Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pemberitaan Klarifikasi Isu Jokowi Partai Komunis Indonesia Pada Media Online Tempo.Co Robiatul Adawiyah; Fita Fathurokhmah
Jurnal Studi Jurnalistik Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Studi Jurnalistik
Publisher : Fidikom UIN Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jsj.v3i1.20053

Abstract

Isu Jokowi anggota Partai Komunis Indonesia kembali muncul menjelang kontestasi pemilihan Presiden 2019. Isu ini menyebar setelah beredarnya foto di media sosial yang  menampilkan Jokowi berada di podium bersama Ketua PKI D.N. Aidit yang sedang berpidato pada 1955. Terkait isu tersebut, Jokowi gencar melakukan klarifikasi di berbagai kesempatan, dan Tempo.co termasuk media online yang aktif memberitakan klarifikasi isu terkait Jokowi PKI. Artikel ini menjelaskan bagaimana Tempo.co membingkai pemberitaan klarifikasi isu Jokowi PKI. Penelitian ini menggunakan analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Model framing menggunakan empat unsur dalam membedah teks yaitu, sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pemberitaan klarifikasi isu Jokowi Partai Komunis Indonesia, Tempo.co mencoba “menggiring” opini publik agar sependapat dengan Tempo.co yang juga sepenuhnya sependapat dengan Jokowi. Ini terlihat dari salah satu pemberitaannya yang sepenuhnya memuat pernyataan Jokowi terkait tuduhan yang menimpa dirinya. Dari elemen kutipan sumber, tampak jelas bahwa Tempo.co condong kepada Jokowi dengan hanya memasukkan orang-orang atau narasumber yang bersimpati dan mendukung Jokowi.
ENCOUNTER OF ISLAMIC IDEOLOGY RADICALISM ABOUT HOMOSEXUAL DISCOURSE IN REPUBLIKA AND TEMPO NEWSPAPER Fita Fathurokhmah
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Vol 5, No 3 (2015): JPPKI
Publisher : Puslitbang Literasi dan Profesi SDM Komunikasi dan Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The clash of Islamis of media ideologies related to Islamic radicalism in covering homosexual as the society major problem. How does media constructs texts in discoursing homosexual, what factors do influence, how socio-cultural factors influence the discourse, discoursing process of such reality. In the level of text analysis, occupies framing analysis from Robert Ethmen. Text production, consumption, socio-cultural, uses Ideology of media theory Louis Althuser. Multilevel analysis used is critical discourse analysis Norman Fairclough. Qualitative approach with a critical paradigm that describes the observed reality behind reality that does not appear in the newspapers. Conclusions: There are differences Republika and Koran Tempo presenting a discoursing of homosexual. Republika newspaper has practice dominated and power with ideology of Islamic radicalism by preaching that refers to the Islamic fatwa, news of FPI violence as a form of disagreement with the understanding homosexual, porn movies circulation. The newspaper stated that homosexuality was banned religion and need to be confronted in order not to spread in the community. Homosexuals as a despicable act, distorted, need therapy, medical healing. Koran Tempo was directing the reader to the radicalism of thought in Islam that the Homosexual rights of every individual who needs to be respected while forbidden in Islam. Koran Tempo steers and influences the reader so that people pick the renewal of thought with respect homosexuals as quoted in the news of the JIL. The media ideology of Islamic radicalism about homosexuals affects the production and consumption process. Staff production and journalists adhering to different ideologies both of these media. Socio-cultural practices affect the homosexual discourse. President Susilo Bambang Yudhoyono is implement democratization, respect for differences of opinion, then Homosexual controversy in Indonesia, he acted accommodate all public opinion and ultimately reports in the media, SBY is not too intervene as President he only called on the media to cover both side of doing. Key words: Media ideology, Discourse, Islamic Radicalism, Homosexual 
KOMUNIKASI KOMUNITAS VIRTUAL DAN GAYA HIDUP GLOBAL KAUM REMAJA GAY DI MEDIA SOSIAL Fita Fathurokhmah
Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan Vol 23, No 1 (2019): Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dakwah.v23i1.13924

