Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Hubungan antara Work From Home pada Bulan Maret Tahun 2020 dengan Angka Persalinan Aterm di Puskesmas Ibrahim Adjie Kiaracondong Bandung Yulia Nur Mulyani; Usep Abdullah Husin; Ferry Achmad Firdaus
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.573

Abstract

Abstract. Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) is a new disease that first appeared in Wuhan, China. Then Covid-19 by WHO was designated as a pandemic because it has spread to various parts of the world, one of which is in Indonesia. Covid-19 first entered Indonesia in March 2020, there was a spike in cases every day, so to prevent the spread and increase in Covid-19 cases, the government issued a policy, namely establishing Work From Home, which means that all activities were initially carried out outside the home. now done at home. One of the impacts of WFH is an increase in pregnancy rates. The purpose of this study was to determine whether or not there is a relationship between WFH and delivery rates by looking at the data on mothers giving birth before WFH on 29 November–3 January 2020 and after WFH on 29 November–3 January 2021 at the Ibrahim Adjie Kiaracondong Health Center, Bandung City. In this study, it was found that 117 mothers gave birth at term, 1 preterm and 1 postterm. The relationship between WFH and delivery rate was carried out using thetest Spearman. The normality test in this study showed that it was not normally distributed. The correlation coefficient on labor rates and WFH is 0.230, this number indicates that there is a relationship between the two variables but it is not strong. In the study, it was found that the number of deliveries after WFH decreased, this could happen because many mothers gave birth in midwives or other maternity services due to fear of contracting Covid-19 and the temporary cessation of family planning services. The conclusion of this study is that there is a relationship between WFH and the rate ofdelivery term at the Ibrahim Adjie Kiaracondong Public Health Center, Bandung City. Abstrak. Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit baru yang pertama kali muncul di Wuhan, China. Kemudian Covid-19 oleh WHO ditetapkan sebagai pandemi dikarenakan sudah menyebar ke berbagai belahan dunia salah satunya di Indonesia. Covid-19 pertama kali masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020, terjadi perlonjakan kasus setiap harinya sehingga untuk mencegah terjadinya penyebaran dan peningkatan kasus Covid-19 maka pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan yaitu menetapkan Work From Home, yang artinya segala aktivitas yang awalnya dilakukan di luar rumah kini dilakukan di dalam rumah. Dampak dari WFH salah satunya terjadi peningkatan angka kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui terdapat hubungan atau tidaknya antara WFH dengan angka persalinan dengan melihat data ibu bersalin sebelum WFH pada tanggal 29 November–3 Januari 2020 dan setelah WFH pada tanggal 29 November–3 Januari 2021 di Puskesmas Ibrahim Adjie Kiaracondong Kota Bandung. Pada penelitian ini didapatkan 117 ibu melahirkan aterm, 1 preterm dan 1 posterm. Hubungan WFH dengan angka persalinan dilakukan menggunakan uji spearman. Uji normalitas pada penelitian menunjukkan tidak terdistribusi normal. Koefisien korelasi pada angka persalinan dan WFH adalah 0.230, angka tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kedua variable namun kurang kuat. Pada penelitian didapatkan bahwa angka persalinan setelah WFH menurun, hal ini dapat terjadi dikarenakan banyak ibu melakukan persalinan di bidan atau layanan bersalin lainnya dikarenakan khawatir tertular Covid-19 serta adanya penghentian sementara pelayanan KB. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara WFH dengan angka persalinan aterm di Puskesmas Ibrahim Adjie Kiaracondong Kota Bandung.
Hubungan Tingkat Stres dengan Kecenderungan Mengonsumsi Alkohol pada Mahasiswa Universitas Swasta di Kecamatan Bandung Wetan Dimas Satrio Aji; Usep Abdullah Husin; Santun Bhekti Rahimah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10765

Abstract

Abstract. This literature study gathered previous studies to show the relationship between stress levels and alcohol tendencies. The results of this study showed a relationship between stress levels and the tendency to consume alcohol. Previous studies have revealed stress levels to be one of the factors in a person having a tendency to consume alcohol. That is, someone with a tendency to consume alcohol has a higher level of stress compared to people without a tendency to consume alcohol. This stress level has a role in lowering the neurotransmitter in the form of dopamine. Dopamine is what makes a sense of pleasure and calm so that a person becomes more confident. Abstrak. Studi literatur ini mengumpulkan berbagai studi sebelumnya untuk menunjukan mengenai hubungan tingkat stres dengan kecenderungan mengosumi alkohol. Hasil studi ini menunjukkan adanya hubungan tingkat stres dengan kecenderungan mengonsumsi alkohol. Penelitian-penelitian sebelumnya mengungkapkan tingkat stres menjadi salah satu faktor seseorang memiliki kecenderungan mengonsumsi alkohol. Artinya, seseorang dengan kecenderungan mengonsumsi alkohol memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa kecederungan mengonsumsi alkohol. Tingkat stres ini memiliki peran dalam menurunkan neurotransmitter berupa dopamin. Dopamin inilah yang membuat rasa senang dan tenang sehingga seseorang menjadi lebih percaya diri.
Hubungan Kadar D-dimer dengan Penyakit Cerebrovascular pada Pasien Covid-19 Ayyas Robbani; Santun Bhekti Rahimah; Usep Abdullah Husin
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10912

