Gendro Keling
Balai Arkeologi Bali

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ARKEOLOGI LANSKAP: IDENTIFIKASI KAWASAN TAMBLINGAN SEBAGAI PERMUKIMAN : [Landscape Archaeology: Identification of The Tamblingan Area as A Settlement] Gendro Keling
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 24 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/bas.v24i1.430

Abstract

Tamblingan site is one of the sites in Bali that located at an altitude of 1,350 above sea level. Tamblingan site contains a high cultural layer, especially Ancient Bali remains. The problem that would revealed is how the landscape at Tamblingan Site is ideal as a settlement, supported by archaeological evidence to strengthen it. Data collection is done by literature study, both search for internet sources and e-journals that focusing discuss of Tamblingan Site. Tamblingan area is a fertile plateau, its morphology is in the form of a mountain range with Lake Tamblingan as an old caldera containing rainwater. the topography also varies and allows it to be used as a settlement. From the results of the study conducted it was proven that the Tamblingan area is a fertile land area, besides that also the forest and Lake Tamblingan provide various needs to support daily life. Tamblingan merupakan satu wilayah di Bali yang berada di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Tamblingan juga dikenal sebagai situs arkeologi karena menyimpan banyak tinggalan arkeologi terutama dimasa Bali Kuno. Dalam penelitian ini permasalahan yang ingin diungkap dan dipecahkan adalah bagaimana bentanglahan atau lanskap kawasan Tamblingan sehingga daerah ini ideal untuk dijadikan sebagai lokasi hunian atau permukiman, ditunjang dengan bukti-bukti arkeologis untuk menguatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lanskap di wilayah Tamblingan sehingga daerah ini dipilih sebagai kawasan hunian dimasa lalu. Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal cetak dan online yang mengulas mengenai Situs Tamblingan. Kawasan Tamblingan adalah dataran tinggi yang subur, morfologinya berupa deretan pegunungan dengan Danau Tamblingan sebagai kaldera tua yang berisi air hujan. topografinya juga bervariasi dan memungkinkan untuk digunakan sebagai permukiman. Dari hasil studi yang dilakukan terbukti bahwa kawasan Tamblingan merupakan wilayah yang memiliki lahan yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
LATAR BELAKANG ALIH FUNGSI STASIUN KERETA API WILLEM I MENJADI MUSEUM KERETA API AMBARAWA Gendro Keling
Forum Arkeologi VOLUME 24, NOMOR 2, AGUSTUS 2011
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3655.189 KB) | DOI: 10.24832/fa.v24i2.134

Abstract

MENCARI NAGA DI PULAU DEWATA: KAJIAN FENG SHUI PADA BEBERAPA KELENTENG ABAD XIX Gendro Keling; Mimi Savitri
Forum Arkeologi VOLUME 33, NOMOR 2, OKTOBER 2020
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/fa.v33i2.615

Abstract

Feng shui is the concept of harmonizing nature and the environment which is the spiritual foundation of Chinese society for a building, including religious place (kelentengs). The concept of feng shui is also applied to kelentengs in Bali which were built around 19th century. This research aims to identify application of feng shui which reflected in its aspects and classify the types of kelentengs in Bali. The method of data collection by literature study, field observations and interviews. The data obtained then carried out for further processing and analysis. Research result shows that feng shui, fully and partially implemented in several aspects and there are also adaptations toward those aspects. Based on the type of classification, in Bali there are 3 (three) types of kelentengs called Taoist Kelentengs, General Kelentengs and Community Kelentengs. Feng shui adalah konsep harmonisasi alam dan lingkungan yang merupakan landasan spiritual masyarakat Tionghoa dalam mendirikan sebuah bangunan, termasuk sarana ibadah (kelenteng). Konsep feng shui juga diterapkan pada kelenteng-kelenteng di Bali yang dibangun sekitar abad ke-19 Masehi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan feng shui yang tercermin dalam aspek-aspeknya dan mengklasifikasikan jenis kelenteng yang ada di Bali. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi lapangan dan wawancara. Data-data yang diperoleh di lapangan ini kemudian dikumpulkan, serta dilakukan pengolahan dan analisis lebih lanjut. Hasil penelitian yang didapat dari lapangan yaitu adanya penerapan feng shui pada beberapa aspek, baik penerapan secara penuh maupun parsial dan adaptasi terhadap aspek feng shui tersebut. Berdasarkan jenis klasifikasinya, di Bali terdapat 3 (tiga) jenis kelenteng yaitu Kelenteng Tao, Kelenteng Umum dan Kelenteng Masyarakat.