Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Deep Breathing Exercise Dan Slow Stroke Back Massage Efektif Dalam Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Pada Penderita Hipertensi. Nova Relida Samosir; Sari Triyulianti
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jfrwhs.v5i2.146

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri terus menerus lebih dari satu periode. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang sering diderita oleh kebanyakan orang. Hipertensi telah menjadi penyakit yang umum diderita oleh banyak masyarakat Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan Deep Breathing Exercise dan Slow Stroke Back Massage efektif dalam menurunkan tekanan darah tinggi pada penderita Hipertensi. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasie xperiment dengan desain penelitian pre and post test without control group design. Hasil: Perbedaan pre-test dan post-test terlihat dari tekanan sistolik diperoleh p-value 0,027. Pada tekanan diastolik terdapat perubahan nilai pre test dan post test p-value 0,015 yang berarti terdapat perbedaan pengaruh sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian Deep Breathing Exercise dan Slow Stroke Back Massage terhadap penurunan tekanan darah tinggi pada penderita Hipertensi.
The Effect of Moderate Intensity Continuous Training on V02 Max Overweight Adolescents Sari Triyulianti; Ayu Permata; Riski Dwi Utami
COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga Vol 15, No 1 (2023): February
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/cjpko.v15i1.43934

Abstract

This study aimed to determine the effect of moderate-intensity continuous training (MICT) on V02 Max in overweight adolescents. This study used an experimental method with pre and post-test designs on 20 overweight adolescents according to the inclusion and exclusion criteria. Samples were randomly divided into two groups, the control group and the MICT group. The control group did not do the exercise. The MICT group exercised by running for 30 minutes (64-76% of maximal heart rate), three times per week for four weeks. VO2 Max capacity was measured using a multi-stage fitness test by running back and forth with a 20-meter track. The results showed that there was a significant increase in VO2 max in the MICT group (p=0.00). In the control group, there was a decrease in V02 Max, but there was no significant difference (p=0.869). There was a significant difference in V02 Max between the MICT group and the control group (p=0.005). In conclusion, MICT over four weeks can increase the V02 Max in overweight adolescents.
Pengaruh Brain Gym dan Resistance Exercise Pada Lansia dengan Kondisi Demensia Untuk Meningkatkan Fungsi Kognitif Sari Triyulianti; Leila Ayuningtyas
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 5 No 02 (2022): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.458 KB) | DOI: 10.36341/jif.v5i02.2678

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Demensia adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan kognitif secara progresif yang mengganggu kemampuan fungsional secara mandiri. Demensia umumnya disebabkan oleh gangguan beberapa fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk memori, pemikiran, orientasi, pemahaman, pembelajaran, bahasa, dan penilaian. Demensia disebabkan oleh berbagai penyakit dan kondisi yang menyebabkan rusaknya sel-sel otak atau hubungan antar sel-sel otak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam otak dan latihan resistensi terhadap peningkatan fungsi kognitif pada lansia dengan kondisi demensia. Metode: Studi kasus tunggal dengan desain pre dan post test pada pria berusia 65 tahun dengan kondisi gangguan kognitif sedang. Brain gym dilakukan selama 20 menit, sedangkan latihan resistensi dilakukan selama 60 menit, tiga kali seminggu selama empat minggu. Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) untuk mengevaluasi fungsi kognitif pada lansia. Hasil: Setelah diberikan intervensi selama empat minggu didapatkan hasil peningkatan fungsi kognitif. Hasil pada pengukuran awal sebelum diberikan intervensi didapatkan T0 = 23, dan pada evaluasi akhir tintervensi didapatkan T11= 25. Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa brain gym dan latihan resistensi dapat meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan kondisi demensia
Pengaruh Neuromuscular Taping Dan Contract Relax Stretching Pada Kondisi Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius Terhadap Penurunan Nyeri Leher Sari Triyulianti
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 5 No 02 (2022): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.185 KB) | DOI: 10.36341/jif.v5i02.2688

