Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL PADA LUKISAN BOROBUDUR DAN BEDAYA KETAWANG, KARYA SRIHADI SOEDARSONO Dewi, Citra Smara
Jurnal Ilmiah Widya Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.255 KB)

Abstract

This study is based on representation of the values of local wisdom contained in the paintings Srihadi Sudarsono, especially on two phenomenal works that much as source of inspiration, namely Borobudur and Dance Bedaya Ketawang. The objective of this research is to identify the dimensions of the values of the local wisdom contained in the Srihadi Soedarsono’s paintings. This research is a qualitative research using literature review and analyzed descriptively with explorative approach. The results showed that: (1) an artist's social background with a very strong culture will affect the artistic process which is seen at the works of art produced (2) Representation of local values contained in the Srihadi’s paintings, representing the concept of representation, either individually or in groups, (3) The values of local wisdom in Srihadi’s paintings have values of local knowledge , local values and the local solidarity group dimensions.
SAMSON + DELILAH: PEMBACAAN ULANG KARYA RUBENS DALAM KONTEKS LIMINALITAS MELALUI PENDEKATAN FENOMENOLOGIS Anna Sungkar; Citra Smara Dewi; Moh. Rusnoto Susanto
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 10 No. 1 (2022): Liminalitas Dalam Seni
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v10i1.141

Abstract

Dalam dunia senirupa kita sering tak dapat membedakan antara zaman Renaisans dengan zaman Barok. Banyak pecinta seni yang terlalu berfokus hanya pada Michelangelo dan Leonardo da Vinci. Padahal di ujung dari periode Renaisans, yaitu di abad 17, telah muncul suatu angkatan pelukis yang mengembangkan gaya lukisnya sendiri dengan didasarkan pada pencapaian seniman di awal abad Renaisans. Salah satunya adalah pelukis Johannes Vermeer (1632-1675) dan Peter Paul Rubens (1577-1640). Karya-karya Rubens merepresentasikan kondisi transendensi antara realitas dan mitos dalam konteks liminalitas dalam seni. Artikel ini bertujuan membahas tentang karya-karya Paul Rubens dan pada bagian akhir akan membahas secara detail lukisan “Samson dan Delilah” dari Rubens dalam konteks liminalitas seni melalui pendekatan fenomenologi. Jenis penelitian yang digunakan deskriptif kwalitatif dengan perspektif historiografi dan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian ini menunjukan penggalan-pengalan penting kesejarahan karya Rubens yang berjudul Samson da Delilah menegaskan kembali berbagai kisah tersembunyi yang hidup dalam konteks waktu dan sejumlah kisah cinta yang dihayati. Munculnya penegasan mitos kesearahan lukisan Rubens ini diungkap dengan pendekatan fenomenologis sehingga terurai dengan detail melalui pembacaan tanda visual dan ekspresi visual yang hidup dalam medan kreatif yang menggambarkan fase liminalitas.
Peran Taman Ismail Marzuki terhadap Perkembangan Seni Rupa Kontemporer Indonesia: Kajian Peristiwa Pameran Seni Rupa Era 1970-an Citra Smara Dewi
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol 2 No 2 (2017): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 2 No. 2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3029.962 KB) | DOI: 10.52969/jsnc.v2i2.51

Abstract

Salah satu lembaga kebudayaan yang memegang peranan penting dalam pembentukan identitas kota Jakarta adalah Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM). PKJ TIM merupakan lembaga kebudayaan pertama yang lahir di Jakarta sesudah peristiwa politik G30S/PKI. Ditengah situasi politik dan perekonomian yang belum stabil kala itu, PKJ TIM menjelma menjadi wadah kesenian yang sangat dinamis dan demokratis, kondisi tersebut tak dapat dipisahkan dari kebijakan Gubernur Ali Sadikin yang menekankan pentingnya kebebasan ekspresi yaitu “seni untuk seni.” Tulisan ini akan mengkaji dua peristiwa penting yang terjadi di PKJ TIM era tahun 1970-an yaitu Pameran Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) 1975 dan Pameran Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) 1977. Dua peristiwa tersebut sangat penting karena merupakan momentum lahirnya Seni Rupa Kontemporer Indonesia.
Representasi Budaya Urban dalam Pendidikan Seni di LPKJ Era 1970-an Arturo Gunapriatna; Citra Smara Dewi
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 7 No 1
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v7i1.116

