Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Literature Review: Mengkaji Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Sindiyana Damayanti; Endang Susilowati
Jurnal Kebidanan Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Kebidanan Khatulistiwa
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jkk.v7i2.610

Abstract

Latar Belakang: Kejadian stunting pada balita merupakan salah satu permasalahan gizi secara global. . Stunting dapat dituntaskan bila faktor penyebab stuting disetiap wilayah dapat dikendalikan. Baynyak faktor yang dapat menyebabkan Stunting. Prevalensi stunting menurut Rikesdas 2013 angka nasional sebesar 37,2% yang berarti adanya peningkatan dibandingkan tahun 2007 (36,8%).  Tujuan: mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Metode: Literatur ditemukan melalui media elektronik berdasarkan kata kunci yang sesuai. Didapatkan lima literature nasional yang membahas mengenai faktor faktor yang berhubungan dengan stunting di beberapa daerah dan dalam waktu yang berbeda. Hasil: terdapat beberapa faktor yang menyebabkan stunting pada balita diantaranya penyakit infeksi, pola makan, kurangnya asupan energi, kurangnya asupan protein, panjang badan lahir, riwayat ASI Eksklusif pendapatan keluarga, pendidikan ibu, dan pengetahuan gizi ibu. Kesimpulan : Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada balita adalah penyakit infeksi, pola makan, kurangnya asupan energi, kurangnya asupan protein, panjang badan lahir, riwayat ASI Eksklusif, pendapatan keluarga, pendidikan ibu, dan pengetahuan gizi ibu
PENGARUH KONSUMSI AIR KELAPA HIJAU TERHADAP PENURUNAN NYERI HAID (DISMENORE) : LITERATURE REVIEW Rosita Komala Dewi; Friska Realita; Endang Susilowati
Jurnal Kebidanan Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2022): Jurnal Kebidanan Khatulistiwa
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jkk.v8i2.647

Abstract

Latar belakang : Dismenore adalah rasa kram yang hebat di daerah uterus atau secara superfisialnya bisa dirasakan pada perut bagian bawah, selama menstruasi. Banyak upaya dilakukan untuk mengurangi keluhan nyeri haid atau dismenore tersebut salah satunya dengan mengkonsumsi air kelapa hijau karena air kelapa hijau mengandung  kalsium 14,11 Mg/100 ml, magnesium 9,11 Mg/100 ml dan vitamin c. Kalsium dan magnesium yang terkandung dalam air kelapa hijau dapat mengurangi ketegangan otot serta kandungan vitamin c yang merupakan zat-zat alami anti inflamasi yang membantu meringankan rasa sakit akibat kram menstruasi. Metode : Metode yang digunakan yaitu electronic data base dari jurnal yang telah dipublikasikan melalui DOAJ (Directory of Open Access Journals), PubMed dan Google Scholar. Jurnal yang ditemukan kemudian dispesifikkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu: IC1= artikel dipublikasikan dalam rentang waktu 2010-2020, IC2= jenis penelitian kuantitatif, IC3= jurnal tidak duplicate yang diterbitkan dari DOAJ (Directory of Open Access Journals), PubMed dan Google Scholar, IC4 = judul artikel dan abstrak sesuai dengan tujuan dari sistematik review. Hasil : Air kelapa hijau mengandung kalsium 14,11 Mg/100 ml, Magnesium 9,11Mg/100 ml dan Vitamin C 8,59Mg/100 ml. Kalsium dan Magnesium yang terkandung dalam air kelapa hijau dapat mengurangi ketegangan otot dan vitamin C yang merupakan zat-zat alami anti inflamasi yang membnatu meringankan rasa sakit akibat kram menstruasi dengan menghamabat ezimcyclooxygenaseyang memiliki peran dalam mendorong proses pembentukan ezimcyclooxygenase prostaglandin.
Mengkaji Efisiensi Kompres Air Hangat untuk Mengurangi Tingkat Nyeri Dismenorea pada Perempuan Hidayatus Sholikhah; Endang Susilowati
Jurnal sosial dan sains Vol. 1 No. 6 (2021): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.996 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v1i6.107

