Setyo Budi
Program Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa Dan Desain, Universitas Sebelas Maret

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelatihan Daur Ulang Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Sebagai Produk Unggulan Ramah Lingkungan Di Desa Pereng Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar Desy Nurcahyanti; Yayan Suherlan; Novia Nur Kartikasari; Joko Lulut Amboro; Novita Wahyuningsih; Nooryan Bahari; Setyo Budi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 3 No 5 (2023): JPMI - Oktober 2023
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.1540

Abstract

Minyak jelantah atau minyak goreng bekas merupakan penyebab pemcemaran air terbesar setelah limbah kimia pabrik. Regulasi Pemerintah perihal pembuangan sisa industri dan sampah rumah tangga telah diatur dalam peraturan nasional oleh Kementerial Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam PP 74 Tahun 2001 tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun; PP 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga; dan PP 101 Tahun 2014 tentang pengelolaan limbah bahan baku berbahaya dan beracun. Desa Pereng yang terletak di Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar memiliki potensi UMKM sebagai penghasil makanan ringan kerupuk rambak; hasil olahan hasil bumi desa. Produksi harian menghasilkan minyak bekas penggorengan/jelantah sebanyak 6 – 8 liter untuk satu kwintal kerupuk rambak perhari. Ide daur ulang minyak Jelantah menjadi produk lilin aromaterapi adalah solusi tepat dan menjanjikan dari segi perekonomian. Kegiatan daur ulang minyak jelantah di Desa Pereng melibatkan PKK dan Karang Taruna dengan metode workshop. Tiga tahapan utama diterapkan dalam implementasinya, antara lain: (1) Persiapan, (2) Pelaksanaan, dan (3) Evaluasi & Pelaporan. Masing-masing tahap dilakukan koordinasi serta komunikasi berkesinambungan antara Tim Pelaksana dan Peserta Pelatihan yakni masyarakat Desa Pereng. Keterlibatan penuh masyarakat sebagai upaya realisasi Desa Kreatif dengan produk unggulan ramah lingkungan edukatif dan bernilai jual tinggi.
Trend in Art Studies Post SWOT Analysis Setyo Budi; Deny Tri Ardianto
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 5 No. 2 (2022): October
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lekesan.v5i2.2097

Abstract

Historical pieces of Indonesian Fine Arts show that art was once used as a provocative medium for political interests. This condition occurred when people only positioned art inthe factual aesthetic area without being balanced with conceptual intelligence. In the early 21st century, there was a revival of art discourse. Art-based higher education institutionsbegan to study arts in a balanced portion. This policy-oriented qualitative research produced a historiographical map of Indonesian art position, clarified by some changes in various policies in the academic environment. The era of 'National intelligenceawakening' is marked by visionary openness in the Higher Education environment. Such phenomenon demands adaptation and acceleration from the technical to strategic levels. The acceleration of educational technology eliminates various models of positivistic monitoring and evaluation. The use of SWOT Analysis in art fields should also be reviewed. The SDCS (Superiority, Differentiations, Connectedness, and Sustainability) analysis model offers a more visionary analysis in building the awareness that all higher education bodies in Indonesia should be “one giant educational mechanism” under one vision of improving the national intellect.
MOTIF BATIK JOMBANGAN SEBAGAI MEDIA EDUKASI DALAM PENGUATAN LEADERSHIP SKILLS BERBASIS KEARIFAN LOKAL Achmad Nur Kholis; Setyo Budi; Desy Nurcahyanti
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 2 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i2.71

