Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

The Values of Tauhid Education in Rejang’s Culture of Serambeak Fakhruddin Fakhruddin
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 13, No 2 (2021): AL-ISHLAH: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.642 KB) | DOI: 10.35445/alishlah.v13i2.475

Abstract

This study aims to reveal and formulate the values of Tauhid education in Serambeak, the local culture of Rejang community. The culture of Serambeak has been a system for the continuation of Islamic education since Islam came and entered the life of Rejang community. The content of Tauhid educational values in Serambeak culture is the spark of the Rejang community's needs. To reveal the main points of this study, the researcher used qualitative methods with a descriptive-analytic approach to collect, analyse, and interpret to produce valid research. The findings concluded the following: First, the values of Tauhid education in Serambeak are an effort to accommodate Islamic education to local culture, demonstrating a good acculturation process of local culture. Second, by using Serambeak as a local culture with its literary beauty, the Rejang community is more likely to accept the values of Tauhid education brought by Islam as a foreign religion. Third, the Serambeak culture's values of Tauhid education state that God, Tauhid affirmation, God's power, God's perfection, the creator of the universe, and the nature of divinity as the cultivation of good and actual Tauhid teachings. Fourth, the values of Tauhid education are an attempt to erode and erase the beliefs of animism and dynamism that have been so strong and rooted in the life of the Rejang people. They are very effectively changed using the arguments of belief.
STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PAI PADA MASA NEW NORMAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI 05 BERMANI ILIR KECAMATAN BERMANI ILIR KABUPATEN KEPAHIANG Doli Mukhti Siregar; Fakhruddin Fakhruddin; Hartini Hartini
Jurnal Literasiologi Vol 8 No 3 (2022): Jurnal Literasiologi
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/literasiologi.v8i3.401

Abstract

Terbatasnya sarana dan prasarana,kondisi strata sosial peserta didik yang berbeda, tidak mempunyai paket data,tidak bisa mengakses aplikasi belajar daring, dan SDM orang tua yang bervariasi,serta adanya kesibukan orang tua. Walaupun demikian seorang guru harus mempunyai strategi, agar pembelajaran daring dapat terlaksana dengan baik,maka ada beberapa strategi yang dilakukan seperti adanya kebijakan membagikan paket data, mengunjungi peserta didik atau sebaliknya, merampingkan silabus, membuat grup pembelajaran,seperti whatsapp, Google Meet, Claasroom, Zoom dan lain-lain. Serta adanya kerja sama yang baik antara orang tua dan guru Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan pedagogis. Analisa data dalam penelitian kualitatif secara umum dimulai sejak pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang didaptkan yaitu Strategi pembelajaran yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 05 Bermani Ilir Kabupaten Kepahiang adalah Strategi pembelajaran ekspositori, strategi pembelajaran inkuiri, strategi pembelajaran kontekstual, dan strategi pembelajaran komperatif, adapun model pembelajaran adalah model Self organized learning environments (sole) dan Project Based Learning. Dalam pembelajaran daring menggunakan aplikasi zoom, google meet, claasroom, dan whatsapp dengan metode ceramah dan demonstrasi, Faktor pendukung dan penghambat melalui daring yaitu; a. Faktor pendukungnya adalah manajemen sekolah yang tergolong baik dan SDM yang ada, b. Faktor penghambat pembelajaran pendidikan Agama Islam melalui daring pada saat masa New Normal adalah sarana dan prasarana yang kurang memadai, selain itu keterlambatan distribusi paket data, dan geografis lingkugan peserta didik.
IMPLEMENTASI PENILAIAN KETERAMPILAN DALAM PEMBELAJARAN PAI ASPEK FIQH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGAMALAN IBADAH PRAKTIS SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 4 REJANG LEBONG Henri Halomoan Siregar; Fakhruddin Fakhruddin; Sutarto Sutarto
Jurnal Literasiologi Vol 9 No 2 (2023): Jurnal Literasiologi
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/literasiologi.v9i2.478

