Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Amerta

REINTERPRETASI PERTANGGALAN RELATIF EMPAT ARCA BATU KOLEKSI MUSEUM NASIONAL INDONESIA Ashar Murdihastomo; Sukawati Susetyo
AMERTA Vol. 39 No. 2 (2021)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Reinterpretation of The Relative Date of The Four Stone Sculptures Collection of The National Museum of Indonesia. The results of research on the art style of the Kāḍiri period statues in 2020 show that four statues have been identified as requiring renewal. The information in question is related to the relative dating of the statue. The information written on the museum's information label for the four statues comes from the XI-XII centuries AD. However, when examined based on the art style of the statues, the four have younger characteristics. Therefore, the question arises, what are the characteristics of the sculptures from the four statues in the collection of the National Museum of Indonesia, and when is the relative date indicated by the art style of the statues? This study aimed to determine the art style of the four statues from the collection of the Indonesian National Museum and provide new information on the chronology of the time of the statues. This study uses a qualitative approach based on the descriptive-explanative principle in conducting the analysis using the principles of iconography and ancient sculpture art styles. The results obtained indicate that the four statues have two sculpture characters, namely the Majapahit era and the late Majapahit period, with a relative date range of the XIV-XV centuries AD. Abstrak. Hasil penelitian tentang gaya seni arca masa Kāḍiri tahun 2020 memperlihatkan ada empat arca yang teridentifikasi memerlukan pembaruan. Informasi yang dimaksud terkait dengan pertanggalan relatif arca. Keterangan yang tertulis pada label informasi museum keempat arca tersebut berasal dari abad XI--XII Masehi. Namun, apabila dikaji berdasarkan gaya seni arcanya, keempatnya memiliki ciri yang lebih muda. Oleh karena itu, muncul pertanyaan apakah ciri seni arca dari empat arca koleksi Museum Nasional Indonesia tersebut dan kapan pertanggalan relatif yang ditunjukkan oleh gaya seni arca itu? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya seni arca keempat arca koleksi Museum Nasional Indonesia dan memberikan informasi baru terhadap kronologi waktu arca tersebut. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang didasarkan pada prinsip deksriptif-eksplanatif. Dalam melakukan analisis menggunakan prinsip ikonografi dan gaya seni arca kuno. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa keempat arca tersebut memiliki dua karakter seni arca, yaitu masa Majapahit dan masa akhir Majapahit dengan kisaran pertanggalan relatif abad XIV-XV Masehi.
PENGARUH MAJAPAHIT PADA BANGUNAN PURI GEDE KABA-KABA, TABANAN Sukawati Susetyo
AMERTA Vol. 34 No. 2 (2016)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Majapahit Influence on the Grand Palace of Kaba-Kaba, Tabanan. Majapahit, as a kingdom, had spread its influence to almost every part of Indonesia such as the western part of Sumatra and the eastern part of the Moluccas, even to our neighbouring countries in Southeast Asia, which were implemented in form of equal partnership (mitra satata). The archaeological remains from the Majapahit period that we can see include sacred and profane buildings, sculptures, reliefs, fragmented and intact potteries and ceramics, and literatures. They bear distinct characteristics, particularly in sacred buildings as well as the styles of reliefs and sculptures. Kaba-Kaba Palace is theremain of Kaba-Kaba Kingdom in Tabanan, Bali, whose king was originated from Majapahit. The aim of this research is to uncover the Majapahit influence on this palace. Furthermore, an attempt was also made to see whether it was built in accordance with Sanga Mandala, a concept used in the building of palaces. The method for this study was carried out by literature study and describing the building elements of the palace that have Majapahit influence, as well as interviewing some sources. The results show that the palace was built based on the sangamandala concept but it has experienced development to accommodate the needs of more recent period. The Majapahit influences on the Kaba-Kaba Palace are seen in the candi bentar (split gate), paduraksa (roofed gate), tantricstyle sculptures, the sculptures of tortoise and dragon, and figure with the face of a stranger. Keywords: Influence, Majapahit, the Grand Palace of Kaba-Kaba Abstrak. Majapahit sebagai kerajaan besar telah mengembangkan pengaruhnya meliputi hampir di seluruh wilayah Indonesia saat ini, yaitu daerah-daerah di Pulau Sumatra di bagian barat dan Maluku di bagian timur, bahkan pengaruhnya meluas sampai ke negara tetangga di Asia Tenggara yang dijalin dalam bentuk persahabatan yang setara (mitra satata). Tinggalan arkeologi dari masa Majapahit yang dapat kita temui adalah bangunan suci, arca-arca, relief, bangunan profan, fragmen/utuh gerabah dan keramik, dan karya-karya sastra. Tinggalan Majapahit tersebut mempunyai ciriciri khusus dalam bentuk arsitektur bangunan suci, gaya relief dan arca. Puri Kaba-Kaba merupakan tinggalan Kerajaan Kaba-Kaba di Tabanan, yang rajanya berasal dari Majapahit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apa saja pengaruh Majapahit yang ditemukan pada bangunan Puri ini. Selain itu juga untuk mengetahui apakah pembangunan puri sesuai dengan konsep Sanga Mandala. Metode penelitian dilakukan dengan studi pustaka, dan mendeskripsikan unsur-unsur bangunan Puri yang mendapat pengaruh dari Majapahit, juga melakukan wawancara terhadap narasumber. Dari penelitian ini diketahui bahwa pembangunan Puri menerapkan konsep Sanga Mandala, namun telah mengalami pengembangan sesuai kebutuhan. Pengaruh Majapahit yang ditemukan pada bangunan Puri Kaba Kaba antara lain adalah gapura candi bentar dan paduraksa, arca-arca bergaya tantris, arca kura-kura dan naga, serta arca tokoh berwajah orang asing. Kata Kunci: Pengaruh, Majapahit, Puri Gede Kaba-Kaba