Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

TAMAN SÎMA PADA PRÂSÂDA DI GUNUNG HYANG (JAWA ABAD IX M) (SÎMA GARDEN IN A PRÂSÂDA ON GUNUNG HYANG (JAVA IN THE NINTH CENTURY)) Savitri, Mimi
Naditira Widya Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21562.916 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i1.326

Abstract

Penelitian tentang taman dari masa Hindu-Buddha pada abad ke-9 Masehi selama ini belum banyak dilakukan. Hal ini karena jarang ditemukannya tinggalan arkeologis berupa taman dari masa tersebut. Namun, prasasti Jurungan berangka tahun 798 Saka (876 Masehi) membuktikan bahwa ada taman dari abad ke-9 Masehi dengan status sîma bagi prâsâda di Gunung Hyang. Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami karakterisktik taman di Jawa pada abad ke-9 Masehi dan hubungan taman sîma dengan prâsâda. Selain itu, tujuan penelitian ini adalah melengkapi pengetahuan mengenai lanskap taman pada wilayah Mataram Hindu abad ke-9 Masehi dan merekonstruksi budaya masyarakat Jawa pada masa itu. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah, dan dilakukan dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dari buku-buku, laporan penelitian, artikel ilmiah, dan naskah kesastraan. Pembacaan prasasti Jurungan dilakukan secara langsung dan terhadap hasil alih aksara prasasti. Analisis prasasti didukung pula oleh pengamatan relief pada Candi Borobudur dan Prambanan, serta pengamatan lanskap taman Keraton Boko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taman sîma pada prasasti Jurungan memiliki unsur penting berupa tanaman dan air yang mendukung kelangsungan prâsâda sebagai bangunan suci di Gunung Hyang. Lebih lanjut, disebutkan pula tentang pemenuhan kebutuhan akan buah atau bunga persembahan untuk prâsâda ataupun kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar yang mengelola prâsâda. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa taman sîma, prâsâda, dan Gunung Hyang secara konseptual merupakan lanskap sakral yang dibentuk menjadi satu kesatuan sebagai perwujudan konsep kosmologi masyarakat Hindu di Jawa pada abad ke-9 Masehi. Little researches on gardens from the ninth century Hindu-Buddhist period are conducted due to the few discoveries of archaeological remains that indicate gardens. However, the Jurungan inscription dated 798 Saka (876 CE) proves the existence of a garden from the ninth century with a status of sîma for a prâsâda on Gunung Hyang. The significance of this research is to understand the characteristics of a garden in Java during the ninth century and the relationship between a sîma garden and prâsâda. Additionally, the objective of this study is to obtain a comprehensive knowledge of a garden landscape in the ninth century Hindu Mataram region and reconstruct the culture of the Javanese society then. This study uses a historical approach, and data collection is carried out by literature studies from books, research reports, scientific articles, and literary texts. Reading the Jurungan inscription was conducted both from the script and its transliteration. The inscription analysis was also supported by a study of the reliefs on the temples Borobudur and Prambanan, as well as landscape observations of the Boko palace garden. Research results suggest that the sîma garden mentioned in the Jurungan inscription has important elements of plants and water that support the continuity of a prâsâda as a sacred structure on Gunung Hyang. Further, the inscription also mentioned about fulfilling the needs for fruit or flower offerings for the prâsâda or the economic demands of the surrounding communities who maintained the prâsâda. Conclusively, the research suggests the sîma garden, prâsâda, and Gunung Hyang are conceptually sacred landscapes that are formed into a single entity as a manifestation of the cosmological concept of Hindu society in Java during the ninth century.
MENCARI NAGA DI PULAU DEWATA: KAJIAN FENG SHUI PADA BEBERAPA KELENTENG ABAD XIX Gendro Keling; Mimi Savitri
Forum Arkeologi VOLUME 33, NOMOR 2, OKTOBER 2020
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/fa.v33i2.615

