Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA KLIEN GAGAL JANTUNG DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK I RADEN SAID SUKANTO Erlin Ifadah; Agustina Randungan; Boys Rusinar
JURNAL BIDANG ILMU KESEHATAN Vol 5, No 1 (2015): jurnal Bidang Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.857 KB) | DOI: 10.52643/jbik.v5i1.101

Abstract

Gagal jantung adalah kerusakan pompa jantung yang dimanifestasikan dengan  pernafasan yang cepat, sesak pada saat beraktivitas, paroxysmal nocturnal dyspnea, orthopnea dan adanya edema perifer atau edema paru. Hal ini menyebabkan tingginya mortalitas dan morbiditas serta seringnya klien gagal jantung berulangkali keluar masuk rumah sakit. Pemenuhan kebutuhan pada klien gagal jantung bukan hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik atau psikologik, tetapi juga pemenuhan kebutuhan spiritualnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual klien gagal jantung di rawat inap yang meliputi faktor fungsi keluarga, kegiatan keagamaan, derajat gagal jantung, kecemasan dan depresi. Desain penelitian  Cross Sectional dengan uji statistik Chi Square  dilakukan untuk melihat hubungan  tersebut. Pemodelan regresi logistik ganda digunakan untuk menentukan faktor yang paling berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara fungsi keluarga (OR=5,700 dan nilai p =0,001), kegiatan keagamaan (OR=5,750 dan nilai p=0,001), derajat gagal jantung (OR 4,167 dan nilai p= 0,016) dan depresi (OR=3,692 dan nilai p= 0,011) dengan pemenuhan kebutuhan spiritual klien gagal jantung. Fungsi keluarga merupakan faktor dominan yang paling berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual (OR=0,229). Hasil penelitian  menunjukkan fungsi keluarga mempunyai peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan spiritual klien gagal jantung, oleh sebab itu keluarga harus dilibatkan pada setiap asuhan keperawatan yang akan diberikan pada klien gagal jantung.Kata kunci : gagal jantung, klien gagal jantung, kebutuhan spiritual, rawat inap, fungsi keluarga.Gagal jantung adalah kerusakan pompa jantung yang dimanifestasikan dengan  
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PADA KLIEN GAGAL JANTUNG DI RUANG RAWAT INAP Erlin Ifadah; Apri Sunadi
JURNAL BIDANG ILMU KESEHATAN Vol 5, No 1 (2015): jurnal Bidang Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.489 KB) | DOI: 10.52643/jbik.v5i1.116

Abstract

Gagal jantung adalah kegagalan pompa jantung yang dimanifestasikan dengan  pernafasan yang cepat, sesak pada saat beraktivitas, paroxysmal nocturnal dyspnea, orthopnea dan adanya edema perifer atau edema paru. Hal ini menyebabkan tingginya mortalitas dan morbiditas serta seringnya klien gagal jantung berulangkali keluar masuk rumah sakit. Pemenuhan kebutuhan pada klien gagal jantung bukan hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik atau psikologik, tetapi juga pemenuhan kebutuhan spiritualnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual klien gagal jantung di rawat inap yang meliputi faktor fungsi keluarga, kegiatan keagamaan, derajat gagal jantung, kecemasan dan depresi. Desain penelitian  Cross Sectional dengan uji statistik Chi Square  dilakukan untuk melihat hubungan  tersebut. Pemodelan regresi logistik ganda digunakan untuk menentukan faktor yang paling berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara fungsi keluarga (OR=5,700 dan nilai p =0,001), kegiatan keagamaan (OR=5,750 dan nilai p=0,001), derajat gagal jantung (OR 4,167 dan nilai p= 0,016) dan depresi (OR=3,692 dan nilai p= 0,011) dengan pemenuhan kebutuhan spiritual klien gagal jantung. Fungsi keluarga merupakan faktor dominan yang paling berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Simpulan fungsi keluarga mempunyai peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan spiritual klien gagal jantung. Saran keluarga harus dilibatkan pada setiap asuhan keperawatan yang akan diberikan pada klien gagal jantung.Kata kunci : gagal jantung, klien gagal jantung, rawat inap, fungsi keluarga.
Pemeriksaan Kesehatan Tekanan Darah Dan Glukosa Darah (DM) Gratis Di Wilayah Kampung Sawah Lebak Wangi Jakarta Selatan Erlin Ifadah; Thika Marliana
Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas) Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.811 KB) | DOI: 10.52643/pamas.v3i1.374

