Rumah baca sebagai sarana non formal menjadi solusi strategi untuk mengatasi keterbatasan anak anak di desa Timbang Lawan menumbuhkan minat baca mereka. Budaya literasi yang lemah di pedesaan berkontribusi pada siklus kemiskinan. Dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara menemukan bahwa masyarakat pedesaan dengan indeks literasi rendah memiliki tingkat kemiskinan 15% lebih tinggi dibandingkan kelompok melek huruf. Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, menjadi representasi mikro dari masalah ini. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kondisi literasi rumah baca, mengidentifikasi hambatan pengelolaan rumah baca serta seberapa berdampak pembinaan rumah baca di dusun VIII desa Timbang Lawan. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini ialah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus di Dusun VIII Desa Timbang Lawan, kecamatan Bahorok. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan mendeskripsikan kondisi literasi, hambatan pengelolaan, dan dampak pembinaan yang bersifat lebih deskriptif dan kontekstual di lingkungan tersebut. Pembinaan rumah baca di Dusun VIII Desa Timbang Lawan memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pola pikir masyarakat yang lebih terbuka terhadap pengetahuan. Keberhasilan program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara tim pengabdian dan masyarakat setempat. Secara lebih luas, program pembinaan rumah baca ini memberikan kontribusi nyata tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter, peningkatan kepercayaan diri, dan perluasan pola pikir masyarakat desa terhadap pentingnya pengetahuan.