Abstract

Feng shui is the concept of harmonizing nature and the environment which is the spiritual foundation of Chinese society for a building, including religious place (kelentengs). The concept of feng shui is also applied to kelentengs in Bali which were built around 19th century. This research aims to identify application of feng shui which reflected in its aspects and classify the types of kelentengs in Bali. The method of data collection by literature study, field observations and interviews. The data obtained then carried out for further processing and analysis. Research result shows that feng shui, fully and partially implemented in several aspects and there are also adaptations toward those aspects. Based on the type of classification, in Bali there are 3 (three) types of kelentengs called Taoist Kelentengs, General Kelentengs and Community Kelentengs. Feng shui adalah konsep harmonisasi alam dan lingkungan yang merupakan landasan spiritual masyarakat Tionghoa dalam mendirikan sebuah bangunan, termasuk sarana ibadah (kelenteng). Konsep feng shui juga diterapkan pada kelenteng-kelenteng di Bali yang dibangun sekitar abad ke-19 Masehi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan feng shui yang tercermin dalam aspek-aspeknya dan mengklasifikasikan jenis kelenteng yang ada di Bali. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi lapangan dan wawancara. Data-data yang diperoleh di lapangan ini kemudian dikumpulkan, serta dilakukan pengolahan dan analisis lebih lanjut. Hasil penelitian yang didapat dari lapangan yaitu adanya penerapan feng shui pada beberapa aspek, baik penerapan secara penuh maupun parsial dan adaptasi terhadap aspek feng shui tersebut. Berdasarkan jenis klasifikasinya, di Bali terdapat 3 (tiga) jenis kelenteng yaitu Kelenteng Tao, Kelenteng Umum dan Kelenteng Masyarakat.
BIAS GENDER: MASALAH UTAMA DALAM INTERPRETASI ARKEOLOGI Mimi Savitri
Humaniora Vol 19, No 2 (2007)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.786 KB) | DOI: 10.22146/jh.900

Abstract

Gender bias is an important theme in Gender Archaeology. It is influenced by modern people thinking and it has influenced archaeological interpretation for a long time. As a result, archaeological interpretation of past society is not objective. This problem should be solved to reach an objective interpretation of people’s life in the past. The author argues that gender bias in archaeology can be solved by actively criticizing androcentrism and paying more attention to men and women’s relationship in the past.
Peran Magis-Religius Bengawan Solo dalam Pendirian Kota Surakarta Abad Ke-18 Mimi Savitri
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v24i1.59

Abstract

Abstrak. Peran magis religius Bengawan Solo adalah penting bagi pendirian Kota Surakarta. Peran ini berkaitan dengan kekuatan gaib, roh halus, dan atau roh-roh nenek moyang yang ada pada sungai khususnya di daerah pertemuan dua sungai. Kepercayaan terhadap kekuatan gaib merupakan hal mendasar dalam kehidupan orang Jawa, akan tetapi hal tersebut kurang mendapat perhatian dari para ahli sejarah maupun arkeologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperluas wawasan mengenai kepercayaan orang Jawa terhadap kekuatan gaib dan roh halus yang ada pada tempat tinggal mereka. Survei, fenomenologi, dan kajian pustaka adalah metode yang digunakan untuk mengungkap lebih dalam peran magis religius dari sungai tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah peran magis religius Bengawan Solo terhadap Kota Surakarta, yaitu daerah sekitar pertemuan dua sungai karena dianggap sakral dan kepercayaan terhadap konsep kosmologi Jawa, bahwa sungai merupakan bagian penting dalam pembentukan tata ruang kota. Penelitian ini sekaligus membuktikan adanya kontinuitas budaya yang hidup di masyarakat sekitar Bengawan Solo sejak dahulu hingga kini.Abstract. The magical-religious role of Bengawan Solo (Solo River) in the establishment of Surakarta was crucial. It was related to mystical power, ghosts, or spirits of ancestors, especially those that reside at a confluence of two rivers. Belief in mystical power was the foundation of Javanese life, but not enough attention has been paid by historians as well as archaeologists. The aim of this research is to widen people’s insight about the belief of the Javanese people to the supernatural power and spirits that inhabited their dwelling places. Survey, phenomenology, and bibliographical study are the methods used to reveal more about the magical-religious role of the river. Results of the research are an understanding of the magical-religious role of Bengawan Solo in the establishment of Surakarta city as shown in the location of the city, which is close to the confluence of two rivers because such location is conceived as sacred, and the other is a belief to the Javanese cosmological concept that rivers are important to the establishment of city layout. It also proves that there is a continuity among the Javanese people who live around the Bengawan Solo from the past until nowadays. 
Desain Konten Pendidikan Warisan Budaya 4.0 bagi Warga "Aisyiyah Kota Surakarta pada Webpage Lembaga Kebudayaan Pimpinan Daerah "Aisyiyah Kota Surakarta Mimi Savitri; Andi Putranto
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2149.647 KB) | DOI: 10.22146/bb.50893