Abstract

Artikel ini akan memfokuskan pada kajian Lembaga Pendidikan Seni berbasis spirit Budaya Urban pada era 1970-an di kota Jakarta dengan studi kasus Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Pemilihan LPKJ dengan pertimbangan merupakan Lembaga Pendidikan Seni pertama di Indonesia dengan sistem pendidikan interdisiplin seni. Letak strategis LPKJ di pusat pemerintahan dan kebijakan Gubernur Prov DKI, Ali Sadikin dalam membangun peradaban Kota Jakarta, memberi pengaruh besar terhadap pembentukan karakter pendidikan dengan spirit budaya urban. Kebaruan riset ini terletak pada lingkup kajian yaitu peran LPKJ dalam meletakkan pondasi dan nilai-nilai seni berbasis spirit budaya urban yang belum dilakukan sebelumnya. Metodologi penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan penulisan sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil kajian menunjukkan bahwa representasi budaya urban tercermin pada karya-karya seni Dosen dan mahasiswa LPKJ, peran LPKJ sangat strategis dalam membangun seni berbasis budaya urban era 1970-an yang hingga kini masih sangat relevan dikaitkan dengan dinamika dan perubahan sosial masyarakat perkotaan.
REPRESENTASI BUDAYA URBAN PADA SKENOGRAFI TEATER KAJIAN : PEMENTASAN PESTA PARA PENCURI Edy Susanto; Junian R Siregar; Ery Ekawati; Dewi Hafianti; Citra Smara Dewi
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 11 No. 1 (2023): Multikulturalisme
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/jsrw.v11i1.179

Abstract

Artikel ilmiah ini fokus pada kajian karya Skenografi pada Pertunjukan Teater yang memiliki karakteristik budaya Urban. Pemilihan skenografi dengan pertimbangan bahwa fungsi skenografi adalah menunjukan identitas tempat terjadinya peristiwa. Keurbanan juga nampak pada peristiw yang terjadi di café tersebut, disamping itu kajian tentang scenografi yang fokus pada budaya urban masih sangat terbatas. Studi kasus kajian ini adalah pertunjukan teater berjudul Pesta Para Pencuri karya Jean Anouilh hasil adaptasi Rachman Sabur, yang mengangkat fenomena sosial abad 20. Kajian terdahulu dengan judul “Tata Artistik (Scenografi) dalam Pertunjukan Kesenian Tradisi Berbasis Kerakyatan” yang ditulis oleh Heny Purnomo, di vol. 2 No. 2 (Oktober): 2018; mengetengahkan bahwa berbagai tayangan hiburan berbasis industri seni popular, seperti tayangan media televisi, sudah didukung penataan artistik dengan teknologi canggih, sementara kesenian tradisi berbasis kerakyatan seperti pertunjukan ludruk Irama Budaya Surabaya, yang diselenggarakan di panggung proscenium sudah ketinggalan zaman dan tidak memberi keuntungan pasar. Caranya adalah dengan memanfaatkan dukungan penataan skenografi secara maksimal; sedangkan metode penelitian yang digunakan penulis pada penulisan jurnal ilmiah ini adalah kualitatif yang bersifat laporan deskriptif argumentatif. Hasil Kajian menunjukan, peran scenografi dalam pertunjukan teater ini sangat besar, baik  dalam representasi kehidupan kaum urban, memperkuat karakter  para aktor dan menegaskan makna sehingga pesan dan nilai yang hendak disampaikan menjadi semakin jelas ditangkap  penonton.  
Penguatan Multikulturalisme Menyongsong Ibu Kota Negara (IKN) Kajian Seni Rupa Kalimantan Timur era 2020-an Citra Smara Dewi
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v9i1.9422

