Lucas Partanda Koestoro
Unknown Affiliation

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Masyarakat Pulau Di Utara Jawa Dan Pasang Surut Budayanya Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.865 KB) | DOI: 10.30883/jba.v15i3.681

Abstract

Entering the twentieth century, there was a discussion on the nautical aspects of Indonesian culture. JC van Leur started to discuss the maritime nations in the "Mediterranean" region of Southeast Asia. Their lives are influenced by the sea, traders, and forging world trade networks. They are known as a nation of entrepreneurs who used to migrate, trade, and sail to various directions. Most of these communities were institutions of the Sriwijaya or Majapahit Kingdom.
Karimunjawa Dan Sisa Benda Budaya Masyarakat Pulau-Pulau Di Perairan Utara Jawa Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol 17 No 2 (1997)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1350.433 KB) | DOI: 10.30883/jba.v17i1.760

Abstract

Sisa benda budaya di Kepulauan Karimunjawa umumnya berada di sekitar pemukiman, dan sebagian besar daripadanya berupa kuburan yang kebanyakan dianggap sebagai tempat yang dikeramatkan sehingga sering diziarahi. Sejak dahulu di wilayah ini telah terjalin kontak antara penduduk setempat dengan masyarakat lain. Interaksi yang berlangsung tidak sebatas dalam kaitannya dengan pelayaran dan perdagangan saja, melainkan ada pula yang ditimbulkan oleh terjadinya perbenturan politik dan kekuasaan. sebagaimana diutarakan dalam beberapa sumber. Sumber Cina misalnya, menyebutkan bahwa pada tahun 1293 utusan Khubilai Khan, yakni Shihpi dan Kan Shing, selepasnya dari Pulau Belitung bertolak ke Jawa. Di Karimunjawa mereka sandar menunggu kesempatan untuk memasuki Tuban sebelwn memudiki Sungai Kali Mas lewat Sedayu.
KARIMUNJAWA DAN SISA BENDA BUDAYA MASYARAKAT PULAU-PULAU DI PERAIRAN UTARA JAWA Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 17 No. 2 (1997)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v17i1.760

Abstract

The remaining cultural objects in the Karimunjawa Islands are generally located in the vicinity of settlements, and most of them are in the form of graves which are mostly considered as sacred places so they are often visited on pilgrimages. For a long time in this area there have been contacts between local residents and other communities. The interactions that took place were not limited to shipping and trade, but some were caused by clashes between politics and power. as stated in several sources. Chinese sources, for example, mentioned that in 1293 Khubilai Khan's envoys, namely Shihpi and Kan Shing, afterwards from Belitung Island left for Java. In Karimunjawa they docked waiting for the opportunity to enter Tuban before traveling on the Kali Mas River via Sedayu.
MASYARAKAT PULAU DI UTARA JAWA DAN PASANG SURUT BUDAYANYA Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 15 No. 3 (1995)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v15i3.681

Abstract

Entering the twentieth century, there was a discussion on the nautical aspects of Indonesian culture. JC van Leur started to discuss the maritime nations in the "Mediterranean" region of Southeast Asia. Their lives are influenced by the sea, traders, and forging world trade networks. They are known as a nation of entrepreneurs who used to migrate, trade, and sail to various directions. Most of these communities were institutions of the Sriwijaya or Majapahit Kingdom.
SEJARAH DAN ARKEOLOGI MADURA·BARAT ABAD XIV-XVIII: SEBUAH PENGENALAN TENTANG PENGUASANYA Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 15 No. 2 (1995)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v15i2.660

Abstract

One interesting aspect related to the archaeological remains on the island of Madura is the relationship of the characters behind them with the historical journey that colored them. By regulating the views on the existence of various "legacies" of the past in West Madura, it is hoped that incentives will emerge to better recognize the various things they contain, namely the relationship between Madura and Java.
BANGKAI PERAHU SITUS UJUNG PLANCU, JAMBI Lucas Partanda Koestoro; Rusmeijani Setyorini; Charunia Arni LD
Berkala Arkeologi Vol. 15 No. 1 (1995)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v15i1.652