Abstract

Cultural Institution of Regional Leaderships of ‘Aisyiyah in Surakarta has not been able to carry out its programs including cultural heritage education. The webpage of the Cultural Institution in the website of the Regional Leadership of ‘Aisyiyah in Surakarta should be used as an effective medium for cultural heritage education in the 4.0 era. Based on the problem above, this community service aims to provide cultural heritage education to members of ‘Aisyiyah by using internet. The questions raised in this community service:1."Which part of the history of Surakarta which is important used as cultural heritage education material in 4.0 era for 'Aisyiyah members in Surakarta?" And "How were the efforts made to determine the design and content of the webpage which was easy to understand by ‘Aisyiyah members?" The method used is to interview ‘Aisyiyah members to determine the right place of Surakarta for the webpage. Then some discussions were also carried out by the community service team to produce attractive and effective content designs which was in accordance with the needs of ‘Aisyiyah members in Surakarta. The results of the interviews and discussions demonstrate that the Surakarta Palace and the Surakarta Grand Mosque as the focus of the webpage of the Cultural Institution. Furthermore, the selected building’s elements are displayed in attractive photographs with popular scientific language so that the content displayed is easy to understand.--------------------------------------------------------------Lembaga Kebudayaan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Surakarta merupakan bagian dari organisasi perempuan ‘Aisyiyah yang dibentuk untuk menyelesaikan persoalan budaya masyarakat Kota Surakarta. Pada kenyataannya, Lembaga Kebudayaan ini belum dapat menjalankan programnya secara maksimal, terutama dalam hal memberikan pendidikan warisan budaya kepada warganya. Padahal, pendidikan warisan budaya penting diberikan untuk mempertegas identitas warga ‘Aisyiyah beserta generasi pada masa mendatang. Webpage Lembaga Kebudayaan yang ada pada website Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Surakarta sebagai media efektif untuk pendidikan warisan budaya pada era digital 4.0 ini belum digunakan sama sekali oleh lembaga tersebut. Pengabdian yang dilakukan ini berusaha untuk menentukan bagian mana dari Kota Surakarta yang penting untuk dijadikan konten webpage Lembaga Kebudayaan serta menciptakan desain yang menarik dan efektif untuk pendidikan warisan budaya bagi warga ‘Aisyiyah pada era digital ini agar mereka paham dan sadar terhadap tinggalan budaya kota mereka. Pengabdian ini bertujuan mengaktifkan webpage Lembaga Kebudayaan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah kota Surakarta. Webpage pada website merupakan media yang efektif dan penting untuk pembelajaran, khususnya tentang kebudayaan. Wawancara terhadap warga ‘Aisyiyah serta diskusi-diskusi dilakukan oleh tim pengabdian untuk menghasilkan desain konten yang menarik dan efektif bagi warga ‘Aisyiyah Kota Surakarta. Wilayah Keraton Surakarta, khususnya Keraton Kasunanan Surakarta serta Masjid Agung Surakarta, merupakan fokus dari konten webpage pada website Lembaga Kebudayaan yang di-link-kan dengan website Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Surakarta. Elemen-elemen bangunan terpilih ditampilkan dalam bentuk foto yang menarik dengan bahasa ilmiah populer agar konten yang ditampilkan mudah dipahami. 
Warisan Budaya Industri Gula di Kabupaten Pemalang Dhiana Putri Larasaty; Mimi Savitri
Tumotowa Vol 4 No 2 (2021): Tumotowa
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/tmt.v4i2.98

