Pelestarian bangunan bersejarah penting dilakukan karena warisan budaya menjadi refleksi dari sejarah, budaya, dan identitas daerah atau bangsa. Penciptaan karya dan analisis ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana karya foto seni dapat digunakan sebagai bentuk kritik sosial terhadap keberadaan bangunan bersejarah Benteng Kedungcowek. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi Derrida yang menyoroti peran bahasa dalam membangun makna dan menghilangkan hierarki dalam pemahaman tradisional. Metode yang digunakan adalah analisis seni foto dengan pendekatan dekonstruksi Derrida, yang memeriksa bagaimana seni foto dapat merepresentasikan realitas yang berbeda dan mengeksplorasi hubungan antara gambar dan teks dalam seni foto. Konsep Dekonstruksi yang digunakan untuk memecah suatu karya seni menjadi elemen yang lebih kecil dan kemudian mengambil makna baru dari setiap elemen tersebut. Puisi dalam fotografi adalah penggabungan dua media seni yang berbeda untuk menciptakan pengalaman estetika baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni foto dapat digunakan sebagai bentuk kritik sosial terhadap pemeliharaan Benteng Kedungcowek dengan merepresentasikan realitas yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa seni foto dapat menjadi alat kritik sosial yang efektif dalam mempertanyakan pemahaman tradisional tentang pemeliharaan Benteng Kedungcowek. Pendekatan dekonstruksi Derrida dapat membuka pemahaman yang lebih luas dan memperkaya diskusi tentang pemeliharaan warisan budaya.