Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Diet Kalium sebagai Pencegahan Resistensi Insulin Pramastha Candra Sasmita; ade yonata; TA Larasati
Medula Vol 11 No 4 (2021): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v11i4.299

Abstract

The incidence and prevalence of type II diabetes is increasing worldwide that makes clinicians must try to identify, prevent, and treat patients appropriately. Diabetes mellitus is divided into 2 types, namely type I and type II. Type I diabetes mellitus occurs genetically because the body cannot produce insulin, while type II diabetes mellitus occurs due to acquired insulin resistance. Diabetes mellitus is a group of metabolic disorders with manifestations of hyperglycemia due to damage to pancreatic cells that causes insulin deficiency (type I diabetes) to insulin resistance (type II diabetes). High levels of potassium in the blood can help increase insulin secretion in pancreatic cells through a membrane potential that triggers depolarization, so that the sensitivity of β cells to the incidence of hyperglycemia increases. Potassium intake is very important in helping to increase insulin secretion of pancreatic cells so as to prevent hyperglycemia and reduce the risk of insulin resistance. Potassium as an electrolyte in the body, both serum levels and dietary intake are associated with the incidence of diabetes. Lower potassium levels have been found to be associated with an increased risk of diabetes in several studies.
Chronic Kidney Disease Of Unknown Etiology (CKDU) Pada Populasi Petani Di Asia: Peran Biomarker Cedera Tubulus Dalam Deteksi Dini (Narrative Review) Nashwa Amirul Haq Azzuhri; Ade Yonata; Anisa Nuraisa Jausal; Iswandi Darwis
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6121

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan tinjauan komprehensif mengenai penyakit ginjal kronik dengan etiologi tidak diketahui atau chronic kidney disease of unknown etiology (CKDu) pada populasi petani di Asia, dengan penekanan pada karakteristik epidemiologis, faktor risiko multifaktorial, serta potensi biomarker cedera tubulus sebagai alat deteksi dini. CKDu merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat dan sering terdiagnosis pada stadium lanjut akibat keterbatasan parameter ginjal konvensional dalam mendeteksi cedera ginjal subklinis. Bahan dan metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa narrative review terstruktur. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data PubMed dan Google Scholar terhadap publikasi yang diterbitkan dalam kurun waktu 2015–2025. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi diseleksi berdasarkan fokus pada CKDu di komunitas pertanian, faktor risiko lingkungan dan okupasional, serta penggunaan biomarker ginjal. Data yang relevan diekstraksi dan dianalisis menggunakan pendekatan sintesis naratif tematik. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa CKDu terutama menyerang pekerja pertanian laki-laki usia produktif dan ditandai oleh perjalanan penyakit yang sering asimtomatik, proteinuria minimal, serta gambaran histopatologi berupa nefritis tubulointerstisial kronik. Faktor risiko utama yang berperan meliputi stres panas dan dehidrasi berulang, paparan agrokimia, serta kontaminan lingkungan. Sejumlah studi melaporkan peningkatan biomarker cedera tubulus, terutama kidney injury molecule-1 (KIM-1) dan neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL), pada individu dengan rasio albumin terhadap kreatinin yang masih normal, serta asosiasinya dengan penurunan laju filtrasi glomerulus yang lebih cepat. Kesimpulan dari narrative review ini menunjukkan bahwa biomarker cedera tubulus memiliki potensi besar sebagai alat deteksi dini CKDu pada populasi berisiko tinggi. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan biaya, belum adanya standardisasi metode, dan minimnya infrastruktur laboratorium. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk validasi prognostik jangka panjang serta pengembangan metode pemeriksaan yang lebih aplikatif dan terjangkau, khususnya di wilayah dengan sumber daya terbatas.