Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGARUH WORKING CAPITAL TURNOVER DAN RETURN ON ASSET TERHADAP FINANCIAL DISTRESS(Studi Pada Perusahaan Subsektor Keramik Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2019 – 2023) Muammar Basri; Ratna Dumilah
JURNAL KONSISTEN Vol 2 No 1 (2025): JURNAL KONSISTEN VOL. 2 NO.1 2025
Publisher : Yayasan Sahabat Cendekia Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel Working Capital Turnover dan Return On Asset Terhadap Financial Distress (Studi Pada Perusahaan Subsektor Keramik Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2019 – 2023). Metode. Penelitian ini berjenis kuantitatif. Teknik Analisa data yang digunakan yaitu regresi data panel dengan time series 5 (lima) tahun yaitu periode 2019-2023 dan 7 (tujuh) Pada Perusahaan Subsektor Keramik. Sampel yang digunakan meliputi laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan (neraca) Pada Perusahaan Subsektor Keramik Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2019 – 2023. Teknik analisis data menggunakan regresi data panel. Hasil. Penelitian ini membuktikan bahwa hasil uji parsial (uji t). Working Capital Turnover diperoleh nilai thitung sebesar 0,142779 dengan signifikansi sebesar 0,89. Karena thitung < ttabel (0,142779 < 1,69389) dan nilai signifikansi > tingkat signifikan (0,89 > 0,05). Maka kesimpulannya adalah Working Capital Turnover tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap Financial Distress. Hasil penelitian untuk Return On Asset thitung > ttabel (3,816042 > 1,69389) dan nilai signifikansi < tingkat signifikan . (0,001 < 0.05). Maka kesimpulannya adalah Return On Asset berpengaruh dan Signifikan terhadap Financial Distress. Implikasi. Working Capital Turnover dan Return On Asset berpengaruh terhadap Financial Distress maka implikasinya terkait erat dengan efisiensi operasional perusahaan. WCT yang tinggi menunjukkan efisiensi dalam menggunakan modal kerja, meningkatkan likuiditas dan mengurangi risiko financial distress, sedangkan WCT yang rendah dapat menurunkan likuiditas dan memperburuk kewajiban jangka pendek. ROA yang tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset, memperkuat posisi keuangan dan mengurangi risiko financial distress, sementara ROA yang rendah mengindikasikan ketidakefisienan yang dapat menurunkan profitabilitas dan meningkatkan kesulitan finansial. Secara keseluruhan, perusahaan dengan WCT dan ROA yang tinggi lebih mampu menghindari financial distress.
PENGARUH CURRENT RATIO DAN DEBT TO EQUITY RATIO TERHADAP FINANCIAL DISTRESS PADA SUBSEKTOR APPAREL AND LUXURY GOODS YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE TAHUN 2019-2023 Dela Puspitasari; Ratna Dumilah
Accounting Journal of Ibrahimy (AJI) Vol 4 No 1 (2026): April
Publisher : Program Studi Akuntansi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas Ibrahimy Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/aji.v4i1.8074

Abstract

This study aims to investigate the influence of Current Ratio (CR) and Debt to Equity Ratio (DER) on financial distress. Utilizing a quantitative, descriptive associative method, the research collected 30 sample data from 6 purposively selected companies within the Apparel and Luxury Goods subsector listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2019-2023 period, drawn from a total population of 22 companies. Hypothesis testing was performed using panel data regression analysis with E-Views 12 software and a 5% confidence level. The findings indicate that CR and DER collectively influence financial distress (F-calculated 47.777715 > F-table 3.35, significance 0.000000 < 0.05), with an Adjusted R-squared of 91.68%, while the remaining 8.32% is influenced by other unexamined variables. Partially, CR shows a positive and significant influence (t-calculated 2.382174 > t-table, significance 0.0263 < 0.05), whereas DER exhibits a negative but not significant influence (t-calculated 0.891224 < t-table 2.051, significance 0.3825 > 0.05) on financial distress.