Abstract

Dampak revolusi industri di Eropa menyebar hingga ke Pulau Jawa menghasilkan warisan budaya industri termasuk pendirian sejumlah pabrik gula di Pemalang sejak masa sistem tanam paksa. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan, merekam, dan melestarikan jejak revolusi industri yang pernah ada di Pemalang sebagai pendokumentasian sejarah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan sejarah dengan penelusuran sumber sejarah secara heuristik, baik primer maupun sekunder. Hasilnya mengungkapkan bahwa Pemalang merupakan daerah potensial sebagai lokasi pabrik gula dengan berdirinya empat pabrik gula. Pemalang bahkan merupakan daerah yang pernah memberikan kontribusi ekspor gula sebanyak 40% dari keseluruhan produksi gula di Jawa. Pengaruh budaya Eropa dan budaya lokal terekam, baik dalam arsitektur bangunan pabrik hingga tradisi ketika masa panen. Perhatian untuk melestarikan warisan industri yang pernah berperan dalam perekonomian Indonesia sangat penting. Kondisi saat ini, dua pabrik gula sudah tidak dapat dilacak bangunannya, sedangkan bangunan pabrik gula yang masih ada saat ini pun sudah mengalami kerusakan.
Peran kearifan lokal terhadap upaya pelestarian Situs Makam Imogiri Mimi Savitri
Berkala Arkeologi Vol 41 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.37 KB) | DOI: 10.30883/jba.v41i1.567

Abstract

The Imogiri Royal Cemetery Site has provided benefits to the surrounding community, especially abdi dalem as the caretakers of the site for a long time. The local community has created local wisdom in order to survive and continue to enjoy the benefits provided by the site. The question arises are: What is the benefit of the Imogiri Royal Cemetery Site for the surrounding community especially abdi dalem? What kind of local wisdom is created by the abdi dalem at the Imogiri Royal Burial Site? What is the role of local wisdom in the preservation of the Imogiri Royal Burial Site? This research was conducted to examine the role of local wisdom to preserve the Imogiri Royal Burial Site. The data collected using in depth-structure interviews. The analysis was carried out using an interpretive method with hermeneutic model of cultural interpretation. This research generates knowledge that local wisdom has contributed to the preservation of the Imogiri Burial Site. This is important to maintain the sustainability of the site's benefits and to improve people’s welfare.  
PERAN MAGIS-RELIGIUS BENGAWAN SOLO DALAM PENDIRIAN KOTA SURAKARTA ABAD KE-18 Mimi Savitri
KALPATARU Vol. 24 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The magical-religious role of Bengawan Solo (Solo River) in the establishment of Surakarta was crucial. It was related to mystical power, ghosts, or spirits of ancestors, especially those that reside at a confluence of two rivers. Belief in mystical power was the foundation of Javanese life, but not enough attention has been paid by historians as well as archaeologists. The aim of this research is to widen people’s insight about the belief of the Javanese people to the supernatural power and spirits that inhabited their dwelling places. Survey, phenomenology, and bibliographical study are the methods used to reveal more about the magical-religious role of the river. Results of the research are an understanding of the magical-religious role of Bengawan Solo in the establishment of Surakarta city as shown in the location of the city, which is close to the confluence of two rivers because such location is conceived as sacred, and the other is a belief to the Javanese cosmological concept that rivers are important to the establishment of city layout. It also proves that there is a continuity among the Javanese people who live around the Bengawan Solo from the past until nowadays. Peran magis religius Bengawan Solo adalah penting bagi pendirian Kota Surakarta. Peran ini berkaitan dengan kekuatan gaib, roh halus, dan atau roh-roh nenek moyang yang ada pada sungai khususnya di daerah pertemuan dua sungai. Kepercayaan terhadap kekuatan gaib merupakan hal mendasar dalam kehidupan orang Jawa, akan tetapi hal tersebut kurang mendapat perhatian dari para ahli sejarah maupun arkeologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperluas wawasan mengenai kepercayaan orang Jawa terhadap kekuatan gaib dan roh halus yang ada pada tempat tinggal mereka. Survei, fenomenologi, dan kajian pustaka adalah metode yang digunakan untuk mengungkap lebih dalam peran magis religius dari sungai tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah peran magis religius Bengawan Solo terhadap Kota Surakarta, yaitu daerah sekitar pertemuan dua sungai karena dianggap sakral dan kepercayaan terhadap konsep kosmologi Jawa, bahwa sungai merupakan bagian penting dalam pembentukan tata ruang kota. Penelitian ini sekaligus membuktikan adanya kontinuitas budaya yang hidup di masyarakat sekitar Bengawan Solo sejak dahulu hingga kini.
The role of local wisdom on the preservation of the Imogiri Royal Cemetery Site: Peran kearifan lokal terhadap upaya pelestarian Situs Makam Imogiri Mimi Savitri
Berkala Arkeologi Vol. 41 No. 1 (2021)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v41i1.567

