Arjuni Prasetyorini
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MAMPIR NGOMBE: REFLEKSI DI TENGAH PANDEMI COVID-19 MELALUI FILM TARI Arjuni Prasetyorini
Joged Vol 17, No 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i1.5615

Abstract

ABSTRAK“Mampir Ngombe” adalah film tari yang merefleksikan kondisi Pandemi Covid-19. Sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini, seluruh manusia di bumi sedang menghadapi Pandemi dengan skala global. Memasuki tahun 2020 negara-negara di dunia mulai melakukan lockdown atau pembatasan sosial berskala besar bagi negaranya. Tingkat kematian akibat Pandemi Covid-19 ini selalu diberitakan melalui berbagai media setiap harinya, bahkan terdapat beberapa kerabat dan kawan yang terkonfirmasi positif Covid-19, hingga sembuh kembali namun juga ada yang meninggal. Duka dan kecemasan meliputi hampir disetiap harinya. Pandemi Covid-19 secara langsung dan tidak langsung memberi berbagai dampak. Salah satu dampak yang terjadi jika direnungkan secara dalam akan muncul suatu kesadaran, di mana hidup terasa benar-benar singkat bahwa setiap manusia tidak tahu kapan akan dipanggil pulang.Sebuah pepatah Jawa atau pitutur Jawa mengatakan “Urip iku mung sadermo mampir ngombe, yang memiliki arti hidup itu sangat singkat, ibarat hanya singgah minum. Pepatah itu menjadi sangat terasa pada kondisi saat ini. Waktu yang demikian singkat ini manusia diharapkan mengisinya dengan fikiran yang positif dan dan berusaha memanfaatkannya dengan melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Daripada hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran, sebaiknya diisi dengan doa, serta belajar untuk ikhlas setiap harinya, hingga setiap langkah yang dijalani akan menjadi laku yang migunani tumpraping diri lan liya. Koreografer menggunakan media video/film sebagai media ungkap sebagai respons dan adaptasi pada kondisi Pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 membatasi gerak seni pertunjukan dalam hal ini tari yang secara normatif dapat dinikmati secara langsung oleh mata dan energi dirasakan hadir secara nyata, namun pada kondisi ini harus dinikmati melalui video/film. Karya ini merupakan sebuah ekperimentasi langkah baru bagi koreografer untuk mencoba dan berusaha mengekpresikan tari melalui media video/film dengan durasi 6.44 detik.ABSTRACTThe dance film entitled "Mampir Ngombe" with a short duration is a reflection and introspection on the current conditions of the Covid-19 Pandemic, all people on earth are facing a pandemic on a global scale since the end of 2019, entering 2020 countries in the world have begun. carry out lockdowns or large-scale social restrictions for the country. The death rate due to the Covid-19 Pandemic is always reported through various news media every day, there are even some relatives and friends who have been confirmed positive for Covid-19, until they recover, but some have died. Grief and anxiety always cover almost every day. The Covid-19 pandemic directly and indirectly has various impacts. One of the impacts that occurs if you think about it deeply will emerge an awareness, where life feels really short that every human being does not know when to be called home. A Javanese proverb or Javanese pitutur “states Urip iku mung sadermo mampir ngombe, which means life is like just stopping by for a drink, very briefly. The proverb is very pronounced in the current condition. This time is so short that humans are expected instead of every day filled with worries, fears and worries, it would be nice if they were filled with positive thoughts and and trying to make use of them by doing good and useful things, such as filling them with prayers, working with them. following health protocols, trying to live up to the advice from the government, namely Gerakan 5M Covid-19 (Wearing a mask, washing hands with soap with running water, keeping your distance, keeping away from crowds) and learning to do iklas every day, so that every step you take will become a laku that migunani tumprapting liyan. Choreographers use video / film media as a medium of expression as a response and adaptation to the conditions of the Covid-19 Pandemic. The Covid-19 pandemic limits the movement of performing arts, in this case dance, which can normally be enjoyed directly by the eye and the energy is felt to be present in real terms, but in this condition it must be enjoyed through videos / films. This work is an experimentation of a new step for choreographers to try and try to express dance through video / film media with short duration.
OLAH RASA SEBAGAI RANGSANG PENCIPTAAN TARI BAGI KOREOGRAFER Karti, Galih Puspita; Prasetyorini, Arjuni
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15207

