Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : SOCIETAL

UPAYA MENINGKATKAN KEHARMONISAN KELUARGA PADA PASANGAN SUAMI ISTRI YANG BELUM MEMILIKI ANAK (Studi Di Desa Gerak Makmur Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan) Rista Rista; Jamaluddin Hos; Sarpin Sarpin
SOCIETAL Vol 9, No 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi pasangan suami istri yang belum memiliki anak Di Desa Gerak Makmur Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. (2) Untuk mengetahui Upaya pasangan suami istri yang belum memiliki anak dalam meningkatkan keharmonisan keluarga Di Desa Gerak Makmur Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Penelitian ini dilakukan Di Desa Gerak Makmur Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Penelitian ini merupakan penelitian  deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive Sampling. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis model interaktif menggunakan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian dilapangan menunjukkan bahwa masalah-masalah yang dihadapi pasangan suami istri yang belum memiliki anak dalam meningkatkan keharmonisan keluarga terdiri dari beberapa masalah yang hadapi yaitu adanya rasa tidak percaya diri, yang dialami oleh pasangan suami istri yang belum memiliki anak membuat pasangan suami istri merasa dirinya tidak sempurna untuk pasangan dan keluarganya serta rasa malu yang dialami pasangan suami istri yang belum memiliki anak membuat pasangan suami istri merasa dirinya malu untuk bertemu keluarga atau kerabat-kerabat dekat, mendapatkan cemohan dari keluarga dan lingkungan masyarakat, sedih, dan cemburu/iri. Adapun upaya pasangan suami istri yang belum memiliki anak dalam meningkatkan keharmonisan keluarga terdiri dari beberapa upaya yaitu adanya saling pengertiaan, saling menerima kenyataan, memupuk rasa cinta dan kebahagiaan saling melakukan penyesuaian diri dan suka memaafkan.
Potret Anak Usia Sekolah Yang Bekerja Pada Sektor Informal (Studi Pada Anak Penjual Gorengan di Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari ) Zumria Erlina; Syaifudin Suhri Kasim; Sarpin Sarpin
SOCIETAL Vol 10, No 1 (2023): Edisi April
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potret kehidupan sosial ekonomi anak usia sekolah yang bekerja pada sektor informal sebagai penjual gorengan dan faktor pendorong anak usia sekolah bekerja pada sektor informal di Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu kota Kendari. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang menghasilakn data deskriptif dan menjabarkan secara naratif. Informan peneliti yang terdapat pada penelitian ini adalah para pekerja anak serta orang tua dari pekerja anak tersebut. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder melalui kegiatan observasi serta wawancara. Guna menjawab permasalahan penelitian dan data sekunder yaitu berupa catatan  dan keadaan demografis. Menggunakan teknik analisis data  deskriptif kualitatif  yaitu data disajikan dengan menjelaskan dan menggambarkan kondisi yang terjadi di lokasi penelitian dengan menggunakan tiga tahapan yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa potret kehidupan sosial ekonomi anak usia sekolah yang bekerja pada sektor informal terdiri atas beberapa indikator penting yang meliputi status pendidikan pekerja anak,aktifitas pekerja anak serta pendapatan pekerja anak. Ada beberapa faktor pendorong anak usia sekolah bekerja pada sektor informal meliputi faktor ekonomi, faktor orang tua,kemauan ank untuk berjualan serta faktor lingkungan anak.