Abstract

This study will focus on the development of East Kalimantan's fine arts, especially in dealing with the State Capital (IKN). One important aspect in building IKN is strengthening the values of multiculturalism as a cultural foundation. This study will focus on the works of East Kalimantan painters, which were created in 2022, through the Cloning Art Exhibition, Balikpapan 2022. This exhibition is very important because it represents the development of modern-contemporary art in East Kalimantan in the 2020s era, which emphasizes local potential both in the context of selecting themes with the spirit of glocalization and also the movement of dynamic expression. Studying the works of East Kalimantan Fine Arts is very important in an effort to identify the various potentials as well as obstacles faced by artists in facing IKN. The previous study was the Study of the Archipelago Art Exhibition, at GNI, Jakarta, 2001 – 2017. The novelty in this study, is more specifically to examine the works of art in East Kalimantan through an exhibition initiated by the local community in 2022. The spirit of ethnosymbolism becomes its own strength of works created by East Kalimantan artists. The method used is a historical approach: Heuristics, Criticism, Interpretation and Historiography, with material culture analysis. The results of the study show that cultural elements, such as symbols, mythology, memory, values, rituals, and traditions as the spirit of multiculturalism are seen in the works of East Kalimantan artists.Kajian ini berfokus pada perkembangan seni rupa Kalimantan Timur, khususnya dalam menghadapi Ibu Kota Negara (IKN). Salah satu aspek penting dalam membangun IKN adalah penguatan nilai-nilai multikulturalisme sebagai landasan kultural Kajian ini berfokus pada karya-karya pelukis Kalimantan Timur, yang diciptakan pada tahun 2022, melalui Pameran Cloning Art Exhibition, Balikpapan 2022.  Pameran ini menjadi sangat penting karena merupakan representasi perkembangan seni rupa modern-kontemporer Kalimantan Timur era 2020-an, yang mengedepankan potensi kelokalan baik dalam konteks pemilihan tema-tema dengan spirit glokalisasi dan juga gerak ekspresi dinamis. Mengkaji karya-karya Seni Rupa Kalimantan Timur, menjadi sangat penting dalam upaya menemukenali berbagai potensi sekaligus hambatan yang dihadapi seniman dalam menyongsong IKN. Kajian sebelumnya sebelumnya Kajian Tentang Pameran Seni Rupa Nusantara, di GNI,  Jakarta, Tahun 2001 – 2017. Kebaruan pada kajian ini, lebih spesifik mengkaji karya-karya seni rupa Kalimantan Timur melalui pameran yang digagas komunitas lokal pada tahun 2022. Semangat Etnosimbolisme menjadi kekuatan tersendiri dari karya-karya diciptakan seniman Kalimantan Timur. Metode yang digunakan yaitu pendekatan sejarah : Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi, dengan analisis material culture. Hasil kajian menunjukan bahwa elemen budaya, seperti simbol, mitologi, ingatan, nilai, ritual, dan tradisi sebagai spirit Multikulturalisme terlihat pada karya-karya perupa Kalimantan Timur.
CULTURAL POLICY AND THE RISE OF MULTICULTURALISM STUDY OF FINE ARTS EXHIBITION IN THE 2000s, THE NATIONAL GALLERY OF INDONESIA Dewi, Citra Smara
International Review of Humanities Studies Vol. 5, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study focuses on the role of cultural policy in the rise of multiculturalism with a case study of the Indonesian Art Exhibition, Pameran Seni Rupa Nusantara (PSRN) 2000s, which was initiated by a cultural institution, the National Gallery of Indonesia (GNI). PSRN exhibition is one of the important programs of GNI because it gives space to the artists of the archipelago - not just Java and Bali - to present works of modern-contemporary art rooted in local wisdom. As a nation that has the characteristics of pluralism, the spirit of multiculturalism in art has become very significant, especially in the middle of the Disruption era which is "full of uncertainty". This article uses qualitative research with a historical method approach: heuristics, verification, interpretation and historiography, namely the process of writing history based on proven facts. Material Culture analysis approach, shows how history may be read and interpreted through objects/ artefacts/findings used by artists in their works. The results show that the Cultural Policy implemented by GNI is a combination of cultural policies that are authoritarian with the cultural policies of the Command, with an emphasis on the strength of the Potential Localization owned by the Indonesian people.
Implementation of the BLU Policy at the National Gallery of Indonesia: Financing Model and Public–Private Partnership in Its Art Exhibitions 2024–2025 dewi, Citra Smara; Nurjadin, Indira Estiyanti; Adnyana, I Wayan; Ramadhana, Rizki Ayu
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 40 No 3 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v40i3.3230

Abstract

This study examines the management of the National Gallery of Indonesia (Galeri Nasional Indonesia/GNI) in its transition into a Public Service Agency (Badan Layanan Umum/BLU). GNI was selected for this study as a state cultural institution that holds both national and international art exhibitions, potentially playing a role as a benchmark of contemporary Indonesian art. The transformation marks a significant shift towards an entrepreneurial spirit in institutional performance, directly impacting the management of art exhibitions. The study aims to explain and analyze the implementation of the BLU policy in improving GNI’s management while identifying internal and external challenges and opportunities. This study's novelty lies in using two case studies—Lini Natalini Widhiasi: Infinity Yin and Yang (2024) and Arkiv Vilmansa: Semesta Arkiv (2025)—as representations of the BLU implementation in practice. It employs a descriptive qualitative method with the theoretical framework of institutional entrepreneurship. The findings indicate that the BLU policy stimulates GNI to develop a more collaborative, innovative, and entrepreneurship-oriented management, which should be further strengthened through public-private partnership strategies and diversified funding sources.