Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelaksanaan Pelatihan pada Masyarakat dalam Kegiatan Proses Pembuatan Larutan Lidah Buaya Sebagai Bahan Penghambat Mikroorganisme atau Mencegah Infeksi yang Membahayakan (Antiseptik) Pada Gigi Tiruan: Pengabdian Dwi Pratiwi Kasmara; Sri Wahyuni Sambo; Anik Nuryati; Rezqiqah Aulia Rahmat; Rahmat Pannyiwi
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2273

Abstract

Infeksi pada pengguna gigi tiruan sering terjadi akibat akumulasi mikroorganisme, terutama Candida albicans dan bakteri patogen lain, yang menempel pada permukaan gigi tiruan. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai perawatan gigi tiruan menyebabkan tingginya risiko stomatitis, bau mulut, dan peradangan jaringan mulut. Penggunaan antiseptik berbahan kimia kadang menimbulkan efek samping seperti iritasi dan alergi, sehingga diperlukan alternatif alami yang aman dan mudah didapat. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan lidah buaya (Aloe vera) untuk membuat larutan antiseptik alami bagi perawatan gigi tiruan. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan mengenai manfaat lidah buaya, demonstrasi pembuatan larutan, dan praktik langsung oleh peserta. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta observasi keterampilan saat praktik.Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dari 25% menjadi 85% setelah pelatihan. Peserta juga mampu membuat larutan lidah buaya secara mandiri dengan kualitas yang baik. Larutan ini dipandang lebih aman, murah, dan ramah lingkungan dibandingkan pembersih kimia yang biasa digunakan. Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pemanfaatan bahan alam lokal untuk meningkatkan kesehatan mulut dan mencegah infeksi pada pengguna gigi tiruan.
Tuntas: dalam Pemeriksaan Kesehatan di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi Kabupaten Bogor Nurnainah; Markus Wibowo; Rahmat Pannyiwi; Rezqiqah Aulia Rahmat; Rizki Andita Noviar
Celebes Journal of Community Services Vol. 4 No. 2 (2025): June - November
Publisher : STIE Amkop Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/celeb.v4i2.3126

Abstract

Santri di pondok pesantren sering menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan dan kurangnya pengetahuan tentang pemeriksaan kesehatan dasar, yang dapat meningkatkan risiko penyakit menular maupun tidak menular. Oleh karena itu, diperlukan program pemeriksaan kesehatan yang komprehensif, cepat tanggap, dan berkesinambungan di lingkungan pesantren. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program TUNTAS (Tanggap dan Utama dalam Pemeriksaan Kesehatan) yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Kabupaten Bogor, sebagai upaya peningkatan kesehatan santri secara preventif dan promotif. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan pengabdian kepada masyarakat melalui skrining kesehatan yang mencakup pemeriksaan tekanan darah, status gizi, kesehatan mulut dan gigi, serta pemeriksaan dasar lainnya, disertai dengan penyuluhan kesehatan dan pendampingan tindak lanjut. Peserta kegiatan adalah 80 santri putra dan putri berusia 12–20 tahun, dengan data dikumpulkan melalui hasil pemeriksaan kesehatan dan kuesioner pre-post edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 65% santri memiliki status kesehatan normal, 25% mengalami masalah ringan seperti karies gigi dan anemia, serta 10% ditemukan berisiko hipertensi ringan. Selain itu, penyuluhan kesehatan terbukti meningkatkan pengetahuan santri, ditunjukkan dengan kenaikan skor rata-rata dari 55,2 menjadi 81,6 (p<0,05). Dengan demikian, program TUNTAS terbukti efektif dalam mendeteksi dini masalah kesehatan, meningkatkan pengetahuan santri, serta mendorong perilaku hidup sehat di lingkungan pesantren. Keberlanjutan kegiatan ini sangat diperlukan melalui kerja sama antara pondok pesantren, puskesmas, dan pihak terkait guna memastikan kesehatan santri tetap terjaga.
Analisis Efektivitas Program Early Warning Score (EWS) oleh Perawat dalam Mendeteksi Deteriorasi Klinis Pasien Serly Sani Mahoklory; Jenita Laurensia Saranga; Nurlaelah Nurlaelah; Yudi Muammar; Mudrika Mudrika; Rezqiqah Aulia Rahmat
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2465

