Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

STUDI KOMPAKSI BATUAN PENUTUP UNTUK PENCEGAHAN TERBENTUKNYA AIR ASAM TAMBANG PADA METODE ENKAPSULASI Jamal Tuheteru, Edy; Sayoga Gautama, Rudy; Jalu Kusuma, Ginting
TEKNOLOGI LINGKUNGAN Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertambangan batubara sering dikaitkan dengan Air Asam Tambang (AAT) yang dihasilkan oleh penimbunan material overburden yang mengandung mineral sulfida. Sebuah alternatif praktis untuk meminimalkan pembentukan AAT adalah menghindari kontak antara air, udara dan mineral sulfida menggunakan bahan yang tidak permeabel atau mineral lempung yang dipadatkan sebagai bahan penutup. Metode ini dikenal sebagai metode enkapsulasi, dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi porositas dan menjadikan batuan bersifat tidak permeabel sehingga mengurangi laju difusi oksigen dan infiltrasi air ke dalam timbunan batuan yang mengandung mineral sulfida. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik pemadatan beberapa jenis batuan overburden batubara yang akan digunakan sebagai material penudung (capping material). Pengujian kompaksi dilakukan delapan buah sampel batuan yang diambil dari tambang batubara Wara Blok I, PT. Adaro Indonesia, di Kalimantan Selatan. Analisis laboratorium, meliputi analisis fisik, batas-batas Atterberg, dan dilakukan uji pemadatan serta uji permeabilitas. Uji pemadatan dilakukan dengan menggunakan uji proctor standar sedangkan uji konduktivitas menggunakan uji tinggi jatuh (falling head test). Hasil uji konduktivitas hidrolik pada delapan sampel menunjukan ada hubungan antara karakteristik fisik tanah yang diperoleh dari hasil uji pemadatan dengan nilai konduktivitas hidrolik. Beberapa peneliti sebelumnya menyatakan bahwa material yang akan dijadikan sebagai material penudung harus memiliki nilai konduktivitas hidrolik sebesar 1x10-9 m/s. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sampel yang mendekati nilai konduktivitas hidrolik yang disarankan adalah W112, W122, W123, W123, dan W1DP, sedangkan sampel yang memiliki nilai konduktivitas hidrolik di bawah yang disarankan adalah sampel W121. Kata-Kata Kunci: Air asam tambang, enkapsulasi, pemadatan, konduktivitas hidrolik.
Pit Lake Sebagai Alternatif Kegiatan Pascatambang (Hasil Review Pustaka) Edy Jamal Tuheteru; Rudy Sayoga Gautama; Ginting Jalu Kusuma; Kris Pranoto
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1493.524 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.3

Abstract

Pit lake merupakan lubang bekas tambang yang dengan sengaja dan/atau secara alami terisi air sehingga membentuk sebuah danau. Dominasi sistem penambangan dengan metode tambang terbuka di dunia menjadikan pit lake akan banyak tersebar di beberapa wilayah bekas penambangan, terutama di daerah tambang yang material batuannya tidak cukup untuk ditimbun kembali ke dalam lubang bekas tambang. Kualitas air pit lake yang ditinggalkan akan beragam, mulai dari yang bersifat asam (pH 5.0) hingga bersifat basa (alkaline, pH 8.0), tergantung dari beberapa faktor seperti jenis batuan, kualitas air masukan dan sebagainya. Kualitas air pit lake juga sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, kondisi geologi dan iklim di daerah bekas tambang. Pit lake terbagi menjadi 3 jenis yakni danau holomictic, danau meromictic dan danau amictic, sedangkan secara stratifikasi termal, maka pit lake dibagi menjadi lapisan epilimnion, lapisan termoklin atau metalimnion dan lapisan hypolimnion. Pada beberapa negara, pit lake dimanfaatkan untuk beberapa keperluan diantaranya sebagai daerah reservoir air, recovery logamberat, daerah wisata, tempat pelatihan selam dan masih ada beberapa pemanfaatan lainnya. Tulisan ini merupakan kajian teori tentang pit lake dari berbagai sumber yakni buku pegangan, jurnal dan beberapa laporan projek tentang pit lake, sehingga diperoleh gambaran dan juga sebagai dasar dalam merencanakan atau menyusun laporan rencana pascatambang yang menjadikan pit lake sebagai opsi reklamasi.
Kondisi Resirkulasi Udara terhadap Penurunan Sumber Panas di Dalam Tambang Bawah Tanah Ririn Yulianti; Nuhindro Priagung Widodo; Rudy Sayoga Gautama
Jurnal Geomine Vol 8, No 3 (2020): Edisi Desember 2020
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jg.v8i3.648