Konflik Sumber Daya Ekonomi Antara Masyarakat Kelurahan Boneoge Dan Masyarakat Desa Madongka Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah Muhamad Nasir; Bahtiar Bahtiar; Sarpin Sarpin
SOCIETAL Vol 10, No 1 (2023): Edisi April
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui konflik sumber daya ekonomi antara masyarakat Kelurahan Boneoge dan masyarakat Desa Madongka Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah (2) Untuk mengetahui upaya penyelesaian konflik sumber daya ekonomi antara masyarakat Kelurahan Bonepge dan masyarakat Desa Madongka Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah.Penelitian dilaksanakan di Keluahan Boneoge dan di Desa Madongka Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu melakukan penelitian melalui wawancara mendalam pada intansi terkait dan tokoh masyarakat kedua daerah. Hasil penelitian ini menemukan bahwa (1) Faktor penyebab konflik sumber daya ekonomi antara masyarakat Kelurahan Boneoge dan masyarakat Desa Madongka Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah diantaranya adalah (a) Faktor tapal batas, terjadi perbedaan pandangan tentang tapal batas  wilayah atas dasar klaim-mengklaim wilayah sumber daya ekonomi yang menurut masyarakat Boneoge masih wilayah dari Kelurahan Boneoge sehingga mengakibatkan wilayah Kelurahan Boneoge semakin sempit dan kehilngan dua sumber daya ekonomi, tambang pasir dan wisata pantai katembe. (b) Faktor sejarah, masyarakat Boneoge menganggap masyarakat Madongka telah menggelapkan sejarah, sehingga menyebabkan perbedaan pendapat tentang sejarah tanah pantai katembe. (c) Faktor sumber daya ekonomi, telah terjadi klaim-mengklaim atas wilayah sumber daya ekonomi antara masyarakat Boneoge dan Madongka atas status kepemilikan sumber daya ekonomi. (2) Upaya penyelesain konflik simber daya ekonomi antara masyarakat Kelurahan Boneoge dan masyaraat Desa Madongka yaitu dengan cara , (a) Negosiasi/kompromi, dengan inisiatif pihak yang berkonflik untuk menghentikan konflik. (b) Arbitrasi, pihak ketiga membuka ruang kepada kedua daerah untuk menyelesaikan konflik. (c) Mediasi, csrs penyelesaian konflik dengan menggunakan pihak ketiga. (d) Ajudikasi cara penyelesaian konflik di pengadilan Negeri Pasarwajo. (e) Koersi/paksaan bentuk penyelesaian konflik dengan paksaan, masyarakat Kelurahan Boneoge akan meratakan bangunan di sekitaran pantai katembe, kecuali masjid.
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PERNIKAHAN USIA DINI (Studi Di Desa kangkunawe Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat) Hasrida Hasrida; La ode Monto Bauto; Sarpin Sarpin
SOCIETAL Vol 10, No 2 (2023): Edisi Oktober
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini dan dampak yang di timbulkan dalam pernikahan usia dini di Desa Kangkunawe Kecamatan Maginti Kabupaten Muna Barat. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara serta dokumentasi. Informan penelitian ini adalah berjumlah 12 orang yang terdiri dari anak yang menikah usia dini dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya pernikahan usia dini disebabkan beberapa faktor yaitu terjadinya pernikahan usia dini disebabkan karena pergaulan bebas, gaya pacaran yang berlebihan dan berpacaran di tempat gelap-gelapan sehingga mengakibatkan hamil di luar nikah. Tidak melanjutkan pendidikan mengakibatkan cepatnya menikah karena ekonomi orang tua yang kurang, pendapatan orang tua yang tidak mencukupi kebutuhan anaknya untuk sekolah, kurang motivasi dari orang-orang disekitarnya dan kurangknya pengetahuan orang tua terhadap pendidikan. Sedangkan ekonomi keluarga rendah, orang tua yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan dan pendapatan orang tua perbulan < 500.000 sehingga orang tua kebanyakan menikahkan anaknya di usia yang masih sangat muda. Dan terjadinya pernikahan usia dini disebabkan perjodohan dari orang tua perempuan dan yakin bahwa kebutuhan anaknya bisa dipenuhi. Adapun dampak yang ditimbulkan pernikahan usia dini yaitu dampak negatif dan dampak postif. Dampak negatif meliputi tidak melanjutkan pendidikan, disebabkan karena adanya pergaulan bebas sehingga ia tidak bisa melanjutkan sekolah, kurangnya pengawasan terhadap anak-anaknya sehingga berpengaruh pada mental anak, dan bagi anak yang menikah pada usia dini akan berpengaruh pada kesehatan ibu dan bayi saat melahirkan. Sedangkan dampak positifnya mengurangi beban orang tua dan mencegah terjadinya perzinahan.