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Myofacial trigger point syndrome otot upper trapezius adalah nyeri pada suatu titik/tempat hiperiritabel pada otot atau fascia yang disebabkan oleh adanya trauma ataupun pembebanan akibat dari kerja otot yang terjadi secara terus-menerus. Otot yang bekerja secara berlebihan akan menyebabkan kontraksi terus menerus yang akan menyebabkan otot menjadi tegang sehingga timbul spasme, kekakuan, adhesi serta penurunan sirkulasi darah yang merupakan pemicu timbulnya trigger point di otot yang menegang. Kondisi ini ditemukan pada posisi beraktivitas dengan posisi yang tidak ergonomis dalam jangka waktu lama terutama pada area leher khususnya otot upper trapezius yang sering ditemukan berkontraksi berlebihan mempertahankan postur kepala yang cenderung jatuh ke depan karena kekuatan gravitasi atau berat kepala itu sendiri. Kontraksi berlebih memicu timbulnya trigger points pada taut band yang menimbulkan myofascial pain syndrome sehingga akan berdampak pada nyeri leher. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pengaruh neuromuscular taping dan contract relax stretching pada kondisi myofascial pain syndrome otot upper trapezius terhadap penurunan nyeri leher. Metode: penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan dengan desain pre dan post test pada 14 orang yang diambil secara acak sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Intervensi yang diberikan berupa neuromuscular taping dan contract relax stretching dan pengukuran nyeri diukur dengan visual analog scale (VAS). Data diolah dan dianalisa dengan aplikasi software SPSS 21. Hasil: Hasil uji hipotesis didapatkan dengan p = 0,000 berarti p<0,05 maka ada pengaruh pemberian neuromuscular taping dan contract relax stretching terhadap nyeri leher pada kondisi myofascial pain syndrome otot upper trapeziu . Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian neuromuscular taping dan contract relax stretching dapat mengurangi nyeri leher pada kondisi myofascial pain syndrome otot upper trapezius
Effects of Myofascial Release and Neuromuscular Taping (NMT) on Decreasing Pain in The Condition Myofascial Pain Syndrome Upper Trapezius Muscle Yose Rizal; Sari Triyulianti; Ruswaldi Munir
COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga Vol 16, No 1 (2024): February
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/cjpko.v16i1.59550

Abstract

Myofascial pain syndrome (MPS) refers to soft tissue pain resulting from irritation of local points within the skeletal muscle and myotendinous junctions. MTP produces pain with any activating stimulus (direct or indirect trauma), causing local and referred pain, tenderness, motor dysfunction, autonomic phenomena, and hyperexcitability of the central nervous system. This study aimed to determine the effectiveness of Neuromuscular Taping (NMT) and Myofascial Release (MR) intervention in reducing pain in patients with Myofascial Pain Syndrome of the Upper Trapezius Muscle. Methods: Case study with pre and post-test research design that compares the pain values before and after being measured with a measuring instrument Visual Analog Scale (VAS)  to determine the effect of Myofascial Release (MR) and Neuromuscular Taping (NMT) on the condition of Myofascial Pain Syndrome in the Upper Trapezius Muscle for 4 weeks Result: the results of the Wilcoxon test analysis indicated that P<0.05, with a P value of 0.000. Therefore, it was determined that in patients with Upper Trapezius Muscle Myofascial Pain Syndrome, there was a difference in pain levels before and after receiving physiotherapy techniques such as Neuromuscular Taping (NMT) and Myofascial Release (MR).
CASE STUDY: INTERVENSI FISIOTERAPI PADA KONDISI TRIGGER FINGER DENGAN INTERVENSI ULTRASOUND (US) DAN NEUROMUSCULER TAPING UNTUK MENGURANGI NYERI Permata, Ayu; Rizal, Yose; Triyulianti, Sari; Dwiningtyas, Hannisyah
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 7 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Fisioterapi
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jif.v7i2.5126

Abstract

Background: Trigger finger is a condition when the finger feels stiff when bent or stretched. This condition occurs because the protective layer surrounding the tendons becomes inflamed in the tendons or tissue connecting bones and muscles, causing a painful sensation when the sufferer bends or straightens the fingers. Trigger finger can also cause the finger to feel painful and stiff so that it cannot be moved. Objective: This research is aimed at sufferers of Trigger Finger conditions to reduce pain. Research Method: Case study with a sample size of 1 person suffering from Trigger Finger. Ultrasound intervention and application of Neuromuscular Taping 3 times a week for 2 weeks. This research was conducted at RSI Ibnu Sina Pekanbaru in January – March 2024. The pain measurement tool used the Visual Analogue Scale (VAS). The research design was pre and post test, namely comparing VAS scores before and after the intervention. Results: after 6 treatments for 2 weeks with 3 treatments a week. In the reduce pain results before = 2.5 (mild pain) and after = 1.75 (mild pain); tenderness before = 7.5 (severe pain) and after 4.5 (moderate pain); movement pain before = 6 (severe pain) and after = 3.5 (mild pain). Conclusion: Ultrasound intervention and Neuromuscular Taping are conservative interventions in Trigger Finger treatment that can reduce pain.
Pelatihan Self Exercise Untuk Mengurangi Nyeri Haid Pada Siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 06 Pekanbaru Sari Triyulianti; Siti Muawanah; Nurmaliza Nurmaliza; Olvaria Misfa; Adinda Soleha
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 4, No 6 (2024): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v4i6.949

