaruhi stabilitas dalam campuran, dengan kondisi saling mengunci (interlocking) dari masing-masing partikel agregat kasar. Berdasarkan Spesifikasi Umum Perkerasan Jalan (2010), campuran agregat Laston (AC-BC) dapat bergradasi kasar dan halus, sedangkan menurut Sukirman, 2003, kurva Fuller adalah kurva dengan gradasi agregat di mana kondisi campuran memiliki kepadatan maksimum dengan rongga diantara mineral agregat (VMA) yang minimum.Oleh sebab itu peneliti mencoba untuk meneliti seberapa besar pengaruh agregat bergradasi kasar, bergradasi halus, dan agregat bergradasi yang mengikuti lengkung fuller pada campuran aspal beton (AC- BC), dengan membuat benda uji untuk pengujian Marshall dengan kombinasi aspal bervariasi dari: 4,5%; 5%; 5,5%; 6,0%; 6,5% dan 7,0% dengan masing-masing 3 benda uji sehingga total benda uji untuk masing- masing kombinasi sebanyak 18 buah dan dibuat dengan 75 X 2 tumbukan. Kemudian dilakukan pengujian Marshall untuk mendapatkan nilai karakteristik yang disyaratkan Spesifikasi Umum Perkerasan Jalan, 2010, sehingga data dapat dianalisa.Dari pengujian diperoleh nilai MQ terbesar terdapat pada agregat bergradasi fuller MQ 740 kg/mm, sedangkan agregat bergradasi halus nilai MQ 700 kg/mm dan agregat bergradasi kasar didapat MQ sebesar 360 kg/mm. Nilai Marshall Quotient yang rendah, mengidentifikasikan bahwa campuran tidak kaku dan mudah mengalami deformasi (perubahan bentuk). Nilai VMA campuran agregat bergradasi kasar 15,4%; campuran agregat bergradasi fuller 14,1% dan campuran agregat bergradasi halus 14,0%. Jadi dapat disimpulkan bahwa agregat bergradasi halus dan bergradasi fuller mempunyai kepadatan  maksimum dengan rongga diantara mineral agregat (VMA) yang minimum/durabilitas yang lebih  baik dibandingkan dengan agregat bergradasi kasar.
PENGARUH PENGGUNAAN BATU KAPUR SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT HALUS PADA CAMPURAN ASPAL BETON (AC-BC) Arfan Hasan; Sumiati Sumiati
PILAR Vol. 10 No. 2 (2014): PILAR 0902014
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asphalt Concrete - Binder Course (AC-BC) merupakan salah satu bagian dari perkerasan yang berfungsi sebagai lapis antara yang menahan beban maksimum akibat beban lalu lintas. Batukapur merupakan salah satu bahan mineral industri yang banyak digunakan oleh sektor industri, tapi belum termanfaat secara optimal sebagai bahan penstabilan jalan raya. Selama ini sebagai bahan pengisi pada aspal beton biasanya digunakan batupecah, oleh sebab itu pada kesempatan ini penggunaan batupecah sebagai agregat halus akan diganti dengan batukapur.Dengan membuat benda uji marshall dengan variasi batu kapur sebagai pengganti agregat halus pada kadar 10%, 25%, 50%, 75%, dan 100% serta kadar aspal yang direncanakan adalah 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10%, 11%,12%, dan 13% yang kemudian dibandingkan dengan aspal beton lapis AC-BC yang menggunakan agregat halus batu pecah, maka akan diketahui Kadar Aspal Optimum, stabilitas, kelelehan, VIM, VMA, VFA, dan MQ pada campuran aspal beton AC-BC yang menggunakan batu kapur sebagai pengganti agregat halus.Berdasarkan hasil pengujian Marshall diperoleh KAO dengan proporsi batu kapur 0%, 10%, 25%, 50%,   75%, dan 100% adalah 6,5%, 7,4%, 7,55%, 8,05%, 9,25%, dan 10,05%. Nilai untuk stabilitas proporsi batu kapur 0%, 10%, 25%, 50%, 75%, dan 100% adalah 2400kg, 2600 kg, 2700 kg, 3200 kg, 2800 kg dan 2750 kg. Setelah dianalisa tentang kadar Aspal Optimum, stabilitas, kelelehan, VIM, VMA, VFA, dan MQ, bahwa penggunaan batu kapur sebagai pengganti agregat halus pada aspal beton AC-BC maksimum pada kadar 50%.
PENGARUH PENGGUNAAN ASPAL MODIFIKASI LIMBAH PLASTIK HDPE TERHADAP PERUBAHAN SUHU PADA LASTON AC-WC ( 14-21 ) Frestilia Pertiwi. A; Okti Dwi Yanti; Mahmuda Mahmuda; Sumiati sumiati
PILAR Vol. 13 No. 1 (2018): Pilar: Maret 2018
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan jalan telah menjadi permasalahan umum yang biasa dihadapi karena hampir di setiap daerah memiliki jalan yang rusak. Beberapa hal yang menjadi penyebab kerusakan jalan di Indonesia antara lain karena kualitas jalan yang kurang baik, situasi iklim di Indonesia yang tropis dan kondisi drainase jalan yang tidak memadai. Aspal merupakan salah satu material yang dapat digunakan untuk membuat jalan raya. Untuk meningkatkan mutu aspal dibutuhkan bahan dasar lain salah satunya dengan memberikan bahan tambah dalam campuran yang sifatnya mampu mengatasi kelemahan yang dimiliki aspal, contohnya plastik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai karakteristik Marshall akibat penambahan plastik HDPE pada campuran AC-WC dengan mengacu pada spesifikasi Bina Marga 2010. Untuk penelitian ini dilakukan pemeriksaan sifat fisik aspal, agregat serta plastik terlebih dahulu yang dilakukan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemudian dilakukan pengujian Marshall untuk menentukan Kadar Aspal Optimum (KAO). Dari hasil pengujian diperoleh nilai KAO sebesar 5,6%. Variasi penambahan plastik HDPE pada campuran AC-WC yang digunakan adalah 0%, 2%, 4%, 6%, dan 8% terhadap Kadar Aspal Optimum (KAO). Temperatur dan waktu perendaman benda uji ke dalam waterbath yang digunakan adalah 60oC, 70 oC, 80 oC selama 30 menit, dan 60 oC selama 24 jam.Hasil penelitian menunjukkan kadar plastik yang dapat digunakan pada campuran AC-WC modifikasi untuk suhu perendaman 60° selama 30 menit adalah 0-1,5%, suhu perendaman 70° selama 30 menit adalah 0,1-1,5%, suhu perendaman 80° selama 30 menit adalah 1-3%, suhu perendaman 60° selama 24 jam adalah 1,5-3% karena tahan terhadap perubahan suhu dan iklim serta memenuhi spesifikasi Bina Marga.