Abstract

The current generation needs learning media that suits its characteristics and currentdevelopments. This affects each individual's skills mastery. The development of educationalmedia for leadership skills needs to be pursued as a solution to prepare a generation that is readyto face global change. This development can be linked to the inclusion of cultural elements. Theapplication of local wisdom, such as batik, can be one of the bases for creating this innovation.The aim of this research is to find out how Batik Jombangan with Ringin Contong (motif) can bea medium for educating leadership skills based on local wisdom. The research method uses aqualitative approach, where the findings will be presented analytical, depth, and in detail.Observation, interviews, documentation, and literature study are the techniques used in the datacollection process. Another approach uses the aesthetic theory of Luca Iandoli and GieuseppeZollo (2022) as a study to examine the outermost (visualization) and innermost(meaning/philosophy) parts of batik motifs. The research concludes that batik can be aneducational learning medium and can be a teaching tool to improve and strengthen leadershipskills for individuals, especially for teenagers and children. Two elements, namely education andculture, can be collaborated together, thereby creating new innovations in learning schemes/concepts. Thus, the values of locality can be maintained as education continues toimprove. Generasi saat ini membutuhkan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya danperkembangan zaman. Hal ini berpengaruh pada penguasaan keterampilan masing-masingindividu. Pengembangan media edukasi leadership skills perlu diupayakan sebagai solusi untukmenyiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan global. Pengembangan tersebut dapatdikaitkan dengan memasukkan unsur kebudayaan. Penerapan kearifan lokal, seperti batik, dapatmenjadi salah satu basis dalam menciptakan inovasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui bagaimana Batik Jombangan motif Ringin Contong dapat menjadi mediaedukasi keterampilan kepemimpinan berbasis kearifan lokal. Metode penelitian menggunakanpendekatan kualitatif, di mana temuan akan disajikan secara terperinci, mendalam, dan detail.Observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka adalah teknik yang digunakan dalamproses pengumpulan data. Pendekatan lainnya menggunakan teori estetika dari Luca Iandoli danGieuseppe Zollo (2022) sebagai studi dalam mengkaji bagian terluar (visualisasi) dan terdalam(makna/filosofi) pada motif batik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batik dapat menjadi salahsatu media pembelajaran edukatif dan dapat menjadi sarana dalam pengajaran untukmeningkatkan serta menguatkan keterampilan memimpin bagi individu, khususnya untuk remajadan anak-anak. Dua unsur, yakni pendidikan dan kebudayaan, dapat dikolaborasikan bersama,sehingga tercipta inovasi baru dalam skema/konsep pembelajaran. Dengan demikian, nilailokalitas dapat tetap terjaga seiring dengan berjalannya peningkatan pendidikan.
Kritik Seni Ekspresivistik pada Karya Dekoratif Widayat Nova Agung Prasetya; Setyo Budi; Desy Nurcahyanti
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 24, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v24i1.4674

Abstract

Maestro Widayat merupakan pelukis beraliran kubisme dekoratif magis. Karya-karyanya yang oriental klasik membawa perpaduan antara seni Indonesia dan Asia Timur. Penulis menilai visualisasi karya Widayat unik dan tidak dimiliki oleh seniman lain, baik dari segi bentuk, tema, dan isi dalam karya. Kritik ekspresivistik pada karya Widayat untuk mengurai pesan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan dalam karya tersebut. Umumya menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis judul, tema, isi dan visulisasi bentuk. Penelitian dilakukan dengan pengamatan yang memanfaatkan media dan data yang dikumpukan dengan sewajarnya dan melakukan analisis. Hasil penelitian bersifat deskriptif, analitis, terperinci dan bersifat komunikatif bagi penikmat seni, mahasiswa, dan kolektor. Evaluasi pembanding dilakukan terhadap karya serupa yang memiliki tema dan bentuk yang hampir sama atau mirip.Tentunya dengan melakukan perbandingan secara objektif baik dari segi bentuk sampai komunikasi yang ingin disampaikan dari karya pembanding maupun karya utama. Karya Widayat yang berjudul “Telanjang “ dengan karya Pablo Picasso yang berjudul “Les Demoiselles d’Avignon” memiliki kemiripan dari segi pesan dan tema yang ingin disampaikan sehingga mengacu pada landasan kritik ekspresivistik.