Abstract

During the rescue excavation at the Ujung Plancu site in August 1994, the remains of an old boat were successfully recovered. Only two of the six planks were still visible in 1984. In accordance with the objectives of the activity, these remains are now in the conservation basin of the Jambi SPSP office in Jambi. This will be conveyed in this paper regarding the placement of these remains in the history of Indonesian boat building techniques. The following artilce is describing about this.
UNSUR LOGAM PEMBENTUK MATA UANG KEPENG DINASTI SONG DARI BALI DAN TROWULAN Sudarti Prijono; Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 10 No. 1 (1989)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v10i1.535

Abstract

Salah satu jenis temuan yang cukup penting karena memiliki kandungan bermacam informasi yang sering dijumpai dalam berbagai peneilitian di situs-situs arkeologi adalah mata uang logam. Selain informasi seperti nilai nominal, tahun penerbitan, atau liputan peredarannya, dari jenis temuan ini dapat pula diketahui material yang digunakan untuk membentuknya. Dari hal yantJ terakhir ini diperoleh pula keterangan akan nilai intrinsiknya (Prio Widiyono, 1986: 330-332).
SANGHIANG TARAJE, TINGGALAN TRADISI MEGALITIK DI GUNUNG TAMPOMAS Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 8 No. 2 (1987)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v8i2.491

Abstract

Ketika kekacauan melanda Pakwan Pajajaran akibat adanya gempuran pasukan Banten yang sedang mengibarkan panji-panji Islam, Prabu Siliwangi sebagai penguasa Sunda kala itu segera mendatangi salah satu vasalnya yakni Sumedang Larang. Empat orang patihnya, di antaranya Sayang Hawu atau lebih dikenal dengan sebutan Embah Jayaperkosa, diperintahkan untuk menyerahkan sebuah pusaka kraton berupa mahkota emas kepada Prabu Geusan Ulun, penguasa Sumedang Larang. Kejadian yang dapat diartikan sebagai penyerahan tahta kerajaan Sunda itu diikuti dengan keberangkatan Prabu Siliwangi menuju puncak gunung Tampomas .
CATATAN SINGKAT MENGENAI UNSUR PERKOTAAN DI BLEGA Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 6 No. 1 (1985)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v6i1.437

Abstract

Suatu obyek menarik dalam penulisan sejarah Indonesia kuna berkaitan dengan masalah pemukiman. Pemukiman merupakan lingkungan tempat manusia hidup serta melakukan berbagai macam aktifitas. Atau lebih lengkap lagi, pemukiman dapat berarti sebagai tempat, ruang atau daerah tempat manusia berkumpul dan hidup bersama dengan memanfaatkan lingkungannya dalam mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya (Geertz, 1981: 53). Peninjauan arkeologi di Blega, Madura telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1982 berdasarkan informasi yang diberikan oleh Naroedji Achmad dan Basori, Staf Unit Pemugaran Makam Aermata.
MASA DEPAN ARKEOLOGI BAWAH AIR DI INDONESIA Harry Widianto; Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol. 5 No. 1 (1984)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v5i1.264

Abstract

Perkembangan arkeologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari kehidupan masa silam berdasarkan benda-benda yang ditinggalkan, telah mengalami kemajuan pesat sejak abad 19. Bermula dari minat yang menimbulkan pengkoleksian benda-benda arkeologis, yang berakhir dengan usaha untuk mengungkap beberapa aspek yang mellputi benda tadi, antara lain jenis, fungsi, periode dan sebagainya. Langkah seperti ini mulai terlihat jelas pacrd tahun 1836, ketika J .C Thomsen~ kurator dari Museum Nasional Copenhagen, memperkenalkan Sistem Tiga. iaman (Three Ages ·system) bagi benda-benda hasil koleksinya. Klasifikasi tersebut didasarkan pada bahan dasar, yaitu batu, perunggu dan. besi (Soejono, 1976: 4). Kemudian disusul dengan langkah berikutnya yang lebih terarah, sehingga dalam waktu singkat, Ilmu Arkeologi telah mengalami proses pematangan. Konsekwensi logis dari proses tadi adalah tuntutan metode kerja yang sistematis bagi ilmu ini, seperti yang dinyatakan oleh Fagan sebagai berikut: ''We have talked of Archaeology as a discipline,_a label diliberately chosen because it fits well. The methods of archaeological research imply disicipline--accurate recording. precise excavation, using scientific methode, and detail analysis in the laboratory (Fagan, 1975:7)