I Gede Radiana Putra
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ritus Barong I Gede Radiana Putra
Joged Vol 8, No 1 (2017): APRIL 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.358 KB) | DOI: 10.24821/joged.v8i1.1671

Abstract

"Ritus Barong”, adalah judul yang dipilih untuk garapan tari ini. Karya ini menggambarkan tentang tahapan sakral Barong Ket yang ada di desa Singapadu, Kabupaten Gianyar, Bali. Tahapan tersebut berupa tahap ngetus (melepas bagian barong), tahap ngatep (memasang kembali bagian tersebut), dan tahap nyambleh (menyucikannya kembali). Prosesi ini sangat sakral bagi masyarakat Singapadu. Singapadu terkenal dengan kesenian dan tradisi budaya barongnya. Barong yang disakralkan sudah menjadi kebanggaan budaya Singapadu.Barong menjadi inspirasi untuk menciptakan sebuah karya tari, berawal dari kesenangan penata menari dan mengikuti kunjungan spiritual Barong Ket Singapadu. Barong identik dengan suara-suara gongseng yang menambah kesan sakral dan magis. Pengolahan gongseng tersebut sebagai pendukung musikalitas karya tari yang banyak memainkan musik-musik internal, dari tubuh penari itu sendiri. Gongseng merupakan salah satu bagian terpenting dari barong. Oleh karena itu, penggunaan properti gongseng dengan rasa musikalitasnya digarap sebagai studi gerak kaki.Karya tari “Ritus Barong” merupakan koreografi garap kelompok dengan sepuluh penari laki-laki. Tujuh orang laki-laki sebagai penari inti, pada saat tertentu menggambarkan kebersamaan warga masyarakat Singapadu, dua orang penari sebagai penari barong dan seorang penari rangda. Melalui karya ini diharapkan muncul regenerasi penari barong setidaknya penari menguasai unsur-unsur gerak tari Barong.
ANALISIS KONSEP NGUNDA BAYU PADA TARI REJANG DESA, DI DESA TISTA, KECAMATAN ABANG, KABUPATEN KARANGASEM, BALI Ni Ketut Santi Sukma Melati; Rines Onyxi Tampubolon; Lissa Maharani; I Gede Radiana Putra; I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra
Jurnal Pendidikan Tari Vol 6 No 1 (2025): Inovasi dan Penguatan Metode Pembelajaran Seni Tari yang Berorientasi Pada Keterl
Publisher : LPPM UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPT.616

Abstract

The Rejang Desa dance has become an important cultural heritage in Tista Village, Abang District, Karangasem Regency. This dance is characterized by its distinctive and classical makeup and costume design, which continue to uphold local wisdom as the central element of their aesthetic arrangement. Rejang Desa can only be performed and appreciated during the Kuningan and Manis Kuningan ceremonies, making it distinct from Rejang Dewa, which may be performed in various religious ceremonies across different villages. The term dance is inseparable from the concept of movement technique, as every dance composition employs movement as its primary medium of expression. In dance movements, the control of breath and energy is essential to maintain the integrity and fluidity of motion. This understanding is commonly referred to as the Ngunda Bayu technique, which is an inherent practice among Balinese dancers across various dance forms. Therefore, this study aims to examine and understand the application of the Ngunda Bayu concept in the Rejang Desa dance of Tista Village. The presence of this concept can be observed through the duration of the performance and the structure of the presentation. To explore this issue, a qualitative research method is employed, supported by the theory of form. It is expected that the findings of this research will reveal and substantiate the use of the Ngunda Bayu concept within the Rejang Desa dance of Tista Village. In line with this objective, the author seeks to develop a scientific discussion that examines the embodiment of Ngunda Bayu in the performance of Rejang Desa in Tista Village.