Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Forum Arkeologi

SUMBER DAYA ALAM SEBAGAI MEDIA LITERASI DI BALI I Nyoman Rema; Ida Bagus Rai Putra
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1404.029 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.462

Abstract

Bali has an abundant cultural heritage, one of which is a literary culture of ancient manuscripts, written on media taken from nature, preserved, shaped, to a script. The purpose of this research is to understand the utilization of natural resources as media literacy in Bali. The data of this research were collected through direct observation, interview, and literature study. The result of this research is the utilization of biotic resources such as palm leaves, intaran tree bark, yam gadung, spices of isin rong wayah, coconut base bark, aubergine leaf, and candlenut. In addition to the utilization of biotic resources are also utilized abiotic resources such as clean water, sunlight, salt, wind and soot. Based on the results of the analysis it can be seen that the media literacy in Bali is very dependent on nature, because this function will affect the environmental sustainability, and grow a sense of appreciation, then trying to create harmony to nature. Bali memiliki warisan budaya yang melimpah, salah satunya adalah budaya literasi berupa naskah kuno, ditulis pada media dari alam, diawetkan, dibentuk, hingga menjadi naskah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan sumber daya alam daun lontar dan prosesnya sebagai bahan pembuatan media literasi serta proses penulisan literasi di Bali. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian berupa pemanfaatan sumber daya biotik; daun lontar, kulit pohon intaran, ubi gadung, rempah-rempah yakni isin rong wayah, kulit pangkal pohon kelapa, daun terong, dan kemiri. Selain pemanfaatan sumber daya biotik juga dimanfaatkan sumber daya abiotik; air bersih, sinar matahari, garam, angin dan jelaga. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa media literasi di Bali sangat bergantung kepada alam, karena fungsi ini berdampak kepada kelestarian lingkungan, dan tumbuh rasa menghargai untuk menciptakan keharmonisan terhadap alam. Kata kunci: sumber daya alam, media literasi, bali.
MAKNA NIRVANA DALAM LONTAR KALPA BUDDHA I Nyoman Rema
Forum Arkeologi VOLUME 23, NOMOR 2, AGUSTUS 2010
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5508.641 KB) | DOI: 10.24832/fa.v23i2.262

Abstract

TINGGALAN ARKEOLOGI DI SEJUMLAH PURA DI DESA TEMUKUS KARANGASEM I Nyoman Rema
Forum Arkeologi VOLUME 23, NOMOR 1, APRIL 2010
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1729.636 KB) | DOI: 10.24832/fa.v23i1.221

Abstract

PENDEKATAN EKOLOGI DALAM PERMUKIMAN KUNO SITUS DORO MANTO I Nyoman Rema; nfn Syafrudin
Forum Arkeologi VOLUME 32, NOMOR 1, APRIL, 2019
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5182.104 KB) | DOI: 10.24832/fa.v32i1.557

Abstract

The Doro Manto site located in Hu’u District, Dompu Regency, West Nusa Tenggara. It has a perfected settlement culture that needs to be revealed. This study aims to find out the ancient settlements at Doro Manto Site through traces that are still found today. This research is qualitative research with an ecological approach. The data of this study were collected through literature studies and direct observation at Doro Manto Site. After the data is collected, it is analyzed and concluded. The results of this study are in the form of the spread of pottery sherds and stone holes located at the top of Doro Manto; throne of ncuhi on the slope; stone shower, stone stairs, hollow stones with a platform above it, grave with a cover in the form of a large stone and ‘batu gong’ as grave goods. There are also findings of ceramics and Chinese coin at the base of Doro Manto; rice fields and rivers downstream. Based on the results of these studies it can be seen that the Doro Manto Site is an ancient settlement site that utilizes high hills, with the application of local genius leka dana. Situs Doro Manto terletak di Kecamatan Hu,u, Kabupaten Dompu, Nusa Tengara Barat, memiliki budaya permukiman yang adiluhung yang perlu diungkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permukiman kuno yang ada di Situs Doro Manto melalui jejak-jejak yang masih ditemukan saat ini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan ekologi. Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi pustaka dan observasi langsung di Situs Doro Manto. Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis dan disimpulkan. Hasil penelitian ini berupa sebaran kereweng dan lubang-lubang batu yang terletak di puncak Doro Manto; tahta ncuhi di lereng; pancuran batu, batu tangga, batu berlubang dengan tonjolan di atasnya, kubur dengan penutup berupa batu besar dan batu gong dengan bekal kubur, terdapat pula temuan keramik dan uang kepeng di pangkal Doro Manto; areal persawahan dan sungai pada bagian hilir. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa Situs Doro Manto merupakan situs permukiman kuno masa ncuhi yang memanfaatkan bukit tinggi, dengan penerapan lokal genius leka dana.
PEMULIAAN DEWI SRI DALAM AKTIVITAS DOMESTIKASI PADI DI BALI I Wayan Sugita; I Wayan Suteja; I Nyoman Rema
Forum Arkeologi VOLUME 34, NOMOR 2, OKTOBER 2021
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/fa.v34i2.704