Abstract

Menstrual pain, or dysmenorrhea, is a common complaint frequently experienced by adolescent girls, characterized by lower abdominal pain that occurs before or during menstruation. This pain is generally caused by uterine muscle contractions due to the release of prostaglandins. This condition can affect quality of life, disrupt daily activities, and reduce concentration in school. Self-exercise is a non-pharmacological method that can be performed independently, offering benefits such as improving blood circulation and relieving muscle tension. This community service activity aimed to provide self-exercise training to reduce menstrual pain at Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Pekanbaru, attended by 30 students. During the activity, questionnaires were used to collect data regarding the participants' experiences with menstrual pain and their usual pain management methods. Pretests and post-tests were conducted to measure changes in participants' understanding of menstrual pain and its management. Self-exercise guide brochures were distributed to support home practice. The results showed a significant increase in participants' understanding of menstrual pain management after the training. Before the education was provided, 6 participants (20%) had good knowledge, while 24 participants (80%) were in the moderate category. After the education, 28 participants (93.3%) demonstrated good knowledge, with only 2 participants (6.7%) remaining in the moderate category. Thus, empowering adolescent girls through self-exercise training proved effective in enhancing their understanding of menstrual pain management.ABSTRAKNyeri haid atau dismenore adalah keluhan umum yang sering dialami oleh remaja putri, yang ditandai dengan rasa sakit di perut bagian bawah yang terjadi sebelum atau selama menstruasi. Nyeri ini umumnya disebabkan oleh kontraksi otot rahim akibat pelepasan prostaglandin. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan menurunkan konsentrasi belajar di sekolah. Self exercise merupakan metode non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri, dengan manfaat meningkatkan sirkulasi darah dan meredakan ketegangan otot. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan pelatihan self exercise guna mengurangi nyeri haid di Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Pekanbaru, yang dihadiri oleh 30 siswi. Selama kegiatan, kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data mengenai pengalaman nyeri haid dan penanganan yang biasa dilakukan. Pretest dan post-test dilaksanakan untuk mengukur perubahan pemahaman peserta tentang nyeri haid dan cara penanganannya. Leaflet panduan self exercise dibagikan untuk mendukung praktik di rumah. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman peserta mengenai penanganan nyeri haid meningkat secara signifikan setelah pelatihan. Sebelum diberikan edukasi, 6 orang (20%) memiliki pengetahuan yang baik, sementara 24 orang (80%) berada pada kategori sedang. Setelah diberikan edukasi, 28 orang (93,3%) menunjukkan pengetahuan yang baik, dan hanya 2 orang (6,7%) yang masih memiliki pengetahuan di kategori sedang. Dengan demikian, pemberdayaan remaja putri melalui pelatihan self exercise terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja putri tentang penanganan nyeri haid.
Peranan Fisioterapi Dalam Mempromosikan Kesehatan Dan Memberikan Stroke Exercise Untuk Memulihkan Mobilitas Dirumah Dalam Mengoptimalkan Aktivitas Fungsional Tubuh Ismaningsih, Ismaningsih; Siti Muawanah, Siti Muawanah; Nurmaliza, Nurmaliza; Triyulianti, Sari; Saniya, Saniya
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jdt.v2i2.316