Abstract

Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah siswa masih banyak yang belum tahu bagaimana tata cara sholat, selain itu di temukan kendala-kendala dalam implementasi penilaian keterampilan yang dialami adalah penilaian keterampilan masih belum berjalan secara maksimal karena waktu sosialisasi penilaian keterampilan belum lengkap, perangkat penilaian yang begitu rumit dan guru masih belum begitu paham dengan pola penilaian autentik, khususnya penilaian keterampilan. Salah satu aspek yang dijadikan perubahan dan penataan dalam kaitannya dengan kurikulum 2013 adalah penataan standar penilaian yang disesuaikan dengan pada standar isi, standar kompetensi lulusan dan standar proses. Penilaian keterampilan dianggap penting dalam rangka meningkatkan pengamalan ibadah praktis siswa. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengetahuan yang sudah dikuasai peserta didik dapat digunakan untuk memahami, mengingat dan mempraktekkan pesan-pesan dalam materi aspek fiqh. seingga mereka dapat melaksanakan ibadah praktis Pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa pemahaman guru mengenai penilaian keterampilan dapat dikatakan baik karena sesuai dengan prosedur penilaian dalam Standar Penilaian Kurikulum 2013. Begitu juga dalam penerapannya didukung dengan instrument perencanaan dan pelaksanaan serta pelaporan. Implementasi penilaian keterampilan terutama pada materi aspek fiqh di SMP Negeri 4 Rejang Lebong, berimplikasi baik untuk meningkatkan ibadah praktis siswa menjadi lebih baik. Hal ini karena siswa dituntut mempraktekkan langsung konten ibadah yang muncul dari materi pembelajaran.
SOCIAL MORALITY EDUCATION IN THE REJANG’S CULTURE OF "SERAMBEAK" Fakhruddin Fakhruddin
Ta'dib Vol 24, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/jt.v24i1.3198

Abstract

The social morality education contained in Serambeak is a meeting of the sacred mission of Islamic education with the Rejang culture in terms maintaining the life of the Rejang community. The Rejang community lives on the basis of a rural life system that strongly adheres to a set of cultures and customs called Serambeak, which contain social morality education of the community. Thus, this qualitative research was conducted by means of the descriptive-analytic method in a way that the words, sentences, and discourses in the literary work of Serambeak were described, and were, then, analyzed by providing understanding and explanations of texts. Data interpretation was carried out resting upon the researcher’s and community’s perspectives through information shared by traditional and religious leaders. The data analysis technique was carried out by classifying the data based on tracing the sentence clusters in Serambeak through the character's speeches and their   attitudes. The results of this study revealed the following: First, the use of Serambeak as a local culture with its literary beauty makes it easier for the Rejang community to receive the social morality education brought by Islam as a foreign religion. Second, the content of social morality education in Serambeak consists of the arrangement of life for action and demands for action. Third, the social morality education contained in Serambeak is an effort to erode the old life orders, attitudes, and behaviors of Rejang people.
Peran Kepala Sekolah dalam Menanamkan Budaya Mutu Pendidikan di SMKN 3 Rejang Lebong Ade Wahyu Kurniawan; Fakhruddin Fakhruddin; Abdul Sahib
Journal Of Administration and Educational Management (ALIGNMENT) Vol. 6 No. 2 (2023): Journal Of Administration and Educational Management (ALIGNMENT)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/alignment.v6i2.6465

Abstract

This research aims to determine the role of the principal in instilling a culture of quality education in schools. This qualitative descriptive research method takes the background of the State Vocational High School 3 Rejang Lebong. Methods for collecting data were direct interviews, observation, and documentation. The subjects of this research were the Principal of SMKN 3, Rejang Lebong, and the Deputy Head of Quality Assurance. The research object was carried out at SMKN 3 Reajang Lebong. Qualitative data is analyzed by identifying, clarifying, analyzing, and concluding data. The results of the research show: the role of the principal in instilling a culture of quality school education at SMKN 3 Rejang Lebong, which in the learning curriculum is used as a guideline for implementing learning activities with the aim of achieving education where the learning process emphasizes character formation, namely Active, Creative, Enthusiastic, Clean and Religious (AKBAR), as well as learning about the environment both internally and externally which will later be formulated to solve problems that arise in the school environment in order to realize the quality of education at SMKN 3 Rejang Lebong; The school principal carries out a strategy to achieve an effective school, namely through learning carried out optimally, students' potential is empowered as best as possible by aligning the curriculum with the business world and the industrial world in accordance with each skill competency at SMKN 3 Rejang Lebong, where currently SMKN 3 Rejang Lebong has collaborated with more than 65 industrial worlds, business worlds and MSMEs, as well as other agencies such as Bataliyon 144 Jaya Yuda and Kodim 0409 RL in the Latdastar Program; Obstacles or problems for a school principal in implementing a culture of quality education at SMKN 3 Rejang Lebong include limited facilities and infrastructure that do not support this due to the little land owned by SMKN 3 Rejang Lebong, as well as the diversity of ethnic cultures of its students. In conclusion, the principal has a role in instilling a culture of quality school education, which is included in the learning curriculum and is a reference in carrying out the learning process. Keywords: Role of the Principal, Educational Quality Culture
EKSPLORASI FILSAFAT RELIGIUS RASIONAL DALAM PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER STUDI KUALITATIF TERHADAP INTEGRASI AKAL DAN WAHYU Sasi Hanila; Revan Marhamah; Amrullah Amrullah; Fakhruddin Fakhruddin
Jurnal Literasiologi Vol 15 No 1 (2026): Jurnal Literasiologi
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/literasiologi.v15i1.1131

