Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

APLIKASI PENDEKATAN SITUASIONAL DALAM MENENTUKAN GAYA KEPEMIMPINAN EFEKTIF Victor Imaduddin Ahmad
Al Hikmah: Jurnal Studi Keislaman Vol. 3 No. 2 (2013): AL HIKMAH
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Al-Hikmah Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.257 KB) | DOI: 10.36835/hjsk.v3i2.370

Abstract

 Leadership is a dynamic process, which differs from one situation to another with a change in leadership, followers and situations, adult literature seems to support the situational approach to the study of leadership. Therefore, most of today's leadership is based on the approach of situational or contingency approachThe results revealed that there was no effective leadership style can be applied in all situations and conditions. He further said that the effectiveness of a leadership style is determined by the accuracy or relevance of its application to the maturity level of subordinate ability to perform the functions and duties (the circumstances), so the subordinate maturity level variables determine the effectiveness of a leadership style.The level of maturity is the ability to subordinate levels of ability and willingness of subordinates in carrying out its functions and duties levied. The ability of subordinates related to the knowledge and skills acquired subordinates from education, training and experience. While the willingness of subordinates related to motivation and morale of subordinates as well as the satisfaction of their work.
TRADISI SEDEKAH LAUT MASYARAKAT PANTURA JAWA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Nur Iftitahul Husiyah; Victor Imaduddin Ahmad
Akademika Vol 16, No 1 (2022): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/adk.v16i1.914

Abstract

Masyarakat Jawa adalah suku di Indonesia yang memiliki berbagai macam tradisi serta adat yang bertahan dan berkembang dari zaman dahulu sampai sekarang. Salah satunya adalah upacara tradisi sedekah laut. Tradisi sedekah laut merupakan tradisi zaman dahulu, sudah lama dan masih menjadi panutan masyarakat nelayan, fungsinya sebagai wujud rasa syukur atas hasil melaut yang didapatkan. Di Indonesia pada saat Islam masuk ke pulau Jawa, ajaran Hindu dan ajaran Budha tersebut sudah ada dan melekat pada masyarakat Indonesia kemudian mempunyai budaya yang kemudian memuat nilai dan berpangkal pada kepercayaan animisme dan dinamisme. Terjadinya sinkronisasi antara unsur-unsur pra Hindu, Hindu-Budha dan Islam saat itulah Islam masuk, kemudian dengan adanya sinkronisasi tersebut, maka nilai-nilai budaya dan Islam saling mempengaruhi sehingga menimbulkan terjadinya interaksi manusia yang satu dengan lainnya dan memungkinkan bertemunya unsur- unsur budaya yang ada dan saling berpengaruh, kedua secara alamiah sifat dari budaya itu pada hakekatnya terbuka untuk menerima budaya lain, dan faktor tersebut yang mendorong dengan cepat.Tradisi juga membuat norma yang terbentuk dalam struktur masyarakat. Keberadaan tradisi dalam perspektif pendidikan Islam merupakan unsur budaya lokal (local wisdom). Dalam era modernisasi, tradisi lokal harus tetap lestari sejalan dengan tuntunan Islam. sedekah laut itu sampai sekarang masih terus dilestarikan di Masyarakat Desa Kawasan Pantura Pulau Jawa. Karena sifat dari upacara tradisi sedekah laut itu sendiri yang fleksibel sehingga dapat berbaur dengan perkembangan budaya yang berkembang. Terlebih jika upacara tradisi sedekah laut itu dilihat dari pendidikan Islam. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, fokus penelitian yang penulis sajikan antara lain: 1) Bagaimana praktik tradisi sedekah laut masyarakat Pantura Pulau Jawa ? 2) Bagaimana perspektif pendidikan Islam dalam tradisi sedekah laut masyarakat Pantura Pulau Jawa ? ?Penelitian ini berhasil menemukan bahwa praktik tradisi upacara sedekah laut di Pantai Utara Laut Jawa bermakna ucapan rasa syukur manusia atau masyarakat setempat kepada Allah SWT,. Jadi upacara tradisi sedekah laut itu memang layak untuk selalu dijaga dan dilestarikan keberadaannya, karena tradisi tersebut adalah salah satu media untuk pembelajaran dan komunikasi warga desa.
Islam Nusantara: antara Ideologi dan Tradisi Sudarto Murtaufiq
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars No Series 2 (2018): AnCoMS 2018: Book Series 2
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.568 KB) | DOI: 10.36835/ancoms.v0iSeries 2.201