Abstract

Setiap wanita yang sedang menstruasi dapat mengalami Dismenorea. Dismenorea adalah rasa nyeri yang terjadi pada saat haid biasanya ditandai dengan adanya kram yang berpusat di abdomen bawah. Masa remaja (11-21 tahun) adalah masa terjadinya peningkatan kebutuhan energi dan nutrisi. Di usia ini remaja sangat rentan terhadap dismenorea. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang konsep yang menyatakan kompres air hangat untuk mengurangi rasa nyeri pada masa haid, Prevalensi dismenorea di Indonesia mencapai 60-70% pada saat usia remaja dan dapat menimbulkan dampak konflik emosional, ketegangan dan kegelisahan. Di Indonesia angka kejadian disminorea primer 54,89% dan 45,11% dismenorea sekunder. Terdapat beberapa manajemen nyeri untuk mengatasi dismenorea, salah satunya yaitu dengan memberikan terapi kompres air hangat. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan literature review dengan menggunakan beberapa sumber jurnal penelitian yang digunakan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Sumber data yang dipilih yaitu jurnal ter-update yang dibatasi penerbitan jurnalnya dari tahun 2014-2020 salah satunya yaitu efektivitas pemberian terapi kompres air hangat untuk mengurangi rasa nyeri dismenorea. Hasil dari beberapa jurnal yang telah didapatkan, terdapat beberapa tingkatan nyeri pada saat menstruasi terhadap responden dengan pemberian perilaku dengan diberikannya terapi kompres air hangat dapat mengurangi nyeri pada saat menstruasi. Pembahasan salah satu cara yang digunakan untuk mengurangi rasa nyeri dismenorea non farmakologi yaitu diberikan terapi kompres menggunakan air hangat. Terapi kompres hangat dapat melebarkan pembuluh darah sehingga bisa meningkatkan aliran darah lokal yang mengakibatkan relaksasi yang bisa menurunkan rasa nyeri. Kesimpulan yang bisa diambil yaitu berdasarkan dari beberapa jurnal yang telah dianalisa, menunjukkan bahwa pemberian terapi kompres air hangat dapat mengurangi tingkatan rasa nyeri dismenorea.
Hubungan Kurang Energi Kronis (KEK) pada Masa Kehamilan Dengan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Widya Nita Suprabawati; Endang Susilowati; Arum Meiranny
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung Vol. 5 No. 1 (2026): JMHSA
Publisher : Sultan Agung Islamic University of Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi. Kekurangan energi dalam jangka waktu lama menjadi salah satu penyebab kematian ibu (KEK). Wanita KEK hamil jika lingkar lengan atas (LiLA) kurang dari 23,5 cm. Wanita hamil dan menderita KEK lebih besar kemungkinannya untuk melahirkan bayi dengan berat badan sangat rendah (BBLR). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Mangunsari dan laporan Pemantauan Kesehatan Masyarakat (PWS) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terdapat 125 kasus KEK di Puskesmas Mangusari selama tiga tahun dari tahun 2022 hingga 2024. KEK pada tahun 2022 sebanyak 35 kasus, tahun 2023 sebanyak 46 kasus dan tahun 2024 sebanyak 44 kasus. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil dengan KEK dan bayi baru lahir dengan BBLR yang tercatat dalam rekam medis Puskesmas Mangunsari pada bulan Mei 2024 sebanyak 64 responden. Teknik sampling menggunakan total sampling. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa dari 64 responden di Puskesmas Mangunsari mayoritas memiliki karakteristik usia 20–35 tahun (84,3%), multipara (62,5%) dan kadar Hb >11 gr/dL (70,3%). Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p-value antara KEK dengan kejadian BBLR sebesar 0,008<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kekurangan energi kronis (KEK) pada masa kehamilan dengan kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR).
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan dengan Anxienty pada Ibu Post Partum di Rumah Sakit Jiwa Daerah dr Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah Asli Ma'rifatul Khasanah; Arum Meiranny S.SiT., M.Keb; Endang Susilowati
Journal of Midwifery and Health Science of Sultan Agung Vol. 5 No. 2 (2026): JMHSA
Publisher : Sultan Agung Islamic University of Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan psikologis yang sering dialami ibu nifas adalah  kecemasan. 28,7% mengalami kecemasan   masa   nifas. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang hubungan pendidikan dan pekerjaan terhadap kecemasan ibu nifas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Jumlah responden sebanyak 44 responden dengan teknik total sampling. Data yang diperoleh diolah dengan uji spearmen rank. Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 44 responden 27 responden (61,4%) berpendidikan rendah sedangkan dari 44 responden sebanyak 22 responden bekerja. Uji koefisien korelasi menunjukkan p-value 0,511 yang berarti bahwa hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat kecemasan memiliki kekuatan keterikatan sedang/ cukup (0,40 – 0,599), terdapat hubungan antara variabel jenis pekerjaan dan tingkat kesemasan responden. Uji koefisien korelasi menunjukkan p-value 0,437 yang berarti bahwa hubungan antara jenis pekerjaan dan tingkat kecemasan memiliki kekuatan keterikatan sedang/ cukup (0,40 – 0,599). Kesimpulan yaitu terdapat Hubungan yang bermakna antara pendidikan dan pekerjaan  dengan kecemasan ibu post partum (p-value < 0.05)
Determinant Factors Influencing the Diagnosis of Children with Down Syndrome in Central Java, Indonesia Endang Susilowati; Agustini Utari; Tri Indah Winarni; Sabita Khadka
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 24 No 3 (2026): JURNAL INFO KESEHATAN (In Progress)
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol24.Iss3.2552