Abstract

RINGKASANRasa memiliki peran yang kuat dalam kehidupan, bahkan sikap-sikap tubuh manusia terbentuk dipengaruhi oleh rasa. Demikian juga pada dunia tari, rasa sangat penting dihadirkan. Rasa berperan sebagai pendorong ekspresi jiwa yang menjadi hal esensial dalam tari. Selain hadir dalam penyajian, rasa juga hadir dalam proses garap koreografi. Rasa menjadi pemantik ide yang mendorong untuk menemukan konsep dasar tari, yang disebut sebagai rangsang tari. Rangsang diperoleh dalam tiga tahap berikut ini : 1) Olah rasa sebagai proses eksplorasi : Penyatuan rasa dan pikiran diwujudkan dalam gerak tubuh. 2) Refleksi: Proses melihat kembali atau mengingat segala sesuatu yang terjadi pada diri selama olah rasa berlangsung. 3) Inspirasi: Menemukan ide konsep dasar penciptaan tari yang diperoleh dari hasil refleksi olah rasa. Karya tari berdasarkan pengalaman empiris, lahir dari rasa yang dimiliki oleh penciptanya. Karya demikian memiliki nilai yang semakin kuat, sebab sebuah gagasan yang disuguhkan dalam karya memiliki keterikatan rasa yang kuat dengan koreografer.ABSTRACTThe sense of feeling plays a significant role in life, even influencing the formation of human bodily attitudes. Likewise, in the world of dance, feeling is crucial to be present. Feeling drives the emergence of soulful expression, an essential aspect of dance. In addition to being present in performance, feeling emerges in the choreographic creation process. Feeling acts as a trigger for ideas to discover the basic concept of dance, referred to as dance stimulation. In this journal, stimulation is obtained through three stages: 1) Sensory exploration as an exploration process: The unification of feeling and thought ismanifested through bodily movement. 2) Reflection: The process of looking back or recalling everything that occurs within oneself during sensory exploration. 3) Inspiration: Discovering the basic concept of dance creation derived from the reflection of sensory exploration. Dance works based on empirical experience are born from the creator's inner feelings. Such works hold stronger value, as the ideas presented in the piece have a profound emotional connection with the choreographer.
Pelatihan Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di Desa Kembaran, Candimulyo, Magelang, Jawa Tengah Prasetyorini, Arjuni; Sukanadi, I Made; Vania, Venawa
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i2.13898

Abstract

Desa Kembaran adalah desa dengan sentra durian yang banyak dikunjungi oleh pengunjung yang menjadi kuliner durian. Namun, Desa Kembaran belum memiliki satu seni pertunjukan yang sesuai untuk disuguhkan kepada para pengunjung. Hal tersebut merupakan satu masalah yang perlu dipecahkan. Demikian juga, belum begitu banyak aktivitas pelatihan dan pementasan yang dilakukan di desa tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memecahkan persoalan-persoalan yang ada di komunitas seni di Desa Kembaran.  Pembinaan dan pengembangan potensi seni tradisi di masyarakat diharapkan dapat membuka peluang, mengembangkan, dan mewujudkan suatu bentuk seni pertunjukan khas Desa Kembaran yang dapat disuguhkan.  Kelompok seni yang menjadi sasaran pembinaan adalah Komunitas Swara Laras Budaya, Komunitas Seni  Warokan, Komunitas Jathilan Turangga Seta Karumpaka Putri, Komunitas Jathilan Turangga Seta Karumpaka Putra, Komunitas Batik Elok Sejati, dan Komunitas Seni Sablon Pemuda Opptima. Kegiatan ini  berlangsung pada Juli-Agustus 2024 yang mencakup kegiatan pengembangan dan kreasi inovasi dalam pengembangan gerak tari, gending atau lagu, dan kostum tari. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini meliputi demonstrasi, ceramah, dan pelatihan. Hasil dari kegiatan ini mencakup pembuatan komposisi koreografi baru, musik pengiring,dan tata busana, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pertunjukan di Desa Kembaran. Kembaran Village is a distinguished village with its Durian production, inviting many visitors to visit this place. However, Kembaran Village does not have a performing art that is suitable to be presented to visitors as there have not been many training and staging activities carried out in the village. This program aims to develop the existence of both performing and visual art in Kembaran Village.  The development of the potential of traditional arts in the community is expected to open up opportunities and realize a typical form of performing arts in Kembaran Village.  The targeted participants of this program are several art groups in the village, such as Komunitas Swara Laras Budaya, Komunitas Seni Warokan, Komunitas Jathilan Turonggo Seta Karumpaka Putri, Komunitas Jathilan Turangga Seta Karumpaka Putra, Komunitas Elok Sejati Batik, and Komunitas Seni Sablon Opptima. This activity was conducted in July-August 2024 involving coaching activities and innovation in the development of dance movements, gending or accompaniments, and dance costumes. The methods used in the implementation of this activity were demonstrations, lectures, and training. The result of this activity shows that the creation of new choreographic compositions, accompanying music, and fashion design ultimately enhance the quality of performances in Kembaran Village.
Pelatihan Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di Desa Kembaran, Candimulyo, Magelang, Jawa Tengah Prasetyorini, Arjuni; Sukanadi, I Made; Vania, Venawa
Jurnal Pengabdian Seni Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v5i2.13898