Abstract

Abstract. D-dimer is a potential screening tool for venous thromboembolism (VTE) in Coronavirus disease-19 (COVID-19) patients, and is based on D-dimer elevation. In severe cases of COVID-19, hypercoagulability can occur which causes thrombus formation, then results in blockage of blood vessels. When a blockage occurs in the brain, it can cause cerebrovascular disease. Cerebrovascular disease is one of the most common causes of COVID-19. This study aims to determine the relationship between increased D-dimer levels in COVID-19 patients with the incidence of Cerebrovascular disease. The study design used a cross sectional design, data obtained in the medical records of inpatients for the 2021-2022 period of the Al-Ihsan Regional General Hospital (RSUD) Bandung Regency. The sampling technique uses a total sampling of 188 samples that have met the inclusion and exclusion criteria. Research method of the relationship of D-dimer levels with the incidence of Cerebrovascular disease using the chi-square test. From the results of the study, it was found that COVID-19 patients at Al-Ihsan Hospital who experienced increased levels of D-dimer (≥500 ng / ml) as many as 152 patients (80.9%) and patients with cerebrovascular disease as many as 34 patients (18.1%). Based on the chi-square test, it can be concluded that there is no relationship between D-dimer levels and the incidence of cerebrovascular disease at Al-Ihsan Hospital, Bandung Regency for the 2021-2022 period. Elevated D-dimer levels in COVID-19 patients are not associated with cerebrovascular disease. Abstrak. D-dimer adalah alat skrining potensial untuk venous thromboembolism (VTE) pada pasien Coronavirus disease-19 (COVID-19), dan berdasarkan elevasi D-dimer. Pada kasus COVID-19 yang parah dapat terjadi hiperkoagulabilitas yang menyebabkan pembentukan thrombus, kemudian mengakibatkan penyumbatan pada pembuluh darah. Apabila penyumbatan terjadi di otak, dapat menyebabkan penyakit cerebrovascular. Penyakit Cerebrovascular merupakan salah satu penyebab paling umum COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peningkatan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 dengan kejadian penyakit Cerebrovascular. Rancangan penelitian menggunakan desain cross sectional, data diperoleh dalam rekam medik pasien rawat inap periode 2021-2022 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al-Ihsan Kabupaten Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 188 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Metode penelitian hubungan kadar D-dimer dengan kejadian penyakit Cerebrovascular menggunakan uji chi-square. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pasien COVID-19 di RSUD Al-Ihsan yang mengalami peningkatan kadar D-dimer (≥500 ng/ml) sebanyak 152 pasien (80,9%) dan pasien yang terjadi penyakit cerebrovascular sebanyak 34 pasien (18,1%). Berdasarkan uji chi-square dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar D-dimer dengan kejadian penyakit cerebrovascular di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung periode 2021-2022. Peningkatan kadar D-dimer pada pasien COVID-19 tidak berkaitan dengan penyakit cerebrovascular.
Hubungan Makan Larut Malam dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Kadar Lemak Tubuh Mochammad Zamzam Alfarizi; Mirasari Putri; Usep Abdullah Husin
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10968

Abstract

Abstract. This literature sutdy gathered various previous studies to show the relationship between late-night eating with body mass index (BMI) and body fat levels, the results of this study showed a relationship between late-night eating habits with body mass index (BMI) and body fat levels. Previous studies have revealed a mechanism between late-night eating habits and increased BMI and body fat levels. That is, someone with an eating disorder is more at risk for having a higher BMI and body fat levels compared to people without eating disorders. This late-night eating habit has a role in the circadian cycle that regulates several metabolic effects on the body, such as glucose metabolism, sleep cycles, diet, and fat synthesis. Abstrak. Studi literatur ini mengumpulkan berbagai studi sebelumnya untuk menunjukan mengenai hubungan makan larut malam dengan indeks massa tubuh (IMT) dan kadar lemak tubuh. hasil studi ini menunjukkan adanya hubungan yang dantara kebiasaan makan larut malam dengan indeks massa tubuh (IMT) dan kadar lemak tubuh. Penelitian-penelitian sebelumnya mengungkapkan mekanisme antara kebiasaan makan larut malam dengan peningkatan IMT dan kadar lemak tubuh. Artinya, seseorang dengan gangguan pola makan lebih beresiko untuk memiliki IMT dan kadar lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa gangguan pola makan. Kebiasaan makan larut malam ini memiliki peran dalam siklus sirkadian yang mengatur beberapa efek metabolik pada tubuh, seperti metabolisme glukosa, siklus tidur, pola makan, dan sintesis lemak.