Abstract

The Imogiri Royal Cemetery Site has provided benefits to the surrounding community, especially abdi dalem as the caretakers of the site for a long time. The local community has created local wisdom in order to survive and continue to enjoy the benefits provided by the site. The question arises are: What is the benefit of the Imogiri Royal Cemetery Site for the surrounding community especially abdi dalem? What kind of local wisdom is created by the abdi dalem at the Imogiri Royal Cemetery Site? What is the role of local wisdom in the preservation of the Imogiri Royal Cemetery Site? This research was conducted to examine the role of local wisdom to preserve the Imogiri Royal Cemetery Site. The data collected using in depth-structure interviews. The analysis was carried out using an interpretive method with hermeneutic model of cultural interpretation. This research generates knowledge that local wisdom has contributed to the preservation of the Imogiri Cemetery Site. This is important to maintain the sustainability of the site's benefits and to improve people’s welfare.
Menginisiasi desain kain Jumput- Batik khas Banyunibo Mahirta, Mahirta; Savitri, Mimi; D.S. Nugrahani; Arumdati, Fayeza Saliz
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada masyarakat Vol 6 No 1 (2023): 2023: Edisi 1
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bakti.5605

Abstract

Community around Banyunibo temple has been trained to produce hand-painted batik for the last 5 years. This training have improved their skill, enabling them to produce real hand-painted batik. However, their products have not sold well, moreover during the pandemic era caused by Covid-19. After carried out interview and discussion in survey phase, it is known that the community has problem in marketing their hand-painted batik and wish to have unique Banyunibo batik product. Based on the condition, the community service team of Archaeology Department, Faculty of Cultural Sciences conduct a community empowerment program with an intention to help Banyunibo community in creating Banyunibo’s batik motifs inspired by the reliefs of Banyunibo temple, unique, and potentially sale well. This community service conducted using skill building and empowerment approach, with the purpose to create active and direct invlolvement of the community during the activity. Hand-stamp batik introduced as an alternative to produce a less-expensive batik than hand-painted batik, therefore can compete well in batik market. Relief-inspired motifs created through distortion and stylization from the original temple reliefs. These motifs, made by stamp application technique, is also combined with jumput technique, creating a unique jumput - batik product that hopefully can increase the buying power of Banyunibo’s batik. ==== Komunitas pembuat batik di sekitar Candi Banyunibo telah dilatih membuat batik tulis sejak lima tahun terakhir. Hasil kegiatan tersebut telah meningkatkan keterampilan mereka dalam membuat produk batik tulis. Namun, daya jual batik produk mereka masih rendah di pasaran, terlebih lagi pada masa pandemi Covid-19. Setelah melakukan wawancara dan diskusi pada tahap survei, diketahui bahwa masyarakat memiliki kendala berupa kesulitan memasarkan batik tulis dan keinginan untuk memiliki batik khas Banyunibo. Berdasarkan keadaan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Departemen Arkeologi UGM melakukan program pemberdayaan komunitas dengan pembinaan batik cap dan pembuatan motif batik khas Banyunibo yang terinspirasi dari relief pada Candi Banyunibo. Pengabdian masyarakat ini dilakukan menggunakan pendekatan berupa pendampingan dan pemberdayaan masyarakat dengan tujuan agar masyarakat dapat terlibat langsung dan aktif dalam pelaksanaan pendampingan ini. Batik cap sebagai alternatif diperkenalkan untuk menghasilkan batik yang tidak semahal batik tulis sehingga harganya dapat bersaing di pasaran. Motif inspirasi relief candi diciptakan melalui proses distorsi dan stilasi dari gambar asli relief candi. Motif batik yang dihasilkan dengan teknik cap tersebut juga dikombinasikan dengan teknik jumput sehingga menghasilkan motif khas Banyunibo yang diharapkan dapat meningkatkan daya jual dari batik Desa Banyunibo.