Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Deep Breathing Exercise Dan Slow Stroke Back Massage Efektif Dalam Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Pada Penderita Hipertensi. Nova Relida Samosir; Sari Triyulianti
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jfrwhs.v5i2.146

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri terus menerus lebih dari satu periode. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang sering diderita oleh kebanyakan orang. Hipertensi telah menjadi penyakit yang umum diderita oleh banyak masyarakat Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan Deep Breathing Exercise dan Slow Stroke Back Massage efektif dalam menurunkan tekanan darah tinggi pada penderita Hipertensi. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasie xperiment dengan desain penelitian pre and post test without control group design. Hasil: Perbedaan pre-test dan post-test terlihat dari tekanan sistolik diperoleh p-value 0,027. Pada tekanan diastolik terdapat perubahan nilai pre test dan post test p-value 0,015 yang berarti terdapat perbedaan pengaruh sebelum dan sesudah intervensi. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian Deep Breathing Exercise dan Slow Stroke Back Massage terhadap penurunan tekanan darah tinggi pada penderita Hipertensi.
The Effect of Moderate Intensity Continuous Training on V02 Max Overweight Adolescents Sari Triyulianti; Ayu Permata; Riski Dwi Utami
COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga Vol 15, No 1 (2023): February
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/cjpko.v15i1.43934

Abstract

This study aimed to determine the effect of moderate-intensity continuous training (MICT) on V02 Max in overweight adolescents. This study used an experimental method with pre and post-test designs on 20 overweight adolescents according to the inclusion and exclusion criteria. Samples were randomly divided into two groups, the control group and the MICT group. The control group did not do the exercise. The MICT group exercised by running for 30 minutes (64-76% of maximal heart rate), three times per week for four weeks. VO2 Max capacity was measured using a multi-stage fitness test by running back and forth with a 20-meter track. The results showed that there was a significant increase in VO2 max in the MICT group (p=0.00). In the control group, there was a decrease in V02 Max, but there was no significant difference (p=0.869). There was a significant difference in V02 Max between the MICT group and the control group (p=0.005). In conclusion, MICT over four weeks can increase the V02 Max in overweight adolescents.
Pelatihan Self Exercise Untuk Mengurangi Nyeri Haid Pada Siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 06 Pekanbaru Sari Triyulianti; Siti Muawanah; Nurmaliza Nurmaliza; Olvaria Misfa; Adinda Soleha
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 4, No 6 (2024): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v4i6.949

Abstract

Menstrual pain, or dysmenorrhea, is a common complaint frequently experienced by adolescent girls, characterized by lower abdominal pain that occurs before or during menstruation. This pain is generally caused by uterine muscle contractions due to the release of prostaglandins. This condition can affect quality of life, disrupt daily activities, and reduce concentration in school. Self-exercise is a non-pharmacological method that can be performed independently, offering benefits such as improving blood circulation and relieving muscle tension. This community service activity aimed to provide self-exercise training to reduce menstrual pain at Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Pekanbaru, attended by 30 students. During the activity, questionnaires were used to collect data regarding the participants' experiences with menstrual pain and their usual pain management methods. Pretests and post-tests were conducted to measure changes in participants' understanding of menstrual pain and its management. Self-exercise guide brochures were distributed to support home practice. The results showed a significant increase in participants' understanding of menstrual pain management after the training. Before the education was provided, 6 participants (20%) had good knowledge, while 24 participants (80%) were in the moderate category. After the education, 28 participants (93.3%) demonstrated good knowledge, with only 2 participants (6.7%) remaining in the moderate category. Thus, empowering adolescent girls through self-exercise training proved effective in enhancing their understanding of menstrual pain management.ABSTRAKNyeri haid atau dismenore adalah keluhan umum yang sering dialami oleh remaja putri, yang ditandai dengan rasa sakit di perut bagian bawah yang terjadi sebelum atau selama menstruasi. Nyeri ini umumnya disebabkan oleh kontraksi otot rahim akibat pelepasan prostaglandin. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan menurunkan konsentrasi belajar di sekolah. Self exercise merupakan metode non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri, dengan manfaat meningkatkan sirkulasi darah dan meredakan ketegangan otot. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan pelatihan self exercise guna mengurangi nyeri haid di Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Pekanbaru, yang dihadiri oleh 30 siswi. Selama kegiatan, kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data mengenai pengalaman nyeri haid dan penanganan yang biasa dilakukan. Pretest dan post-test dilaksanakan untuk mengukur perubahan pemahaman peserta tentang nyeri haid dan cara penanganannya. Leaflet panduan self exercise dibagikan untuk mendukung praktik di rumah. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman peserta mengenai penanganan nyeri haid meningkat secara signifikan setelah pelatihan. Sebelum diberikan edukasi, 6 orang (20%) memiliki pengetahuan yang baik, sementara 24 orang (80%) berada pada kategori sedang. Setelah diberikan edukasi, 28 orang (93,3%) menunjukkan pengetahuan yang baik, dan hanya 2 orang (6,7%) yang masih memiliki pengetahuan di kategori sedang. Dengan demikian, pemberdayaan remaja putri melalui pelatihan self exercise terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja putri tentang penanganan nyeri haid.