Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Efektivitas Program Early Warning Score (EWS) oleh Perawat dalam Mendeteksi Deteriorasi Klinis Pasien Serly Sani Mahoklory; Jenita Laurensia Saranga; Nurlaelah Nurlaelah; Yudi Muammar; Mudrika Mudrika; Rezqiqah Aulia Rahmat
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2465

Abstract

Deteksi dini terhadap penurunan kondisi klinis pasien (clinical deterioration) merupakan hal krusial dalam mencegah kejadian henti jantung mendadak, perburukan kondisi, dan kematian di rumah sakit. Sistem Early Warning Score (EWS) merupakan alat bantu sistematis yang digunakan perawat untuk mengidentifikasi tanda-tanda vital abnormal sebagai indikator awal dari deteriorasi klinis. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas implementasi program EWS oleh perawat dalam mendeteksi dini deteriorasi klinis pasien di ruang rawat inap. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan studi cross-sectional, melibatkan 78 pasien dan 35 perawat di ruang rawat inap RSUD X yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi dokumentasi EWS dan kuesioner efektivitas yang dikembangkan berdasarkan indikator penilaian klinis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara implementasi EWS dan deteksi dini deteriorasi klinis (p = 0,008). Tingkat kepatuhan perawat dalam pengisian EWS sebesar 85,7% berbanding lurus dengan peningkatan rujukan cepat ke tim respon cepat (RRT). EWS menunjukkan sensitivitas sebesar 91% dan spesifisitas sebesar 83% dalam mendeteksi pasien yang mengalami perburukan. Kesimpulannya, program EWS terbukti efektif sebagai sistem pendukung keputusan klinis dalam mendeteksi dini deteriorasi pasien, dengan kontribusi signifikan dari kepatuhan dan kompetensi perawat dalam penerapannya. Rekomendasi dari penelitian ini meliputi pelatihan rutin serta integrasi EWS ke dalam sistem digital rumah sakit.
Perbedaan kemampuan mengontrol halusinasi sebelum dan sesudah menjalani terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi pada pasien skiziprenia di RSKD provinsi sulawesi selatan M. Agus Jabir; Anggeraeni Anggeraeni; Nursyafitri Nursyafitri; Asrianto Asrianto; Salki Sasmita; Mudrika Mudrika
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4670

Abstract

Pendahuluan: satu dari empat orang di dunia mengalami gangguan jiwa, salah satunya adalah halusinasi. Halusinasi adalah gejala gangguan jiwa yang di tandai dengan perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan pengecapan,perabaan , penghiduan. Salah satu terapi yang di gunakan untuk penanganan halusinasi adalah terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi , tujuannya untuk memberikan efek pemulihan pada pasien skizoprenia .Metode: desain yang di gunakan one grub pra – post test design pada 33 subjek di ruang rawat inap ( kenanga ) RSKD Prov. Sul – sel selama minggu ketiga mei sampai minggu pertama juni .Hasil: analisa data menggunakan uji T – berpasangan , nilai P = 0,001 pada sesi kemampuan mengontrol halusinasi dengan menghardik dan mencegah halusinasi dengan bercakap – cakap , nilai p = 0,001 pada sesi kemampuan mengontrol halusinasi Kesimpulan:analisa data menggunakan uji T - berpasangan ,nilai p=0,001 pada sesi kemampuan mengenal halusinasi , nilai p= 0,001 pada sesi kemampuan mengontrol halusinasi dengan menghardik dan mencegah halusinasi dengan bercakap - cakap , nilai p= 0,001 pada sesi kemampuan mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan terjadwal dan patuh minum obat. Saran: pemberian asuhan keperawatan TAK stimulasi persepsi yang selama ini telah di terapkan perlu dikembangkan lebih dalm lagi sesuai dengan langkah - langkah pemberian TAK yang ada agar kemampuan dalam mengontrol halusinasi pada pasien skizoprenia dapat meningkat