Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ALI HASJMY : TOKOH MULTI DIMENSI DAN PENGGAGAS FAKULTAS DAKWAH PERTAMA DI INDONESIA Arifin Zain
At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam Vol 6, No 2 (2023): Jurnal At-Taujih
Publisher : Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dawah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/taujih.v6i2.21815

Abstract

Moehammad Ali Hasyim atau yang lebih dikenal dengan nama Ali Hasjmy merupakan salah seorang tokoh multi dimensi yang lahir dari Bumi Serambi Mekkah Aceh-Indonesia. Ketokohannya tidak hanya diakui di Aceh tapi juga di Indonesia bahkan di dunia terutama di negara-negara Melayu di Asia Tenggara. Ketokohannya dapat dilihat dari serangkaian ide, gagasan, pemikiran dan karya-karya yang tertuang dalam puluhan buku yang menginspirasi hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pemikiran, ide, gagasan  dan karya Ali Hajmy dalam bidang dakwah dan bagaimana ide serta gagasan tersebut diujudkan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan analisis kualitatif dengan pendekatan studi tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  Ali Hasjmy dapat dikatagorikan sebagai pemikiran dan tokoh dakwah di Aceh bahkan Indonesia. Hal ini ditandai dengan buku-bukunya tentang dakwah dan yang paling spektakuler adalah dengan mendirikan Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh yang saat ini dikenal dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry sebagai fakultas pertama di Indonesia.
Building Bridges, Not Walls: Navigating Inter-Religious Conflict Over Worship Spaces in Aceh Singkil, Indonesia Zain, Arifin; Maturidi, Maturidi
Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/rjsalb.v7i3.24254

Abstract

This study aims to identify the factors causing conflict, analyse conflict resolution methods, and determine the factors that hinder the resolution of conflicts related to the construction of houses of worship in Aceh Singkil District. The research employs a qualitative approach, collecting data through observation, interviews, and documentation studies. The findings reveal that inter-religious conflicts, particularly between Muslims and Christians, are triggered by the construction of houses of worship that do not comply with agreed-upon terms. The Aceh Singkil government has taken several steps to address these conflicts, such as socialising regulations, promoting mutual respect among religious adherents, conducting Focus Group Discussions (FGDs), and holding dialogues with conflicting parties. However, the resolution is hindered by factors like the binding nature of the 1979 Agreement, incomplete conflict resolution efforts, political issues, suboptimal performance of relevant institutions, and the fact that the clergy are not indigenous. This research provides valuable insights into the dynamics of inter-religious conflicts in Aceh Singkil, highlighting the complex interplay of social, political, and legal factors in conflict resolution.