Galih Suci Manganti
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

I WILL SURVIVE: PERWUJUDAN ADAPTASI DI MASA PANDEMI MELALUI KARYA TARI VIDEO Galih Suci Manganti
Joged Vol 18, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v17i2.6348

Abstract

ABSTRAK“I Will Survive” adalah sebuah karya tari video yang merupakan gambaran upaya seseorang beradaptasi di masa pandemi. Saat ini dunia sedang menghadapi masalah besar. Munculnya wabah penyakit yang disebabkan oleh virus, yaitu virus corona yang akrab disebut dengan covid 19. Dampak pandemi terhadap perekonomian sungguh sangatlah besar, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Banyak yang diberhentikan dari pekerjaan, kehilangan lapak pekerjaan ataupun menjadi banting setir ke usaha lainnya. Kondisi krisis yang sedang melanda dijadikan momentum untuk berkarya yang melahirkan estetika baru. Peristiwa pandemi Covid-19 mendorong munculnya karya-karya virtual para seniman. Koreografer berupaya untuk mencoba dan mengeksplorasi pembuatan karya tari video yang tentunya mempunyai tantangan dan tahap tersendiri dalam proses pembuatannya. Sehingga karya ini merupakan wujud eksperimentasi bagi koreografer dalam merespon kondisi sosial saat ini dalam bentuk karya video atau tari video. Pembuatan karya yang berjudul “I Will Survive” ini mencoba menerapkan teknik pembuatan tari video berdasar step yang digunakan oleh Katrina McPherson dalam bukunya yang berjudul Making Video Dance. Karya ini merupakan karya tari video dengan durasi 7 menit. Melalui karya ini, koreografer berharap agar penonton dapat terinspirasi untuk tetap survive, aktif dan produktif di masa pandemi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.ABSTRACT"I Will Survive" is a video dance work that is a picture of a person's efforts to adapt in times of pandemic. The world is facing a big problem right now. The emergence of disease outbreaks caused by viruses, namely the corona virus that is familiarly called covid 19. The impact of pandemics on the economy is huge, especially for the lower middle class. Many are dismissed from work, lose their jobs or become slammed to other businesses. The condition of the crisis that is being hit is used as a momentum for work that gives birth to a new aesthetic. The Covid-19 pandemic event prompted the emergence of virtual works by artists. Choreographers strive to try and explore the creation of video dance works that certainly have their own challenges and stages in the manufacturing process. So this work is a form of experimentation for choreographers in response to current social conditions in the form of video works or video dance. The creation of the work entitled "I Will Survive" tried to apply the technique of making step-based video dance used by Katrina McPherson in her book entitled Making Video Dance. This work is a video dance work with a duration of 7 minutes. Through this work, the choreographer hopes that audiences can be inspired to survive, be active and productive in pandemic times while adhering to health protocols.
Tari Nenemo Sebagai Identitas Masyarakat Kabupaten Tulang Bawang Barat Fransiska Ria Mariska; Rina Martiara; Galih Suci Manganti; Tutik Winarti
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 19, No 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v19i1.16623

Abstract

Tari Nenemo, yang dipersembahkan sejak 2016 di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, merupakan sebuah representasi identitas yang dirancang oleh pemerintah daerah sebagai fondasi jati diri dan pembangunan masyarakat wilayah pemekaran baru. Tarian ini menyatukan keberagaman budaya, aktivitas keseharian, serta filosofi hidup yang mendalam nilai kerja keras ("nemen"), pantang menyerah ("nedes"), dan keikhlasan ("nerimo") yang berakar dari kearifan lokal Piil Pesenggiri. Sebagai respons terhadap dinamika sosio-politik pasca pemekaran, Tari Nenemo diharapkan mampu merefleksikan serta mengangkat karakteristik khas masyarakat Tulang Bawang Barat, terutama di tengah dominasi penduduk transmigran, dengan usaha pelestarian dan sosialisasi budaya sebagai upaya mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi mendatang. Penelitian terkait berfokus pada pengungkapan makna dan elemen simbolik dalam tarian ini guna memahami kesesuaiannya dengan konteks sosial budaya lokal, meskipun kajian mendalam menggunakan lensa semiotika Charles Sanders Peirce masih belum banyak dilakukan. Literatur dan studi sebelumnya yang memaparkan proses penciptaan, penyajian, serta aspek musikalitas pendamping Tari Nenemo, bersama dengan referensi mengenai identitas kultural Lampung, memberikan gambaran bahwa setiap unsur pertunjukan mulai dari gerakan, ekspresi, kostum, dan properti berperan tak hanya sebagai elemen estetis, melainkan juga sebagai cerminan falsafah hidup dan dinamika sosial yang otentik, sehingga tarian ini menjadi simbol identitas yang kuat di tengah arus modernisasi. 
Srikandi Sebagai Inspirasi Dalam Penggarapan karya Hrusangkali Kandi oleh Pragina Gong Galih Suci Manganti
Dance and Theatre Review Vol 7, No 2: November 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v7i2.14206

Abstract

Hrusangkali Kandi adalah karya tari kreasi yang diciptakan oleh Pragina Gong, sebuah komunitas tari di Yogyakarta yang telah lama berkreasi dan aktif dalam seni pertunjukan di Yogyakarta. Tarian ini mengangkat tentang Srikandi sebagai konsep penggarapannya. Karakter dari sosok Srikandi yang gagah berani dan berwibawa sebagai salah satu sosok prajurit wanita digarap sebagai ide inspirasi dalam penciptaan karyanya. Tarian ini merupakan tarian kelompok, dan .Srikandi dalam tarian ini digambarkan sebagai sosok yang tangguh dan ahli memanah. Alur yang disampaikan lebih menekankan pada karakter ksatria dari sosok Srikandi itu sendiri.Kata kunci: Srikandi , Inspirasi, koreografi, ksatria.
Ngayah Topeng Sidhakarya: Spirit Pengabdian melalui Bhakti dan Karma Marga I Wayan Dana; Agustin Anggraeni; Galih Suci Manganti
Dance and Theatre Review Vol 8, No 1: May 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v8i1.12993

Abstract

Ngayah adalah tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Bali sebagai kewajiban sosial dalam menerapkan ajaran bhakti dan karma marga.bhakti marga merupakan jalan penyerahan diri, patuh dan setia kepada Sang Pencipta (Tuhan). Karma marga melalukan jalan dengan perbuatan, bekerja tanpa pamrih. Topeng Sidhakartya merupakan salah satu genre seni pertunjukan topeng Bali yang disajikan sebagai bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan yadnya (korban suci). Tujuan penelitian ini ingin mengetahui bahwa para seniman Bali melaksanakan profesinya dengan jalan penyerahan diri dan berbuat atau berkarya sepenuhnya sebagai spirit pengabdian yang tulus ikhlas kepada Sang pencipta alam semesta dengan menyajikan Topeng Sidhakarya. Topeng Sidhakarya sesuai namanya, topeng ini yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan sebuah yadnya, dengan hadirnya topeng ini menadakan bahwa karya atau kerja menjadi sidha (selesai) dengan sempurna. Metode yang digunakan metode penelitian kualitatif yang pelaksanaannya lebih mengarah pada pengumpulan data melalui observasi secara langsung di lapangan. Hasil yang diharapkan bahwa profesi sebagai penari, khususnya Topeng Sidhakarya adalah untuk ngayah (mengabdi) berkaitan dengan persembahan yang tulus ikhlas (bhakti dan karma marga) kepada Sang Pencipta.