Abstract

The prevalence of Down syndrome among children aged 24–59 months was detected at 0.12% in 2010, 0.13% in 2013, and 0.21% in 2018, or approximately 1 per 600 live births. The global incidence is estimated at 3,000– 5,000 infants born with Down syndrome each year. Based on CDC data, approximately 6,000 infants are born with Down syndrome (DS) each year, or about 1 in 700 live births. The incidence of DS in the United States (US) increased over the period 2010 2014, rising from 13.7 per 10,000 to 15.7 per 10,000 live births, or 1 in 772 infants born with DS. Early detection of Down syndrome plays a crucial role in improving clinical management and family preparedness. Delayed diagnosis of intellectual disability can cause children to miss the opportunity for early intervention, which can help reduce symptoms as well as behavioral and emotional problems, in addition to resulting in poorer cognitive and adaptive functioning compared with those who receive treatment early.  This study aimed to describe the characteristics of children with Down syndrome, maternal characteristics, and the history of birth attendants, birth settings, and modes of delivery in Central Java, Indonesia. Specifically, the study aimed to examine the associations between birth attendant, birth setting, mode of delivery, and the timing of Down syndrome diagnosis in children. A correlational analytical design with a cross-sectional approach was employed to describe the characteristics of children with Down syndrome, maternal characteristics, and birth-related factors, including birth attendant, birth setting, and mode of delivery. The study also examined the associations between these factors and the child’s age at Down syndrome diagnosis. Bivariate analysis was performed using the Chi-square test, while multivariable analysis was conducted using binary logistic regression. The findings showed that the majority of children were male and were aged >5–12 years. Most mothers were aged 20–35 years at the time of delivery. Midwives were the most common birth attendants, spontaneous vaginal delivery was the predominant mode of delivery, and independent midwifery practices were the most frequent birth settings. Most children were diagnosed with Down syndrome during the neonatal period. Among the factors examined, birth attendant showed the strongest statistical association with early diagnosis