Moh Hasan Bisri
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGELOLAN ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN Bisri, Moh Hasan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v1i1.838

Abstract

Pengaruh globalisasi sangat terasa dalam dunia kesenian Indonesia. Hal itu minimal tampak dari pesatnya perkembangan teknologi komunikasi sehingga menyebabkan karya-karya seni seniman suatu bangsa dapat menembus dan dinikmati secara langsung oleh bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Hasil karya seni tidak dapat lagi dipisahkan dengan tegas dari sistem-sistem, seperti produksi, informasi, perdagangan, hukum dan telekomunikasi. Karya seni anak bangsa Indonesia mau tidak mau harus mampu bersaing dengan karya-karya seni hasil world intertainment industry, seperti film produksi Hollywood, Cina, India maupun telenovela dari Mexico, Brasil dan negara-negara lain.  Terlepas dari semua itu, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa kemungkinan peningkatan apresiasi seni masyarakat dan memberi peluang bagi karya seni Indonesia untuk “go international” ke dalam industri kesenian dunia.
Perkembangan Tari Ritual Menuju Tari Pseudoritual di Surakarta (The Development of Ritual Dance toward Pseudoritual Dance in Surakarta) Bisri, Moh Hasan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.798

Abstract

Seni tari merupakan cermin dari realitas manusia yang dicoba dikemas lewat"gerak-musikal". Kekuatan seni tari terletak pada makna di belakang setiap gerakanyang dipandu dengan alunan iringan musik. Realitas alam fisik maupun non fisikditampilkan seni tari dengan gerakan yang mempunyai arti bagi manusia itusendiri. Sejak jaman prasejarah telah diketahui bahwa tari lahir didasari olehkegunaannya pada masyarakat jamannya. Pada masyarakat primitif sangatdirasakan tari sebagai sarana atau media untuk mencapai suatu kebutuhan, merekasangat percaya dengan menari akhirnya apa yang diinginkan akan tercapai. Tariupacara sebagai media persembahan dan pemujaan terhadap kekuasaan yang lebihtinggi dengan maksud untuk mendapatkan perlindungan, demi keselamatan,kebahagiaan dan kesejahteraan hidup masyarakat. Dengan demikian, tari upacarajuga disebut tari ritual. Pada tari upacara (ritual) faktor keindahan adalahsekunder, yang mengutamakan kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupanmanusia sendiri ataupun hal-hal di luar diri manusia. Keindahan jiwa manusia itusendiri dimanifestasikan menjadi bentuk gerak tari. Tari dilaksanakan untukmendapatkan makanan, menghormati orang mati, atau untuk menjamin tertib yangbaik dalam kosmos. Tarian tersebut dilangsungkan pada kesempatan inisiasi,upacara magis-religius, perkawinan, dan sebagainya.Kata Kunci : perkembangan, tari ritual, psiuduritual.
Perkembangan Tari Ritual Menuju Tari Pseudoritual di Surakarta (The Development of Ritual Dance toward Pseudoritual Dance in Surakarta) Bisri, Moh Hasan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.798

Abstract

Seni tari merupakan cermin dari realitas manusia yang dicoba dikemas lewat"gerak-musikal". Kekuatan seni tari terletak pada makna di belakang setiap gerakanyang dipandu dengan alunan iringan musik. Realitas alam fisik maupun non fisikditampilkan seni tari dengan gerakan yang mempunyai arti bagi manusia itusendiri. Sejak jaman prasejarah telah diketahui bahwa tari lahir didasari olehkegunaannya pada masyarakat jamannya. Pada masyarakat primitif sangatdirasakan tari sebagai sarana atau media untuk mencapai suatu kebutuhan, merekasangat percaya dengan menari akhirnya apa yang diinginkan akan tercapai. Tariupacara sebagai media persembahan dan pemujaan terhadap kekuasaan yang lebihtinggi dengan maksud untuk mendapatkan perlindungan, demi keselamatan,kebahagiaan dan kesejahteraan hidup masyarakat. Dengan demikian, tari upacarajuga disebut tari ritual. Pada tari upacara (ritual) faktor keindahan adalahsekunder, yang mengutamakan kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupanmanusia sendiri ataupun hal-hal di luar diri manusia. Keindahan jiwa manusia itusendiri dimanifestasikan menjadi bentuk gerak tari. Tari dilaksanakan untukmendapatkan makanan, menghormati orang mati, atau untuk menjamin tertib yangbaik dalam kosmos. Tarian tersebut dilangsungkan pada kesempatan inisiasi,upacara magis-religius, perkawinan, dan sebagainya.Kata Kunci : perkembangan, tari ritual, psiuduritual.
PENGELOLAN ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN Bisri, Moh Hasan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v1i1.838