Abstract

Wilayah Kampung Sawah Lebak Wangi yang termasuk dalam wilayah Jakarta bagian Selatan. Masalah kesehatan pada lansia yang banyak dihadapi di Wilayah Kampung Sawah Lebak Wangi saat ini antara lain adalah Rheumatik, Hipertensi dan Diabetes Melitus. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan untuk memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan serta pengobatan gratis untuk menjaga kesehatan warga Wilayah Kampung Sawah Lebak Wangi. Solusi untuk menangani masalah tersebut yaitu melaksanakan pemeriksaan serta pengobatan gratis melalui program P2M FIKES URINDO dalam hal ini program studi keperawatan. Target dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat Wilayah Kampung Sawah Lebak Wangi. Luaran dari kegiatan ini adalah meningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam upaya menjaga kesehatannya. Kapasitas pelayanan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kami batasi untuk 150 peserta yang didistribusikan secara merata di Wilayah Kampung Sawah Lebak Wangi. Pada hasil pemeriksaan ditemukan 29 orang yang memiliki tekanan darah tinggi, 2 orang yang memiliki kadar gula darah yang tinggi dan 99 orang memiliki asam urat melebihi batas normal. Kesimpulan dari pelaksanaan kegiatan abdimas secara umum berjalan dengan lancar dan masalah kesehatan pada lansia paling banyak adalah asam urat. Oleh karena itu diharapkan melalui kegiatan abdimas ini kesadaran masyarakat khususnya lansia tentang kesehatan dapat meningkat untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. Kata Kunci : Pemeriksaan kesehatan, diabetes melitus, hipertensi dan asam urat.
Efektivitas Dzikir Dalam Mengurangi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea di Ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Pasar Rebo Lia Octavia; Jamiatun Jamiatun; Erlin Ifadah; Abdurrochim Abdurrochim
JURNAL BIDANG ILMU KESEHATAN Vol 12, No 3 (2022): Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/jbik.v12i3.2405

Abstract

Sectiocaesarea adalah proses persalinan dengan cara pembedahan untuk mengeluarkan janin dengan cara membuat sayatan pada dinding abdomen dan uterus. Proses tindakan sectiocaesarea dapat menimbulkan masalah yang cukup kompleks baik secara fisik, psikologis, sosial, dan juga spiritual, khususnya kecemasan pasien yang meningkat. Sedangkan terapi non farmkologis meliputi teknik dzikir. Untuk mengetahui efektivitas dzikir dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien preoperasi sectiocaesarea di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Preeksperimental desain, rancangan penelitian menggunakan One Group Pretest Posttest desain. Sebelum melaksanakan intervensi dilakukan observasi pertama (pretest). Kemudian di lakukan observasi kedua (posttest) setelah intervensi. Penentuan rumus sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Federer yaitu : (n-1) X (t-1) ≥15, didapatkan hasil 16 sampel. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer yang didapat dari hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner skala HARS yang dilakukan oleh peneliti. Hasil uji T berpasangan menghasilkan nilai α yang dapat dilihat pada kolom “Sig (2-tailed)”, didapatkan nilai p = 0,014, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan sebelum berdzikir dengan kecemasan setelah berdzikir pasien preoperasi sectiocaesarea di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur. Dzikir yang berulang-ulang dibaca yang biasa dilakukan pasien, efektif untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien preoperasi sectiocaesarea di ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Pasar Rebo, sehingga perawat diharapkan mau untuk menganjurkan dzikir tersebut kepada pasien.Kata Kunci : Terapi dzikir, tingkat kecemasan, pasien pre operasi sectiocaesarea .
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENCEGAHAN RISIKO JATUH Aprisunadi Aprisunadi; Thessalonika Bernanda; Erlin Ifadah; Umi Kalsum
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v8i2.448