Abstract

Dimensi Pelayanan Fisioterapi meliputi upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan dan pemulihan gangguan sistem gerak dan fungsi dalam rentang kehidupan dari praseminasi sampai ajal. Pelayanan fisioterapi dapat dilakukan di pusat kesehatan kerja, pusat panti usia lanjut, pusat olahraga dan pusat pelayanan umum. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat, tentang pentingnya upaya pencegahan dan juga intervensi yang dapat dilakukan fisioterapi melalui kegiatan mempromosikan kesehatan dan memberikan stroke exercise untuk memulihkan mobilitas dirumah dalam mengoptimalkan aktivitas fungsional tubuh. Komponen utama rehabilitasi stroke adalah penerapan latihan untuk meningkatkan fungsi motoric. Stroke exercise merupakan sesuatu yang penting bagi para penyintas yang ingin meningkatkan mobilitas. Penelitian menunjukkan bahwa ada periode waktu kritis hingga 6-8 bulan setelah stroke, pemulihan paling banyak terjadi dengan rehabilitasi, namun ada juga bukti bahwa neuroplastisitas berlanjut sepanjang umur. Faktanya program latihan dirumah yang konsisten adalah salah satu cara terbaik untuk melanjutkan pemulihan setelah keluar dari rehabilitasi rawat inap. Banyak orang dengan gangguan neurologis setelah stroke lebih memilih perawatan berbasis rumah daripada jangka panjang rawat inap. Perawatan dirumah tidak hanya memenuhi standar perawatan rumah sakit, tetapi juga menawarkan pasien manfaat tambahan dari kenyamanan dirumah. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk mempromosikan kesehatan dan memberikan stroke exercise untuk memulihkan mobilitas dirumah dalam mengoptimalkan aktivitas fungsional tubuh. Tim pengabdian memberikan edukasi pencegahan dan penatalaksanaan kondisi low back pain dengan menggunakan neuromuscular taping dan terapi latihan berupa exercise. Lokasi pengadaan kegiatan ini dilakukan di "Centrum" jalan Ahmad Dahlan 137 Sukajadi Pekanbaru. Harapannya setelah dilakukan pengabdian kepada masyarakat dapat membantu pemulihan bagi orang yang terkena stroke untuk melakukan peranan fisioterapi dalam mempromosikan kesehatan dan memberikan stroke exercise untuk memulihkan mobilitas dirumah dalam mengoptimalkan aktivitas fungsional tubuh penderita stroke
EFEKTIVITAS METODE SQUARE STEPPING EXERCISE DALAM MENINGKATKAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DENGAN KONDISI DEMENSIA: CASE STUDY Sari Triyulianti; Muawanah, Siti; Relida Samosir, Nova; Haikal Akbar, Muhammad
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 5 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v5i1.11053

Abstract

Introduction: The aging process in older adults leads to various physiological changes, including a decline in nervous system function that may increase the risk of developing dementia. Dementia is a neurodegenerative syndrome characterized by decreased cognitive functions such as memory, orientation, attention, and thinking ability, which negatively affect independence and quality of life in older adults. This condition also increases the risk of mobility impairment and dependency in daily activities. Therefore, effective non-pharmacological interventions are needed to maintain and improve cognitive function. One such method is Square Stepping Exercise, a structured stepping-pattern-based physical exercise initially developed to improve balance in older adults, which has also been shown to stimulate cognitive function through enhanced concentration, memory, and motor coordination. This study aimed to determine the effectiveness of Square Stepping Exercise in improving cognitive function in older adults with dementia. Methods: This study employed a case study design involving one older adult with dementia and moderate cognitive impairment. The Square Stepping Exercise intervention was administered in 12 therapy sessions with a frequency of three times per week. Cognitive function was measured using the Mini Mental State Examination (MMSE) before and after the intervention. Results: After 12 sessions of Square Stepping Exercise intervention, an improvement in cognitive function was observed as measured by the Mini Mental State Examination (MMSE). The MMSE score increased from 13 (moderate cognitive impairment) before the intervention to 23 (mild cognitive impairment) after the intervention. Conclusion: Based on the results of this study, the implementation of Square Stepping Exercise for 12 therapy sessions demonstrated an improvement in cognitive function in older adults with dementia, as indicated by an increase in MMSE scores from the moderate cognitive impairment category to the mild cognitive impairment category. These findings suggest that Square Stepping Exercise has the potential to be used as a non-pharmacological intervention to improve cognitive function in older adults with dementia
Aerobic Exercise Improves Cognitive Function in Sedentary Young Adults Without Cognitive Impairment Sari Triyulianti; Yose Rizal; Afifah Dwi Tifani
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 5 No 1 (2024): Jurnal teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v5i1.314

Abstract

Physical exercise can improve cognitive function of older adults, but the influence of young adults is less clear. The purpose of this study was to assess the effect of aerobic exercise on cognitive function of sedentary young adults without cognitive impairment. This study used an experimental method with pre and post test designs on 20 young adults according to the inclusion and exclusion criteria. Samples were randomly divided into two groups, the control group and the aerobic exercise group. The control group did not do the exercise. The aerobic group exercised by running for 30 minutes (64-76% of maximal heart rate), three time per week for four weeks. Cognitive function was measured using stroop task test. The results showed that there was a significant increase in cognitive function in the aerobic exercise group (p<0.05). There was a significant difference in cognitive function between the aerobic exercise group and the control group (p<0.05). In conclusion, aerobic exercise over four weeks can increase cognitive function in sedentary young adults without cognitive impairment.