Abstract

Wacana Islam Nusantara[1] belakangan ini seolah menemukan momentumnya, terutama ketika istilah tersebut menjadi tema pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015. Tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” sepertinya menjadi lompatan besar NU dalam penegasan kongkretisasi nilai-nilai Islam Nusantara yang secara normatif doktrinal menganut ajaran Islam Ahlussunnah wal jamaah. [1] Islam Nusantara terdiri dari dua rangkaian kata, Islam dan Nusantara. Dua kata ini masing-masing mempunyai makna dan bisa membentuk frasa. Istilah Islam Nusantara memperlihatkan hubungan erat antara bagian yang diterangkan - menerangkan meski tanpa menimbulkan makna baru. Istilah Islam Nusantara masuk dalam kategori ‘aneksi’. Maka, ia sama sebangun dengan istilah ‘Islam di Nusantara’, atau ‘Islam dan Nusantara’. Dalam konteks ini, Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-33 di Jombang yang mengusung tema tentang Islam Nusantara cukup logis dan ilmiah karena tidak menyalahi pakem ilmu Bahasa Indonesia; dan tidak merusak arti ‘Islam’ dan ‘Nusantara’ itu sendiri. Lebih lanjut, lihat M. Ramlan, Tata Bahasa Indonesia: Penggolongan Kata (Yogyakarta: Andi Offset, 1985).
UNDERSTANDING THE QURAN HOLISTICALLY: INTERDISCIPLINARY STUDY OF THE LANGUAGE AND LINGUISTICS OF THE QURAN Muh Barid Nizarudin Wajdi; Nur Iftitahul Husniyah; Victor Imaduddin Ahmad; Miftakhul Ilmi Suwignya Putra; Ahmad Muhtar Syarofi
BASA Journal of Language & Literature Vol. 3 No. 1 (2023): Bulan 04 Tahun 2023
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/basa.v3i1.19596

Abstract

This study aims to analyze the impact of the language used in the Quran on Islamic discourse, using qualitative research methods and content analysis of Quranic verses and scholarly literature. The study finds that the Quranic language's unique literary style and linguistic features contribute to its authority and persuasiveness, shaping Islamic discourse over time. Rhetorical devices, such as repetition and parallelism, add to the text's effectiveness. The study highlights the importance of understanding the Quranic language and its impact on Islamic theology, jurisprudence, and ethics, emphasizing the need for interdisciplinary research. By analyzing the linguistic and literary features of the Quran, scholars can gain a deeper understanding of the text's meaning and message and appreciate its continued relevance in contemporary times. This study contributes to the broader understanding of the role of language in shaping religious discourse and interpretation.
Implementasi Pembelajaran Kitab Fathul Qarib Aplikatif di Pondok Pesantren Darul Fiqhi Lamongan Victor Imaduddin Ahmad; Nur Iftitahul Husniyah
AJMIE: Alhikam Journal of Multidisciplinary Islamic Education Vol. 3 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/ajmie.v3i2.1365

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi dan hasil pembelajaran kitab Fathul Qarib di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darul Fiqhi Lamongan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, yang selanjutnya dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran kitab Fathul Qarib di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darul Fiqhi Lamongan, dimulai dari kegiatan perencanaan; dilanjutkan pembelajaran inti dengan menggunakan empat metode, yakni sorogan, ceramah, bandongan dan diskusi; dan diakhiri dengan kegiatan penutup. Adapun hasil pembelajarannya dapat dilihat dari peningkatan pada empat kategori berikut: Pertama, Kemampuan santri dalam menulis makna kitab. Kedua, Kemampuan santri dalam membaca makna yang sudah ditulis dalam kitab. Ketiga, Kemampuan santri dalam memaknai kitab yang belum dimaknai oleh ustadz. Keempat, Kemampuan santri dalam memahami materi yang sudah diajarkan, terutama kemampuan mendiskusikan ilmu Fikih yang terkandung dalam kitab Fathul Qarib terkait kehidupan sehari-hari.
Implementasi Pembelajaran Kitab Fathul Qarib Aplikatif di Pondok Pesantren Darul Fiqhi Lamongan Victor Imaduddin Ahmad; Nur Iftitahul Husniyah
AJMIE: Alhikam Journal of Multidisciplinary Islamic Education Vol. 3 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/ajmie.v3i2.1365

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi dan hasil pembelajaran kitab Fathul Qarib di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darul Fiqhi Lamongan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, yang selanjutnya dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran kitab Fathul Qarib di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darul Fiqhi Lamongan, dimulai dari kegiatan perencanaan; dilanjutkan pembelajaran inti dengan menggunakan empat metode, yakni sorogan, ceramah, bandongan dan diskusi; dan diakhiri dengan kegiatan penutup. Adapun hasil pembelajarannya dapat dilihat dari peningkatan pada empat kategori berikut: Pertama, Kemampuan santri dalam menulis makna kitab. Kedua, Kemampuan santri dalam membaca makna yang sudah ditulis dalam kitab. Ketiga, Kemampuan santri dalam memaknai kitab yang belum dimaknai oleh ustadz. Keempat, Kemampuan santri dalam memahami materi yang sudah diajarkan, terutama kemampuan mendiskusikan ilmu Fikih yang terkandung dalam kitab Fathul Qarib terkait kehidupan sehari-hari.