Abstract

Kejadian pasien jatuh di rumah sakit mengakibatkan  cidera seperti fraktur, subdural hematoma atau perdarahan yang dapat menyebabkan kematian. Penilaian risiko jatuh harus dilakukan untuk menghindari kejadian tersebut. Tujuan: mengetahui hubungan pengetahuan perawat tentangStandar Prosedur Operasional (SPO) pencegahan risiko jatuh dengan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SPO pencegahan risiko jatuh di ruang Intensve Care Unit (ICU) RS. Bhayangkara Tk. 1 Raden Said Sukanto Jakarta. Metode: Desain penelitian menggunakan penelitian descriptive analytic dengan pendekatan cross sectional.  Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari 2022.  Instrumen menggunakan SPO risiko jatuh dan kuesioner kepatuhan perawat dalam pelaksanaan risiko jatuh.  Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: responden berusia 25-35 tahun sebanyak 39 responden (60%) dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 44 responden (67,7%) dan lama bekerja  1-5 tahun sebanyak 47responden (72,3%), pengetahuan perawat tentang SPO baik sebanyak 35 responden (53,8%) dan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SPO patuh sebanyak 40 responden (61,5%). Ada  hubungan antara pengetahuan perawat tentang SPO pencegahan risiko jatuh dengan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan SPO pencegahan risiko jatuh dengan nilai p 0,011. Diskusi: Hasil penelitian membuktikan pentingnya kepatuhan perawat menggunakan SPO sebagai dasar dalam melakukan tahap-tahap pencegahan risiko jatuh.  Selain mengutamakan keselamatan pasien, kepatuhan perawat juga secara tidak langsung melindungi perawat sendiri dari masalah kode etik keperawatan. Kesimpulan: SPO pencegahan risiko jatuh wajib dipatuhi oleh perawat sebagai upaya untuk keselamatan pasien dan keamanan perawat dalam melakukan tindakan keperawatan.Kata Kunci : Kepatuhan, pengetahuan,  perawat,  risiko  jatuh Correlation Between Knowledge and Nurse Compliance in Implementing the Standard Operating Procedure for Fall Risk Prevention ABSTRACTPatient falls in hospitals can result in injuries such as fractures, subdural hematoma, or bleeding that can lead to death. Fall risk assessment must be carried out to prevent such incidents. Objective: To identify the correlation between nurses' knowledge of the Standard Operating Procedure (SOP) for fall risk prevention and their compliance in implementing the SOP for fall risk prevention in the Intensive Care Unit (ICU) of Raden Said Sukanto Police Hospital Jakarta. Methods: The research employed descriptive-analytic research with a cross-sectional approach. Data were collected in January 2022. The instruments included the fall risk SOP and a questionnaire on nurse compliance in implementing fall risk prevention. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. Results:  A total of 39 respondents (60%) were aged 25-35 years, 44 respondents (67.7%) were female, 47 respondents (72.3%) had 1-5 years of work experience, 35 respondents (53.8%) hadknowledge of the SOP for fall prevention, and 40 respondents (61.5%) was compliant in implementing the SOP. There was a correlation between nurses' knowledge of the SOP for fall risk prevention and nurse compliance in implementing the SOP for fall risk prevention, with a p-value of 0.011. Discussion: The research results demonstrate the importance of nurse compliance in using the SOP as a basis for implementing fall risk prevention steps. In addition to prioritizing patient safety, nurse compliance indirectly protects nurses themselves from nursing ethical issues. Conclusion: Compliance with the SOP for fall risk prevention is mandatory for nurses to ensure patient and nurse safety in performing nursing actions.Keywords: Compliance, fall risk, knowledge, nurse