Abstract

AbstractThis study will examine how the virtual community communication is carried out by gay teenagers on Grindr social media. Why is the youth gay community using the Grindr app as a communication tool? What social effects arise from the Grindr application's virtual community communication? This article used Lori Kendall's theory of community and the Internet, that discuss the emergence of social relationships that are mediated by communication via the internet. The findings of this study explain that the characteristics of virtual community communication rise a community that is speech, discourse and practice in nature. These three forms of gay virtual community communication among adolescents cannot be separated because each form has characteristics and is a stage in forming a community.  AbstrakPenelitian ini akan mencermati bagaimana komunikasi komunitas virtual dilakukan kaum gay remaja di media sosial Grindr. Mengapa komunitas gay remaja menggunakan aplikasi Grindr sebagai alat komunikasi? Efek sosial seperti apa yang muncul dari komunikasi komunitas virtual aplikasi Grindr? Artikel ini menggunakan teori community dan internet dari Lori Kendall, yang membahas mengenai munculnya hubungan sosial yang dimediasi oleh komunikasi melalui internet. Temuan kajian ini menjelaskan bahwa karakteristik komunikasi komunitas virtual tersebut memunculkan suatu komunitas yang sifatnya speech, discourse dan practice. Ketiga bentuk komunikasi komunitas virtual Gay di kalangan remaja ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena masing-masing mempunyai karakteristik dan merupakan tahapan dalam membentuk komunitas.  
IDEOLOGI RADIKALISME DALAM ISLAM TENTANG WACANA HOMOSEKSUAL DI MEDIA MASSA Fita Fathurokhmah
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.893 KB) | DOI: 10.18326/inject.v3i2.193-212

Abstract

This article wants to examine how the media ideology about the concept of radicalism in Islam in the mass media of Republika and Koran Tempo. The Republika newspaper supports and agrees to the Islamic Defenders Front (FPI) both with an understanding of the prohibition of homosexuality and the appointment of news of FPI's violence against homosexuals. The Tempo newspaper is more about renewing ideas such as reporting on the views of the Liberal Islam Network (JIL) in respect of homosexuals. Homosexuality is the same sex lover or the choice of sexuality abnormalities is normal as a human being, it does not need to be criticized but must be respected as individual freedom. There is a fundamental ideological difference between Republika and Koran Tempo by renewing the concept of homosexuality with thinking radicalism on the basis of Islamic teachings. The homosexual issue, FPI applies the meaning of Islamic radicalism from the right-wing side which promotes violence as resistance, while JIL applies the meaning of radicalism from the left-wing side which prioritizes the radicalism of thought and law in the Koran.  AbstrakArtikel ini ingin mengkaji bagaimana ideologi media tentang konsep radikalisme dalam Islam di media massa Republika dan Koran Tempo. Surat kabar Republika mendukung dan setuju pada Front Pembela Islam (FPI) baik dengan pemahaman pelarangan homoseksual dan pengangkatan berita tindak kekerasan FPI melawan homoseksual. Koran Tempo lebih pada pembaharuan pemikiran seperti pemberitaan pandangan Jaringan Islam Liberal (JIL) terkait menghormatinya kaum homoseksual. Homoseksual adalah penyuka sesama jenis atau pilihan kelainan seksualitas itu normal sebagai manusia, tidak perlu dicela tapi harus dihargai sebagai kebebasan individu. Terdapat perbedaan ideologi yang mendasar antara Republika dan Koran Tempo dengan melakukan pembaharuan konsep homoseksual dengan radikalisme berpikir dengan pijakan ajaran Islam. Persoalan homoseksual, FPI menerapkan makna radikalisme Islam dari sisi sayap kanan yang mengedepankan kekerasan sebagai perlawanan, sedangkan JIL menerapkan makna radikalisme dari sisi sayap kiri yang mengutamakan keradikalan pemikiran dan hukum dalam al-Quran.
PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN DOSEN DAN MAHASISWA KPI TERHADAP DISINFORMASI DI MEDIA MASSA Fita Fathurokhmah
INTERAKSI PERADABAN: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 1, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.384 KB) | DOI: 10.15408/interaksi.v1i1.21118

