Nenggih Susilowati
Balai Arkeologi Sumatera Utara

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Dampak Perkembangan Jalur Transportasi Terhadap Kehidupan Masyarakat Akit di Desa Hutan Panjang, Pulau Rupat Nenggih Susilowati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 20 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2611.632 KB) | DOI: 10.24832/bas.v10i20.258

Abstract

AbstractThe results of interaction with other community made cultural changes and developments. As the results of the development in the transportation lane influenced the Akit community. Changes not only for the cultural social but also for the nature sphere.
Kerbau dalam Tradisi Megalitik Etnis Batak di Sumatera Utara Nenggih Susilowati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 19 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v10i19.270

Abstract

AbstractBuffalo was an important animal for people with their megalithic tradition living until now. They have been used it, showed by discovering buffalo ornament in megalithic sites. How useful this animal have been made it as an sacred ornament or profane in some traditional houses.
TRADISI MENGUNYAH SIRIH DAN MEMOTONG KERBAU PADA UPACARA ADAT / HORJA DI ANGKOLA – MANDAILING Nenggih Susilowati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 20 No 2 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.56 KB) | DOI: 10.24832/bas.v20i2.283

Abstract

The betel-chewing tradition is often being related to the migration of Austronesian-speaking people from Taiwan to the Indonesian Archipelago during the prehistoric period. The culture, which continues up to later periods, becomes the tradition of almost all the tribes in the Archipelago, including the Angkola-Mandailing in North Sumatera. The goal to be achieved in this article is to learn about the function or importance of betel and buffaloes in the traditional ceremonies in Angkola-Mandailing, as well as to understand the meaning behind it. The method used here is quantitative, along with ethnographic study and Symbolic-InteractionTheory. Betel is also used in daily activities (betel-chewing or as traditional medicine) besides being part of traditional ceremonies (horja) like horja siriaon (joyful ceremonies of the birth of children, house-warming, wedding, etc.) as well as horja siluluton (ceremonies during sad times like death). During big ceremonies (horja godang), the animals being slaughtered have to be buffaloes. Horja godang is a tradition characterized by makkobar, margondang, manortor, and buffalo slaughtering activities. In relation to the Symbolic-Interaction Theory, betel and buffalo are symbols of non-verbal communications of inviting and conducting traditional ceremonies. On the other hand, they are also symbols of verbal communication in forms of words in traditional hata, which were spoken during makkobar in a horja godang.Budaya mengunyah sirih sering dikaitkan dengan migrasi penutur bahasa Austronesia dari Taiwan ke Nusantara pada masa prasejarah. Budaya ini yang berlanjut hingga masa-masa kemudian menjadi tradisi hampir semua suku-suku di Nusantara, termasuk Mandailing-Angkola di Sumatera Utara. Tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah untuk mengetahui fungsi atau arti penting sirih dan kerbau pada upacara adat di Angkola-Mandailing, serta mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan kajian etnografi serta diterapkan Teori Interaksi Simbolik. Sirih juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari (tradisi makan sirih atau sebagai obat), dan juga penting dalam kegiatan adat (horja) seperti horja siriaon (upacara adat suka cita-kelahiran anak, memasuki rumah baru, perkawinan) maupun horja siluluton (upcara adat duka cita-kematian). Apabila yang dilaksanakan adalah upacara adat besar (horja godang) maka hewan yang disembelih wajib kerbau. Horja godang merupakan kegiatan adat yang ditandai dengan kegiatan makkobar, margondang, manortor, dan menyembelih kerbau. Di dalam kaitannya dengan Teori Interaksi Simbolik, sirih dan kerbau merupakan bentuk komunikasi non verbal sebagai simbol undangan dan penyelenggaraan kegiatan adat. Di sisi lain sebagai bentuk komunikasi verbal melalui perkataan dalam hata adat yang terucap dalam makkobar pada suatu horja godang.
IDENTIFIKASI DAN PEMAKNAAN SIMBOL-SIMBOL PADA GAMBAR CADAS DI NGALAU TOMPOK SYOHIAH I, NAGARI SITUMBUK, SUMATERA BARAT Nenggih Susilowati; Churmatin Nasoichah
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 21 No 1 (2018)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.823 KB) | DOI: 10.24832/bas.v21i1.324