Abstract

Deteksi dini terhadap penurunan kondisi klinis pasien (clinical deterioration) merupakan hal krusial dalam mencegah kejadian henti jantung mendadak, perburukan kondisi, dan kematian di rumah sakit. Sistem Early Warning Score (EWS) merupakan alat bantu sistematis yang digunakan perawat untuk mengidentifikasi tanda-tanda vital abnormal sebagai indikator awal dari deteriorasi klinis. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas implementasi program EWS oleh perawat dalam mendeteksi dini deteriorasi klinis pasien di ruang rawat inap. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan studi cross-sectional, melibatkan 78 pasien dan 35 perawat di ruang rawat inap RSUD X yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi dokumentasi EWS dan kuesioner efektivitas yang dikembangkan berdasarkan indikator penilaian klinis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara implementasi EWS dan deteksi dini deteriorasi klinis (p = 0,008). Tingkat kepatuhan perawat dalam pengisian EWS sebesar 85,7% berbanding lurus dengan peningkatan rujukan cepat ke tim respon cepat (RRT). EWS menunjukkan sensitivitas sebesar 91% dan spesifisitas sebesar 83% dalam mendeteksi pasien yang mengalami perburukan. Kesimpulannya, program EWS terbukti efektif sebagai sistem pendukung keputusan klinis dalam mendeteksi dini deteriorasi pasien, dengan kontribusi signifikan dari kepatuhan dan kompetensi perawat dalam penerapannya. Rekomendasi dari penelitian ini meliputi pelatihan rutin serta integrasi EWS ke dalam sistem digital rumah sakit.
Pemberdayaan Masyarakat Kampung Dalam Pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Sebagai Upaya Preventif Kesehatan Sara Surya; Jumingin; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Juni)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Household medicinal plants (TOGA) represent an initiative to utilize plants with medicinal properties to improve public health through self-reliance. The use of medicinal plants can serve as an easily accessible and relatively safe alternative to traditional medicine for addressing various minor health complaints. However, the utilization of medicinal plants in the community remains suboptimal due to a lack of knowledge regarding the types of medicinal plants and how to use them. This community service activity aims to improve the community’s knowledge and skills in developing family medicinal plants as a preventive measure to maintain health. Implementation methods include health education on the benefits of medicinal plants, training in planting and maintaining TOGA, and community assistance in managing TOGA gardens. The results of the activity indicate an increase in community knowledge regarding medicinal plants as well as increased community participation in the utilization of family medicinal plants. The TOGA development program can serve as a strategy to enhance community self-reliance in maintaining health. Keywords: Family Medicinal Plants, Community Empowerment, Preventive Health, Public Health. ABSTRAK Tanaman obat keluarga (TOGA) merupakan salah satu upaya pemanfaatan tanaman yang memiliki khasiat obat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara mandiri. Pemanfaatan tanaman obat dapat menjadi alternatif pengobatan tradisional yang mudah diperoleh serta relatif aman digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan ringan. Namun, pemanfaatan tanaman obat di masyarakat masih belum optimal karena kurangnya pengetahuan mengenai jenis tanaman obat serta cara pemanfaatannya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan tanaman obat keluarga sebagai upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan mengenai manfaat tanaman obat, pelatihan penanaman dan pemeliharaan TOGA, serta pendampingan masyarakat dalam pengelolaan kebun TOGA. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai tanaman obat serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan tanaman obat keluarga. Program pengembangan TOGA dapat menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan. Kata Kunci: Tanaman Obat Keluarga, Pemberdayaan Masyarakat, Kesehatan Preventif, Kesehatan Masyarakat