Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA BERBASIS SELF-REGULATED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN METAKOGNITIF SISWA SEKOLAH DASAR DI NANGA PINOH Rindah Permatasari; M Akip
Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/saintek.v8i1.1107

Abstract

Kesadaran belajar siswa Sekolah Dasar di Nanga Pinoh, Kalimantan Barat masih rendah. Hasil observasi memperlihatkan rerata tingkat keterampilan metakognisi siswa SD terletak pada level 1 atau at risk, yang berarti siswa belum mengarah pada keterampilan metakognisi (perencanaan, monitoring, dan evaluasi) dalam menyelesaikan masalah pengetahuan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pembelajaran IPA berbasis self-regulated learning yang layak dan menganalisis keterampilan metakognisi siswa SD. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan mengadopsi model 4D Thiagarajan. Populasi penelitian ini adalah siswa SD di Kota Nanga Pinoh dengan teknik cluster sampling berjenjang. Teknik dan instrument penelitian adalah non-tes dan menggunakan angket keterampilan metakognitif. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan perangkat pembelajaran sangat valid dengan interval skor penilaian antara 3-4 dan reliabilitas antara 95,3%-98,4%.  Keterlaksanaan pembelajaran berkategori sangat baik dengan interval skor penilaian antara 3,7-4 dengan rerata reliabilitas 96,5%. Rerata keterampilan metakognisi  pretest siswa diperoleh skor 3,28 dengan level 1 atau at risk dan meningkat menjadi 12,79 dengan level 4 atau ok pada posttest. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran IPA berbasis Self-Regulated Learning dapat meningkatkan keterampilan metakognitif siswa Sekolah Dasar di Nanga Pinoh, Kalimantan Barat.
Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Kelas II SD Negeri 14 Kelakik Tuti Elviyanti; Mastiah; M Akip
JURNAL PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN SEKOLAH DASAR Vol. 4 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : STKIP Melawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46368/jppsd.v4i2.5108

Abstract

Abstract This study aimed to analyze the beginning reading difficulties of second-grade students at SD Negeri 14 Kelakik using the Early Grade Reading Assessment (EGRA) instrument. The study employed a descriptive qualitative method with data collection techniques consisting of observation, interviews, documentation, and reading tests. The subjects were 23 second-grade students, of whom 8 students experienced beginning reading difficulties. The findings showed that students experienced difficulties in recognizing letters, reading meaningful words, reading non-meaningful words, reading fluently and comprehending texts, as well as listening comprehension. The most dominant difficulty was reading non-meaningful words with an average score of 10%. Students also had difficulty distinguishing similar letters such as “b” and “d” or “f” and “v”, reading fluently, combining letters into words, and understanding reading content. The study concludes that beginning reading skills need continuous practice and guidance to improve students’ reading abilities optimally. Keywords: Beginning Reading Difficulties, Elementary School Students, EGRA, Reading Comprehension. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan membaca permulaan siswa kelas II SD Negeri 14 Kelakik menggunakan instrumen Early Grade Reading Assessment (EGRA). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes membaca. Subjek penelitian berjumlah 23 siswa kelas II, dengan 8 siswa mengalami kesulitan membaca permulaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan pada aspek mengenal huruf, membaca kata bermakna, membaca kata tidak bermakna, kelancaran membaca nyaring dan pemahaman bacaan, serta menyimak. Kesulitan yang paling dominan terdapat pada aspek membaca kata tidak bermakna dengan rata-rata skor 10%. Siswa juga mengalami kesulitan membedakan huruf yang bentuknya hampir sama seperti “b” dan “d” atau “f” dan “v”, membaca dengan lancar, merangkai huruf menjadi kata, serta memahami isi bacaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemampuan membaca permulaan perlu ditingkatkan melalui latihan dan pendampingan secara berkelanjutan agar kemampuan membaca siswa berkembang secara optimal. Kata kunci: Kesulitan Membaca Permulaan, Siswa Sekolah Dasar, EGRA.