Prima Dona Hapsari
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Preferensi Musik Bagi Jemaat dalam Partisipasi Peribadatan di Grace Community Church Yogyakarta Alfraer, Ariel Zevanya; Hapsari, Prima Dona; Purba, Ezra Deardo
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Penelitian ini berfokus pada pengaruh selera musik terhadap peningkatan kehadiran di Gereja Grace Community Church yang terletak di kota Yogyakarta, D.I. Provinsi Yogyakarta. Peneliti menemukan seorang tokoh agama dan seluruh jamaah sebagai partisipan atau narasumber dalam penelitian ini. Metode penelitian: peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif. Hasil dan pembahasan: Inti permasalahan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh selera musik terhadap kenyamanan jemaah di Gereja Grace Community. Penelitian ini dilakukan untuk melanjutkan semua penelitian yang telah membahas tentang musik gereja, namun belum ada penelitian lebih lanjut mengenai hubungan selera musik dengan tingkat kenyamanan jemaah di dalam gereja. Implikasi: penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat menjadi bahan evaluasi bagi gereja dan menjadi dasar penelitian selanjutnya terkait musik gereja.
“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali Hapsari, Prima Dona
Journal of Urban Society's Arts Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v11i2.13862

Abstract

The necessity to comprehend lontar manuscripts arises from the imperative to preserve the ancestral values of the Balinese people embedded within this medium. The investigation of the lontar manuscript social movement, aimed at cultural preservation within religious rites and as a framework for daily existence (smerti), remains underexplored. This is evidenced by the situation in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali, where few Balinese Hindus have minor thought for which lontar manuscripts are just the sacred things, and possess the ability to read and write lontar manuscripts in Balinese. This represents a novel contribution aimed at addressing a research vacuum that has not been explored by scholars in Indonesia, where an understanding of the social movement, integral to Hindu cultural and religious rites, is necessary. The research necessitates an examination of the Dukuh Penaban Traditional Village community’s response to the legitimacy of the Bali Provincial Government and the preservation initiatives for lontar manuscripts, which have been transmitted through generations. It will reinforce the values of life and the teachings of AJAWERA, ultimately enhancing the character and awareness of the Balinese populace regarding the significance of preserving their esteemed culture. This phenomenon prompts research inquiries on how “Ajeg Bali”, a Balinese society’s discourse to combat globalization, is implemented through cultural preservation actions in the Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem, Bali. This qualitative descriptive research employs an ethnographic methodology, utilizing observation, in-depth interviews, and documentation for data gathering. The research site is Dukuh Penaban Traditional Village, Karangasem Regency, Bali Province. The research participants comprised ten individuals, specifically the Bendesa of Dukuh Penaban Traditional Village, the apparatus of Dukuh Penaban Traditional Village, the Coordinator and members of the Balinese Language Care Alliance of Karangasem Regency, members of the Bebasan Lontar group (readers of lontar manuscripts) from Dukuh Penaban, and Penedun (writers and translators of lontar manuscripts).“Ajeg Bali” and Preserving the Balinese Lontar in Dukuh Penaban, Bali. Munculnya kebutuhan untuk mengetahui dan memahami naskah lontar adalah untuk menyelamatkan nilai-nilai adat warisan leluhur masyarakat Bali yang terkandung dalam media lontar. Riset mengenai gerakan sosial naskah lontar sebagai upaya preservasi budaya sebagai bagian dari ritual keagamaan dan sebagai pedoman kehidupan sehari-hari (smerti) belum banyak dikaji. Hal itu didukung dari fenomena yang ada di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali bahwa naskah lontar hanya sebagai benda sakral saja dan belum banyak masyarakat Hindu Bali yang bisa membaca dan menulis naskah lontar dalam Bahasa Bali. Hal ini sekaligus merupakan kebaruan dan digunakan untuk mengisi celah riset yang belum pernah diteliti oleh peneliti di Indonesia, di mana perlu adanya pemahaman akan gerakansosial yang sekaligus menjadi bagian ritual budaya dan agama Hindu. Riset ini perlu untuk diteliti terkait respons masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban pada legitimasi Pemerintah Daerah Propinsi Bali serta usaha preservasi naskah lontar yang dimiliki secara turun temurun yang akan menguatkan nilai-nilai hidup dan ajaran AJAWERA yang berdampak pada peningkatan karakter dan kesadaran masyarakat Bali akan pentingnya melakukan pelestarian budaya mereka yang adiluhung. Fenomena tersebut memberi pertanyaan penelitian bagaimana “Ajeg Bali” memberikan wacana masyarakat Bali untuk melawan globalisasi dengan implementasi melalui gerakan sosial pelestarian budaya di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan etnigrafi, dengan metode penelitian yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk pengumpulan data. Lokasi riset adalah Desa Adat Dukuh Penaban, Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali. Informan riset berjumlah 10 orang, yaitu Bendesa Desa Adat Dukuh Penaban, Perangkat Desa Adat Dukuh Penaban, Koordinator dan Anggota Aliansi Peduli Bahasa Bali Kabupaten Karangasem, anggota kelompok Bebasan Lontar (pembaca naskah lontar) Dukuh Penaban, dan Penedun (penulis dan penterjemah naskah lontar).
Proses Pembelajaran Kreasi Musik Dalam Membentuk Karakter “Profil Pelajar Pancasila (P3)” Firdaus, Azka Rayhan; Triprasetyo, Gathut Bintarto; Hapsari, Prima Dona
Ekspresi Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ekp.v12i2.11335