Abstract

Pengaruh globalisasi sangat terasa dalam dunia kesenian Indonesia. Hal itu minimal tampak dari pesatnya perkembangan teknologi komunikasi sehingga menyebabkan karya-karya seni seniman suatu bangsa dapat menembus dan dinikmati secara langsung oleh bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Hasil karya seni tidak dapat lagi dipisahkan dengan tegas dari sistem-sistem, seperti produksi, informasi, perdagangan, hukum dan telekomunikasi. Karya seni anak bangsa Indonesia mau tidak mau harus mampu bersaing dengan karya-karya seni hasil world intertainment industry, seperti film produksi Hollywood, Cina, India maupun telenovela dari Mexico, Brasil dan negara-negara lain.  Terlepas dari semua itu, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa kemungkinan peningkatan apresiasi seni masyarakat dan memberi peluang bagi karya seni Indonesia untuk “go international” ke dalam industri kesenian dunia.
Manajemen Seni Pertunjukan Solo International Performing Arts (SIPA) oleh Komunitas SIPA di Surakarta Vida, Alvia Nur; Bisri, Moh Hasan
Jurnal Seni Tari Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jst.v9i2.40315

Abstract

Solo International Performing Arts (SIPA) merupakan pergelaran seni pertunjukan di Surakarta denganberagam seni pertunjukan berbentuk tari, musik, dan teater berasal dari seniman dalam negeri dan luarnegeri. Solo International Performing Arts (SIPA) dikelola dengan sistem manajemen oleh KomunitasSIPA dibawah tanggung jawab Dinas Pariwisata Kota Surakarta. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan manajemen pergelaran seni pertunjukan Solo International Performing Arts (SIPA).Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi,wawancara serta dokumentasi yang peneliti gunakan sebagai alat untuk memperoleh data. Teknikanalisis data penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, triangulasi dan penarikankesimpulan. Hasil penelitian menunjukan sistem manajemen Solo International Performing Arts (SIPA)terdiri dari dua hal yaitu; (1) Unsur manajemen yang meliputi man, money, methods, materials, machines,dan market; (2) Proses manajemen Solo International Performing Arts (SIPA) yang meliputi perencanaan,pengorganisasian, penyusunan personalia, pengarahan dan pengawasan. Bagi SIPA communityperlunya pengurus administrasi keuangan yang bersifat tetap selain sekretaris agar setiap pelaksanaanpertunjukan lebih efisien, bagi direktur SIPA perlu memberikan wewenang kepada administrasikeuangan agar terjadi pembagian peran yang sesuai, perlunya menerapkan sistem kedisiplinan baruuntuk relawan yang lolos mengikuti seleksi agar pengorganisasian kepanitiaan lebih maksimal, dan bagiPemerintah perlu memberikan alokasi dana sesuai dengan kapasitas pertunjukan.
The Non-Aesthetic Aspect of Mangkunagaran-Style Dance: Study From The Perspective of Social Context Malarsih, Malarsih; Utina, Usrek Tani; Bisri, Moh Hasan
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 20, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v20i2.23410

Abstract

This study aims at analyzing the non-aesthetic aspect of Mangkunagaran-style dance from the perspective of its social context. The method employed in the study is interpretative-descriptive qualitative. The approach used social culture to analyze the perspectives. The research was conducted in Pura Mangkunagaran, with the focus of research lies on the non-aesthetic aspect of Mangkunagaran-style dance taken from the perspective of its social context. Techniques for collecting data was an observation, interview, and documentation study. The data validity mainly used data triangulation. Results show that from the perspective of social context, the Mangkunagaran-style dance is divided into four major social functions, i.e., the social order for integration, the function of expression, the function of entertainment, and the function of Psychiatric, Aesthetic, and Economic. These for main social functions are taken part in the existence of Mangkunagaran-style dance in Pura Mangkunagaran and wider communities.
Optimalisasi Peran Sanggar Tari Dalam Mendukung Pemajuan Kebudayaan Serta Pendayagunaan Ruang Terbuka Publik di Kota Semarang Lanjari, Restu; Purwani, Neli; Bisri, Moh Hasan; Sari, Lisfatika; Kusumaningtyas, Denada Widya
Varia Humanika Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/vh.v4i2.75363

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memanfaatkan ruang terbuka publik untuk berekspresi tari. Ruang publik yang dimaksud dalam hal ini adalah ruang bersama yang mudah diakses setiap saat oleh seluruh masyarakat, yaitu sebagai tempat/lokasi untuk bermain, bersantai, berekreasi, dan belajar. Ruang publik yang artinya berupa taman kota, pedestrian, serta bukan ruang untuk aktivitas belanja, beribadah, dan berolahraga.Tim pengabdian bekerjasama dengan sanggar tari di Kota Semarang serta berkoordinasi dengan MGMP Seni Budaya SMA Kota Semarang melakukan serangkaian aktivitas, yaitu sosialisasi, kegiatan di Banjir Kanal Barat, dan kegiatan di Taman Sampangan.Hasil pengabdian memberikan tindakan kongkrit yang menjembatani antara pengelola sanggar tari dengan pemegang kebijakan, sehingga ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi tari, sekaligus berpromosi tentang keberadaan sanggar tari.