Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ADJEKTIF BAHASA ARAB DAN MELAYU - SATU ANALISIS KONTRASTIF Muhammad Hafizuddin Hussin; Maimun Aqsha Lubis
Jurnal Al-Fatih Vol 2 No 2 (2019): Al-Fatih: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 2 No. 2 Juli - Desember 2019
Publisher : STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Previous studies have shown that mastery of Malay students of Arabic Language is at a low and unsatisfactory level.Malay Students will not be able to get away from doing mistakes, especially during translation and understanding Arabic adjectives that have many differences and similarities. For example during translation, students will be confused about whether a word is an adjective or a noun. This is the factor that makes the researcher interested in doing the contrasting analysis. This study aims to identify the characteristics of Malay and Arabic adjectives, and to analyze their similarities and differences. The systematic analysis was then performed. The findings revealed that there are many similarities and differences that need to be known by educators of both languages ​​so that they are able to understand the problems and confusion faced by the students, especially those related to adjectives Malay and Arabic such as the sentence’s structure whereas adjectives should be. For example adjective in Malay can be predicate directly such as ‘Kucing itu comel’ but in Arabic there must be another word as predicate and adjective should be added later such as ‘القطّ حيوان جميل’ .It is also proven that the word ‘yang’ which means ‘that’ undeniably plays an important role in translating Malay-Arabic adjectives and avoiding confusion in translation for exmple ‘Itu seekor kucing yang comel, ذلك قطّ جميل so that it it will not be misunderstood as ‘Kucing itu comel, ذلك القطّ جميل ’.
THE EXISTENCE OF INTEGRATED ISLAMIC EDUCATION IN MALAYSIA Maimun Aqsha Lubis; Budi Sanjaya
INNOVATIO: Journal for Religious Innovations Studies Vol 22 No 1 (2022)
Publisher : Postgraduate Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/innovatio.v22i1.148

Abstract

The Philosophy of Integrated Education covers the whole of the sciences between religious sciences and world sciences. Simply put, integrated education means education that integrates the knowledge of fardhu ain and kifayah. Integrating Islamic education also means integrating useful knowledge or aqli knowledge with naqli knowledge. Integrated education aims to form a moral balance and spiritual development to achieve knowledge, which is an integrated goal in the pursuit of knowledge. Meanwhile, the practice of integrated education from a pedagogical point of view is based on four elements, namely creativity, reflectivity, reciprocity and responsibility. All elements support the integration of knowledge and practice in terms of innovation and in line with current technological advances. The progress and change of Islamic education in Malaysia in accordance with the philosophical principles and policies are set by the Ministry of Education Malaysia based on the National Philosophy of Education and the Philosophy of Islamic Education. The methodology of this study is in the form of literature and direct observation (involved). This article aims to explain integrated education from the point of view of educational philosophy, integrated education from the point of pedagogy, and the existence of integrated education and its challenges in Malaysia. The existence of integrated Islamic education in Malaysia based on the National Philosophy of Education and the Philosophy of Islamic Education to form and apply Islamic or pure values ​​guided by al-Quran and al-Sunnah in integrating knowledge has recently emerged challenged its integration with critical, creative, and innovative thinking practices. Abstrak: Filsafat Pendidikan Terpadu mencakup keseluruhan ilmu antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu dunia. Secara sederhana, pendidikan terpadu berarti pendidikan yang memadukan ilmu fardhu ain dan kifayah. Mengintegrasikan pendidikan Islam juga berarti memadukan ilmu yang bermanfaat atau ilmu aqli dengan ilmu naqli. Pendidikan terpadu bertujuan untuk membentuk keseimbangan moral dan perkembangan spiritual untuk mencapai ilmu pengetahuan, yang merupakan tujuan terpadu dalam mengejar ilmu pengetahuan. Sementara itu, praktik pendidikan terpadu dari sudut pandang pedagogis didasarkan pada empat unsur, yaitu kreativitas, reflektifitas, timbal balik, dan tanggung jawab. Semua elemen tersebut mendukung integrasi pengetahuan dan praktik dalam hal inovasi dan sejalan dengan kemajuan teknologi saat ini. Kemajuan dan perubahan pendidikan Islam di Malaysia sesuai dengan prinsip dan kebijakan filosofis yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia berdasarkan pada Filsafat Pendidikan Nasional dan Filsafat Pendidikan Islam. Metodologi penelitian ini berupa studi pustaka dan observasi langsung (terlibat). Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pendidikan terpadu dari sudut pandang filsafat pendidikan, pendidikan terpadu dari sudut pedagogi dan keberadaan pendidikan terpadu dan tantangannya di Malaysia. Dengan demikian, keberadaan pendidikan Islam terpadu di Malaysia berdasarkan Filsafat Pendidikan Nasional dan Filsafat Pendidikan Islam untuk membentuk dan menerapkan nilai-nilai Islam/murni yang berpedoman pada al-Quran dan al-Sunnah dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan akhir-akhir ini muncul tantangannya. integrasi dengan praktik berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Kata-kata kunci: filsafat pendidikan Islam terpadu, unsur pendidikan Islam terpadu, pengetahuan
Educational Technology on Teaching and Learning of Integrated Islamic Education in Brunei Darussalam Ismail Suardi Wekke; Maimun Aqsha Lubis
Ulumuna Vol 15 No 1 (2011): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v15i1.215

Abstract

Pemerintah Brunai Darussalam giat mengembangkan model pembelajaran dan administrasi pendidikan Islam dengan menjadikan teknologi sebagai fasilitator. Upaya itu didorong oleh prakarsa Sultan Brunai Darussalam, kepala negara sekaligus sultan negara itu. Makalah ini mengemukakan hasil penelitian tentang integrasi pendidikan Islam dan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi. Integrasi tersebut memberikan manfaat dalam pengayaan materi dan memudahkan proses pembelajaran. Setelah delapan tahun berjalan, program itu mampu mendorong kepada peningkatan kemampuan siswa, penguasaan materi pelajaran yang lebih terarah, evaluasi yang berkualitas, dan perbaikan pengelolaan administrasi pendidikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi informasi dapat bersinergi dengan pendidikan Islam sehingga pembelajaran menghasilkan kecerdasan bagi peserta didik.