Abstract

The Balinese agricultural culture has existed since prehistoric times, with the advent of agriculture, especially rice domestication, as an important cultivation to date, gave rise to the myth of Dewi Sri. This study aims to studying the breeding of Dewi Sri in rice domestication activities in Bali, whose data sources were collected through field observations by observing archaeological remains in the form of worship media, lontar manuscripts and inscriptions. Besides being complemented by literature studies of various relevant journals, book and reports. This research has succeeded in revealing that the breeding of Dewi Sri in Bali is very unique, it can be seen from her mention of her local name, the worship media and its symbols are also influenced by Balinese local wisdom. Breeding is also carried out with prayers and ceremonies that are balanced with maintaining and caring for rice and rice field in order to achieve maximum results. Budaya agraris masyarakat Bali telah ada sejak masa prasejarah, dengan munculnya pertanian domestikasi padi sebagai budidaya penting hingga saat ini, memunculkan mitos Dewi Sri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemuliaan Dewi Sri dalam aktivitas domestikasi padi di Bali, yang sumber datanya dikumpulkan melalui observasi di lapangan dengan mengamati tinggalan arkeologi berupa media pemujaan, manuskrip lontar dan prasasti. Selain itu dilengkapi dengan studi pustaka terhadap berbagai jurnal, buku dan laporan yang relevan. Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa pemuliaan Dewi Sri di Bali sangat unik dapat dilihat dari penyebutan Dewi Sri dengan nama lokal, media pemujaan dan simbol-simbolnya juga dipengaruhi oleh kearifan lokal Bali. Pemuliaan juga dilakukan dengan doa dan upacara, diseimbangkan dengan memelihara dan merawat padi dan lahan persawahan, agar dapat mencapai hasil yang maksimal. 
RELIEF JAMBANGAN BUNGA DI PURA PUSEH KANGINAN CARANGSARI DESA CARANGSARI, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG STUDI ARKEOLOGI-RELIGI I Nyoman Rema
Forum Arkeologi VOLUME 25, NOMOR 2, AGUSTUS 2012
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.304 KB) | DOI: 10.24832/fa.v25i2.484

Abstract

In the temple of Puseh Kanginan there is building components one of which is a relief of vase fl owers. This relief is becoming very attractive to author because it resembles a relief of kalpataru which were found many at temples in Java, such as Prambanan and Borobudur. There are two problems raised in this study, namely the identity of relief of vase fl owers, and its meaning. This study uses two theories; they are theory of religion and cultural ecology theory. Those theories were used to reveal the religious aspects and the role of the relief in the hopes of its creators and the community to adapt and maintain the environment. The study was a qualitative research.The datawere collected by observation and literature study. Data were analyzed descriptively and qualitatively, with the process of data reduction, presentation of data, and drawing conclusions. In the fi nal stage after data analysis, it was conducted the presentation of data according to the problems. So it can be seen that the relief of fl ower vase at Pura Puseh Kanginan, Carangsari village, Petang District, Badung regency, in terms of its characteristics is the Kalpataru relief. Meaning contained in it is a symbol of life, the purity and balance of the universe. In addition, this tree is also known as the banyan tree, as well as a symbol of purity, which is used as a means of spiritual purifi cation ceremony in Bali (atma wedana). Di Pura Puseh Kanginan terdapat komponen bangunan salah satu diantaranya adalah relief jambangan bunga. Relief ini menjadi sangat menarik bagi penulis karena relief ini menyerupai relief kalpataru yang banyak terdapat pada candi di Jawa, seperti Prambanan dan Borobudur. Ada dua permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu mengenai identitas relief jambangan bunga tersebut, dan makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan dua teori yaitu teori religi dan teori ekologi budaya, yang digunakan untuk mengupas aspek religi dan peran relief tersebut dalam harapan masyarakat penciptanya dalam beradaptasi dan menjaga lingkungannya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif ; sumber data dikumpulkan secara observasi dan kepustakaan. Anaalisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif, dengan proses ; reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan. Pada tahap akhir setelah analisis data, dilakukan penyajian data, sesuai dengan permasalahan yang diajukan. Jadi dapat diketahui bahwa relief jambangan bunga yang terdapat di Pura Puseh Kanginan, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, dilihat dari segi ciri-cirinya adalah relief kalpataru. Makna yang terkandung di dalamnya adalah simbol kehidupan, kesucian dan keseimbangan alam semesta. Di samping itu pohon ini juga dikenal dengan banyan dan beringin, juga sebagai simbol kesucian, yang dipakai sebagai sarana upacara penyucian roh di Bali (atma wedana).