Abstract

Ngalau Tompok Syohiah I memiliki indikasi sebagai hunian sementara berkaitan dengan kegiatan ziarah khusus seperti meditasi berkaitan dengan kepercayaan lama (Pra Islam), mencari ilmu kebatinan, serta menyepi guna memperdalam ajaran Islam di masa lalu, dan membayar kaul. Hingga kini gua ini dikeramatkan dan masih menjadi tempat ziarah khusus. Budaya materi yang menjadi kekhasan Ngalau Tompok Syohiah I adalah gambar-gambar maupun pertulisan yang dituangkan dengan media berwarna putih (jenis kapur). Metode penelitian kualitatif menggunakan penalaran induktif dengan melakukan pengamatan terhadap satuan maupun konteksnya. Salah satu teknik yang digunakan untuk menyalin bentuk gambar atau membaca aksara yang terdapat pada dinding Ngalau Tompok Syohiah I menggunakan program Inkscape, kemudian mendeskripsikan dan menganalisa bentuk tersebut. Artikel ini dimaksudkan untuk mengetahui makna simbol-simbol pada gambar cadas di dinding Ngalau Tompok Syohiah I. Kemudian mengetahui latar belakang budaya manusia yang memanfaatkan gua tersebut di masa lalu. Sebagian simbol diidentifikasi sebagai gambar-gambar yang mirip dengan gambar cadas pada situs Prasejarah di Nusantara, indikasi aksara Pasca Palawa, dan aksara Arab dan Arab-Melayu. Gambar-gambar dan pertulisan tersebut bertumpang tindih dan banyak yang aus sehingga sebagian belum dikenali lebih lanjut. Simbol-simbol gambar cadas dikaitkan dengan konteks keruangan gua, serta tinggalan arkeologis lain seperti menhir dan kubur semunya, menggambarkan religi yang dianut oleh orang-orang yang pernah datang ke gua tersebut, dan berkaitan dengan matapencaharian pertanian.
AKTIVITAS PEMANFAATAN GUA DAN CERUK DI NAGARI SITUMBUK, TANAH DATAR - SUMATERA BARAT Nenggih Susilowati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 22 No 2 (2019)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4145.301 KB) | DOI: 10.24832/bas.v22i2.409

Abstract

Nagari Situmbuk, Salimpaung Subdistrict, Tanah Datar District, West Sumatra Province has naturally interesting caves and rock shelters, and their existence is also related to past and present human activities. The caves and rock shelters in the Situmbuk area are partly related to human activities that use them as temporary dwellings.Its existence is also related to human activities that utilize the surrounding environment as rice fields, plantations and tropical forests. The problem raised is how is the form of human activity related to the use of caves and rock shelters in Nagari Situmbuk in the past? Why is there a difference in the use of caves and rock shelters there? The method used in this research is qualitative using inductive reasoning flow by observing the unit and its context. The caves and rock shelters which have indications of being used by people with different cultures are Ngalau Guong, Ngalau Tompok Syohiah I, and Ngalau Muaro. The use of Ngalau Guong is related to hunting life and simple farming so that it still utilizes caves / rock shelters there as temporary dwellings. Ngalau Tompok Syohiah I is related to the development of Pre-Islamic culture (megalithic tradition which is marked by the presence of menhirs and pseudo graves), Islam, until now which is implied through symbols on the walls of the cave. The tradition that takes place in the cave is also related to agricultural activities that have been carried out intensely. Then Ngalau Muaro, this relates to plantation activities that took place around the 18th century to the 19th.
KONTEKS PENGUBURAN KOMPLEKS MAKAM KUNO SUTAN NASINOK HARAHAP Churmatin Nasoichah; Andri Restiyadi; Repelita Wahyu Oetomo; Nenggih Susilowati; Ery Soedewo; nfn Khairunnisa; Ivonne Visse Karina Purba
Forum Arkeologi VOLUME 33, NOMOR 2, OKTOBER 2020
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/fa.v33i2.678