Abstract

Hoax dan Fakes News termasuk disinformasi. Sebagian dosen memahami disinformasi dan sebagian kurang memahami disinformasi di Media Massa. Bagaimana menghadapi krisis ini? Apalagi sebagian mahasiswa KPI kurang tahu dan kurang bisa membedakan antara informasi bohong, Hoax, berita palsu atau Fake News dan disinformasi. Dosen dan mahasiswa sebagai pembaca virtual sebaiknya bisa membedakan Fake News dan Hoax dan mengetahui penyebaranjauh lebih cepat daripada berita yang akurat dan cover both sides. Pertanyaan penelitian; 1) Bagaimana dosen KPI dan mahasiswa KPI FIDIKOM UIN Jakarta memahami, menyikapi, dan menghadapi Disinformasi sebagai pembaca media massa? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Paradigma konstruktivisme mendalami pemahaman, sikap, dan tindakan pembaca media massa ketika mereka menemui berita bohong, palsu, dan fakes news. Subjek penelitian adalah tiga dosen dan tiga mahasiswa KPI dengan metode FGD dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman satu dosen dan satu mahasiswa yang pernah mengikuti workshop tentang disinformasi lebih bisa memahami istilahnya, menyikapi dengan tenang, dan menghadapinya lebih profesional. Sedangkan satu dosen dan satu mahasiswa mencari tahu sendiri, mereka agak ragu dan bingung antara hoax, berita palsu, dan fake news.Sedangkan satu dosen dan satu mahasiswa kurang pengetahuan, tidak menyikapi atau kurang peduli terhadap tersebut dan mereka tidak mencari tahu, apalagi menyikapi, dan menghadapi disinformasi tersebut. Mereka hanya membaca komentar orang lain saja tanpa komentar karena mereka tidak tahu. Jadi mereka tidak tahu dan berupaya untuk tidak komentar. Namun mereka tahu dan mereka akan memberikan fakta baru. Kontribusi penelitian ini memperkaya dakwah bil hal bagi yang sudah memahami disinformasi, tidak membiarkan orang lain yang sedang ragu dan bingung. Dakwah bil qalam bagi yang tahu. Metode Dakwah bil hikmah menganjurkan diam bila kita tidak tahu permasalahannya dan tidak memiliki fakta.
POLA KOMUNIKASI PERSUASIF PEMROSESAN INFORMASI DALAM FENOMENA AKTIVITAS DAKWAH KOMUNITAS TERANG JAKARTA Dwi Arini Yuliarti; Tantan Hermansah; Fita Fathurokhmah
Virtu: Jurnal Kajian Komunikasi, Budaya dan Islam Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/virtu.v2i1.25505

Abstract

Dakwah sebagai gerakan moral bertujuan mengubah akhlak tercela menjadi akhlak yang mulia. Metode dakwah yang bersifat konservatif, saat ini kurang relevan lagi dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat yang selalu berkembang. Studi ini ingin menjawab “bagaimana pola komunikasi persuasif pemrosesan informasi dalam fenomena aktivitas dakwah komunitas Terang Jakarta”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Selain itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan fenomenologi yang merupakan upaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah individu, tentang suatu konsep atau gejala. Sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Komunikasi Persuasif dan Fenomenologi Alfred Schutz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan formula komunikasi persuasif aktivitas dakwah yang dijalankan oleh komunitas Terang Jakarta baik dari program-program, pendekatan, hingga materi dakwah disesuaikan dengan realitas sosial komunitas tersebut dan bersifat subtantif. Aktivitas dakwah tersebut mencerminkan formula komunikasi persuasif  melalui lima tahapan yang diformulasikan dalam AIDDA. Pertama, Attention (perhatian) yakni dengan mengatur gaya busana dan bahasa Da’I menyesuaikan dengan sasaran dakwahnya. Mengangkat topik-topik kajian mengikuti trend dan gaya hidup yang sedang berkembang di kalangan anak muda serta menggunakan bahasa inggris dan bahasa khas anak muda. Kedua, Inters (minat) yakni dengan mendesain kajian keagamaan yang terkesan santai dan tidak kaku serta menciptakan support system dalam komunitas. Ketiga, Desire(hasrat) yakni dengan memberikan wadah berbagi pengalaman untuk menumbuhkan hasrat berbagi dan meringankan masalah yang dihadapi oleh jamaah. Keempat, Decision (keputusan) yakni dengan mengarahkan jamaah untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan merubah mindset jamaah. Kelima, Action (tindakan) yakni perubahan jamaah dari segi perilaku dan kebiasaan hingga harapan di masa datang. Dengan mengedepankan akhlak dan adab, komunitas Terang Jakarta fokus pada perbaikan akhlak para jamaahnya. 
LANSKAP DINAMIKA KEKUASAAN INDUSTRI MEDIA DI INDONESIA: PERSPEKTIF POLITIK DAN EKONOMI Fita Fathurokhmah
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 10, No 1 (2021): Jurnal Ilmu Komunikasi (JKMS)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35967/jkms.v10i1.7456

Abstract

Androcentrism Inequality between Men and Women in the Film 'Moxie' Fathurokhmah, Fita; Aini, Sari Khurul; Fitriadi
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/komunika.v18i2.10709

