Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Reny Yuniasanti; Metty Verasari
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 20 No. 1 (2015)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research was to explore the level of entrepreneur intention of undergraduate student in Yogyakarta university. There were many factor of entrepreneur intention such as environtment, relatives, education, personality trait, age, and sex. The subjects were 100 university student who almost finished their study. The data were collected by entrepreneur intention scale. The result indicated that only 31 university student in this research have high level of entrepreneur intention (31%) . The rest, 39 student (39%) at medium level, and 30 student at low level of entrepreneur intention. Keywords: entrepreneurship, intention, university student,
Hubungan Antara Persepsi Remaja Terhadap Keberfungsian Keluarga Dengan Kematangan Emosi Pada Remaja Akhir Pebby Ayu Ramadhany; Triana Noor Edwina Dewayani Soeharto; Metty Verasari
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v1i1.1076

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir. Karakteristik subjek yakni : remaja berusia 16-18 tahun dan tinggal bersama orang tua. Jumlah subjek dalam penelitian sebanyak 93 subjek. Data penelitian di ungkap dengan Skala McMaster Family Assessment Device (FAD) yang disusun oleh Epstein,dkk (1983) untuk mengungkap persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dan Skala Kematangan Emosi untuk mengungkap kematangan emosi. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS 16. Berdasarkan analisis data antara variabel persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir diperoleh diperoleh koefisien (rxy) sebesar 0,546 (p lebih kecil dari 0,01) sehingga hipotesis yang diajukan dapat diterima. Hal ini menunjukan bahwa adanya hubungan positif antara persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir.Kata kunci: persepsi remaja, keberfungsian keluarga, kematangan emosi, remaja akhir
Peningkatan Resiliensi Psikologis Penyintas Kekerasan Rumah Tangga Melalui Psikoterapi Positif Abdur Rahman; Kamsih Astuti; Metty Verasari; Izzanil Hidayati; Rifdha Wahyuni
Psyche 165 Journal Vol. 15 (2022) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.142 KB) | DOI: 10.35134/jpsy165.v15i4.211

Abstract

Domestic violence has a huge impact on survivors who act as wives and husbands as perpetrators of violence. Domestic violence has make survivors trapped in an endless cycle of violence, this is caused by a learned feeling of helplessness and great disappointment towards their partner while still hoping that their partner's behavior changes. The impacts experienced by survivors of domestic violence can be in the form of traumatic experiences, threats, restraints, feelings of helplessness which ultimately lead to maladaptif behavior such as having the belief that they feel helpless in addition to the physical impact they feel. Resilience is needed so they can quickly recover from the experience of violence. In this study, there were five female survivors of domestic violence whose ages ranged from 23-44 years and were still married. We measured the resilience of these participants using a modified Resilience Scale which was built based on the Connor Davidson Resilience Scale 25 (CD-RISC 25) and was given positive psychotherapy intervention to increase their resilience score. The process of measuring resilience in survivors was carried out three times, pre-test, post-test and one week after the intervention was given. Using the Wilcoxon Signed Rank Test as an analytical procedure, it was found a significant effect after being given a positive psychotherapy intervention on survivor's resilience (z=-2.032, p <0.05). Resilience observed increased in survivors is in the form optimistic thinking, increased self-confidence, eliciting positive memories and emotions towards oneself, had a new source of hope and energy to deal with everyday problems.
GAMBARAN GOAL SETTING - PERENCANAAN AKADEMIK MAHASISWA PSIKOLOGI Metty Verasari; Dian Sartika Sari; Kezia Natalia Budisantoso
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 2 (2024): Vol. 1 No. 2 Edisi April 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i2.76

Abstract

Perencanaan karir mahasiswa menjadi sesuatu yang penting bagi  keputusan akademik mahasiswa. Adanya perubahan kebijakan akan memberikan pengaruh terhadap perencanaan karir mahasiswa. Kebijakan mengenai jenjang dan untuk mendapatkan gelar psikolog yang semula magister profesi menjadi profesi psikologi memberikan perubahan sendiri bagi perencanan karir mahasiswa. Penelitian ini membahas pokok persoalan mengenai bagaimana gambaran perencanaan karir mahasiswa psikologi  terlebih setelah adanya perubahan kebijakan mengenai program psikolog. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara pada 10 mahasiswa berdasarkan aspek perencanaan kerja. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa perencanaan goal setting dari mahasiswa psikologi mengalami kebingungan sejak adanya perubahan kebijakan profesi psikologi. Sebelumnya profesi psikologi ditempuh dengan jalur magister profesi dan saat ini ditempuh dengan s1 profesi psikologi dimana saat ini S1 profesi bersifat umum dan tidak lagi ada peminatan seperti magister profesi. Mahasiswa mengalami kebingungan terkait keputusan mereka apakah harus melanjutkan s1 profesi umum atau magister science agar bisa bergerak dibidang akademik, sebelumnya profesi psikologi diraih dengan gelar magister profesi dimana secara jenjang Pendidikan psikolog menduduki s2 dan dapat bekerja dibidang akademisi sekaligus berpraktek sebagai psikolog.