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengembangan pemikiran filsafat religius rasional dalam pendidikan Islam kontemporer sebagai upaya mengintegrasikan akal dan wahyu dalam proses pendidikan. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada aspek spiritual semata, tetapi juga menuntut kemampuan berpikir kritis, rasional, dan reflektif dalam memahami ajaran Islam di tengah perkembangan zaman. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang mampu menghubungkan nilai-nilai wahyu dengan kemampuan rasional peserta didik secara seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi filsafat religius rasional dalam pendidikan Islam kontemporer melalui studi kualitatif terhadap integrasi akal dan wahyu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas pendidik, peserta didik, serta tokoh pendidikan Islam yang memahami konsep integrasi akal dan wahyu dalam pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat religius rasional dalam pendidikan Islam kontemporer dapat diterapkan melalui pembelajaran yang menekankan keseimbangan antara pemahaman tekstual dan kontekstual, pengembangan kemampuan berpikir kritis, reflektif, serta penguatan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Integrasi akal dan wahyu dalam proses pendidikan mampu membentuk peserta didik yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara seimbang. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti dominasi metode pembelajaran konvensional, keterbatasan pemahaman pendidik terhadap pendekatan filsafat religius rasional, serta kurangnya inovasi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi pendidik serta pengembangan model pembelajaran yang mampu mengintegrasikan akal dan wahyu secara harmonis agar pendidikan Islam kontemporer dapat berjalan lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Aliran Filsafat Pendidikan Islam Religious Pragmatis Dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Islam Modern Jerri Sundari; Feni Karya Utami; Hafidz Hidayatullah; Amrullah Amrullah; Fakhruddin Fakhruddin
Jurnal Literasiologi Vol 15 No 1 (2026): Jurnal Literasiologi
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/literasiologi.v15i1.1136

Abstract

Perkembangan pendidikan Islam di era modern menghadirkan berbagai tantangan yang menuntut adanya pembaruan paradigma pendidikan yang lebih adaptif, kontekstual, dan integratif. Salah satu pendekatan yang relevan dalam menjawab tantangan tersebut adalah aliran religious- pragmatis dalam filsafat pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep aliran religious-pragmatis serta implikasinya terhadap pengembangan pendidikan Islam modern. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui analisis berbagai sumber literatur berupa jurnal ilmiah, buku, dan artikel akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran religious-pragmatis merupakan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan orientasi pragmatis dalam kehidupan. Dalam konteks pendidikan Islam, pendekatan ini menempatkan wahyu sebagai landasan normatif sekaligus mengedepankan kemanfaatan praktis ilmu pengetahuan dalam kehidupan sosial. Implikasi pendekatan ini terlihat pada tujuan pendidikan Islam yang lebih holistik, kurikulum yang integratif, metode pembelajaran berbasis pengalaman, serta pengembangan peserta didik yang kritis, kreatif, dan berakhlak. Dengan demikian, aliran religious-pragmatis memiliki relevansi yang kuat dalam pengembangan pendidikan Islam modern yang responsif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.
Humanistic education Management: A comparative Analysis of Indonesia’s KBC and Singapore’s CCE Ade Sonnie Aglesia; Lukman Asha; Fakhruddin Fakhruddin
JIEM (Journal of Islamic Education Management) Vol 9, No 2 (2025): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jiem.v9i2.22642