Abstract

Kondisi yang sering terjadi di dalam tambang adalah banyaknya penggunaan kipas lokal ventilasi yang menyebabkan perputaran balik udara (resirkulasi). Hal ini tentu saja dapat menjadikan kondisi lingkungan kerja panas. Diperlukan suatu model yang dapat menggambarkan pergerakan udara, sehingga kita dengan mudah mengetahui kondisi kerja jaringan ventilasi di dalam tambang. Penelitian dilakukan pada lokasi kerja yang penggunaan jumlah kipas lokal cukup banyak namun hasil pengukuran temperaturnya tinggi. Setelah dilakukan analisis simulasi permodelan jaringan ventilasi bahwa terjadi resirkulasi udara sebesar 50%. Hal ini menjadikan pengaruh terhadap penurunan lamanya sumber panas yang beroperasi, terbukti dari hasil analisis yang dilakukan secara pendekatan numerik bahwa temperatur udara akan meningkat ketika sumber panas beroperasi sebesar ±2°C (32,6°C menjadi 34,5°C) hanya dalam waktu 1,5 jam. Temperatur udara akan kembali turun ketika sumber panas berhenti beroperasi berkisar rata-rata 0,1°C/jam.
STUDI KOMPAKSI BATUAN PENUTUP UNTUK PENCEGAHAN TERBENTUKNYA AIR ASAM TAMBANG PADA METODE ENKAPSULASI Edy Jamal Tuheteru; Rudy Sayoga Gautama; Ginting Jalu Kusuma
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 8 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2311.343 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v8i2.1420

Abstract

Pertambangan batubara sering dikaitkan dengan Air Asam Tambang (AAT) yang dihasilkan oleh penimbunan material overburden yang mengandung mineral sulfida. Sebuah alternatif praktis untuk meminimalkan pembentukan AAT adalah menghindari kontak antara air, udara dan mineral sulfida menggunakan bahan yang tidak permeabel atau mineral lempung yang dipadatkan sebagai bahan penutup. Metode ini dikenal sebagai metode enkapsulasi, dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi porositas dan menjadikan batuan bersifat tidak permeabel sehingga mengurangi laju difusi oksigen dan infiltrasi air ke dalam timbunan batuan yang mengandung mineral sulfida. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik pemadatan beberapa jenis batuan overburden batubara yang akan digunakan sebagai material penudung (capping material). Pengujian kompaksi dilakukan delapan buah sampel batuan yang diambil dari tambang batubara Wara Blok I, PT. Adaro Indonesia, di Kalimantan Selatan. Analisis laboratorium, meliputi analisis fisik, batas-batas Atterberg, dan dilakukan uji pemadatan serta uji permeabilitas. Uji pemadatan dilakukan dengan menggunakan uji proctor standar sedangkan uji konduktivitas menggunakan uji tinggi jatuh (falling head test). Hasil uji konduktivitas hidrolik pada delapan sampel menunjukan ada hubungan antara karakteristik fisik tanah yang diperoleh dari hasil uji pemadatan dengan nilai konduktivitas hidrolik. Beberapa peneliti sebelumnya menyatakan bahwa material yang akan dijadikan sebagai material penudung harus memiliki nilai konduktivitas hidrolik sebesar 1x10-9 m/s. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sampel yang mendekati nilai konduktivitas hidrolik yang disarankan adalah W112, W122, W123, W123, dan W1DP, sedangkan sampel yang memiliki nilai konduktivitas hidrolik di bawah yang disarankan adalah sampel W121. Kata-Kata Kunci: Air asam tambang, enkapsulasi, pemadatan, konduktivitas hidrolik.
Studi Kualitas Air dan Potensi Pemanfaatan Danau Bekas Tambang JVoid PT Kaltim Prima Coal, Kalimantan Timur Edy Jamal Tuheteru; Ginting Jalu Kusuma; Kris Pranoto; Yosef Palingi; Rudy Sayoga Gautama
Indonesian Mining and Energy Journal Vol. 4 No. 1 (2021): Mei
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.219 KB)