Abstract

Desa Kembaran adalah desa dengan sentra durian yang banyak dikunjungi oleh pengunjung yang menjadi kuliner durian. Namun, Desa Kembaran belum memiliki satu seni pertunjukan yang sesuai untuk disuguhkan kepada para pengunjung. Hal tersebut merupakan satu masalah yang perlu dipecahkan. Demikian juga, belum begitu banyak aktivitas pelatihan dan pementasan yang dilakukan di desa tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memecahkan persoalan-persoalan yang ada di komunitas seni di Desa Kembaran.  Pembinaan dan pengembangan potensi seni tradisi di masyarakat diharapkan dapat membuka peluang, mengembangkan, dan mewujudkan suatu bentuk seni pertunjukan khas Desa Kembaran yang dapat disuguhkan.  Kelompok seni yang menjadi sasaran pembinaan adalah Komunitas Swara Laras Budaya, Komunitas Seni  Warokan, Komunitas Jathilan Turangga Seta Karumpaka Putri, Komunitas Jathilan Turangga Seta Karumpaka Putra, Komunitas Batik Elok Sejati, dan Komunitas Seni Sablon Pemuda Opptima. Kegiatan ini  berlangsung pada Juli-Agustus 2024 yang mencakup kegiatan pengembangan dan kreasi inovasi dalam pengembangan gerak tari, gending atau lagu, dan kostum tari. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini meliputi demonstrasi, ceramah, dan pelatihan. Hasil dari kegiatan ini mencakup pembuatan komposisi koreografi baru, musik pengiring,dan tata busana, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pertunjukan di Desa Kembaran. Kembaran Village is a distinguished village with its Durian production, inviting many visitors to visit this place. However, Kembaran Village does not have a performing art that is suitable to be presented to visitors as there have not been many training and staging activities carried out in the village. This program aims to develop the existence of both performing and visual art in Kembaran Village.  The development of the potential of traditional arts in the community is expected to open up opportunities and realize a typical form of performing arts in Kembaran Village.  The targeted participants of this program are several art groups in the village, such as Komunitas Swara Laras Budaya, Komunitas Seni Warokan, Komunitas Jathilan Turonggo Seta Karumpaka Putri, Komunitas Jathilan Turangga Seta Karumpaka Putra, Komunitas Elok Sejati Batik, and Komunitas Seni Sablon Opptima. This activity was conducted in July-August 2024 involving coaching activities and innovation in the development of dance movements, gending or accompaniments, and dance costumes. The methods used in the implementation of this activity were demonstrations, lectures, and training. The result of this activity shows that the creation of new choreographic compositions, accompanying music, and fashion design ultimately enhance the quality of performances in Kembaran Village.