Abstract

This study examines the humanistic education management models implemented through Indonesia’s Love-Based Curriculum (KBC) and Singapore’s Character and Citizenship Education (CCE). Using a comparative analysis approach, the research explores the philosophical foundations, implementation patterns, and evaluation mechanisms of both curricula. The findings reveal that KBC emphasizes spiritual–religious values and the five forms of love as its core principles, resulting in a flexible and contextual curriculum oriented toward character formation through daily experiences. However, KBC still faces limitations in evaluation due to the absence of standardized assessment instruments. In contrast, Singapore’s CCE is supported by a comprehensive national framework, clear competency indicators, and structured assessments, enabling consistent implementation across schools. Despite their differences, both models share a common goal of fostering holistic learners. The study concludes that integrating Indonesia’s value-deepening approach with Singapore’s systematic evaluation model can enrich the development of humanistic education management in the future.
Nilai-Nilai Filsafat Pendidikan Islam sebagai Landasan Pembinaan Moral Peserta Didik di Era Media Sosial Ceshelya Astra; Aniska Septi Sabena; Fakhruddin Fakhruddin; Amrullah Amrullah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v10i1.11536

Abstract

Abstract: The increasing crisis of digital ethics in the social media era prompted this study to examine the values of Islamic educational philosophy as a basis for developing students' morals. The focus of the problem lies in moral disorientation characterized by cyberbullying, weak communication ethics, and the suboptimal internalization of religious values in students' digital activities. This study used a qualitative approach with a Narrative Literature Review design. Data sources were obtained through documentation studies including national and international journal articles, academic books, and previous research from the past five years. Data analysis was conducted using the Miles & Huberman interactive model, which includes data reduction, data presentation, and narrative conclusion drawing. The results of the study reveal five main themes: moral disorientation due to social media, the value of monotheism as spiritual control, the actualization of morals and etiquette in digital communication, the role model of educators as moral models, and the integration of Islamic digital literacy in education. These findings confirm that the values of Islamic educational philosophy, particularly the thoughts of Al-Ghazali, have strong relevance in shaping students' character in the digital space. The values of monotheism, morality, and etiquette serve as effective moral control mechanisms in suppressing negative behavior on social media. In conclusion, Islamic educational philosophy is not only normative but also applicable in addressing moral challenges in the digital era. This research contributes theoretically to the development of contemporary Islamic educational studies and provides practical implications for educators, parents, and policymakers in integrating Islamic values-based digital literacy. Further research is needed to explore students' empirical experiences in internalizing these values.Keywords: Islamic educational philosophy, student morality, social media, Al-Ghazali, Islamic digital literacy. Abstrak: Fenomena meningkatnya krisis etika digital di era media sosial mendorong kajian ini untuk menelaah nilai-nilai filsafat pendidikan Islam sebagai dasar pembinaan moral peserta didik. Fokus permasalahan terletak pada disorientasi moral yang ditandai dengan cyberbullying, lemahnya etika komunikasi, serta belum optimalnya internalisasi nilai religius dalam aktivitas digital peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Narrative Literature Review. Sumber data diperoleh melalui studi dokumentasi yang meliputi artikel jurnal nasional dan internasional, buku akademik, serta penelitian terdahulu dalam lima tahun terakhir. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles & Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara naratif. Hasil kajian menunjukkan lima tema utama, yaitu disorientasi moral akibat media sosial, nilai tauhid sebagai kontrol spiritual, aktualisasi akhlak dan adab dalam komunikasi digital, keteladanan pendidik sebagai model moral, serta integrasi literasi digital Islami dalam pendidikan. Temuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai filsafat pendidikan Islam, khususnya pemikiran Al-Ghazali, memiliki relevansi kuat dalam pembentukan karakter peserta didik di ruang digital. Nilai tauhid, akhlak, dan adab berfungsi sebagai mekanisme kontrol moral yang efektif dalam menekan perilaku negatif di media sosial. Kesimpulannya, filsafat pendidikan Islam tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif dalam menjawab tantangan moral di era digital. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis dalam pengembangan kajian pendidikan Islam kontemporer, serta secara praktis memberikan implikasi bagi pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan dalam integrasi literasi digital berbasis nilai Islam. Kajian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi pengalaman empiris peserta didik dalam internalisasi nilai tersebut.Kata kunci: filsafat pendidikan Islam, moral peserta didik, media sosial, Al-Ghazali, literasi digital Islami.