Abstract

The Film 'Moxie' raises the issue of gender inequality between men and women. This film depicts teenage girls who dare to rebel against the inequality of androcentrism towards women and fight for gender equality in their school, which is still biased towards male norms. This research question concerns the critical discourse on the inequality of androcentrism between men and women in the Film 'Moxie'. What are the subject and object of the story? Betty Friedan's feminist theory uses the concept of androgyny as a reference because of the similarity in roles between men and women. Sara Mills' critical discourse analysis research method focuses on how women are presented in the text and divided based on the subject-object of the story and the viewer's position related to the issue of androcentrism inequality: critical research paradigm and qualitative descriptive approach. The results of these findings are, first, the inequality of androcentrism between men and women in this film, namely the presence of Misogyny, namely hatred and dislike of women, negative stereotypes, and double standards. Second, in the Film 'Moxie', the subject position of the story is Vivian, and the object position of the story is Vivian's female and male friends at Rockport High School and Principal Shelly. The viewer is positioned as the woman. Androcentrism means male-centered. Androcentrism refers to the pattern that everything related to men is the general guideline, while everything related to women is only an exception. The theoretical implications of this research strengthen the concept of androgyny and criticize the inequality of androcentrism for showing the distribution of equal roles in masculine and feminine characters simultaneously at various levels of life.
Dynamics of Communication Networks of Religious Educational Institutions and Broadcast Media in the Creative Industry Fathurokhmah, Fita; Pratiwi, Ellya
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 9 No. 1 (2025): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v9i1.44822

Abstract

This study analyzes the dynamics of the communication network between the Islamic Communication and Broadcasting Study Program (KPI) of the Faculty of Da'wah and Communication Sciences, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, and broadcasting media institutions, and identifies the obstacles faced in dealing with the creative industry. This study uses a qualitative approach. Data collection techniques include in-depth interviews and documentation. Data were analyzed using Rogers & Kincaid's communication network theory. The results of the study show that the communication network between the KPI Study Program and the broadcasting industry is still hierarchical, with a chain communication pattern that limits the flow of information and direct access of students to the industry. The main obstacles found include minimal opportunities for field practice, limited internship quotas, and a lack of industry involvement in developing a curriculum based on market needs. In addition, the formal cooperation that has been established between the Islamic Communication and Broadcasting Study Program and the broadcasting industry is still not optimal in creating a flexible and responsive communication system to the development of digital technology. This study recommends strengthening the academic-industry communication strategy through the development of more open communication patterns, such as star communication patterns, in order to increase direct interaction between students, lecturers, and the broadcasting industry. This effort is expected to strengthen the role of the KPI Study Program in producing graduates who are adaptive, innovative, and ready to compete in the creative and broadcasting industries.
PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN DOSEN DAN MAHASISWA KPI TERHADAP DISINFORMASI DI MEDIA MASSA Fathurokhmah, Fita
INTERAKSI PERADABAN: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Program Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/interaksi.v1i1.21118

Abstract

Hoax dan Fakes News termasuk disinformasi. Sebagian dosen memahami disinformasi dan sebagian kurang memahami disinformasi di Media Massa. Bagaimana menghadapi krisis ini? Apalagi sebagian mahasiswa KPI kurang tahu dan kurang bisa membedakan antara informasi bohong, Hoax, berita palsu atau Fake News dan disinformasi. Dosen dan mahasiswa sebagai pembaca virtual sebaiknya bisa membedakan Fake News dan Hoax dan mengetahui penyebaranjauh lebih cepat daripada berita yang akurat dan cover both sides. Pertanyaan penelitian; 1) Bagaimana dosen KPI dan mahasiswa KPI FIDIKOM UIN Jakarta memahami, menyikapi, dan menghadapi Disinformasi sebagai pembaca media massa? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Paradigma konstruktivisme mendalami pemahaman, sikap, dan tindakan pembaca media massa ketika mereka menemui berita bohong, palsu, dan fakes news. Subjek penelitian adalah tiga dosen dan tiga mahasiswa KPI dengan metode FGD dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman satu dosen dan satu mahasiswa yang pernah mengikuti workshop tentang disinformasi lebih bisa memahami istilahnya, menyikapi dengan tenang, dan menghadapinya lebih profesional. Sedangkan satu dosen dan satu mahasiswa mencari tahu sendiri, mereka agak ragu dan bingung antara hoax, berita palsu, dan fake news.Sedangkan satu dosen dan satu mahasiswa kurang pengetahuan, tidak menyikapi atau kurang peduli terhadap tersebut dan mereka tidak mencari tahu, apalagi menyikapi, dan menghadapi disinformasi tersebut. Mereka hanya membaca komentar orang lain saja tanpa komentar karena mereka tidak tahu. Jadi mereka tidak tahu dan berupaya untuk tidak komentar. Namun mereka tahu dan mereka akan memberikan fakta baru. Kontribusi penelitian ini memperkaya dakwah bil hal bagi yang sudah memahami disinformasi, tidak membiarkan orang lain yang sedang ragu dan bingung. Dakwah bil qalam bagi yang tahu. Metode Dakwah bil hikmah menganjurkan diam bila kita tidak tahu permasalahannya dan tidak memiliki fakta.