Abstract

The form of burial in the ancient tomb complex of Sutan Nasinok Harahap is in the form of a mound of land bordered by flat stones. The problem is what the burial context and the characteristics of the tomb in the Sutan Nasinok Harahap Ancient Tomb Complex?. The purpose of this study is to determine the context of burial and recognize the complex characteristics of the tomb. This study uses an inductive reasoning model. Judging from the characteristics, the characteristics of the tomb have not yet been seen, only the orientation of the tomb indicates the absence of Islamic influence. Related to the burial context, the tomb is located far from the river, on a high place (dolok) and is in the banua partoru zone while Lobu Gunung Tua Batang Onang is in banua tonga which is adjacent to the banua parginjang zone (close to the river). Bentuk penguburan di Kompleks Makam Kuno Sutan Nasinok Harahap berupa gundukan tanah yang pada bagian tepiannya dibatasi oleh batu-batu pipih. Permasalahannya adalah bagaimanakah konteks penguburan serta karakteristik makam di Kompleks Makam Kuno Sutan Nasinok Harahap?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konteks penguburan dan mengenali karakteristik kompleks makam tersebut. Penelitian ini menggunakan model penalaran induktif. Dilihat dari karakteristiknya, belum terlihat karakteristik makamnya, hanya orientasi makam yang menunjukkan belum adanya pengaruh Islam. Terkait konteks penguburannya, makam berada di lokasi yang jauh dari sungai, tinggi (dolok) dan berada dalam zona banua partoru sedangkan Lobu Gunung Tua Batang Onang berada di banua tonga yang berdekatan dengan zona banua parginjang (dekat dengan sungai).
GUA MABITCE: DATA BARU SITUS HOABINH DI SUMATRA BAGIAN UTARA Taufiqurrahman Setiawan; Anton Ferdianto; Nenggih Susilowati; Aswan Aswan; Andi Irfan; Anggun Ibowo Saputra; Dwi Wahyudi; Deni Andreian; Muhammad Bahrum; Primawan Primawan
AMERTA Vol. 38 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Gua Mabitce: New Evidence of Hoabinh Site in Northern Sumatra. Gua Mabitce Cave is one of the caves that have the potential for archaeological research on the western coast of Aceh. The surface archaeological data of Sumatralith and the shell layers indicated this location possibly occupied in the past. How occupation and cultural characteristics are found at this site? What questions can be answered by conducting excavations to collect the underground archaeological data? The excavation data are analyzed and interpreted to describe the occupation in Gua Mabitce Cave. Although the dating of this site chronology cannot be obtained because the samples have not been analyzed, the results of the analysis of stone artifacts showed the cultural character of Hoabinh with stone tools artifacts, Sumatralith and flakes as its main equipment. The use of direct percussion is a very dominant technique for making stone tools. The cultural and residential characteristics of the Mabitce Cave are similar to other pre-neolithic sites in northern Sumatra, such as open sites on the east coast of northern Sumatra and cave/rock-shelter sites in the Bukit Barisan Mountains in the Aceh and North Sumatra regions. Abstrak. Gua Mabitce merupakan salah satu gua di Pesisir Barat Aceh yang memiliki potensi untuk diteliti secara arkeologis. Temuan kapak batu sumatralit dan fitur lapisan cangkang kerang di permukaan lantainya memberikan gambaran awal kemungkinan adanya hunian pada masa lalu. Bagaimana hunian dan karakter budaya yang ditemukan di lokasi ini? Jawaban pertanyaan itu perlu dilakukan ekskavasi di Gua Mabitce untuk memperoleh data arkeologi di bawah permukaan. Data artefak, ekofak, fitur, dan sebarannya dianalisis dan diinterpretasikan untuk menemukan gambaran kronologi dan penghunian di Gua Mabitce. Walaupun kronologi waktu situs belum dapat diperoleh karena sampel pertanggalan belum dapat dianalisis, hasil analisis artefak batu menunjukkan karakter budaya Hoabinh dengan artefak batu, sumatralith, dan serpih batu sebagai peralatan utamanya. Penggunaan kerakal yang dipangkas pada satu sisi sangat dominan ditemukan. Karakter budaya dan hunian di Gua Mabitce memiliki kesamaan dengan situs-situs pre-Neolitik lainnya di Sumatra bagian utara, seperti situs terbuka di pesisir timur Sumatra bagian utara dan situs gua/ceruk di Pegunungan Bukit Barisan di wilayah Aceh dan Sumatra Utara.