Abstract

AbstrakProgram “Profil Pelajar Pancasila (P3)” dari Kemdikbudristek dilaksanakan untuk membentuk kembali karakter siswa yang mencerminkan nilai luhur Pancasila. SMP Muhammadiyah Srandakan Bantul sebagai satuan pendidikan menerapkan proses pembelajaran kreasi musik untuk membentuk karakter P3 pada siswanya. Aktivitas pembentukan karakter tersebut dianalisis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Kreasi musik di sekolah ini dilaksanakan selama 9 pertemuan dengan materi pengolahan sumber bunyi yang menggunakan limbah bekas seperti botol kaca dan plastik, kaleng cat, kayu, dan karet ban.  Proses kreasi musik dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu siswa diminta membawa, mengidentifikasi, mengeksplorasi, melatih, dan menampilkan sumber bunyi secara berkelompok. Proses berkreasi musik ini memberi dampak perubahan sikap siswa yang semakin kolaboratif, peduli, komunikatif, dan inovatif. Dimensi bergotong-royong tampak saat siswa melatih dan menampilkan bunyi kreasi musik secara berkelompok. Dimensi bernalar kritis tampak saat siswa mengidentifikasi dan mengolah sumber bunyi menjadi alat musik. Dimensi kreatif tampak saat mereka memainkan lagu Gundul-Gundul Pacul dan Cublak-Cublak Suweng dengan limbah bekas serta memodifikasi pola ritme musik untuk mengiringi melodi asli dari lagu-lagu tersebut.Kata kunci: kreasi musik, pembentukan karakter, profil pelajar Pancasila AbstractThe "Pancasila Student Profile (P3)" program from the Ministry of Education and Culture was implemented to reshape student characters to reflect the noble values of Pancasila. Muhammadiyah Middle School Srandakan, Bantul, applies a music creation learning process to form the P3 characters in its students. These character formation activities were analyzed using descriptive qualitative research methods with a phenomenological approach. Music creation was carried out over nine meetings with material processing sound sources using used waste such as glass and plastic bottles, paint cans, wood, and tire rubber. The music creation process is carried out through several stages; students are asked to bring, identify, explore, practice, and display sound sources in groups. This process of creating music has an impact on changing students' attitudes and becoming more collaborative, caring, communicative, and innovative. The dimension of working together is visible when students practice and perform musical creations in groups. The critical reasoning dimension appears when students identify and process sound sources into musical instruments. The creative dimension appeared when they played the songs Gundul-Gundul Pacul and Cublak-Cublak Suweng with used items and then modified the rhythmic patterns of the music to accompany the original melodies of these songs.Keywords: music creation, character building, Pancasila student profile