Abstract

Kegiatan penambangan batubara dengan multi pit, akan meninggalkan beberapa lubang bekas tambang sesuai dengan perencanaan yang telah dilakukan. PT. Kaltim Prima Coal yang merupakan salah satu perusahaan pertambangan batubara yang ada di Indonesia, telah memiliki beberapa danau bekas tambang. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kualitas air berdasarkan stratifikasi kedalaman dan potensi pemanfataan danau bekas tambang. Lokasi penelitian dilakukan di JVoid yang merupakan bekas penambangan pit Jupiter. Pengukuran kualitas air menggunakan alat multiparameter HORIBA dengan kedalaman maksimum 30 meter. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh kualitas air di pit lake J Void menunjukkan bahwa nilai pH berkisar antara 6,8 hingga 7,5, ORP berkisar antara 190 – 230 mV, Conductivity berkisar 2,40 – 2,45 mS/cm, Turbiditas berkisar 1 hingga 5 NTU, DO berkisar antara 6 – 13 mg/L, TDS berkisar antara 1,5 mg/L dan salinitas berkisar antara 1,2 hingga 1,3 ppt. Berdasarkan gambaran kualitas air yang telah terbentuk, diperoleh kualitas air untuk nilai pH telah memenuhi baku mutu lingkungan. Potensi pemanfaatan JVoid dapat digunakan untuk sumber air, pariwisata, budidaya perairan, penimbunan material overburden dan tempat hidupnya margasatwa.
Mine void identification using Object-based Image Analysis (OBIA) of satellite imagery Sentinel 2 data Leta Lestari; Ginting Jalu Kusuma; Abie Badhurahman; Sendy Dwiki; Rudy Sayoga Gautama
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2023.102.4129

Abstract

Open pit mining is an extensively-used method in Indonesian coal mining. This method is characterized by the formation of mine void at the end of life-of-mine (LOM) due to insufficient material to backfill the mine-out areas. Mine voids are legally accepted as one of mine closure options and categorized as “Reklamasi Bentuk Lain” - a miscellaneous reclamation option (Decree of Minister of Energy and Mineral Resources/KepMen ESDM No.1827, 2018), However, unmanageable voids will exert negative impacts. The identification and mapping of mine voids spatially are imperative to give stakeholders ample information to construct viable mine voids management and benefit all stakeholders. In this research, Sentinel 2 satellite image data is used for land monitoring so that void can be mapped based on land cover classification. The land cover classification was carried out based on the Object-based Image Analysis (OBIA) method. This method has a good level of accuracy, ranging from 86.1 to 96.4%. Based on the land cover classification, potential voids are analyzed based on their shape, where potential voids have elongation values of 0.2-1.0 and circularity of 0.1-0.8. In addition, potential voids are analyzed based on the location where they are found (referred to as the Mining License Area/WIUP data). In 2018 there were 40 potential voids inside WIUP and 5 potential voids outside WIUP, while in 2020, 62 potential voids inside WIUP and 8 potential voids outside WIUP were identified in the study area. The final result of potential mine void, i.e. mine void-1 could not further be distinguished between mine sumps, voids, or mine ponds without additional data and analysis. On the other hand, mine void-2 could not be further assigned as natural water bodies or mine void from illegal activities. Subsequent studies using more elaborated data, processes, and analysis are important, to enhance the accuracy of void mapping using satellite images.
Analisis Data Hujan Untuk Pengelolaan Air Tambang : Analisis Data Curah Hujan Kejadian Kontinu M. Akbari Danasla; Ginting Jalu Kusuma; Edy Jamal Tuheteru; Rudy Sayoga Gautama
Journal of Science, Technology, and Visual Culture Vol 1 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah terkait dengan kuantitas air yang berlebihan terutama muncul dikarenakan analisis pengelolaan air di lokasi tambang yang belum dilakukan secara baik pada saat tahap perencanaan tambang. Pengelolaan air pada tambang terbuka terutama terkait hidrologi di area penambangan menyangkut 3 hal, yaitu (1) kebutuhan sarana penyaliran terbuka pada area penambangan, (2) kebutuhan pit sump untuk operasi di front penambangan dan (3) kecepatan pengisian pit lake pada saat pasca tambang. Dalam penelitian ini hanya difokuskan pada analisis curah hujan kejadian kontinu (continuous event) untuk kecepatan pengisian pit lake saat pasca tambang. Uji normalitas dan simulasi Monte Carlo dilakukan untuk memprediksi curah hujan yang digunakan dalam analisis kecepatan pengisian air pada pit lake saat pasca tambang. Berdasarkan simulasi Monte Carlo yang telah dilakukan diperoleh bahwa curah hujan terendah terjadi pada bulan September tahun 2018 sebesar 78,2 mm, sedangkan curah hujan tertinggi diprediksi akan terjadi pada bulan Desember tahun 2018 sebesar 268,3 mm. Sementara itu total akumulasi curah hujan yang terjadi selama periode 2015-2018 diprediksi mencapai 8093,8 mm.